EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 265


__ADS_3

...


Aku mengangguk. “Betul. Saya sudah menikah. Maaf karena tidak bisa mengundang Pak Roni dan yang lainnya. Acara itu mendadak sekali karena permintaan kedua keluarga. Tapi ayah saya menjanjikan pesta resepsi nanti, agar bisa mengundang semuanya.”


“Dengar-dengar, kamu di jodohkan?” Tanya pria di samping Bu Felly, aku tidak tahu namanya, tapi wajahnya memang selalu ada di kantor pusat.


“Sebenarnya, sebelum kedua keluarga menyetujui pernikahan kami, mereka tidak tahu kalau kedua keluarga adalah teman lama. Mengetahui mereka akhirnya bisa menjadi satu keluarga, tentu saja ayah sangat senang, dia bilang, pada awalnya memang berniat menjodohkan kami kalau bertemu. Tapi ternyata lebih dari bertemu, saya dan suami memang teman masa kecil.” Aku merasa setidaknya harus sedikit meluruskan gosip itu pada orang-orang ini.


“Saya tidak tahu dari mana gosip ini berasal, tapi akhir-akhir ini memang banyak sekali yang membicarakan tentang pernikahan saya. Berita-berita itu kebanyakan tidak sesuai. Dan saya juga tidak mengerti sejak kapan urusan pribadi dengan karir bekerja saya, saling berhubungan?” Tanyaku pada lima orang di hadapanku ini.


Pak Roni menatapku dan tim pusat beberapa kali sebelum dia mengangguk pelan. Pak Ginanjar juga sejak tadi diam di sampingku, tidak berani ikut dalam percakapan.


Aku tahu mereka kehabisan kata, maka aku melanjutkan dengan riang. “Tapi Hanna, orang yang menggantikan saya, di latih dengan baik oleh kantor pusat. Dia sangat berpegang teguh dengan ketentuan dasar.”


“Sudah ada pengganti?” Tanya Pak Roni terdengar tidak percaya.


“Ini hari terakhir saya bekerja pak.”


“Kalau gitu kebetulan sekali kita kumpul di sini, ayo makan malam! Biar saya yang traktir.” Ajaknya antusias.


Aku terkekeh pelan. “Sayangnya, nanti malam saya ada janji dengan tim. Lain kali saya yang akan mentraktir Pak Roni.”


“Hehehe.. Baik, saya tunggu loh!”


“Tapi ngomong-ngomong, kenapa semuanya ngobrol di sini? Ruang rapat di atas sudah di siapkan.” Aku mengubah topik, baru menyadari kenapa mereka semua berkumpul di lantai satu.


Kali ini Pak Ginanjar yang angkat bicara. “Kami sedang menunggu Ibu Mila dan Pak Bolfis.”


Aku mengangguk, mengenal juga dua nama ini. Mereka adalah direktur dan wakil direktur cabang perusahaan investasi di kota ini. Meski anehnya, aku justru belum pernah mengobrol secara langsung dengan mereka --jika di bandingkan dengan Pak Roni yang meruapakan manajer area mereka--, tapi beberapa kali kami bertemu di rapat besar perusahaan.


“Biasalah, anak-anak itu sedang beli sesuatu di depan. Enggak ngerti deh, padahal mereka bisa kembali nanti.” Keluh Pak Roni.


“Tapi Pak Ron, Roti di toko depan itu selalu habis sebelum jam lima sore. Rotinya emang enak sekali.” Ujar Pak Ginanjar.


“Benarkah? Kalau gitu aku harus coba.” Pak Roni segera mengeluarkan ponselnya, hendak menelpon, tapi pandanganku menemukan sosok Ibu Mila yang aku kenali wajahnya, berjalan memasuki gerbang.

__ADS_1


“Itu Ibu Mila sudah datang.” Seru ku mengalihkan perhatian semua orang. Tepat setelah aku mengatakan itu, sosok lain di samping Ibu Mila muncul, tampak tidak asing bagiku.


Pria itu memakai setelan jas biru tua, sedang mengobrol dengan wanita di sampingnya. Dia membawa paper


bag kecil di tangannya yang seketika membuatku tersadar.


Itu adalah paper bag oleh-oleh yang seharusnya aku berikan untuk Pak Ginanjar, dan semakin dekat mereka ke pintu geser otomatis, wajah pria itu lebih jelas, mengkonfirmasi keterkejutanku.


Wildan.


Asisten ayah Evano.


Dia ke sini pasti untuk mengantarkan barang yang tidak sengaja terselip di antara oleh-oleh milik tante Kenzie dan nenek.


Jantungku berdetak cepat, tidak menyangka, oleh-oleh ku akan di antar langsung oleh orang penting nomor tiga dari grup Eternity. Sejujurnya aku tidak bisa membayangkan reaksi mereka kalau tahu tentang hubunganku dengan keluarga Danendra.


Tapi aku tahu, cepat atau lambat, mereka pasti mengetahuinya.


Begitu kedua orang itu sudah dekat, aku bisa melihat wanita cantik di samping Wildan masih terus berusaha membuatnya berbicara, ketika dari pandangan mata pria itu, dia hendak menyapaku.


Aku menutup mulutku rapat, tidak ingin menyapanya lebih dulu, terlebih ada tim kantor pusat di sini.


“Mila. Kenapa lama sekali? Mana Bolfis?” Tanya Pak Roni.


“Pak Bolfis ada di belakang bersama Pak Evano.”


Hah! Ayah juga ada di sini? Apa dia sengaja datang? Aku jadi gugup sekarang.


“Pak Evano? Dia--”


“Pemimpin grup Eternity?” Ibu Felly terlihat kaget, dia segera duduk tegak dan menatap ke luar, berusaha mencari keberadaan ayah.


Semua orang ikut terkesiap kaget, Pak Roni yang perangaiannya santai, langsung berdiri, seolah hendak  menyambut ayah yang datang kapanpun.


“Dan ini adalah Wildan, asisten pak Evano.” Wanita di samping Wildan memperkenalkan dirinya pada orang-orang. Seketika semua orang mengangguk dan bergantian menjabat tangannya.

__ADS_1


“Aku dengar, Pak Wildan adalah orang penting nomor 3 di grup Eternity.” Sahut Pak Roni ketika tangan mereka bertemu.


“Tidak tidak! Itu agak berlebihan, hanya guyonan dari karyawan.”


Ketika Pak Ginanjar juga ikut melangkah maju, aku sebenarnya bingung harus bersikap seperti apa. Apakah aku harus berpura-pura baru mengenalnya? Atau justru menyapanya seperti teman lama?


Sepertinya kebingunganku terlihat jelas karena Wildan tiba-tiba melangkah ke arahku, dia yang maju, menyambut jabatan tangan Pak Ginanjar dan memperkenalkan diri mereka masing-masing secara singkat.


“Nona Icha. Maaf karena kedatangan yang tiba-tiba.” Wildan menyapaku dengan senyum merekah dan suara yang penuh hormat.


Seperti yang aku duga, semua orang menatapku tidak percaya karena tingkah pria ini. Lalu Wildan menyodorkan paper bag di tangannya padaku, sembari berkata “Nyonya Kenzie mengatakan ini milik nona.”


“Ahh ya. Sepertinya ini memang milikku.” Kataku sedikit kaku sembari menerima paper bag dari tangannya.


“Terima kasih, kalau begitu aku mau kembali ke ruanganku.” Aku melanjutkan, segera berbalik, tidak ingin orang-orang yang menonton kami mulai bertanya-tanya padaku.


Tapi perkataan Wildan selanjutnya menghentikanku. “Tapi nona, ada tuan muda Jeremy datang, ingin bertemu sebelum berangkat tugas ke perbatasan.”


Sekarang aku tidak peduli lagi jika harus membongkar identitasku sebenarnya. Aku berbalik menghadap Wildan dengan binar senang. “Benarkah? Dimana dia?”


Wildan tersenyum lebar lalu berbalik, menatap ke parkiran di luar gedung tepat ketika tiga orang pria berjalan beriringan memasuki tempat parkir.


Bayu mengenakan pakaian hijau kamuflasenya di padukan dengan sepatu boots. Dia memakai topi hitam sehingga menutupi sebagian wajahnya. Lalu di sebelah Bayu ada Ayah Evano memakai setelah jas hitam bergaris-garis putih yang trendi. Kemudian di sebelah lain Ayah, Pak Bolfis dengan kepala hampir botak dan berkulit putih berjalan  mengimbangi langkah kedua pria di sampingnya.


“Betul. Itu Pak Evano bersama Pak Bolfis.” Gumam Ibu Felly, mengkonfirmasi kekagetan semua orang.


...


Halo para pembaca setia EMBRACE YOU


Terima kasih sudah selalu mendukung cerita ini.


Semoga kalian selalu bahagia dan sehat!


:)

__ADS_1


__ADS_2