EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 81


__ADS_3

...


 


“Kau menawarkan diri untuk tinggal bersamamu karena aku sedang sakit? Apa kamu lupa bagaimana tadi kamu menabrakku di depan pintu? Ya ampun!” Aku menggertakkan gigi gemas sekali. Kenapa aku selalu menghadapi orang-orang seperti ini?


“Lagipula alasan apa yang masuk akal aku harus ikut denganmu? Jelas sekali kamu ini sedang menculikku sekarang!” Aku meninggikan nada suaraku, marah padanya. Sebenarnya untuk mengusir perasaan takut ini aku harus menggertaknya.


“Apa penawar racun cukup sebagai alasan masuk akal itu?” Dia bertanya balik, nadanya yang masih tenang terkendali membuatku semakin frustasi dan takut.


Aku mencoba untuk membuka pintu mobil tapi seperti yang sudah di duga sebelumnya, pintu ini terkunci tentu saja. Suasana jalanan yang macet di tambah cuaca yang berangin siang ini terlihat semakin suram berada di samping Rey. Pikiranku tidak berhenti memikirkan hal-hal buruk yang akan terjadi.


Karena lelaki di sampingku ini hanya diam dan sesekali dia menoleh melihatku, aku akhirnya hanya bisa pasrah diam menyandarkan kepala di jendela mobil. Menatap keluar dengan tatapan kosong.


 


Pikiranku melayang memikirkan Bayu, ayah, ibu, Daniel, dokter Stefan dan orang-orang yang akhir-akhir ini aku temui.


Tidak bisa mengelak, pernyataan dokter Stefan tentang kondisiku membuatku berpikir banyak sekali hingga aku sendiri tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Tanpa sadar hal itu justru membuatku merasa pusing tapi lagi-lagi aku tidak ingin mengeluh di hadapan Rey dan membuat lelaki ini semakin memaksaku untuk tinggal bersamanya.


Aku hanya diam sembari memejamkan mata beberapa kali berharap pusing yang aku rasakan bisa mereda. Sekarang aku harus mencari cara untuk kabur darinya. Aku tidak ingin dia mengambil ponselku saat aku akan menghubungi seseorang.


“Kamu tidak ingin bertanya bagaimana adikmu Daniel membayarku untuk memberikan racun itu padamu?” Pertanyaannya membuyarkan lamunanku. Aku menoleh menatapnya, melihat wajah Rey dari samping.


Tatapannya yang dingin masih menatap serius ke jalanan. “Tidak.”


“Kenapa?”


“Untuk apa?”

__ADS_1


“Tentu saja agar kamu tahu.” Aku mendengus kesal tidak menjawab lagi pertanyaannya. Dari ujung mataku aku tahu Rey melirikku beberapa kali dengan tatapan penasaran. Caranya mengemudi terasa berbeda sekarang. Aku merasa mobil ini melaju lebih kencang dari sebelumnya.


“Jawab aku!”


“Apa?? Jangan memaksaku! Aku tidak mau!” Kataku ketus sembari duduk lebih tegak dan mulai menatap ke depan.


Lalu mobil ini berhenti di pinggir jalan yang aku sadari sudah masuk ke jalan yang tidak lagi macet. Rey benar-benar menatapku tajam. “Kenapa kamu selalu membuatku penasaran dengan apa yang kamu pikirkan?!”


Aku balas meliriknya sebentar dan tidak berniat untuk menjawab. Kemudian lelaki ini melanjutkan sembari tangannya mencengkram pergelangan tanganku. “Katakan! Katakan semua yang sekarang kamu pikirkan?!”


Aku dengan berani memutar kedua mataku kesal sembari menyentakkan cengkraman tangannya hingga terlepas dari pergelangan tanganku. Tiba-tiba saja hujan mulai turun, suaranya yang khas membasahi mobil terdengar lebih keras. Aroma menyegarkan dari tanah yang basah langsung tercium.


“Lepaskan aku! Urusan kita sudah selesai!”


“Kamu tidak ingin suntikan penawar racun itu?” Nada suara Rey terdengar lebih rendah dan tenang. Dia masih menatapku tanpa mengalihkan tatapannya.


“Tidak! Sekarang buka mobilnya!!”


Sebenarnya aku cukup kaget dan tidak percaya dengan perkataannya tentang Bayu yang tidak bisa membawa pulang penawar racunnya, bisa di pastikan dia pasti terlibat dengan kegagalan rencana Bayu. Tapi jantungku tiba-tiba berdetak cepat mendengar seseorang membahas tentang Bayu. Merasakan aku sangat merindukannya melebihi apapun.


“Bagaimana? Kau berubah pikiran?” Tanyanya lagi kali ini dia tersenyum kecil, seolah aku akan ikut bersamanya.


“Kepercayaan dirimu itu terlihat bodoh sekali! Kau sekarang ingin mengendalikanku dan berencana untuk mendekatiku?! Seharusnya kau tetap dalam peranmu di awal yang hanya menganggapku sebagai salah satu korban atau musuhmu!”


Aku melihat rahangnya terkatup rapat. Dia sedang menahan kekesalannya padaku. kemudian dia kembali memposisikan diri menghadap stir mobil, menyalakan mesinnya dan menginjak pedal gasnya. Mobil ini melaju kencang membelah jalan yang sepi di tengah hujan deras.


Entah mengapa aku diam-diam menghela napas pelan, ketegangan punggungku hilang dan aku kembali bersandar di jok mobil dengan kepala bersandar di jendela. Setelah lebih di rasakan lagi ternyata kepalaku lebih pusing dari sebelumnya.


Aku sadar, tubuhku terasa semakin lemah seolah tenagaku sudah terkuras dengan aktifitas fisik yang berat. Apa yang harus aku lakukan untuk kabur darinya? Sikapnya yang seperti ini sangat tidak nyaman.

__ADS_1


Tidak sengaja tanganku menyentuh kantung kertas yang keluar sedikit di ujung dari tas selendang di pangkuanku. Ini adalah obat yang tadi di resepkan oleh dokter Stefan untuk jantungku.


Tiba-tiba sebuah ide gila terlintas di otakku. Sikapnya yang aneh seperti ini, lalu hujan yang masih mengguyur deras di luar serta pintu mobil yang masih terkunci. Memanfaatkan semua ini meskipun aku tahu resikonya kalau aku tidak berhasil kabur darinya.


Aku mengeluarkan obat itu dari tas selendangku ini, membuka satu persatu tabungnya untuk mengeluarkan semua isinya dengan cepat selagi Rey sibuk menatap jalanan. Dia tidak begitu memperhatikan aku yang sudah mengeluarkan semua obat ini dan menurunkan kaca jendela.


Lalu cepat-cepat aku membuang semua obatku sembarangan di tengah guyuran air hujan. Mobil yang semula melaju kencang tiba-tiba terhenti.


 


“HEY APA YANG KAMU LAKUKAN??” Rey berteriak kencang marah padaku.


“Semua obat jantungku sudah aku buang. Sekarang kita harus berhenti di apotek terdekat karena aku sedang sakit.”


“APA?! KAU—“ Rey menggertak kesal sembari memukul stir mobilnya. Seperti dugaanku, dia membuka kunci mobil hendak keluar dari mobil tapi aku yang lebih cepat membuka pintu mobil langsung berlari kabur menjauh darinya. Beberapa kali Rey berteriak memanggilku tapi yang aku tahu sekarang aku harus berlari sejauh mungkin darinya meskipun aku sudah basah kuyup.


Jalanan yang di laluinya ini seperti jalan komplek yang sepi, banyak sekali rumah-rumah mewah di kiri dan kanan jalan. Pusing yang tadi aku rasakan semakin terasa mengganggu konsentrasiku.


Langkah kakiku menjadi semakin melambat dan tak tahan aku mulai mengerang kesakitan mencengkram kepalaku.


Apalagi yang terjadi padaku? Apa racun itu tidak cukup telah merusak fungsi jantungku secara perlahan?


Kakiku berhenti berlari, aku menyadari mobil Rey telah berhenti di sampingku. Seharusnya aku kabur darinya tapi aku merasakan tubuhku jatuh, tidak sanggup menopang lagi. Seluruh tubuhku telah basah kuyup, angin berhembus kencang menerpa tubuhku dan hujan masih deras membasahi bumi.


Mataku melihat sepasang sepatu milik Rey berlari menghampiriku. Aku tidak tahu apa yang dia katakan karena perlahan mataku menutup di iringi dengungan keras di telingaku dan semuanya gelap dan tenang.


 


 

__ADS_1


 


...


__ADS_2