EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 181


__ADS_3

...


 


 


“Ngomong-ngomong, rumahnya yang mana? Aku tidak tahu.” Bayu berusaha mengalihkan topik pembicaraan dan berhasil menyadarkanku.


“Benar! Aku juga tidak tahu yang mana.”


“Rumahnya nomor berapa?”


“Nomor 17/12F.” Jawabku.


Bayu melajukan mobilnya perlahan ketika melewati rumah-rumah, setelah menghitung urutan rumah sesuai nomor yang tertera, kami menemukan rumah yang di maksud.


 


 


Di komplek ini setiap rumah tidak berdempetan, banyak pohon tinggi yang menutupi di sepanjang jalan dan ketika mobil jeep yang Bayu bawa sampai di depan gerbang, tiba-tiba gerbang terbuka dengan sendirinya seperti mereka sudah tahu kami datang.


Dari gerbang sampai ke pintu utama agak jauh untuk ukuran halaman rumah. Begitu kami masuk pun bangunan di depan kami sangat besar dengan arsitektur seperti istana, aku tidak percaya kalau ada bangunan seperti ini di dalam kota.


Di tengah-tengah halaman ada air mancur dengan pepohonan dan taman kecil di depan pintu. Rumah yang megah dan indah.


Tepat saat mobil sudah sampai di teras rumah, dua orang pria berpakaian rapih sudah menunggu di sana dan membuka kan pintu mobil untuk kami berdua.


Aku segera turun dan melihat ke sekililing, meski pagi ini matahari bersinar terang, tapi kesejukan di sini membuai ku.


 


 


 


“Selamat datang nona Icha dan tuan Bayu. Silakan masuk, semuanya sudah menunggu.” Suara tenang lain sedikit mengejutkanku karena pria yang sudah tua itu sudah berdiri di teras, entah datang dari mana.


Perawakannya yang lebih pendek dari Bayu, badannya agak gemuk, rambut dan alisnya sudah berubah warna abu-abu, meski sudah tau, melihatnya berjalan tegap di depan kami tidak percaya kalau dia sebenarnya sudah berumur.


Kedua tanganku meraih tangan Bayu, meremasnya pelan pertanda aku gugup sekali. Lelaki ini melirikku dan balas menggenggam tanganku sembari mengangguk pelan. “Tenang saja, aku di sini.”

__ADS_1


Semua kemewahan yang aku lihat ini semakin membuatku gugup dan tidak tenang. Rumah yang kami masuki memiliki langit-langit yang tinggi, beberapa orang berpakaian rapih mirip petugas keamanan berjalan melewatiku, wanita-wanita berpakaian pelayan dengan rambut yang di sanggul juga sedang sibuk membersihkan di sekitar tangga.


Tangga besar melingkar di hadapan kami mengalihkan perhatikanku, meski saat masuk melewati pintu utama ada banyak pintu-pintu tertutup di sekeliling kami tapi wajah tua yang aku lihat di laporan Bayu waktu itu berdiri di anak tangga paling atas.


“Tuan, mereka sudah datang.” Kata pelayan pria tua yang mengantar kami.


Pria tua di atas itu adalah Alvaro Markus Danendra, pemilik grup Eternity juga adalah kakek kandungku. Dia melangkah menuruni tangga dengan ekspresi datar yang sama.


Aku melirik sekilas Bayu, lelaki ini tampak sama tegangnya denganku seiring dengan pria itu mendekati kami. Pandangan mata Bayu yang tidak lepas menatap setiap pergerakkan sang tuan rumah membuatku harus sedikit menggoyangkan genggaman tangan kami.


Bayu mengerjap dan melirikku. “Hmm?”


 


 


“Natasha??” Panggilan seseorang dari belakang membuat kami berdua berbalik. Suaranya yang berat dan tenang sangat asing di telingaku.


Hanya berjarak dua meter dari tempatku berdiri, seorang yang duduk di atas kursi roda menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Pria lain yang mendorong kursi roda di belakangnya tampak familiar bagiku.


“Evano? Bukannya kamu pergi ke perusahaan tadi?” Pertanyaan kakek Alvaro membuatku tersadar.


Sekarang aku ingat, pria yang duduk di kursi roda itu adalah ayah kandungku, juga pria yang ada di belakangnya sama-sama memakai setelan jas rapih adalah Wildan, dia yang sempat ingin menemuiku saat di restoran itu, yang kemarin paman Kenzo bilang dia adalah orang ketiga terpenting di perusahaan yang sering di cari orang-orang.


Tidak bisa di pungkiri jantungku berdetak cepat melihat bagaimana ayah kandungku ini menatapku penuh kerinduan, matanya berkaca-kaca dan bibirnya terlihat kaku. Untuk sepuluh detik berikutnya, hanya ada kesunyian di antara kami semua. Aku tidak tahu harus mengatakan apa di saat seperti ini.


“Tuan Evano?” Wildan menyadarkannya ayah yang hanya menatapku sejak tadi.


“Ah maaf! Aku hanya sering melihat fotomu, tapi melihatmu secara langsung seperti ini, kecantikanmu mengingatkanku pada Mona Keilani, tapi dia lebih feminim. Lalu gaya dan kharisma yang terpancar olehmu mengingatkanku pada Rose. Aku senang kau baik-baik saja.” Kata ayah terdengar sangat to the point bagiku.


Aku melirik sekilas baju yang aku kenakan sekarang, padahal aku hanya memakai celana skinny hitam dengan atasan kaos turtleneck lengan panjang hitam di padukan dengan sweater kebesaran berwarna coklat. Rambutku yang di ikat dengan polesan make up agar wajahku yang agak pucat tidak terlihat jelas.


 


 



 


 

__ADS_1


Pagi tadi aku dan Bayu sempat berdebat mengenai alat penyangga tangan yang di berikan dokter Stefan di rumah sakit, aku tidak mau memakai itu sedangkan Bayu ingin aku untuk memakainya. Namun akhirnya Bayu yang mengalah tidak memaksaku lagi.


“A—aku di sini ingin membicarakan sesuatu pada tuan Alvaro.” Kataku berbalik untuk menghadap pada pria tua itu, untunglah suaraku tidak terdengar serak karena suasana canggung ini.


“Baiklah, ayo kita ke duduk.” Dia berbalik menuntun kami pada sebuah pintu yang tertutup di samping kananku. Pelayan yang tadi mengantar aku dan Bayu berjalan cepat untuk membuka kan pintu.


 


 


Sebuah ruangan dengan satu set sofa dan meja kaca mewah, lemari-lemari dengan koleksi keramik di dalamnya dan piano di sudut ruangan. Lampu besar di langit-langit juga karpet beludru berwarna merah maroon.


“Felix, siapkan teh dan cemilan.” Perintah tuan Alvaro pada pelayan tua itu.


Dia mengangguk dan berbalik keluar dari ruangan, kini aku, Bayu, ayah kandungku, tuan Alvaro dan Wildan sudah duduk di sofa.


“Akhirnya kamu pulang juga. Kakek sudah menunggu kedatanganmu.” Pria tua itu berbicara dengan nada yang lebih bersemangat dari sebelumnya.


Aku melirik Bayu sekilas. Lelaki ini sudah tidak gugup seperti tadi, kami bertukar pandangan sesaat, entah Bayu memikirkan hal yang sama denganku atau tidak.


“Aku tidak mengerti maksud tuan Alvaro mengenai aku yang akhirnya pulang. Maaf atas kelancanganku tapi di sini aku hanya ingin mengatakan tiga hal penting.”


“Wah wah, benar! Evano, dia mirip sekali denganmu. Tidak suka basa basi.” Kakek ku itu menatap ayah sekilas. Mataku melirik ayah yang masih menatapku sejak tadi, menghiraukan perkataan kakek.


“Katakan.” Lanjut kakek.


“Pertama, mungkin kalian sudah tahu tapi aku tetap akan memperkenalkannya, ini Bayu. Pacarku.” Kataku berusaha terdengar setenang mungkin.


“Saya Bayu Christ Jeremy, pacar Icha.” Bayu menjawab dengan tenang.


“Yaa, kakek tentu saja tahu. Kau mungkin juga sudah tahu nak, tapi aku kakek Icha, Alvaro. Dan dia ayah kandungnya, Evano. Sedangkan pria yang di sebelah Evano adalah Wildan, asisten anakku.” Bayu melirik sekilas ayah dan Wildan, ketiganya mengangguk dan tersenyum singkat.


“Kedua, aku ingin mengkonfirmasi mengenai seorang yang kabarnya akan di jodohkan denganku bernama Caesar Adinata.”


“Kakek menjodohkan Natasha dengan anak itu tanpa sepengetahuanku?!” Tiba-tiba nada tinggi ayah mengagetkanku. Wajahnya kaku dan masam menatap kakek.


 


 


...

__ADS_1


__ADS_2