
...
Karena di tatap seperti itu, aku segera meraih tangannya dan menepuk-nepuk pelan sembari mengangguk kecil.
“Selanjutnya, kau tahu apa yang terjadi. Dokter Cilia mendekatimu, Rey menjadi buronanku selama ini, dia selalu lolos dari hukum, ada yang melindunginya dari belakang, dan Nindy atau madam Carol, diam-diam dia mempengaruhi tante Marisa yang berujung padamu juga, menjauhkan ayah Davin darimu sejak dulu.”
Aku menghela napas panjang, jika memikirkan tentang tante Marisa, aku tidak tahu apakah harus merasa simpati padanya atau marah, kemalangannya berasal dari dia sendiri.
“Tante Marisa percaya dengan ramalan, Nindy memanfaatkan itu untuk mempengaruhinya hingga dia ketergantungan. Dia meramalkan tante Marisa akan sukses jika kembali pada mantan kekasihnya yaitu ayah
Davin, lalu dia juga memberi obat herbal untuk kesehatan Hanna dengan dalih ramalan, tapi nyatanya justru Hanna sakit sampai sekarang. Kemudian, terakhir kali tante Marisa bertemu Nindy, wanita itu meramalkan agar Hanna mendekatimu atau ayah Evano untuk kesuksesannya di masa depan. Semua itu tetap saja berimbas padaku, untuk diam-diam menghancurkan kehidupanku, agar dendam Wendy pada keluarga Danendra terealisasi.” Kataku menjelaskan dengan perasaan marah.
“Ya. Itulah kenapa saat aku mengetahui Nindy ada hubungannya denganmu dan Rey, aku dan Sam merencanakan penangkapannya.”
“Jadi pengakuanmu waktu itu yang mengatakan kau terluka karena terlalu buru-buru menangkap Rey di gedung peramal Prognoz, adalah bohong?” Aku menatapnya minta penjelasan.
Bayu mendesah lesu, “pada saat itu, semua informasi ini harus di rahasiakan, jadi aku hanya bisa mengatakan sebatas itu. Maaf ya.”
Aku terlalu cepat emosi, menyalahkan Bayu tidaklah pantas. Bagaimanapun, dia juga punya batasan dan tanggung jawab dalam pekerjaannya.
“Maaf. Aku tidak seharusnya menyalahkanmu.” Kataku sembari mendekatinya dan bersandar di bahunya.
Bayu mengangguk kecil, dia merangkul bahuku dan menyandarkan kepalanya di atas kepalaku. Kami sama-sama terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Apa kedatangan ayah Rasha ke sini, ada hubungannya dengan kasus ini?” Tanyaku yang sedikit demi sedikit menyimpulkan sesuatu.
“Ya.”
“Lalu, apa tugasmu di sini selama enam bulan juga ada hubungannya semua ini?”
__ADS_1
“...ya.” Bayu menjawab enggan.
“Bagaimana dengan Gia? Apa hubungannya Gia dengan kasus ini?”
“Ingat saat kau di rawat di rumah sakit, kau, prof Bora dan Talia menemukan kalau ada orang yang mengikuti prof Bora? Setelah di intrograsi katanya dia dari agensi pencarian bakat dan ingin merekrut tunangan dokter Stefan?” Aku mengangguk, sangat jelas mengingatnya.
“Dia bekerja di agensi hiburan yang sponsor utamanya adalah MeFa grup. Kami juga sudah menangkapnya dan dia mengaku kalau sebenarnya dia ingin mendekatimu dengan cara memulai dari orang-orang yang kau kenal. Saat itu, pria yang mengikuti prof Bora tidak berhasil, jadi Wendy mengirim penggantinya yaitu Gia. Anak yang ternyata dia sponsori sekolahnya dan ada di dekat prof Bora.” Tanpa sadar aku menahan napas, mendengar semua ini, yang terjadi dalam hidupku, seperti mimpi.
“Namun kejadian kemarin, saat kau menolongnya, Gia mengaku dia tidak menyangka Wendy akan membunuhnya dengan memanipulasinya sebagai kecelakaan.”
“Lalu bagaimana dengan kejadian penculikan di desa itu? Apa Gia ada di sana bukan kebetulan? Mungkinkah dia disana bertemu dengan Rey?” Tanyaku semakin tidak percaya.
Bayu mengangguk, “kejadian di desa, memang para penjahat itu sengaja memilih Gia, karena Alfred diam-diam berlangganan dengan Rey untuk transaksi narkoba dan obat-obat yang belum teruju klinis itu. Saat itu Rey memberi Gia tugas dari Wendy, untuk mendekati prof Bora di kampus.”
“Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku pikirkan! Semua rencana ini terlalu matang.” Aku mendesah, mengeluh dan melempar punggungku ke sandaran sofa.
“Tapi tunggu sebentar!” Aku bangkit duduk begitu menyadari ada satu lagi yang belum di pahami, “kau sudah mengkap Alfred, Gia, pria yang mengikuti prof Bora, lalu Nindy, juga Rey! Kalau gitu, tersisa Wendy dan dok—Cilia?” Aku tidak ingin lagi memanggil dokter Cilia dengan sebutan dokter!!
Menyelidiki kasus ini seperti mengumpulkan kepingan puzzle. Banyak kejadian-kejadian yang harus di reka ulang dan di selidiki benang merahnya. Aku tidak bisa membayangkan waktu sulitnya, membagi urusan pekerjaan, latihan, keluarga, penyelidikan kasus, bahkan waktu untuk menemaniku.
Bibirku mengkerut, melengkung ke bawah, terharu dan sedih, “aku tidak tahu kata apa yang pantas untuk mewakili perasaanku. Kau sudah bekerja keras karena menyelidiki kasus ini, bahkan di tengah kecurigaanku padamu.”
“Tidak sayang. Aku juga banyak di bantu oleh rekan-rekan yang lain.” Bayu mengusap sisi kepalaku dengan lembut, dia tersenyum kecil, berusaha menenangkanku.
“Ternyata, latar belakang keluargaku sangat rumit. Aku takut hal ini akan mempengaruhi—“
“Tidak!!” Bayu memotong ucapanku, “jangan berpikir kau bisa menghindariku karena perasaan tidak enak hati atau bersalah. Kau harus bertanggung jawab, berada di sampingku selamanya. Itulah satu-satunya bayaran yang harus kau bayar padaku.”
“Hehehe... Bodoh!” Aku tertawa kecil, meledeknya.
Ekspresi wajahnya terlihat khawatir dan memelas, tapi aku segera menangkup dua pipinya, menatap ke dalam matanya langsung dan bicara, “tentu saja aku tidak akan menyerah! Serumit apapun kasus ini, aku masih berpikir kalau sebenarnya mereka adalah orang asing. Aku tidak pernah mengenal ibu kandungku atau adiknya, Wendy. Orang-orang yang sekarang ada di sekelilingku, mendukung dan melindungikulah keluarga sesungguhnya.” Bayu tersenyum kecil dan mengangguk.
__ADS_1
Aku terkekeh kecil dan mengecup bibirnya sebentar, melepaskannya dan melanjutkan berujar, “tapi berjanjilah satu hal padaku.”
“Apa?”
“Ketika nanti saatnya tiba, kau di tugaskan untuk menangkap Wendy, kau harus memberitahuku. Setidaknya, biarkan aku mengkhawatirkanmu.”
“Aku janji.” Jawab Bayu yakin.
Kami berdua saling melempar tawa, semua ini bisa di lewati bersamanya, aku sangat bersyukur.
“Eh tunggu sebentar!” Aku menurunkan dua tangan yang sejak tadi menangkup pipinya.
“Apa?”
“Kenapa Gia ada di kota ini? Apa yang dia lakukan? Apa dia mengikutiku??” aku bisa melihat perubahan ekspresi wajah Bayu menjadi ragu.
“Apa?? Kau harus memberitahuku! Kita sudah mendiskusikan kasus ini, dan aku pikir, tidak perlu lagi ada yang di sembunyikan.” Desakku.
“Baik baik. Akan aku katakan.” Bayu mengangguk pasrah, “hari ini banyak menguras mental dan emosiku.” gerutunya pelan. Aku ingin tertawa, tapi aku tidak ingin menghancurkan atmosfer diskusi ini.
“Gia mendapat tugas dari Wendy. Dia ingin mendekatimu dan—“
“Daaaannn??” Aku tidak sabar lagi mendengarnya.
“Dan diam-diam—“
“Diam-diam??”
Tiba-tiba saja Bayu berdiri, tangannya terkepal penuh emosi.
__ADS_1
...