EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 238


__ADS_3

...


 


 


 


 


 


“Icha, jangan seperti itu. Maafkan mas Davin.” Tante Marisa memelas menatapku.


 


 


“Mas, cepat minta maaf!” Dia mendesak ayah yang baru kali ini aku melihatnya tampak kaku. Lalu ibu, dia tidak mengatakan apa-apa, ekspresinya terlihat terguncang sekaligus kesal padaku.


 


 


“Tidak perlu! Terserah kalau kalian mau menganggapku seperti apa, anak sombong atau apapun itu! Aku tidak peduli lagi! Masih banyak hal yang perlu aku urus tanpa harus mendengarkan pertengkaran kalian. Sekarang, kalau sudah mendengarkan apa yang tadi aku katakan, silakan keluar dari rumah ini!”


 


 


“Icha, tolong jangan emosi. Orang tua sekali pun melakukan kesalahan, kita harus memahami mereka. Mereka pasti banyak pikiran hingga lupa menanyakan kabarmu.” Kesedihan yang tadi di tunjukan oleh Hanna menguap entah kemana, kini dia bergeser mendekatiku dan menarik tangan kananku untuk dia genggam.


 


 


“Ini bukan tentang menanyakan kabar! Sudahlah, aku tidak ingin mengatakan apapun lagi.” Aku segera melepas genggamannya. “Sekarang, kalian silakan pergi dari rumah ini.”


 


 


“Bayu, Icha sepertinya sangat emosi. Aku mengerti, mungkin dia masih muda, tolong tegur dia, jangan seperti itu.”


 


 


“Apa?! Ha ha. Lucu sekali! Aku hanya satu tahun lebih muda darimu!” Aku menatap Hanna kesal, suaranya tadi yang di tujukan pada Bayu terdengar lemah lembut, aku sangat kesal padanya karena terang-terangan di hadapanku berusaha mempengaruhi dan menggoda suamiku!!


 


 


“Aku pikir apa yang Icha katakan benar, pintunya ada di sebelah sana.” Jawab Bayu menunjuk pintu dengan tangannya, mengabaikan perkataan Hanna.


 


 


Aku meliriknya, menemukan ekspresi wajahnya sangat serius, kesal dan dingin. Tatapan tajamnya menatap satu per satu keempat tamu di hadapan kami. Untuk sesaat, aku berharap di kemudian hari tidak menghadapi ekspresi Bayu yang seperti ini. Aku tidak ingat lelaki ini punya tatapan sangat mengintimidasi setajam ini.


 


 


“Mungkin kita bisa mendiskusikan nya lain kali, menyelesaikannya dengan lebih kekeluargaan, setelah suasana lebih santai.”


 


 


“Tidak! Menurutku jawaban tadi sudah sangat jelas!” Bayu menolak tegas ucapan tante Marisa, lirikannya yang tajam berhasil membuat wanita paruh baya itu bungkam tidak bisa membantah.


 


 


Ibu langsung berdiri dengan tatapan kesal di layangkan padaku, dia ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan di ujung lidahnya. Hampir dua puluh tahun ini aku sudah terbiasa dengan tatapan tajam ibu, tapi tetap saja, rasanya ada setitik rasa sakit di rongga dadaku yang menyebar dengan cepat sampai rasanya tenggorokkan ku sakit, mataku juga berembun menahan air mata.


 


 


Pada kenyataannya dia memang bukan ibu kandungku, tapi selama aku hidup, aku mengenalnya sebagai sosok ibu kandung. Jauh di lubuk hati, aku begitu menyayanginya, mengharapkan kasih nya yang tak sepanjang masa.


 


 


“Baik! Jadi kamu seperti ini pada ibu?! Mulai saat ini kamu bukan anak ku lagi!”


 


 


“Bu—“

__ADS_1


 


 


“Jangan pernah memanggilku ibu!” Wajah ibu berubah merah, dia menyentak kan langkahnya menuju pintu keluar.


 


 


Aku hanya bisa menatap kosong tempat ibu duduk tadi, dadaku rasanya semakin sesak dan tenggorokkan ku yang sakit berusaha menahan tangis namun air mataku tetap menetes hangat melewati pipi.


 


 


Sekarang mataku melihat ayah yang berdiri menatapku, tangannya menunjuk ku kesal lalu berkata. “Harus nya ayah tahu, kamu tidak menganggapku keluarga lagi, setelah tahu tentang keluarga kandung Danendra yang kaya raya! Kamu anak yang sombong—“


 


 


 


 


 


 


 


 


BRAAKK!!


 


 


 


 


 


 


 


“KETERLALUAN!!” Aku setengah kaget karena Bayu menggebrak meja dan berteriak sembari berdiri menatap ayah Davin.


 


 


 


 


“Pak Davin berani menghina istri saya?!” Bayu menggertak emosi. “Mungkin selama ini Icha sabar menghadapi kalian yang tidak pernah mengerti dan selalu memaksa, tapi aku tidak bisa lagi mentoleransi nya! Jangan pernah muncul di hadapan kami atau kalian akan menyesal berhadapan denganku! Sekarang, KELUAR!!”


 


 


Tante Marisa berdiri panik, dia menatap Bayu sembari memelas “Nak Bayu, maafkan mas Davin—“


 


 


“Masih mau memainkan drama lagi di depan ku?!” Potong Bayu masih meledak emosi. “Kalau begitu, aku punya hak melarang Icha membeli saham pak Davin jika dia terdesak harus mendapatkan uang cepat di kemudian hari.”


 


 


Ayah, tante Marisa dan Hanna menatap Bayu kaget.


 


 


Hanna menatapku dengan wajah sedih dan memelas. “Cha—“


 


 


“Satu kata lagi keluar, aku akan tambah satu daftar penyesalan kalian! Coba saja!” Ancam Bayu yang seketika membuatku juga ikut kaget.


 


 


“Seret mereka keluar!” Perintahnya pada Dika dan Lucy.

__ADS_1


 


 


Ketiga orang ini sempat melirik ku dengan pandangan kesal dan memohon tapi mereka tidak berani mengatakan apapun lagi, lalu mereka di seret paksa dan dalam sekejap sudah menghilang dari hadapanku.


 


 


Aku segera berdiri menatap Bayu yang pandangan tajamnya sedang mengikuti Dika dan Lucy menyeret mereka di teras depan. Rahangnya masih mengatup keras, tatapannya seolah mengatakan mereka akan mati kalau berani mendekat.


 


 


Rasa sakit yang tadi aku rasakan seolah terobati dengan Bayu yang melindungiku seperti ini. Aku merasa aman dan terlindungi berada di sampingnya.


 


 


Tanganku terangkat menyentuh pipinya, seketika saja otot tegang di wajahnya mengendur lalu matanya menunduk untuk menatapku.


 


 


Aku tersenyum kecil dan segera memeluknya, menyandarkan kepalaku di dadanya, melingkarkan kedua tanganku erat di sekitar perutnya dan menghirup dalam aroma tubuhnya.


 


 


Bayu menghela napas panjang untuk menurunkan emosinya dengan kedua tangan mulai balas memeluk ku. Kemudian dia mengecup puncak kepalaku beberapa kali.


 


 


“Mulai sekarang, jangan menangis lagi untuk orang seperti mereka!” Katanya terdengar lesu. Aku kira tadi dia tidak menyadarinya.


 


 


“Terima kasih banyak.” Aku menghela napas bersyukur bisa memeluknya. “dan aku sedang tidak baik-baik saja.” Jawabku jujur.


 


 


“Oh sayang, tidak apa-apa. Jangan di sembunyikan.” Kataya, mengusap belakang kepalaku dengan lembut. “Mulai sekarang aku tidak akan membiarkan orang-orang itu mendekatimu. Aku serius akan membuat mereka menyesal karena mengganggumu.”


 


 


“Tapi, apa tidak terlalu berlebihan?” Tanyaku sembari melepaskan pelukan kami.


 


 


“Harus seperti ini atau mereka tidak akan melepaskanmu. Untuk masalah ini kamu harus dengarkan aku.” Jawabnya tegas tidak mau di bantah.


 


 


Aku mengangguk, bagaimana pun Bayu ingin yang terbaik untukku. Sekali lagi, lelaki ini memelukku sembari mengecup keningku beberapa kali dengan sayang, saat dia sedang melakukan itu, mataku melihat keluar jendela, tante Marisa, ayah dan Hanna sudah ada di pintu gerbang, tampak kesal di paksa oleh Dika dan Lucy.


 


 


Hanna sempat berbalik dan menatapku di luar sana, meski terhalang oleh gorden jendela berwarna putih agak transparan, tapi aku yakin dia menatapku dengan pandangan sangat marah, rahangnya mengeras berusaha menahan gejolak emosinya. Lalu dia juga sempat melemparkan tatapan campuran terpesona dan sedih pada Bayu.


 


 


Rahangku mengeras kesal dan marah. Wanita itu berani-berani nya menatap suamiku seperti itu!


 


 


 


 


 


...


 

__ADS_1


 


__ADS_2