EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 213


__ADS_3

...


 


 


 


 


“Ketika kau mencari tempat pensilmu sampai larut malam hari itu, aku senang akhirnya bisa berdua denganmu, aku hendak memberikan tempat pensilmu dan mengatakan ‘Hei, aku menemukannya di sana, aku tidak menyembunyikannya, karena aku membantumu menemukan tempat pensil, maka ayo kita berteman dan lupakan permusuhan kita selama ini’.” Aku tertawa geli mendengar ceritanya.


“Tapi justru kau menangis, bayangan image yang ingin aku ciptakan saat itu di hadapanmu buyar seketika, dan akhirnya aku mengembalikan tempat pensilnya dengan tambahan pukulan darimu.” Bayu juga tertawa di akhir kalimatnya. Kami berdua tertawa konyol mengingat masa-masa itu.


“Aku sudah utuh sebelum bersamamu, kamu sudah sempurna sebelum bertemu denganku, tapi sejak kau dan aku menjadi kita, keutuhan itu terasa lebih bermakna.” Aku berusaha menahan senyumanku, baru beberapa menit kami bertemu tapi Bayu sudah membuatku tersenyum tak terkendali.


Lelaki ini masih merangkul bahuku, melirikku setelah menghabiskan minuman dingin milikku dan tangannya yang lain masih sempat-sempatnya mengusap puncak kepalaku. Dia tersenyum lebar semakin membuatnya lebih tampan dan mempesona.


 


 


“Kamu yang senyum, aku yang diabetes.” Lalu tawanya meledak mendengar jawabanku.


Dia menarikku ke dalam pelukannya, merangkul bahuku dengan satu tangannya dan berkata. “Denganmu, hatiku telah menemukan ritmenya.”


 


 


“Berhenti gombalnya! Sekarang lebih baik putuskan mau makan di luar atau di rumah?”


“Oh ya aku ingat sesuatu.” Bayu melepaskan pelukannya dan menatapku.


 


“Kita harus makan di rumah, bunda menyiapkan makanan. Ayah Evano juga ada di sana. Makan malam pertama keluarga kita.” Aku mengangguk dan segera membereskan barang-barangku, memasukkannya ke dalam tas.


 


 


“Ini semua sudah di bayar?” Bayu yang sudah berdiri menatap gelas dan piring cemilan kosong di atas meja.


“Belum. Suamiku, kau mau membayarnya?” Aku bertanya dengan nada manis.


“Tak perlu sungkan, istriku! Perkatanku sebelumnya tentang aku membutuhkan istri untuk menghabiskan uangku, tetap berlaku.” Bayu menjawab dengan nada jahil. Untuk kesekian kalinya aku tertawa sembari melihat punggungnya yang semakin menjauh, menuju meja kasir.


 


 


.


..

__ADS_1



 


 


 


“Loh, ini bukan jalan menuju rumah.” Aku berkata ketika melihat Bayu memutar kemudinya, berbelok di persimpangan.


“Bukan. Jack menunggu kita.”


“Jack? Kenapa?”


“Kau akan tahu nanti.”


 


 


 


 


 


Sepuluh menit berikutnya mobil berhenti dan jawaban atas pertanyaanku tadi terjawab di depan mata. Hanya berjarak lima meter, sebuah mobil hitam yang tak asing juga motor sport terparkir di depan mobil itu, seolah menghalangi mobil di depannya.


Jalanan yang sepi juga langit yang berwarna gelap membuatku sedikit khawatir, pasalnya Jack tampak mengobrol serius pada seorang pria berbadan besar di depannya tepat ketika lampu sorot mobil Bayu menyoroti mereka.


 


 


 


Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan tapi kemudian Bayu berjalan santai menuju pintu mobil hitam itu dan mengetuk kacanya. Ketika kaca mobil sudah turun, aku bisa melihat jelas orang di dalamnya.


 


 


Robert Fito.


 


Bayu berbicara sebentar dengan wajah serius pada Robert yang lanjut pria itu turun dari mobilnya.


Aku masih memperhatikan keempat orang itu dari dalam mobil, Jack dengan pria tak di kenal yang aku duga adalah supir Robert dan Bayu dengan Robert sendiri. Lampu sorot dari mobil jeep Bayu pada mereka membuat suasana tampak tegang.


Tidak sampai satu menit, aku melihat Robert menyodorkan ponselnya pada Bayu yang langsung di terima lelaki itu.


Bayu berbalik dan berjalan mendekati mobilnya, dia bergerak ke sisi mobil tempat aku duduk dan aku segera menurunkan kaca mobil saat dia datang.


 

__ADS_1


 


“Foto yang ini?”


“Ya.” Jawabku memperhatikan fotoku sendiri yang sedang duduk di café tadi dari ponsel yang di tunjukkan Bayu.


“Sudah di hapus.” Sekali lagi Bayu menunjukkan layar ponsel itu ketika tulisan ‘di hapus sukses’ berada di tengah layar.


“Dia belum sempat menyebarkan fotomu, katanya dia tidak menyangka aku akan datang padanya secepat ini. walaupun mungkin dia bohong, aku sudah meminta Carlie memeriksanya.”


“Terima kasih banyak.” Jawabku tersenyum lembut menatap lelaki ini. Aku merasa tersanjung karena janjinya tadi terlaksana secepat ini.


Bayu balas tersenyum padaku dan tangannya terangkat mengusap sisi kepalaku. “Anytime, sayang.”


 


 


 


“Orang tuaku akan tahu masalah ini!! Kau dengan sengaja menghalangi jalanku oleh orangmu yang tidak berguna itu!” Robert tiba-tiba saja sudah ada di belakang Bayu dan merebut ponselnya dari tangan Bayu.


Amarahku langsung tersulut mendengarnya merendahkan Jack. Aku segera keluar dari mobil dan berdiri di samping Bayu.


“Jadi kau mengharapkan apa dariku untuk ancaman itu? Jelas sekali di sini alasannya kenapa kami menahanmu.” Suara dingin dan penuh penekanan dari Bayu membuatku meliriknya. Dia melangkah mendekati Robert yang justru pria ini melangkah mundur dengan gugup.


“A—aku dengar tentangmu. Kau adalah pria yang di kenal kejam dan dingin. Kau tidak berbelas kasihan bahkan pada orang-orang kecil.”


“Coba kau dengar sendiri perkataanmu itu. Aku sudah peringatkan, jangan ganggu Icha!” Bayu sudah berdiri dengan jarak paling dekat dengan Robert, aku melihat ujung sepatu mereka hanya berjarak lima senti.


“Apa dengan menikah dengan Icha, putri tersembunyi keluarga Danendra, membuatmu besar kepala? Semua orang dari lingkungan sosial kita tahu kalau kau di jodohkan dengannya. Keluarga pembisnis seperti Danendra lebih cocok bersanding dengan keluarga pembisnis lainnya! Mungkin kalian terlihat romantis sekarang, tapi aku tahu itu hanya topeng! Cinta kalian tidak nyata!”


“Kalau kau tidak tahu, lebih baik tutup mulut sebelum aku menghajarmu!” Aku melihat bagaimana kedua tangan Bayu mengepal kuat, dia berusaha menahan amarahnya untuk tidak segera memukul pria ini.


“Aku tidak tertarik dengan menikah untuk bisnis jika itu maksudmu.” Kataku melipat kedua tangan di atas perut. Menatapnya setajam mungkin.


“Tidak! Bukan itu maksudku! Kalau saja kita bisa bertemu lebih awal, kalau saja aku lebih dulu mengenalmu dari pada dia, aku yakin kita akan jadi pasangan yang cocok. Kita sama-sama dari latar belakang keluarga yang sama, pekerjaan kita juga se tipe, kita akan—”


“Tidak ada kata ‘kita’ untukmu!” Potong Bayu kali ini sembari menunjuk dada Robert dengan jari telunjuknya.


“A—aku tidak takut padamu! K—kau dan keluargamu hanya berusaha memperkuat nama kalian dengan bersanding dengan keluarga Danendra!” Suara Robert terdengar lebih gugup sekarang.


“Icha, kau harus tahu bagaimana buruknya lelaki ini. Dia sangat kejam! Saat peristiwa teror bom di gedung pinggir kota, dia memasukkan orang-orang kecil yang tidak bersalah ke dalam penjara! Bahkan dia tega menangkap seorang anak kecil berumur sepuluh tahun, dia terburu-buru menetapkan tersangka dan tidak mengecek ulang. Hasilnya anak itu bunuh diri karena di tuduh dalam rencana teror itu padahal banyak bukti mengatakan anak itu tidak bersalah.”


“Diam!!” Bayu bergumam lebih dingin dan tajam dari sebelumnya.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


...


__ADS_2