EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 44


__ADS_3

...


Aku mengangguk, dugaanku ternyata benar. Mereka berani menculik di tempat umum seperti dalam kereta karena mereka yakin bahwa mereka akan mendapatkannya. Aku tidak membayangkan harus berada di situasi seperti ini.


Aku berdiri dan mulai memperhatikan gudang ini. Memperhatikan setiap barang-barang yang mungkin akan berguna. Mencari celah yang mungkin bisa memberi kami kesempatan untuk kabur. Sambil berdo’a dalam hati, memohon agar setidaknya diberi perlindungan, mataku tidak sengaja menangkap bayangan penjahat yang tadi menodongkan pistolnya padaku sedang berjalan dibelakang gudang.


Aku yang melihatnya dari celah jendela memperhatikan lelaki itu, dia berjalan tenang ke pudunan bawah hingga tubuhnya tidak terlihat. Jika di dengarkan ternyata sejak tadi aku mendengar dengan jelas suara air mengalir.


“Woy, sedang apa??” Tiba-tiba teriakkan penjahat lain muncul di depan jendela ini. Aku tersentak kaget


berharap dia tidak menyadari keadaanku.


Tidak menjawab, penjahat yang sempat turun ke bawah langsung muncul sembari berkata. “Aku baru saja membuang barang gadis itu ke dalam air.”


“Ayo cepat, bos menunggu kita.”


Dengan langkah pelan namun cepat, aku mengendap-endap untuk kembali bergabung dengan kumpulan anak-anak dan gadis itu di dekat pintu. Tepat ketika aku sudah duduk di hadapan mereka, kunci pintu ini berbunyi, seseorang membukanya dari luar.


“Jangan berisik!! Kallian tidak akan bisa keluar dari sini!” Ancaman pria ini membuat anak-anak memekik ketakutan.


Kedua lelaki ini justru tertawa keras melihat reaksi anak-anak, aku yang muak melihat wajah penjahat ini hanya


memalingkan muka dan sibuk menepuk-nepuk punggung anak-anak di hadapanku.


“Hei Kau!” Panggilan penjahat itu menarik perhatianku. Pria ini tengah menunjukku dengan tatapan tajamnya.


“Bawa dia keluar!” Dia memerintakah temannya. Aku yang tidak mengerti apa yang terjadi hanya menatapnya semakin kesal.


“Sudah nanti saja, bos sedang menunggu kita.”


“Aku bilang bawa! Wajah gadis ini tidak takut sama sekali. Kita harus memberinya pelajaran!” Aku terkesiap tidak


percaya. Jantungku berdetak tidak karuan. Adegan-adegan sadis di dalam film yang aku tonton seketika muncul saling bergantian.


Apa mereka akan memukulku? Apa mereka akan mengurungku di tempat ular berbisa? Astaga apa yang akan mereka lakukan?!


Lelaki itu menyeretku paksa keluar dari gedung. Aku bisa meliat anak-anak dan gadis itu berusaha menahanku tapi


sia-sia. Aku sudah di bawa paksa oleh kedua lelaki ini dan mereka menarikku ke sebuah tenda besar tak jauh dari gudang.


Tenda besar ini sebelumnya tidak aku lihat karena posisinya yang berada di belakang rumah-rumah. Ternyata dari luarnya saja banyak sekali yang menjaga dengan pistol di tangan mereka masing-masing.


Baru saja aku akan di bawa masuk ke dalam tenda, tapi langkah kami terhenti saat dari samping kiriku segerombolan pria-pria berjalan mendekat.


“Mike, apa yang kamu lakukan?”

__ADS_1


“Oh Bos, kau sudah datang.” Penjahat yang sejak di kereta mengancamku dengan todongan pistolnya tampak tersenyum kecil menyambut seorang pria berpakaian rapih di antara pria-pria penjaganya itu.


Untuk sesaat orang yang di panggil bos itu menatapku dari bawah ke atas dan bertanya pada Mike. “Siapa dia?”


“Dia gadis yang saya bawa bersama anak-anak itu. Mereka selalu menangis jadi kami memutuskan untuk membawa dua orang dewasa untuk menenangkannya.”


Bos besar ini mengangguk kecil masih sempat melirikku. Aku tidak tahu apa yang di lihatnya hanya saja hal itu


membuat Mike yang menarik tanganku kasar juga menatapku.


“Kamu akan membawa dia kemana?”


Seperti tersadar dari keadaan canggung ini, Mike tersenyum kecil pada bosnya. “Saya berniat ingin bertemu denganmu bos, saya ingin ijin keluar untuk memberinya hukuman.”


Aku mendelik menatap Mike, aku benar-benar tidak peduli akan keselamatanku. Memikirkan jika aku sendirian di dunia ini membuatku berani menatap penjahat ini.


Mike menarik pergelanganku kasar dan wajah kami dekat sekali, dia menatapku marah tapi aku yang muak menatapnya segera menginjak kakinya sekuat tenaga yang berhasil membuat cengkramannya lepas dan dia mengaduh kesakitan.


Lalu telingaku mendengar suara tawa dari mulut Bos besar ini dan entah mengapa pria-pria penjaga di sekelilingnya ikut tertawa.


“Ahh aku mengerti mengapa dia membuatmu kesal. Tapi Mike, dia adalah tamu di sini. Kita harus memperlakukannya dengan baik. Ingat, kita hanya menyandra mereka bukan untuk menyakiti mereka sampai kesepakatan dengan pemerintah terpenuhi.”


“Kesepakatan hanya dengan anak-anak itu. Tidak dengan dia!”


berteriak tapi suaraku tidak akan terdengar.


Sekali lagi aku menendang kaki tulang keringnya dan hal itu membuatnya kembali mengaduh kesakitan. Lalu tawa


orang-orang di sekitarku kembali terdengar. Dalam hati aku cukup puas melihat lelaki ini di tertawakan.


Tiba-tiba Mike mendorongku dan berhasil membuat punggungku menabrak pohon besar di belakangku. Sekarang aku merasakan bahu kiriku berdenyut kesakitan hingga tanpa sadar aku meringis dan ingin menangis rasanya. Benar-benar menyakitkan.


“Mike, kamu tidak berubah. Selalu kasar terhadap wanita.” Refleks aku terbatuk-batuk karena tersedak dengan


salivaku sendiri saat mendengar sahutan itu.


Suara dark tambor milik seseorang yang begitu familiar di telingaku. Suara yang rasanya sudah lama sekali tidak terdengar. Suara yang diam-diam aku nantikan.


Sembari menepuk pelan dadaku, aku melirik cepat ke sumber suara. Raut wajah bos besar itu tersenyum dan tubuhnya sedikit menyingkir saat tubuh seorang pria sudah berdiri di sampingnya.


“Rio! Kau sudah datang!” Nada suara senang si bos ini membuatku semakin tidak percaya. Di sana berdiri lelaki yang seminggu ini aku abaikan pesannya.


 


 

__ADS_1


 


Bayu!!


 


 


 


 


Wajah kaku itu tersenyum kecil menanggapi ucapan lelaki di sampingnya yang mulai merangkul pria bernama Rio.


“Ohhh.. Si kartu AS kita dating rupanya.” Mike menjawab dengan nada suara yang membosankan.


“Kau terlalu membosankan Mike, maka dari itu wanita akan selalu kesal padamu.” Ledekkan Bayu di sambut tawa geli dari pria-pria itu.


Mike tampak berusaha menahan amarahnya, kedua tangannya terkepal marah. “Dan kau Rio, kau tidak berubah,


selalu penuh misteri.”


“Bukankah wanita menyukai pria yang cuek dan penuh misteri?” Pandangan Bayu kini menatapku, dia tersenyum kecil dan mengedipkan sebelah matanya.


Aku sangat kaget!!


 


Sejak kapan Bayu bisa berkedip seperti itu? Ekspresi wajahnya menunjukkan dia sedang menggodaku.


Ya ampun! Lelaki ini benar-benar!


“Ayo masuk. Kita ada rencana yang harus di bicarakan.” Ajakan bos besar menyudahi acara saling ejek antara Bayu dan Mike.


“Antarkan gadis ini ke rumah wanita-wanita. Biarkan dia ikut membantu mereka menyiapkan makanan.” Keputusan


final lelaki itu di jawab anggukan pria yang tadi bersama Mike membawaku keluar gudang.


“Biar aku saja yang antar. Sekalian aku ingin mencari minuman dingin. Haus sekali.” Tiba-tiba Bayu sudah berjalan


menghampiriku dan menarikku cepat hingga terlepas dari cengkraman lelaki ini.


 


...

__ADS_1


__ADS_2