
...
“Bagaimana situasi Gilbert?” Wendy bertanya tanpa menatap Cilia.
“Gilbert sudah ada di markasnya, Mereka bisa kabur dengan anggota sebanyak mungkin, anggota lain rela mengorbankan diri sendiri untuk memperlambat polisi.” Raut wajah Wendy semakin terlihat buruk ketika mendengar jawaban Cilia.
Meski Wendy tidak memperhatikan, tapi aku yang sedang menatap mereka berdua melihat Cilia yang diam-diam melirik Wendy sebelum dia bertanya dengan nada canggung, “…bagaimana menurutmu? Apa polisi akan berhasil melacak mereka dan kita?”
Barulah Wendy berbalik untuk menatap Cilia dengan serius dan menjawab dengan tenang, “kita sudah sering terlibat dengan polisi. Pasti ini sama saja. Lagi pula—” wanita itu kembali beralih menatapku dengan senyum puas.
“Suamimu, Bayu, biarpun pada akhirnya mereka tahu ada markas di sini, tapi semua itu akan terlambat. Mereka akan sibuk mencari di markas-markas lain dulu. Jadi, selama menunggu, aku akan menggunakanmu sepuasnya. Ha ha ha.”
Aku di buat merinding mendengar pernyataannya. Bukan takut yang mendominasi, tapi perasaan jijik dan tidak berdaya. Aku masih tidak percaya dan tidak ingin mengakuinya sebagai seseorang yang berbagi darah yang sama denganku.
Lalu tanpa mengatakan apa-apa lagi, Wendy meminta benda yang di bawa Cilia lewat tangannya. Mataku bergetar membayangkan bagaimana kalau dosis yang kali ini dia suntikkan benar-benar akan berpengaruh padaku?
Refleks aku melompat dari ranjang ini, berlari menuju jendela yang di tutup lakban hitam dari luar, berusaha mencari celah untuk melihat keluar. Setidaknya aku harus mencari tahu ada di mana tempat ini dan nanti akan merencanakan pelarian setelah mereka lengah.
Meski celahnya sangat kecil, tapi aku bisa melihat keluar dengan sekilas. Kerutan di dahiku semakin dalam melihat apa yang aku temukan di luar.
Tap
Seseorang menepuk bahuku dari belakang lalu tenaganya yang besar menyeretku untuk mundur dan mendorongku ke lantai yang dingin.
Wendy, dia yang menyeretku sedang berdiri menatapku ke bawah dengan senyum mengejek seolah dia puas melihat ekspresiku yang kebingungan.
__ADS_1
“Seperti yang aku katakan tadi, kau tidak akan bisa keluar dari sini.”
Tanpa sadar aku menelan ludah dengan susah payah, pasalnya apa yang aku lihat barusan adalah rumah-rumah dan pemandangan yang mirip di sebuah desa. Tapi, kesunyian di sekitar kami semakin membuatku bingung.
Banyak dugaan yang aku pikirkan sekarang, kesunyian yang ganjil ini seperti tidak ada siapapun selain kami di sini, yang berarti ini adalah desa yang sudah di tinggalkan dan di biarkan kosong. Atau penduduk desa di sini sudah di jadikan subjek percobaan oleh Wendy dan mereka sedang ada di suatu tempat sekarang.
Langit sore yang aku lihat juga terlihat indah dan cerah. Warna jingga yang mendominasi langit mengingatkan aku pada Bayu.
Hah.
Apa yang dia lakukan sekarang? Mungkin dia sedang sibuk, berjuang untuk menangkap orang-orang ini.
“Katakan padaku, sebenarnya efek apa yang kalian pikirkan setelah racun itu masuk ke tubuh seseorang?” tiba-tiba aku penasaran, ketika memikirkan Bayu, aku jadi agak penasaran dengan racun hormon yang akan mereka berikan. Bukannya percuma kalau mereka harus memberikannya padaku sekarang jika efek samping racun itu akan membuat seseorang kesakitan saat jatuh cinta?
“Kepala dan hati mereka—” Wendy menunjuk kepala dan dada kirinya, “akan kesakitan saat mereka jatuh cinta.” Dia melanjutkan sembari mengangkat bahu, seolah itu hal biasa.
“Kamu tidak jatuh cinta pada Bayu? Suamimu? Pria yang kelihatannya akan memberikan bintang padamu jika kamu memintanya?”
Aku tertawa kecil mendengarnya, bangkit berdiri untuk menghadapnya dan berkata, “apa yang kamu pikirkan memang saat aku ada di rumah sakit sejak Nadya menyuntikkan racunnya? Aku kan tidak sadar selama beberapa hari sedangkan Bayu sibuk bekerja dan pulang malam. Hahaha ya ampun.” Menyadari kalau mereka tidak bisa tahu apa yang terjadi di rumah sakit berarti Bayu berhasil membatasi informasi yang keluar.
Tentu saja perkataanku setengah berbohong, mengingat lagi bagaimana Bayu memelukku sambil menangis dan kami mengobrol setelah itu, tidak sekalipun aku tidak jatuh cinta. Jantungku berdetak kencang seperti remaja yang jatuh cinta untuk pertama kali, tapi aku tidak merasakan kesakitan apapun.
Raut wajah Wendy berubah muram, matanya melirik Cilia dan kembali menatapku yang berujar, “apa kamu menyuntikkan racun padaku untuk membalaskan dendam pada keluarga Danendra? Kakakmu adalah wanita yang melahirkan anaknya, istri ke 2, hanya sebatas itu ‘kan? Karena bibi Rose lah wanita yang di cintai ayah Evano dan merupakan istri pertamanya.”
Aku mengambil kesimpulan cepat karena mereka dengan gigih ingin melihatku menderita karena racun hormon itu.
__ADS_1
“Kamu mengatakan itu seolah kak Mona adalah orang lain. Ingat, dia ibu kandungmu.” Aku yang baru pertama kali mendengar nada dingin Cilia beralih menatapnya.
Ekspresiku yang masih tenang dan tak terbaca membuat kekesalan Cilia terlihat jelas untuk pertama kali, “mungkin, itu memang fakta yang jelas kalau dia ibu kandungku, tapi aku tidak kenal dia dan orang-orang tidak ada yang pernah membahasnya. Aku yakin dia tidak akan keberatan dengan sikapku ini yang tanpa membebankan masa lalu. Justru—” mataku kembali menatap Wendy.
“Rasanya aku tidak punya muka untuk menghadapi suamiku dan keluarganya mengingat orang sepertimu berbagi darah yang sama denganku. Lebih baik sejak awal kamu tidak muncul di depanku demi kehidupan bahagia kita masing-masing.”
PLAAKK
Sebuah tangan menamparku lebih keras dari yang pertama, hingga membuat keseimbanganku goyah dan aku jatuh tersungkur. Saat rasa perih menyebar dari sudut bibirku, lidahku dan hidungku bisa merasakan darah dari sana.
Mataku melirik siapa yang telah menamparku dengan keras. Orang itu adalah Cilia.
Dia tengah menatapku dengan tangan terangkat dan napas yang terengah seolah sedang menekan amarahnya. Mataku balas melotot padanya dan aku segera bangkit berdiri menghadapnya.
PLAAAK
Tanpa aba-aba aku menamparnya sekuat yang aku bisa. Tapi aku harus kecewa setelah melihat hasilnya, hanya pipinya sedikit memerah tanpa ada darah di sana, padahal aku ingin membalas tamparannya yang ini.
“Beraninya kamu, penjahat berkedok jas dokter menamparku! Memang siapa kamu, hah?!” Aku marah, tanganku terkepal keras, ingin memukulnya lagi.
Tangan Wendy langsung menepuk bahu Cilia seolah dia sedang memperkenalkannya, “dia Cilia, anak yang di adopsi oleh orang tua kami. Dia anak bungsu dalam keluarga.”
“Hahaha. Pantas saja.” Aku bergumam mengerti kenapa dia seemosional itu ketika aku membahas tentang keluarga.
...
__ADS_1
.