
...
Kami berdua berlari menuju escalator, bergabung bersama pengunjung lain yang juga sedang mengantri giliran turun. Tiba-tiba saja jantungku berdetak cepat mendengar orang-orang di sekeliling kami mulai menduga-duga apa yang sedang terjadi. banyak yang mengatakan ada banyak polisi di lantai dasar.
Mungkin ada penjahat masuk ke dalam mall?
Aku mendongak menatap wajah Bayu dari samping, sekedar ingin melihat ekspresinya. Lelaki ini tampak sedang fokus menatap kesekitarnya, seolah ia sedang mengamati sesuatu. Aku sedikit menggoyangkan genggaman tangan kami, membuatnya menoleh padaku.
“Kau sedang tidak bertugas ‘kan?” Aku berbisik sepelan mungkin agar tidak di dengar orang-orang di sekitar kami.
“Tidak.”
“Lalu?”
“Aku juga tidak tahu.” Aku mengangguk pelan dengan tatapan bingung Bayu. Dia sepertinya memang tidak tahu
apa-apa tentang situasi di dalam mall. Entah mengapa hal itu membuatku menghela napas lega.
Bayu menuntunku dengan langkah lebarnya untuk segera turun. Ketika kami ada di tangga escalator menuju lantai
dasar, aku bisa melihat ketegangan di sana, banyak sekali petugas keamanan yang berusaha menyuruh para pengunjung untuk segera keluar dari gedung.
Saat tangga listrik ini perlahan turun, refleks aku menoleh cepat menatap Bayu karena melihat banyak sekali pria-pria berpakaian lengkap hitam sedang menjaga tempat di sudut lantai dasar. Terlebih mereka siap dengan pistol besar di tangan masing-masing.
Bayu semakin mengeratkan genggaman tangannya padaku, seolah tidak penasaran, saat escalator yang membawa kami sudah ada di ujung, lelaki ini menarikku cepat menuju pintu keluar mall. Karena berdesak-desakkan, aku hampir terlepas dari genggamannya, tapi Bayu dengan cepat dapat menarikku kembali.
Petugas keamanan dan polisi tampak berteriak untuk segera menuntun para pengunjung menuju pintu. Melihat kegaduhan yang semakin membuat semua orang panik, aku menggenggam tangan Bayu dengan kedua tanganku. Tidak berharap aku akan terseret menjauh darinya.
Untung saja sepuluh sepuluh menuju pintu keluar, keadaan disekitar kami sudah tidak berdesak-desakkan seperti
tadi saat turun dari tangga escalator, aku bisa bernapas lega meskipun keringat sudah menetes di sisi wajah. Begitu melihat Bayu, lelaki ini juga tampak berkeringat dengan rahang mengatup keras.
Aku menepuk beberapa kali lengannya, dan rahangnya yang mengatup keras itu perlahan lebih rileks. Bayu yang
melihatku tengah menatapnya membalasku dengan senyum kecilnya.
“Apa yang kau pikirkan?”
“Aku hanya khawatir. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu.” Gumamnya manis di saat-saat seperti ini. Aku bisa merasakan pipiku terasa panas. Astaga!
Aku menyembunyikan diriku di belakangnya, bisa aku rasakan Bayu terkekeh pelan mengeratkan genggaman tangannya padaku.
Ketika langkah kami sudah ada di ambang pintu mall kaca yang terbuka otomatis, aku merasakan Bayu menghentikan langkahnya dan hal itu membuat keningku menabrak punggungnya.
__ADS_1
Mengapa di tempat orang-orang yang panik hendak keluar, dia harus berhenti sih?!
Aku ingin protes padanya tapi Bayu masih diam menatap ke depan. Saat pandanganku melihat apa yang menghentikan langkahnya, aku hampir menahan napas.
Orang-orang yang tadinya panik untuk segera keluar dari gedung ini harus berhenti dan melihat kami yang menjadi
pusat perhatian. Ada lima pria dengan tubuh tegap dan pakaian serba hitam dengan senjata lengkap memenuhi saku-saku mereka juga rompi anti peluru. Terlebih aku bisa melihat headset bening spiral di telinga kiri mereka masing-masing.
Semuanya tampak memberi hormat tegap pada Bayu. Mengerti akan suasana, aku hendak melepaskan genggaman tangan Bayu padaku tapi gerakkanku seolah menyadarkan lelaki ini. Dia sempat melirikku di belakangnya dan lagi-lagi tidak melepaskan genggaman tangannya.
Sebenarnya aku deg-degan dan malu dengan situasi ini. Para pria berbadan tegap dan tinggi ini pasti rekan-rekan
Bayu. Atau mungkin timnya.
“Kapten!” Panggil pria yang berdiri paling kanan. Bayu mengangguk dan mereka menurunkan hormat mereka lalu tubuh mereka terlihat lebih santai, bahkan kelimanya sekarang melangkah maju mendekati Bayu.
Mereka berdiri mengelilingi Bayu dan sempat melirikku yang masih dalam genggaman tangan kapten mereka.
“Ada keadaan darurat?” Itu suara Bayu yang bertanya.
“Kami di minta ikut bergabung dalam kasus ini, hanya jika ada keadaan mendesak mereka akan memberi perintah.”
“Kapten tenang saja, ini bukan benar-benar keadaan mendesak.”
“Kami tidak akan mengganggu waktu libur kapten.”
“Bagus! Karena aku juga tidak berniat ingin ikut campur. Kalian bisa segera masuk.” Bayu hendak melangkah menerobos timnya itu tapi dengan cepat mereka semua menghalangi Bayu.
“Tunggu sebentar kapten!”
“Ada apa?” Bayu terdengar kesal.
“Bagaimana jika kapten ikut bergabung dengan kami? Sebagian dari kami akan menjaga wanita cantik ini juga.”
Aku tidak begitu mendengar apa yang Bayu jawab karena entah mengapa aku merasakan ada seseorang yang sejak tadi mengawasi kami meskipun memang orang-orang sempat melirik kami penasaran.
Aku yang sekarang berdiri membelakangi Bayu, berbalik melihat ke dalam mall, orang-orang masih panik keluar dari gedung ini dan juga—tidak salah lagi, aku melihatnya!
Lelaki itu!
Dia Rey Orihara!!
Tak jauh dari tempatku berdiri, di antara kerumunan hanya dia orang yang sedang diam menatapku, kontras dengan orang-orang di sekelilingnya yang berjalan ke arahku.
Tanpa sadar aku menahan napas begitu melihatnya mengangkat tangan kanannya yang memegang sesuatu. Benda yang sempat membuatku ketakutan, terlebih isi dalam tabungnya yang beberapa minggu lalu membuatku kesakitan.
__ADS_1
Tidak!
Jangan lagi!
Aku bisa tahu, dari tatapannya ingin mengatakan sesuatu padaku. Apa dia ingin aku menyuntikkan lagi benda itu?
Tidak ada yang tahu seberapa berbahaya isinya.
Kemudian aku melihatnya menunjuk ke belakang, ke arah tempat keributan berasal.
Dia menyuruhku ke sana??
“Icha!”
Aku tersentak kaget dengan panggilan Bayu, refleks berbalik menghadapnya. Lelaki ini menatapku heran, masih belum melepaskan genggaman tangannya meskipun ke lima lelaki di belakangnya sekarang sedang menatapku.
“Apa yang kamu lihat?” Tanyanya.
Mengingat Rey, cepat-cepat aku berbalik untuk melihat ke tempat dia tadi berdiri, tapi pria itu sudah menghilang.
“Rey! Aku melihatnya di sana.” Jawabku setengah panik.
Bisa di lihat Bayu dan tim nya tampak kaget mendengarku berbicara. “Kalian berempat, berpencar cari dia.”
“Siap kapten!” Ke empat pria itu berdiri tegap dan dengan cepat masuk ke dalam kerumunan di dalam mall. Sisa
satu orang yang tadi memanggil Bayu sebagai kapten pertama kali.
“Kamu jaga Icha. Aku akan mencari—“
“Tadi dia ingin aku ke sana.” Aku memotong ucapan Bayu.
“Kamu yakin?” Aku mengangguk.
“Sepertinya keributan di sini karena ulahnya juga.” Bayu berbicara pada pria itu.
“Apa yang harus kita lakukan, kapten?” Bayu tampak berpikir keras, sesekali dia melirikku.
“Kabari aku perkembangannya. Aku akan mengantar Icha menjauh dari sini.”
Tiba-tiba aku merasakan ponsel yang ada di saku celanaku bergetar pertanda panggilan masuk. Saat melihat layarnya, nomor di sembunyikan. Meskipun ragu aku harus mengangkat panggilan ini, entah mengapa aku menduga ini adalah panggilan dari Rey.
“H—halo.”
“Tik tok. Lantai lima, ada di dekat tabung apar. Jika kau menolak, aku akan menembaki orang-orang yang ada di tim bayu sekarang. Kau tidak akan tahu bagaimana aku sudah menempatkan penembak jitu di sini. Tenang saja, kamu tidak akan langsung mati.”
__ADS_1
...