
...
“Sebenarnya aku tidak terlalu memikirkannya, toh semua itu sudah masa lalu dan Bayu sudah ada di sampingku sekarang. Itu yang penting.”
“Niat mereka menjodohkanku, mungkin karena melihatku yang gila kerja saat itu.”
“Saat itu?” langkahku berhenti, kali ini benar-benar menatapnya saling berhadapan saat kami sudah ada di lobi.
Raut wajah lelaki ini berubah sendu dan menjawab, “saat itu—saat kau pergi begitu saja.”
Aaahh…
“Saat itu aku sangat kesal dan marah padamu, jadi aku melampiaskannya dengan bekerja, menerima semua misi yang mustahil sekalipun.”
Tiba-tiba rongga dadaku terasa sakit mengingat lagi saat-saat itu, aku segera berjinjit untuk memeluk bahu nya. “Benar. Maafkan aku.”
“Aku tidak ingin pagi kita di awali dengan kesedihan. Sebaiknya kita lupakan masa lalu. Hm?” Bisik Bayu balas memeluk erat pinggangku.
“Ya.” Suaraku terdengar lebih parau.
Tidak tidak tidak!
Kenapa pandanganku jadi buram! Mataku panas!
Kenapa tenggorokkan ku sakit, seolah ada sesuatu yang menahannya di sana.
Dasar hormon!!
“Cha!” Bayu melepas pelukan kami, mendorongku agar dia bisa melihat wajahku dengan jelas. Aku ingin tersenyum dan mengatakan aku tidak apa-apa, tapi aku tidak bisa.
Perasaan bersalah dan membayangkan susahnya Bayu saat itu membuatku sedih dan ingin meraung, menangis, meminta maaf padanya.
Aku hanya bisa menyembunyikan wajahku di dadanya dan tanpa sadar tetes demi tetes air mata turun membasahi pipi dan bajunya.
Memalukan!
Aku sedang menangis di lobi apartemen!!
Tiba-tiba saja aku merasa melayang, kaki ku tidak lagi menginjak lantai marmer dan tahu-tahu Bayu sudah menggendongku ala putri.
Aku yang malu segera memeluk lehernya erat, menyembunyikan wajahku di sela rahang dan bahunya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan kembali ke kamar apartemen, aku hanya terisak kecil dan Bayu tidak mengatakan sepatah kata pun.
Tahu-tahu kami sudah ada di dalam apartemen dan Bayu mengantarku ke kamar, kemudian membaringkanku di tempat tidur.
Sembari menunduk, tidak ingin dia melihat wajahku yang menangis, Bayu mendesah kecil dan memutuskan untuk duduk menghadapku.
“Boo—”
“Maafkan aku.”
“Apa??”
“Aku tidak bisa membayangkan kesulitan apa yang kamu alami ketika aku pergi begitu saja.” Suaraku masih bergetar tapi aku sudah bertekad untuk berhenti menangis.
“Sayang, lebih baik kita melupakan itu, hm? Seperti yang tadi kamu katakan, yang penting sekarang kita sudah bersama.” Lelaki ini menangkup kedua pipiku, menghapus jejak air mata di sana.
“Aku terlalu sensitif, mungkin karena hormon.” Jawabku kecil, sudah berani menatapnya.
Bayu tersenyum kecil dan menjawab, “aku tahu.”
“Lebih baik kau segera berangkat. Maaf sudah membuatmu harus mengantarku lagi ke sini.”
“Aku akan berangkat saat Lucy dan Dika datang. Sambil menunggu, aku akan menemanimu tiduran.” Lanjutnya langsung naik ke atas tempat tidur, mendorongku pelan agar berbaring dan dia ikut berbaring di sampingku. Pandanganku sedikit teralihkan melihat kakinya yang tanpa sepatu dan hanya menyisakan kaos kaki.
Aku tidak membantah dan hanya menurut begitu Bayu menyelimuti kami berdua. Sebelah tangannya segera merangkulku dan tangannya yang lain sudah mengeluarkan ponselnya, bermaksud mengabari Lucy dan Dika agar cepat datang.
Namun sebelum dua orang itu datang, tanpa sadar mataku perlahan menutup. Kantuk langsung menyerang begitu kepalaku menyentuh bantal dan dalam hitungan menit aku mulai memasuki alam mimpi.
***
Sesuatu yang menyegarkan tapi terasa hangat sampai hati menempel di keningku, hanya beberapa detik, itu terangkat menghilangkan sensasi nyaman di sana.
Aku membuka kelopak mataku, awalnya pandanganku terlihat samar, tapi perlahan mulai jelas.
“Bayu.” Suaraku yang pelan dan sedikit serak memanggilnya karena wajah lelaki ini yang pertama aku lihat.
Bayu mengecup kening dan pipiku, lalu berbisik, “aku pulang.”
“Selamat datang.” Aku tersenyum kecil, menyadari kalau hari sudah sore. Sepanjang hari ini aku memang berbaring di tempat tidur setelah tadi pagi Bayu mengantarku lagi.
“Lucy bilang, kamu agak demam tadi. Syukurlah sepertinya sudah turun.” Telapak tangannya menempel di keningku sekali lagi,
__ADS_1
Aku yang ingin bangkit duduk, di bantu olehnya hingga menyiapkan bantal di punggungku agar aku bisa bersandar lebih nyaman.
“Aku sudah baik. Bagaimana di kantor?” tanyaku sembari meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat.
“Aku sudah mulai mempersiapkan pekerjaan untuk akhir tugasku di sini. Kurang dari dua minggu kita akan pulang ke rumah.” Telingaku menyukai kata tentang ‘rumah kita’.
“Tolong bertahanlah sebentar lagi.” Katanya sembari menempelkan keningnya di keningku, “aku akan tenang kalau ada keluarga yang menjagamu.”
Aku bisa merasakan ada nada sedih dalam ucapannya, dia pasti merujuk pada kejadian pagi ini.
“Aku akan lebih kuat untukmu dan untuk anak kita.” Jawabku agak malu mengingat hari ini kondisiku yang sakit akibat provokasi pak Baron.
“Aku senang. Kita saling melengkapi.” Ungkapnya sembari menjauhkan kepalanya dan menatapku dengan senyum lembut.
Bahagia adalah kata yang tidak cukup untuk menggambarkan suasana hatiku. Setiap saat ketika bersamanya, aku merasa sangat di cintai. Dia menatapku dengan pancaran nyata bahwa hanya ada aku satu-satunya wanita di dunia ini.
Di dalam setiap kata dan tindakannya, Bayu selalu mementingkanku terlebih dulu.
Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi padaku sekarang jika dia tidak hadir dalam kehidupanku. Harapanku saat ini adalah untuk hidup lama bersamanya di dunia ini.
Tapi nyatanya, setiap sinar yang menyinari sesuatu selalu ada bayangan gelap di belakang, semakin terang sinar itu, semakin gelap bayangan yang mengikutinya. Begitupun dengan sinar harapan kami, bayangan itu diam-diam menunggu waktu yang tepat untuk menelan harapan itu.
***
Keesokan paginya, seperti biasa aku mengantar Bayu sampai depan gedung apartemen dan untungnya kami tidak bertemu pasangan pak Baron dan Nadya karena sejujurnya aku sedang tidak ingin berpapasan dengan mereka. Lagi pula, kurang dari dua minggu lagi tugas dinas Bayu akan selesai.
“Hari ini kau harus istirahat lagi, hm?” ujar Bayu, berbalik, ketika dia hendak masuk ke mobil jeep hijau milik inventaris kantor.
Aku mengangguk, tidak ingin membantah. Lelaki ini tersenyum kecil sembari mengusap puncak kepalaku dengan lembut.
“…dan aku sudah mengatakan pada Lucy dan Dika agar kalian sebisa mungkin menjauh dari pak Baron dan istrinya. Aku benar-benar tidak suka mereka.” Ekspresinya berubah serius.
“Aku juga tidak ingin berpapasan dengan mereka.”
“Ya. Kau tenang saja sayang. Aku tidak akan membiarkan mereka mendekatimu lagi.” Aku mengangguk dan tersenyum kecil, lalu berjinjit untuk memberinya kecupan di pipi.
“Hati-hati di jalan. Jangan ngebut.”
Bayu membalasku dengan kecupan juga di pipi, kemudian dia segera masuk ke dalam mobil, menutup pintu dan melambai padaku sebelum mobilnya meninggalkan lapangan parkir di gedung apartemen.
...
__ADS_1