
...
“Ibu tidak punya kunci rumah ini. Bagaimana bisa?” Aku masih tidak puas dengan jawaban ayah.
“Dia punya.” Suara ayah yang lantang dan meyakinkan membuatku seketika diam memperhatikan ekspresinya.
Aku benar-benar sudah lupa bagaimana wajah seriusnya, bagaimana wajah marah atau wajah tersenyumnya. Aku merasakan seolah pria paruh baya di hadapanku ini adalah orang asing yang aku kenal.
Bukankah seharusnya setiap pertemuan pertama setelah hampir dua puluh tahun menjadi pertemuan bermakna? Pertemuan yang di idam-idamkan? Tapi aku tetap tidak merasakannya. Salahkah jika seperti ini?
Di bandingkan dengan memikirkan itu semua, sekarang aku sadar jika bahu belakangku terasa berdenyut sakit karena dorongan tadi cukup membuat sepanjang tangan kananku kaku dan kebas.
“Ayah mau minum apa?”
“Apa saja.”
Setelah mendengar jawabannya, aku segera berbalik meninggalkan dua pria itu dan segera berjalan menuju dapur, mengeluarkan dua gelas bermaksud ingin membuatkan minuman untuk Bayu juga.
Setelah mengecek ternyata di rumah ini hampir tidak pernah menyimpan air panas, akhirnya aku segera menyalakan termos listrik perak mini setelah memastikan tersambung di stop kontak lalu mengisi setengah air di dalamnya. Sambil menunggu warna lampu kecil yang berwarna merah berubah warna hijau, aku mulai menyiapkan teh celup.
Ayah, apa yang dia lakukan di sini? Kenapa dia tiba-tiba muncul kembali setelah mengabaikanku selama ini? Aku yang sudah merasakan bagaimana sifat ibu selama ini membuatku berpikir jauh mengenai sikap ayah.
Aku yang sudah sering bertemu banyak sifat orang yang berbeda di luar sana terlebih karena urusan kerja mengharuskan aku bertemu orang berbeda setiap hari. Aku merasa ayah tidak mungkin begitu saja muncul hanya karena dia merindukanku. Dari sikapnya pun semuanya terlihat jelas.
Bagaimana saat ayah mendorongku tadi padahal jika di pikir secara logika aku yang sudah dengan jelas masuk ke dalam rumah lewat pintu depan secara baik-baik apalagi aku sempat ke dapur menyimpan belanjaan seharusnya ayah langsung muncul di hadapanku tanpa harus aku yang curiga lebih dahulu.
Atau mungkin aku yang terlalu banyak berpikir? Apa memang ayah bermaksud ingin memberikanku kejutan meskipun kejutan yang ia akan berikan terlambat selama dua puluh tahun.
Tiba-tiba aku merasakan seseorang mengusap-usap kepalaku dari samping. Karena kaget aku hampir melompat menyentuh termos perak yang sudah mulai mengepul dihadapanku tapi untungnya dengan sigap tangan itu menarikku menjauh.
Aku mendongak mendapati Bayu sedang menunduk dengan kerutan di dahinya. Dia menarikku hingga keningku menabrak bahunya.
__ADS_1
“Kamu tidak mendengarnya? Dari tadi airnya udah mendidih ‘tuh.” Karena posisi ini terlalu dekat, aku tersenyum kecil padanya dan cepat-cepat menjauh darinya lalu segera menekan tombol off.
“Iya dengar.” Jawabku santai menuangkan air panas itu kedalam dua gelas yang sudah di siapkan.
“Itu tehnya mau di minum sekarang? Bukannya kita mau keluar?”
“Iya kita mau keluar, tapi masih ada ayah—“
“Jadi kamu tidak mendengarku berbicara dari tadi?! Berarti kamu juga tidak dengar termosnya mendengung?”
Aku hampir tersedak dengan air liurku sendiri mendengar suara omelan Bayu. Sembari tersenyum lebar, aku mendongak menatapnya karena ketahuan berbohong.
“Tadi bicara apa? Hehehe Aku tidak dengar.”
Bayu berdecak gemas lalu berkata. “Tadi ayahmu sudah pamit pergi katanya ada urusan mendesak. Dia berpesan untuk pamit padamu.”
Seperti bangun dari mimpi, senyumku hilang. Entah mengapa tiba-tiba hatiku terasa sangat sakit. Bahkan ayah tidak pamit padaku padahal aku ada di dapur. Setidaknya teriak saja toh aku akan mendengarnya. Dan yang lebih membuatku tidak mengerti adalah tujuan ayah ke rumahku. Dia tidak menanyakan kabar atau bagaimana hidupku selama ini. Apalagi sepertinya ayah percaya jika Bayu adalah suamiku.
Dia tetaplah Gunawan Davindra, ayah kandungku.
Kakiku telah membawaku keluar dari gerbang rumah, agak jauh dari tempatku berdiri aku bisa melihat sebuah taksi
dan ayah tampak sedang membuka pintu mobil itu lalu masuk. Tapi selain itu dari sisi lain aku bisa mengenali punggung seorang wanita, dari perawakan dan gaya rambutnya aku yakin itu ibu.
Ingin mengejar tapi terlambat, maka segera aku mencari ponsel di saku celana tapi aku tidak menemukannya. Tanpa berpikir lagi aku berlari masuk ke dalam rumah begitu menyadari aku tadi meninggalkan benda itu di atas meja di ruang tamu.
Aku tahu Bayu sedang memperhatikan tingkahku yang terburu-buru menelpon seseorang. lelaki ini tidak bertanya, dia seperti menungguku.
“Halo bu! Ayah—“
“Kami akan mengobrol dulu. Sudah jangan ganggu!”
__ADS_1
“Tapi bu—“ Aku mendengar suara seperti ponsel di lempar. Mungkin ibu segera melemparnya ke dalam tasnya.
Aku menghela napas kesal sembari menjauhkan ponsel dari depan telinga sembari menatap layarnya. Lalu menatap Bayu yang berdiri menatapku dalam diam, kedua tangannya yang di masukkan ke dalam saku celana membuatnya terlihat lebih keren.
Ketika pandangan kami bertemu, Bayu mengangkat kedua alisnya membiarkan aku berbicara lebih dulu. “Dia sudah Bersama ibuku.”
“Kamu ingin menyusul mereka? Sepertinya ada hal penting.”
“Ahh tidak usah.” Aku menggeleng cepat-cepat. Dulu saat kami pacaran, Bayu hanya tahu kedua orang tuaku sudah bercerai. Hanya sebatas itu. Lelaki ini memang tidak pernah menuntut penjelasan detail tentang hal-hal bersifat pribadi seperti ini.
“Kamu yakin?” Bayu berjalan menghampiriku lalu menepuk-nepuk puncak kepalaku.
Aku mengangguk pelan sembari tersenyum kecil padanya. Karena niat kami akan keluar, aku pamit padanya untuk
ganti baju dulu.
Setelah berada di dalam kamar, hendak mencari baju di dalam lemari, aku berniat akan meletakkan ponselku di meja kecil samping tempat tidur tapi gerakkanku terhenti saat layar ponsel yang semula gelap tiba-tiba menyala menampilkan detik-detik tadi aku menelpon ibu masih terus menghitung. Berarti sambungan telpon belum terputus.
Entah mengapa aku tiba-tiba merasa gugup dan jantungku berdetak lebih cepat. Akhirnya aku kembali mendekatkan ponsel ke telinga, penasaran untuk mendengarkan apa yang sedang ibu lakukan.
“Tidak akan pernah! Dia bukan hak kamu!”
“Dia juga anakku! Putriku!”
“Apa kau lupa? Selama sembilan belas tahun ini kamu kemana? Aku tahu niat jahatmu ini! Aku tidak akan pernah menyerahkan Icha padamu!”
Aku menelan saliva susah payah, jadi ayah ke sini karena ingin merebut hak asuhnya? Tapi apakah dia lupa kalau aku sudah dewasa dan itu tidak akan berguna meskipun mereka membawa masalah ini ke pengadilan.
“Aku tahu usahamu itu sudah bangkrut dan sekarang! Kau mengincar Icha karena dia memiliki hak atas kekayaan dari bibinya! Kau hanya ingin mengambil uangnya untuk anakmu yang berpenyakitan itu ‘kan?”
...
__ADS_1