
...
Ayah tampak berpikir keras, ingin menolakku dengan segala cara tapi sepertinya apa yang aku katakan masuk akal baginya.
“Tidak!”
“Oke.” Aku segera berdiri menghadap ayah yang sejak tadi mondar mandir di hadapan kami bertiga, “kalau gitu, jangan kaget kalau aku kabur—“
“Ayah akan menemukanmu di mana pun kamu berada.”
“Icha akan sembunyi di mana pun hingga ayah tidak akan menemukanku!” Balasku tidak terima.
Ayah hendak membalas perkataanku, tapi mulutnya terkatup erat sembari membuang napas keras, “sudahlah! Biar ayah diskusikan dulu dengan Rasha. Bagaimanapun, ayah akan mempertimbangkan nya setelah mengetahui lokasi pasti Bayu di tugaskan.”
Aku tersenyum lebar dan menjawab, “itu usulan yang bagus, Yah. Aku tunggu izin ayah.”
“Kamu ini, keras kepala sekali!” Ayah menggeleng menatapku.
“Tentu saja, pak Evano. Melihat perdebatan kalian, nona mirip sekali dengan anda.” Ujar Wildan membuatku dan ayah menatapnya dengan tatapan tajam.
“Jadi, Yudha. Kita bertemu lagi.” Kali ini aku mendekati Yudha dan mengangkat tangan, “kerja sama pertama kita, semoga semuanya lancar.”
Yudha tersenyum lalu berdiri menghadapku dan membalas jabat tanganku, “semoga lancar. Aku senang bisa satu tim dengan nyonya Icha.”
.
..
...
Aku menutup pintu ruang kerja ayah tepat ketika mataku menangkap sosok Diana yang segera berdiri dari posisi duduknya di sofa tunggu depan pintu.
Setelah diskusi singkat tadi, ayah memintaku keluar karena dia akan mendiskusikan sesuatu dengan Wildan dan Yudha.
Melihat hanya aku yang keluar, ekspresi wajah Diana berubah kecewa, dia mendengus kesal dan kembali duduk, tidak memperdulikan aku.
Setelah pertimbangan singkat, akhirnya aku memutuskan untuk berbicara dengan wanita itu. Maka, aku segera melangkah mendekatinya dan memanggil, “Diana.”
Dia melirkku dengan matanya tanpa perlu repot untuk berdiri menyambutku. “Ya?”
Aku menghembuskan napas keras, melipat kedua tangan di atas perut dan bertanya, “apa kau punya masalah denganku?”
__ADS_1
“Aku tidak mengerti maksudmu.” Jawabnya acuh.
“Pandangan matamu tidak bisa berbohong. Aku bisa dengan jelas melihat, tidak hanya dari mata, tapi raut wajahmu, tertulis dengan jelas di sana kalau kau tidak suka padaku.”
“Oh ya? Aku tidak tahu itu. Memangnya, semua orang harus menyukaimu?”
Aku memutar bola mataku jengkel, “aku sudah menduga, kau tidak suka padaku karena kau takut aku mencuri julukanmu yang di kenal oleh orang-orang kantor, kalau kau sudah di anggap sebagai putri pak Evano. Kau tidak suka padaku karena kehadiranku yang tiba-tiba berada di tengah kalian.”
Diana masih menatapku dengan dingin, dia tidak menjawab, bibirnya masih bungkam dan jelas sekali dari sorot matanya kalau dia sedang menentangku.
Aku menggeleng dengan tingkah lakunya, dan melambai tidak peduli sembari berkata, “aku tidak akan memaksamu untuk menerima kehadiranku atau menyukaiku. Aku juga tidak peduli, dan pendapatmu tentangku, tidak penting, satu hal yang perlu aku peringatkan, kalau kau mencari masalah denganku, aku tidak akan tinggal diam.”
Diana mengerling dan berdecak pelan setelah mendengar perkataanku. Karena tidak ingin lagi bersamanya, aku segera pergi dari hadapannya.
Saat aku keluar dari ruangan yang sama dengan Diana dan melangkah menuju halaman belakang untuk menemui tante Kenzie, paman Kenzo tiba-tiba saja sudah berjalan sejajar denganku, dia berlari kecil untuk menyusulku dari belakang dengan cengiran lebar.
“Kau berani sekali.” Katanya.
“Apa?”
“Diana. Jadi kau mengatainya langsung, eh?”
“Aku tidak mengatainya, hanya sedikit memperingatinya. Bagaimanapun, aku tidak suka melihat pandangan matanya ketika melihatku.” Jawabku jujur.
“Begitu? Kenapa tidak ada yang berani?” Aku jadi sedikit tertarik.
Paman Kenzo mengangkat bahunya, “mungkin karena dia dekat dengan Wildan dan kakak.”
Aku mengangguk mengerti.
“Tapi ngomong-ngomong, Wildan sempat cerita singkat tadi, kalau memang akhir-akhir ini Diana sering marah-marah dan mengakibatkan beberapa pekerjaan hasilnya tidak maksimal. Seperti masalah yang tadi kalian diskusikan, Diana lah yang bertanggung jawab untuk melakukan perencanaan. Mungkin wajar saja dia tambah tidak suka padamu.” Jelasnya membuat semuanya jelas sekarang.
“Sudah bukan hal aneh lagi. Biarkan saja, toh saat ini dia tidak menggangguku.” Jawabku.
Paman Kenzo mengangguk, “tidak perlu ambil pusing, yang seharusnya kau ambil pusing itu tentang Kenzie.”
“Ada apa?” Aku senang karena paman Kenzo mau mengalihkan topik pembicaraan kami.
“Dia sedang sangat senang memilih tanaman hias untuk di berikan padamu. Berharaplah dia akan memberikan lidah mertua.”
Aku tertawa kecil tapi tidak bisa menahan diri untuk bertanya, “kanapa?”
“Tentu saja agar tidak perlu di siram tiap hari. Lidah mertua bisa hidup meski hanya di siram sebulan sekali.” Kami berdua mulai tertawa konyol, tidak menghentikan langkah mendekati tante Kenzie yang sibuk dengan tanaman hiasnya di halaman belakang.
__ADS_1
***
4 bulan kemudian.
“Kak Icha! Di sini!!”
“Oh Alisya!! Kamu datang?? Dan Zac! Sudah lama ya tidak bertemu.”
“Selamat siang nyonya Icha.”
“Ishh. Kamu masih aja kaku.” Alisya menyikut lengan pria di sampingnya.
“Zac hanya bertemu dengan nyonya Icha beberapa kali, jadi—“
“Jadi harusnya bisa lebih santai.” Potong Alisya.
Aku tersenyum kecil, merangkul lengan gadis ini dan menyelidiki wajahnya, “sudah lama tidak bertemu, kamu tambah cantik aja.”
“Aduh kak! Seharusnya Alisya yag bilang begitu. Justru kak Icha yang tambah cantik, apalagi gaya rambutnya terlihat fresh. Alisya jadi kepingin di warnain kaya gini.” Jelasnya balas merangkulku.
“Cuma sedikit perubahan untuk suasana hati.” Jawabku, tanpa sadar aku memandang diriku di depan kaca jendela restoran, meski gelap tapi aku bisa melihat tampilanku di sana.
Rambutku tumbuh lebih panjang, tepat seminggu yang lalu aku datang ke salon kecantikan untuk mewarnai rambutku dengan model warna ombre biru dan abu-abu. Perpaduan abu-abu dan biru di bagian bawah memberikan kesan yang unik karena dibuat secara horizontal, sehinga terkesan seperti gradasi. Meski model ini bukan lagi trend sekarang, tapi aku cukup puas dengan hasilnya.
“Alisya juga mau! Kira-kira yang cocok warna apa?” Tanya nya menatapku.
Aku terdiam, menatap rambut Alisya yang panjang bergelombang di biarkan tergerai, tipe rambutnya sama denganku, “mungkin...”
“Ya ya?”
“Menurutku, rambut yang berukuran panjang, warna blue black sangat terkesan manis dan anggun, di tambah lagi dengan tekstur rambut yang bergelombang. Tapi menambahkan violet juga bagus. Violet merupakan turunan warna biru yang menghasilkan efek kemerahan. Warna violet dapat digunakan untuk memberikan efek perpaduan warna senada yang cantik sehingga warna voilet dapat muncul dengan maksimal.”
“Kak Icha kedengaran pro sekali.” Alisya meledekku.
Aku tertawa dan menjawab, “awalnya, salon kecantikan yang aku datangi itu merekomendasikan warna rambut blue black dengan highlights violet, tapi aku menolaknya. Kalau di pikir-pikir, warna violet lebih cocok untukmu.”
...
__ADS_1