
...
Di bawah jok, aku melihat kunci inggris tersembunyi dekat pedal gas.
Tanganku akan meraih benda itu, tinggal sedikit lagi hingga jariku menyentuhnya, tapi tarikan kuat dari pergelangan kaki membuat tanganku tidak bisa meraihnya.
Pria ini menarikku dengan mata yang melotot. Rasanya jantungku jatuh ke perut karena tatapannya yang menyeramkan. Dengan sekuat tenaga aku menendangnya lagi, kali ini aku berhasil mendorongnya, sampai cengkraman tangannya itu melonggar.
Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan, merangkak menuju pintu sisi lain mobil dan tanganku dengan cepat menyentuh gagangnya untuk membuka pintu.
Sruuukk!
Buug!!
Sakit.
Telingaku berdengung, pandanganku buram, terlebih lagi sisi kepalaku sakit sekali.
Semua itu membuat pergerakkanku terhenti, aku jadi lemah dan tanganku bergetar menahan perih. Aku tidak pernah merasakan sakit yang seperti ini.
Di belakangku, pergerakan pria itu lebih santai saat dia membuka pintu mobil. Aku yang jatuh tak berdaya di jok merasa ada sesuatu yang basah mengalir di sisi kepala.
Selanjutnya, aku yang tidak bisa menahan sakit di kepala, menyerah saat pandanganku semakin buram dan telingaku tidak bisa mendengar apa-apa lagi hingga semuanya menjadi gelap.
...
..
.
Tubuhku bergoyang, terantuk ke kanan dan ke kiri.
Udara dingin yang menyengat di seluruh badan membuatku bergetar pelan.
Sebelum aku membuka mata karena terganggu dengan semua itu, aku mengerang pelan merasakan kepalaku masih berdenyut sakit.
Kelopak mataku bergetar saat terbuka, ada sesuatu yang dingin di bulu mataku karena itu terasa kaku.
Napasku yang berat entah mengapa menjadi satu-satunya menjadi kehangatan yang menyadarkanku dengan cepat.
Telingaku sekarang bisa dengan jelas mendengar suara mesin mobil saat pandanganku semakin jelas. Aku bangkit untuk duduk setelah menyadari kalau aku berada di sebuah kotak persegi panjang.
__ADS_1
Kardus-kardus yang menumpung di sini tertutup es putih. Posisiku yang sekarang berada di ujung bisa dengan jelas melihat pintu kotak persegi ini ada di depanku, dan itu tertutup rapat.
Aku memutar otak untuk berpikir di mana tempat ini. Satu-satunya yang menjadi jawaban adalah aku ada di dalam truk pendingin yang sedang bergerak dengan kencang.
Fakta kalau aku di culik lagi membuatku mengutuk Wendy dan Cilia dengan kata-kata kasar dalam hati. Padahal aku sangat percaya diri kalau semuanya telah berakhir setelah meninggalkan Cilia. Tapi, bisa dipastikan kalau pria yang menculikku kali ini ada di tim Bayu, namun sepertinya dia punya kerjasama dengan Wendy dan organisasinya.
Bayu.
Apa dia tahu dengan cepat kalau aku di culik?
Ya semoga saja.
Hanya itu satu-satunya yang bisa aku lakukan sekarang. Meski tangan dan kaki ku tidak di ikat, tapi aku tidak tahu situasi di luar, ponselku juga tidak ada.
Aku bergerak untuk sampai ke sudut dan memeluk diriku sendiri untuk mengurangi dingin yang mulai membuat tangan dan kakiku kaku.
Mataku membaca sekilas kardus-kardus yang menumpung, di sana ada nama merek minuman dingin yang cukup terkenal. Sesaat aku berpikir untuk mengambil satu dan meminumnya karena tenggorokkan ku kering, tapi pikiranku itu terhenti bertepatan dengan mobil ini juga berhenti.
Aku mengerutkan kening dan mempertajam pendengaranku. Ada suara pintu mobil yang di banting di beberapa sisi mobil ini dan suara teriakan yang samar-samar di kejauhan.
Akibat pukulan tadi, kepalaku yang masih sakit dan pusing serta telinga yang berdengung pelan membuatku susah mendengar itu. Terlebih lagi, dingin yang semakin menusuk rasanya memperburuk kondisiku.
Aku menunggu, diam sampai tidak lebih dari sepuluh detik, suara ribut-ribut terdengar di pintu truk di depanku hingga cahaya terang perlahan terlihat saat pintu terbuka dari luar.
Klung!
Klik!
Braak!
"Nyonya Natasha??"
"Oh! Lucy??" Jelas sekali itu suara Lucy.
Aku lega, sangat lega melihat sosok Lucy yang aku kenal naik dan masuk ke dalam truk pendingin ini. Di belakangnya ketika pintu di buka lebar, aku juga melihat beberapa orang berpakaian hitam memakai helm dan senjata api di tangan mereka.
"Syukurlah kami menemukan nyonya di sini." Lucy berlari kecil menghampiriku lalu membantuku untuk segera berdiri.
Dia menatap wajahku dan mendesah khawatir, "anda terluka."
"Bagaimana dengan Bayu?" aku mendesaknya setelah melihat di belakangnya tidak ada orang itu.
__ADS_1
"Pak Bayu sedang mengejar penculiknya. Untunglah kami bisa melacak dan mengejarnya dengan cepat." Lucy merangkulku yang mulai menggigil kedinginan.
"Ayo kita keluar dari sini."
Kelopak mataku refleks tertutup karena cahaya matahari ketika aku sudah sampai di depan pintu yang terbuka. Ternyata aku berada di jalan pegunungan. Mataku di manjakan oleh pemandangan yang indah di kejauhan. Atap-atap rumah, pepohonan yang lebat, petak kebun yang bergaris dengan rapih, semua ini terasa tidak nyata jika memikirkan kalau aku baru saja terbebas dari penculikan.
Orang-orang yang rata-ratanya adalah tim Bayu, menungguku di luar dan dengan cepat mengulurkan bantuan mereka agar aku bisa turun dengan aman.
Namun mataku bergerak cepat mencari Bayu, pakaian mereka memang sama tapi aku sangat mengenal perawakan lelaki itu.
PRAANG!!
DOOR!!
Semua orang yang ingin membantuku terkesiap kaget. Suara itu berasal dari belakangku di luar truk
Aku punya firasat buruk.
Kakiku dengan cepat turun dari tempat dingin ini, mengabaikan telapak tangan dan kakiku yang agak kaku. Sembari terpincang, aku mengikuti arus orang-orang yang juga ingin melihat apa yang terjadi.
"Jangan mendekat!!"
"Siap di posisi masing-masing!"
"Sudah ada di mana bantuan yang kita minta?"
"Kepung kepung!!"
Jantungku seolah naik ke tenggorokkan melihat ke panikan yang terjadi di depanku ini.
Aku di tahan oleh dua orang pria saat ingin mendekat tapi mataku tidak lepas dari adegan yang sedang terjadi.
Lima puluh meter dari tempatku berdiri, aku melihat mobil hitam berhenti di pinggir jalan, lebih tepatnya mobil itu berhenti tepat di ujung garis pembatas. Karena ini di pegunungan, jika mobil itu maju dua meter melewati pembatas jalan, hanya ada jurang tinggi yang menyambutnya.
Seorang pria berbadan besar dengan baju serba hitamnya ada di dalam mobil, itu pria yang sama dengan yang menculikku. Ada lima orang di dekat mobil itu yang menodongkan pistol, siap menembak jika dia melakukan gerakkan yang tak terduga.
Tanpa sadar aku menahan napas karena salah satu dari lima orang itu adalah Bayu.
"Tidak!" aku mengerang khawatir melihat posisi Bayu berada di depan mobil, membelakangi jurang. Tangannya kokoh saat menodongkan pistol itu pada pria di dalam mobil. Sorot matanya yang marah dan dingin terlihat jelas di sana.
...
__ADS_1
.