EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 277


__ADS_3

...


“Icha! Ternyata kau di sini!” Suara nenek Nella mengalihkan perhatianku dari layar ponsel, aku mendongak mendapati nenek dan kakek sudah ada di depan meja, bersama dengan sepasang suami istri yang seumuran dengan keduanya.


Sesaat tadi aku benar-benar melupakan kalau datang ke pesta ini sebenarnya di ajak kakek dan nenek.


“Nek.” Sapaku.


“Kamu ini, kita cari-cari.” Nenek segera duduk di kursi hadapanku.


Aku segera berdiri, hendak mempersilakan kakek untuk duduk, tapi kakek berbalik menghadap pasangan suami istri itu.


“Ini dia anak yang aku ceritakan tadi.” Kata kakek.


“Oh, ya ya. Bagus sekali, anak baik. Kamu putri Evano?” Wanita tua di samping kakek berjalan mendekatiku, menyelidiki wajahku.


“Mewakili cucuku, aku minta maaf.” katanya lagi.


“Cucu?” Aku mengerutkan kening bingung.


“Aku dengar, cucuku mengejarmu dengan keras kepala sampai kau menamparnya dan membuat pergelangan tanganmu terkilir—“


“Ahh ya! Aku ingat sekarang.” Tentu saja aku ingat kejadian itu, pria yang menghina Bayu, berarti dua orang di depanku ini adalah orang yang berasal dari lingkungan yang sama dengan keluarga Danendra.


“Robert.”


“Ya, itu dia!” Kata wanita tua ini mengangguk tapi tatapannya memelas, “maafkan dia ya nak.”


“Tidak apa-apa nek, aku sudah hampir melupakan tentang itu.”


“Tapi aku belum melupakannya.” Suara Bayu lewat airpods di telinga kananku terdengar, berarti lelaki itu sudah kembali ke depan laptopnya.


Aku tersenyum kecil mendengar lelaki ini sudah kembali, tapi mungkin wanita di hadapanku ini mengira aku tersenyum padanya, dia langsung meraih tanganku dan menepuk-nepuknya, “anak baik, syukurlah kalau kau sudah melupakannya.”


“Kau yakin sudah melupakan kejadian itu?” Bayu coba menggodaku, dia tahu aku tidak bisa menjawab langsung.


“Anak itu datang bersama kami, tadi dia mau keliling cari kenalanannya. Biar kakek suruh dia langsung minta maaf.”


“Tidak usah kek.” Kataku cepat tapi kakek Robert melambai padaku dan menggeleng.


“Pokoknya dia harus minta maaf langsung.” Ujar pria tua itu.


Refleks aku melirik nenek Nella, dia sedang memperhatikanku dan tiba-tiba nenek berdiri sambil berkata, “betul tidak usah. Cucu ku sudah memaafkan Robert. Lebih baik kita menikmati reuni kecil kita ini.”

__ADS_1


Diam-diam aku menghela napas pelan, entah mengapa aku melirik nenek tadi, mungkin dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku sudah tahu kalau nenek adalah orang yang pengertian juga sepertinya jalan pikiran kami sama tanpa harus di ucapkan secara langsung.


“Ayo ayo duduk!” Ajak kakek Alvaro pada dua temannya itu, awalnya mereka ragu-ragu, masih berniat memanggil Robert, tapi aku segera berdiri dan membantu menggeser kursi untuk mereka duduk, karena kursi hanya ada empat, akhirnya aku memutuskan untuk menawarkan untuk mengambil makanan yang mereka mau, sementara Bayu, dia tidak lagi berbicara saat aku tidak mengajaknya bicara, hanya samar-samar terdengar suara keyboard  laptop.


.


..


...


“...lebih enak, karena mereka menggunakan resep turun temurun.”


“Kalau gitu aku harus mencobanya.”


“Ajak Alisya, pemiliknya akan memberi diskon dan tambahan karena dia sudah jadi pelanggan tetap.”


“Tapi ngomong-ngomong tentang Alisya, aku ingat dia pernah memberitahuku sesuatu tentang file rahasia yang ada di laptopmu.”


“File rahasia? File apa?”


Saat ini, aku yang sedang ada di toilet, di depan wastafel untuk mencuci tangan, bisa dengan bebas berbicara dengan Bayu di sambungan video kami, meski kami tidak berbicara di depan layar ponsel, tapi aku yang masih ada di tengah pesta sedangkan Bayu yang pandangan matanya sedang fokus ke layar laptopnya, tidak mempermasalahkan ini.


“Aku belum lihat file apa, tapi Alisya bilang, password untuk file itu—“


BRAAAKK


Aku melonjak, terkejut mendengar suara dari luar toilet.


“Ada apa?” Nada suara Bayu terdengar penasaran dan khawatir.


“Aku tidak tahu, suaranya dari luar toilet. Di sini tidak ada siapapun—“


BRUUKKK


“Itu seperti suara orang jatuh.”


Perlahan, aku melangkah mendekati pintu toilet, melihat dari celah pintu, ada pria dan wanita muda sedang saling berhadapan di dekat pintu toilet untuk pria, yang letaknya di sebrang pintu toilet untuk wanita.


Namun yang membuat keningku semakin berkerut dalam adalah wanita itu sudah terpojok di dinding, dia menunduk dan tampak ketakutan, sedangkan sang pria, dia menatap marah wanita itu sambil sesekali melirik ke belakang, seolah sedang memastikan tidak ada yang memergokinya.


“Apa ini semacam pertengkaran sepasang kekasih?” Bisikku, berbicara pada Bayu lewat airpods.


“Beraninya kamu mengancamku, hah!” Pria itu semakin memojokkan wanita di hadapannya ke dinding.

__ADS_1


“Barusan aku memberimu kesempatan—“


Bukkk!


Aku melotot tak percaya melihat pria itu menekan perut wanita itu dengan lutut kaki kirinya.


Bukk!


Dia semakin menekan dan memukul wanita itu dengan kakinya, sedangkan wanita di hadapannya sudah tampak lemas dan merosot ke lantai.


“Sadarlah! I—ini tindak pidana!” Meski jawaban wanita itu terbata-bata, tapi dari suaranya, dia sekuat tenaga menahan sakit dan mengerahkan keberaniannya untuk menghadapi pria itu.


“Serahkan dirimu p—pada polisi agar kamu b—bisa meminta keringanan hukuman!”


“Ha ha ha.” Dia tertawa sinis mendengar wanita itu berbicara, tangannya terangkat untuk menekan leher wanita itu dan berkata “kamu selalu saja mengocehkan tentang hukuman, tapi kamu milikku. Pacarku!”


Aku tiba-tiba merinding melihat adegan kekerasan hubungan pacaran seperti ini. Apa yang harus aku lakukan?


“Tenanglah. Aku sudah mengirim pesan pada Dika dan Lucy agar mereka datang ke tempatmu. Mereka menunggu di mobil ‘kan?”


“Y—ya. Tadi mereka memang mengabari menunggu di lapangan parkir, dalam mobil.” Jawabku bernapas lega karena Bayu masih terhubung denganku.


“Jangan bertindak impulsif, tunggu Dika dan Lucy datang.” Bayu memperingati dengan serius dari airpods di telinga


kananku.


Mendengar perubahan nada suaranya, aku ingat kalau ponselku ada di dekat wastafel, aku berbalik dan meraih benda itu, mengarahkan layar ponselnya padaku agar bisa menatap Bayu langsung dari sambungan video call kami.


Seperti sebelumnya, Bayu masih duduk di depan layar laptopnya, tapi kali ini perhatian penuhnya terarah pada ponselnya.


“Kau tidak apa-apa?”


“Mau mengintip?” Tanyaku balik, tanpa menunggu jawabannya, aku kembali ke pintu masuk toilet, mengintip dari celah pintu, mengganti pengaturan kamera jadi kamera belakang, mengarahkannya pada sepasang kekasih itu.


Ternyata, pria itu sedang melempar pacarnya ke dinding hingga bunyi bukk keras dan erangan tertahan dari wanita itu terdengar menyedihkan. Di lihat dari tindakan pria itu, aku kira wanita itu pasti sempat melawan tadi.


“Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Ini sudah keterlaluan! Wanita itu sudah kesakitan.” Bisikku pada Bayu.


“Coba zoom pria itu. Sepertinya terlihat familiar.” Aku mengerutkan kening mendengar jawaban Bayu, tapi aku akhirnya menuruti perkataannya.


“Kau mengenalnya?”


“Aku tidak yakin, tapi sepertinya dia mirip—Ceasar? Mungkinkah itu Ceasar?”

__ADS_1


...


__ADS_2