
...
“Oh, dan bagaimana pergelangan tanganmu?” Bayu meraih tangan kananku yang masih terlilit kain kassa. Cedera akibat menampar seseorang.
“Benar! Aku hampir lupa tentang ini! Semuanya baik-baik saja.”
“Lalu, jahitan di bahu kiri--”
“Lebih baik. Aku benar-benar lupa tentang luka-luka ini.” Jawabku yakin, berharap Bayu tidak usah mengkhawatirkanku terlalu jauh karena pada kenyataannya memang aku sudah merasa sangat sehat.
Tangan Bayu terangkat mengusap puncak kepalaku. Dia tersenyum lebar lalu merangkul bahuku. “Baiklah. Ayo aku antar—“
“Ngomong-ngomong soal itu, hari ini aku izin tidak masuk kerja, dengan begitu kita aku bisa menemanimu seharian.” Aku menahan langkah kakinya.
“Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu? Apa orang kantor tidak akan memecatmu?”
“Tidak. Ayah Evano akan membantuku memberi alasan. Kau tahu, dia sudah membeli sebagian saham perusahaan tempatku kerja.”
“Ohhh? Benarkah?” Bayu mengerutkan kening tampak heran dan takjub.
“Maka dari itu, aku ingin menghindari gosip.” Jawabku mengangguk yakin.
Bayu terkekeh pelan dan bertanya dengan penuh semangat. “Jadi, apa yang harus kita lakukan hari ini?”
“Hmm.. Aku pikir kita harus menemui Camila setelah pemakaman.” Ucapanku terhenti, kali ini getaran ponsel milik Bayu membuyarkan obrolan kami.
Setelah dia melihat nama yang tertera di layar, Bayu memberi isyarat untuk izin menjawab telponnya padaku. Aku mengangguk dan menatapnya melangkah agak menjauh dariku.
Aku memutuskan untuk kembali duduk di bangku, menatap punggung Bayu yang terlihat tegap dari belakang dan memperhatikan bagaimana dia tampak kaku ketika menjawab. Aku kira, mungkin orang yang menelpon dari pimpinan nya?
Tidak lebih dari satu menit, Bayu sudah selesai berbicara di telpon dan sedang menatap ponselnya ketika mendekatiku.
“Ada apa?”
“Boo, maafkan aku. Ada sesuatu yang harus aku lakukan. Markas baru saja menelpon, mereka ingin aku membantu untuk operasi penangkapan hari ini.”
“Hah?”
“Dan mereka akan sampai—“ Belum sempat Bayu menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba dua mobil jeep berwarna hijau datang dan berhenti tidak jauh di depan kami.
Semua pintu dua mobil itu terbuka dan menurunkan orang-orang asing yang semuanya pria memakai baju kasual. Potongan rambut mereka semua sama dan seorang pria dengan wajah yang tidak asing bagiku terlihat melangkah maju mendekati kami.
“Itu mereka.” Bisik Bayu padaku sebelum dia melangkah menjauhiku untuk mendekati pria itu.
Mereka tampak saling memberi salam lebih akrab dan santai, tidak seperti yang aku bayangkan akan lebih kaku. Lalu pria-pria berbadan tinggi besar yang turun dari mobil berbaris di hadapan Bayu dan pria itu.
__ADS_1
Sepertinya aku pernah melihat pria itu, tapi aku tidak ingat di mana?
Pertama setelah berbaris, semua pria itu memberi hormat pada Bayu yang di balas hormat olehnya. Saat dia dan pria yang terlihat seperti pimpinan mereka sedang mengobrol, aku tahu kalau hampir semua pasang mata mereka yang berbaris itu melirikku, ingin tahu.
Lalu, Bayu berbalik dan membawa pria yang mengobrol dengannya itu mendekatiku.
“Sam, perkenalkan ini Icha. Istriku.” Bayu merangkulku dan pria tegap tinggi dengan garis wajah yang tegas ini tersenyum padaku sembari mengulurkan tangannya.
“Oh jadi betulan rumor itu? Kalian menikah kemarin lusa? Halo. Sammy Antonio.”
“Hai. Natasha. Apa kabar?” Aku balas menjabat tangannya. Pria ini terkekeh dan mengangguk.
“Baik. Maaf tidak mengunjungi saat di rumah sakit.” Katanya seketika mengingatkanku pada seseorang yang mengobrol dengan Bayu saat aku di rumah sakit.
Sekarang aku ingat, dia pria itu, yang aku lihat dari jauh mengobrol dengan Bayu, hari ketika aku masuk UGD, hari saat aku berlari dari kamar inap ke pintu lobi rumah sakit dan hampir tertabrak.
“Ah ya. Aku ingat sekarang.” Kataku melirik Bayu yang mengangguk seolah pikiran kami sama.
“Karena mendadak dan ada urusan keluarga jadi kami harus segera menikah kemarin lusa. Resepsi nanti kami pasti akan mengundang semua nya.” Kata Bayu menanggapi pernyataan Sam tadi.
“Tentu saja! Aku tunggu undangannya.” Kata Sam tertawa senang yang menular pada kami berdua.
“Tapi maaf kami semua menganggu waktu kalian. Ada beberapa urusan yang memerlukan bantuan Bayu.” Lanjut Sam padaku.
“Jika semua lancar, tidak akan lama.” Kata Sam yang di balas anggukan olehku.
“Kalau begitu, ayo kita diskusi di rumah.” Ajak Bayu masih tidak melepaskan rangkulannya padaku.
Sam mengangguk kemudian berbalik dan melangkah menjauhi kami menuju pasukannya. Dari tempatku berdiri, pria itu sedang menyuruh dua orang membawa mobil dan sisanya dia menyuruh mereka semua untuk lari memutari komplek yang seketika membuatku langsung menatap Bayu.
“Mereka akan olahraga juga? Dengan pakaian seperti itu?”
“Mungkin hanya satu putaran. Ayo pulang.” Katanya menarikku untuk segera melangkah pulang.
.
..
…
“Sayang, Boo?”
“Hm?”
__ADS_1
Aku yang sedang di depan kaca wastafel sembari memakai anting melirik ke pintu kamar mandi saat wajah Bayu muncul di sana.
“Ayah memanggil kita, dia ingin membicarakan sesuatu.” Aku mengangguk dan segera keluar kamar mandi, mengikuti Bayu. Kami berdua sudah selesai mandi dan bersiap-siap.
Aku memutuskan untuk menemui ayah Evano selama menunggu Bayu dengan urusannya. Namun saat kami sampai di depan pintu kamar, lelaki ini menghentikan langkahnya begitu saja yang membuat keningku bertabrakkan dengan punggungnya.
“Aww… Bee!”
“Maaf sayang, tapi aku melihat sepertinya lipstikmu sedikit berantakkan.” Katanya berbalik sembari mengusap keningku sebentar.
“Benarkah?” Baru saja aku akan berbalik untuk kembali ke kamar mandi tapi lelaki ini menarikku hingga aku terlempar ke dalam pelukannya.
“Biar aku rapihkan.” Bisik Bayu. Wajahnya sangat dengan wajahku yang seketika membuat pipiku memanas. Lensa mata hitamnya melirik bibirku, tangan kanannya terangkat mengusap pipiku dan tangan lainnya menahan punggungku agar aku tidak menjauh darinya.
Aku tahu apa yang sedang ingin dia lakukan.
“Seseorang mengatakan, ciuman adalah trik cinta yang dirancang oleh alam untuk menghentikan ucapan gombal.” Kataku saat Bayu hendak berbicara.
Dia tersenyum lebar dan tanpa mengatakan apapun bibirnya sudah menyentuh bibirku.
Tok tok tok.
Refleks aku melepaskan sentuhan bibir kami kami bahkan sebelum kami saling membalas, karena kaget dengan ketukan pintu, aku menahan senyumanku sembari mendongak menatap Bayu.
“Ka Bayu, Ka Icha! Di panggil ayah!” Itu suara teriak kan dari Alisya.
“Ya! Sebentar!” Bayu balas berteriak dengan wajah kesal.
Aku tertawa kecil dan memutuskan untuk berinisiatif menciumnya lebih dulu. Kami kembali berciuman, saling balas memangut hingga kecupan ringan mengakhiri ciuman ini.
Aku tersenyum malu melihat bibir Bayu sedikit berwarna merah, warna liptint yang di padukan lipstik ku menempel padanya juga. Jari jempolku mengusap bibirnya, berharap bisa menghapus itu dan kami hanya saling melempar tawa konyol.
...
__ADS_1