
...
Kelopak mataku perlahan terbuka di iringi dengan suara orang-orang di sekelilingku yang semakin jelas. Saat pandanganku telah sepenuhnya bisa melihat dengan jelas, hal yang pertama yang aku lihat adalah wajah seorang wanita yang memakai jas putih dan masker menutupi mulutnya.
Beberapa kali dia bertanya padaku. “Kamu bisa mendengarku?”
Aku mengangguk pelan membuatnya menghela napas lega.
“A—aku di mana?” Aku baru sadar jika mulut dan hidungku tertutup oleh masker oksigen.
“Kamu ada di UGD sekarang. Apa yang kamu rasakan? Apa ada yang sakit?” Tanyanya sembari membuka masker oksigenku dan memeriksa tetesan cairan infus. Namun pikiranku langsung teringat tentang Rey Orihara.
Rencana awal untuk kabur darinya tapi aku yang tiba-tiba pingsan dengan kepala yang sangat sakit membuat semuanya berantakkan. Ketika aku dengan cepat merubah posisi menjadi duduk, aku harus kembali berbaring sembari mengerang kesakitan. Kini dada kiriku yang sangat sakit.
“Apa yang sakit? Kamu sedang demam karena kehujanan.” Dokter wanita ini menahan pergerakkanku.
Dia benar, pakaianku semuanya basah. “Dok, sudah berapa lama aku ada di sini? Siapa yang membawaku?”
“Kamu baru di sini sekitar lima menit. Seorang pria yang membawamu ke sini.” Entah mengapa aku menghela napas lega, berarti Rey memang membawaku ke rumah sakit umum dan aku belum terlalu lama pingsan.
“Kau harus di rawat dan melakukan tes lebih lanjut.”
“Dok, aku mau minta tolong.” Aku menahan tangannya saat dokter ini hendak melangkah berbalik untuk memanggil suster.
“Ada apa?”
“Tolong katakan pada lelaki yang membawaku ke sini kalau aku lebih baik pulang saja atau menemui dokter yang menangani kasusku.” Ada keraguan sesaat dari ekspresi dokter ini,
__ADS_1
“Sebenarnya aku punya obat sendiri di rumah dan ada dokter ahli yang biasa memeriksaku, aku akan menelponnya sekarang! Aku hanya lupa belum memakan obatnya. Jika dia tahu aku lupa makan obat, dia akan marah lagi padaku.” Lanjutku berbohong, tapi akhirnya dia mengangguk dan segera berbalik berjalan mendekati pintu luar UGD.
Dengan gerakan cepat aku bangkit duduk dan mengambil tas selendang kecilku yang juga basah di atas nakas. Melihat dokter wanita itu sudah menghilang di balik pintu otomatis itu, aku segera berlari ke arah yang berlawanan. Tulisan di depan pintu only staff yang sejak tadi aku lihat banyak suster dan dokter keluar masuk dari sana.
Aku mengabaikan napasku yang semakin menipis, aku mengabaikan kepalaku yang terasa berat dan pusing, aku mengabaikan rasa sakit di dadaku dan aku mengabaikan pakaianku yang basah dan dingin ini.
Aku tidak melihat kebelakang saat melewati pintu itu, aku hanya berlari sekencang mungkin mengikuti naluri saat melewati koridor yang sepi dan sampai pada tangga darurat. Banyak suster dan dokter yang berpapasan denganku untuk menghentikanku. Tapi tekadku yang ingin kabur dari tempat ini tidak menghentikanku.
Aku terus berlari menyusuri koridor, menuruni tangga darurat sampai ke basement, menabrak beberapa orang yang menghalangi jalanku hingga aku menemukan sebuah taksi baru saja menurunkan seorang nenek dan lelaki paruh baya di depan pintu basement menuju parkiran.
“Cepat jalan pak!” Aku sedikit berteriak setelah masuk ke dalam taksi. Sang supir sempat melirikku tapi dia segera menginjak pedal gas untuk keluar dari basement.
“A—ada apa non?” Tanyanya melirikku dari kaca spion.
“Tidak pak. Saya harus cepat-cepat ke rumah sakit yang ada di pusat kota karena ternyata saudara saya yang kecelakaan di bawa ke sana.” Jawabku berbohong melihat lelaki paruh baya di balik kemudi itu sempat curiga padaku.
Setelah melihatnya mengangguk dan merasakan semakin cepat mobil ini melaju keluar dari basement rumah sakit, aku menghela napas pelan bersandar sembari mengusap dada kiriku yang kesakitan.
Aku tidak boleh sampai pingsan di sini, aku harus kuat!
.
..
…
Hujan deras masih mengguyur kota ini saat taksi yang aku naiki sebentar lagi sampai di rumah sakit tujuanku. Sejak tadi aku hanya bisa mengucap do’a dalam hati, mengatakan semuanya akan baik-baik saja meskipun nyatanya tubuhku berkata lain.
Rasa panas yang membakar dan setiap tarikan napas begitu menyiksaku. Ingin menangis tapi tidak bisa. Ingin berteriak tapi tidak sanggup. Semua rasa sakit ini begitu menyiksaku.
“Sudah sampai non.”
__ADS_1
Aku segera menyerahkan beberapa uang kepadanya, segera turun dari dalam taksi dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Pintu otomatis yang sudah beberapa kali aku lewati ini menyambutku bersama seorang satpam yang sudah aku kenal segera keluar dari sana.
“Ohh, nona Icha!” Sapanya kaget melihat pakaianku yang basah.
“Dimana aku bisa menemukan dokter Stefan?” Tanyaku mengikutinya masuk ke dalam rumah sakit dengan langkah sedikit tertatih. Aku tidak bisa menyembunyikan tubuhku yang bergetar kedinginan.
“Dokter Stefan sedang ada tamu penting dan tidak bisa di ganggu—sus, bisa pinjam handuk untuk nona Icha?” Pria paruh baya ini menghentikan seorang suster yang berjalan menghampiri kami, kemudian dia mengangguk dan kembali berbalik.
Aku memutuskan untuk duduk di kursi tunggu di lobi rumah sakit ini bersama orang lain yang sedang duduk diam juga. Tak lama suster yang tadi, sudah dating sembari menyerahkan handuk berwarna hijau muda padaku.
“Terima kasih.” Jawabku tersenyum kecil padanya.
“Apa kamu perlu sesuatu?” Tanya wanita ini menatap wajahku teliti. Aku hanya menggeleng dan sekali lagi mengucapkan terima kasih sebelum dia pergi.
“Nona Icha tidak apa-apa?” Satpam yang sejak tadi berdiri di sampingku sekarang tampak khawatir. Aku hanya menggeleng dan tersenyum lemah sembari melingkarkan handuk ini ke sekeliling tubuhku.
“Pak, apa biasanya dokter Stefan akan lama menerima tamu ini?” Tanyaku sekali lagi untuk memastikan, tubuhku sudah tidak kuat lagi. Sejak tadi aku mengusap dan menekan dada kiriku dari balik handuk ini, berharap bisa menahan rasa sakitnya.
Aku membutuhkan obat itu dan untuk mendapatkannya kembali harus memakai resep dokter. Sekarang aku berpikir, seharusnya tadi sebelum di buang aku memisahkan setidaknya satu tablet per obat. Bodoh!
“Saya kurang tahu non, tapi tadi sepertinya serius sekali sampai beberapa orang berpakaian tentara membawa senjata.”
“APA?!” Aku memekik senang dan kaget hingga tidak sadar menjatuhkan handuk itu.
Tanpa menunggu jawaban satpam ini aku segera berlari menuju ruang dokter Stefan yang terletak di lantai ini juga. Untuk sesaat aku mengabaikan segala rasa sakit yang di rasakan, aku hanya senang sekali memikirkan itu pasti Bayu. Hanya harapan ini yang bisa membuatku berlari seperti ini.
Meskipun aku tidak yakin siapa yang menjadi tamu dokter Stefan, tapi setidaknya aku ingin berharap itu adalah Bayu.
__ADS_1
…