EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 317


__ADS_3

Dear pembaca setia...


Maaf telat post, kemarin ada kendala filenya tidak bisa di buka.


Jadi, semoga kalian bahagia selalu...


Happy reading..


 


 


 


...


 


 


 


 


BRAKK!


 


 


Aku menggebrak meja, kekesalanku tidak bisa di bendung, aku tidak mau waktuku bersama Bayu berdua di kota ini harus di ganggu dengan kasus penguntitan.


“I—iya, ta—tahu.”


“LALU??”


“Ak—aku hanya di s—ssuruh...” Dia tergagap, tidak berani lama-lama menatapku dan beberapa kali mengalihkan pandangannya.


Sekilas saja aku sudah tahu kalau pria ini mungkin lebih muda beberapa tahun dariku, tapi dia memiliki tubuh jangkung dan badan berisi, cocok untuk menjadi seorang tentara.


“Katakan yang jelas! Saat ini aku tidak mau bersikap lembut.” Ucapku penuh penekanan.


“Tolong lepaskan aku, hm? A—adikku sendirian di rumah. Dia sedang sakit.” Katanya memohon, kali ini sembari menatapku dengan pandangan sedih dan khawatir.


“Katakan! Siapa yang menyuruhmu untuk mengikutiku? Kalau kau mengatakannya, aku akan melepaskanmu.”


“T—tapi, kalau aku mengatakannya, aku tidak bisa mendapat uang.”


“Bukannya kalau kamu tertangkap, kamu juga tidak akan bisa mendapatkan uang itu”


“S—setidaknya, kalau aku tertangkap, orang itu akan mengirimkannya pada adikku.”


“Kau percaya orang itu? Orang yang menyuruhmu melakukan tindakan kriminal?”


“Aku tidak punya pilihan.” Dia berbisik pelan, kembali menunduk dan tidak ingin menatapku.


Aku mendesah kesal. Sekarang aku jadi dilema. Haruskah aku melepaskannya?

__ADS_1


“Kita akan menemui adikmu! Bersama-sama!” Kataku sudah di putuskan.


 


 


***


“Apa kau yakin ini tempatnya??” Lucy bertanya untuk ketiga kalinya ketika kami berempat sudah memasuki gang perumahan.


Pria yang di bawa oleh Dika itu hanya mengangguk, tampak pasrah karena tangannya di ikat ke belakang oleh pria itu.


“Ngomong-ngomong, siapa namamu?” Tanyaku.


“Andika.” Jawabnya singkat.


“Jadi, adikmu umur berapa?” Tanyaku lagi, berusaha memecah sikap waspada Lucy dan Dika yang sejak tadi memasang mata dan telinga mereka untuk melihat ke sekitar. Mereka terlalu tegang.


“D—dia berumur enam tahun.”


“Enam tahun?? Lalu kemana ibu dan ayahmu?”


“Mereka tidak ada.” Jawab Andika dengan nada dia tidak ingin meneruskan percakapan tentang orang tuanya.


Ketika kami sudah melewati enam belokan gang, tiba lah Andika menuntun kami untuk mendekati sebuah rumah berpagar, yang dari jauh saja aku mendengar suara ramai orang-orang seolah ada perkumpulan di tempat itu.


Aku bisa menebak, jika Andika membawa kami ke perkumpulan teman-temannya. Kalau kami terkepung, aku tidak mau sampai harus berkelahi, terlebih jumlah kami tidak sebanding.


Sepertinya Lucy dan Dika menyadari juga apa yang mungkin saja akan kami hadapi. Cengkraman Dika pada bahu Andika mengerat, lalu Lucy juga semakin merapat padaku, siap untuk melindungiku kapan saja.


Dari suasana di gang ini, meski rumah saling berdempetan, tapi ini merupakan area sepi.


Dika dan Lucy melirikku bingung, tapi Andika melirikku dengan takut.


“Pak Jeremy sudah datang?? Bagus kalau gitu! Bagaimana kalau kita menunggu sebentar di sini, nyonya?” Lucy langsung mengerti maksudku.


“Je—jeremy?”


“Kenapa? Bukannya kalau kau menguntitku, kau tahu siapa suamiku?” Kami berhenti melangkah lebih jauh, aku menatapnya dengan tenang.


“Tidak! Aku tidak tahu! Aku pikir, dia memberiku misi untuk mengikutimu, hanya istri dari salah satu tentara biasa. T—tapi keluarga Jeremy?? Aku tidak tahu kalau harus mengikuti salah satu anggota keluarga Jeremy!” Dia berseru takut.


Aku agak kaget juga, ternyata nama keluarga Jeremy segitu berpengaruhnya di kota ini. Bahkan orang seperti Andika saja, yang tidak ada hubungannya dengan militer, tahu nama Jeremy.


“Kalau kau menjawab dengan jujur siapa yang menyuruhmu, kami akan melepaskanmu.” Kataku sembari mengarahkan kamera ponsel ke wajah Andika.


“Tapi kalau kau bohong, wajahmu sudah aku foto, aku bisa langsung melacakmu.” Andika terlihat ingin protes, tapi dia mengurungkannya dan hanya kembali menunduk.


Kami bertiga diam, menunggunya bicara.


“A—aku tidak tahu pastinya siapa. Tapi, Alex, orang yang biasanya memberikan pekerjaan seperti ini pada pengangguran seperti kami. Dia memintaku untuk mengikutimu dan melaporkan apa saja yang kau lakukan, sedetail mungkin. Awalnya aku pikir, dia mengenalmu, tapi sepertinya tidak, dia juga di perintah orang lain karena Alex harus melapor setiap hari.”


“Tunggu sebentar, jadi kalian sudah mengikutiku? Tanpa ketahuan?”


“Karena tim Alex mengirim orang yang berbeda setiap hari untuk mengawasimu.”


“Tim Alex? Maksudmu apa?” Lucy mendekatinya, menatap Andika penuh intimidasi.

__ADS_1


“Ka—karena bukan kami saja yang mengikutimu. Ada beberapa orang yang juga kami sadar, kalau kau di ikuti pihak lain.”


Kami bertiga kaget tentu saja. Bahkan orang mengikuti dan mengawasiku lebih dari satu orang. Jadi selama ini, Dika dan Lucy menangkap di antara penguntit yang hanya terlalu ceroboh sampai ketahuan, sedangkan ada penguntit lain yang mengikutiku tanpa kami sadari.


“Alex. Orang itu seperti apa?? Beritahu kami apapun informasi yang kau tahu.” Desak Dika menyadarkan lamunanku.


“A—aku tidak tahu! Aku hanya sebatas mengenal namanya saja!”


“Apa ada yang aneh tentang Alex? Sesuatu yang khas?” Tanyaku lagi, sangat penasaran.


Andika terdiam, tampak berpikir keras, dia hendak membuka mulutnya tapi di urungkan.


“Aku akan memberimu bayaran yang sama seperti yang Alex berikan padamu.” Aku mendesah kecil.


Seketika Andika menatapku penuh semangat, dia mengangguk lalu berdehem, “ya! Ada sesuatu yang agak aneh belakangan ini pada Alex.”


“Kau tidak bohong tentang informasi ini ‘kan??” Ancam Lucy, melotot pada pria ini.


“Tidak tidak! Ini memang informsi yang akurat. Aku sendiri yang melihatnya, kalau tidak percaya, kalian bisa melihatnya sendiri.” Kegugupan Andika tadi hilang tak tersisa.


Aku berdecak dan mengatakan, “selain pengaruh keluarga Jeremy di kota ini cukup besar, nyatanya uang juga berpengaruh besar.”


“Uang sangat berpengaruh di mana pun.” Lucy mengangguk menyetujuiku.


“Satu bulan terakhir ini, banyak orang yang datang mencari Alex untuk menjual sesuatu.”


“Apa barang itu narkoba?” Tanyaku.


Andika menggeleng, “bukan. Beberapa dari kami, tim Alex, penasaran apa yang di lakukannya sampai sibuk sekali. Kami mengikut dia dan berakhir di sebuah perbatasan hutan. Di sana dia dan sekelompok orang bersenjata mengawal sekumpulan orang. Aku tidak tahu siapa mereka dan apa tujuannya.”


“Mungkinkah itu perdagangan manusia??” Aku bertanya kaget.


“Mungkin.” Andika mengangkat bahu tak tahu.


Sebelum obrolan kami berlanjut, suara langkah kaki berasal dari rumah yang di tunjukan Andika tadi, keluar enam orang pria seusia Andika dari tempat itu.


Mereka semua langsung diam melihat kami, terutama pada Andika, yang sedang di tahan Dika ke dinding.


“Andika? Ada apa? Apa yang mereka lakukan?” Salah satu dari pria itu bertanya.


“T—tidak. Hanya kesalahpahaman.” Andika menggeleng cepat, menjawab pertanyaan temannya.


 


 


 


 


 


 


...


 

__ADS_1


 


__ADS_2