EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 300


__ADS_3

...


 


 


 


Lalu Bayu melanjutkan, “tapi ternyata kita sama-sama terkejut bertemu di siatuasi tadi, terlebih lagi di situasi bahaya yang tidak pernah aku bayangkan sama sekali.”


 


 


Aku melangkah mendekatinya dan mengambil posisi duduk di sampingnya, “aku tahu, tadi kau terlihat pucat ketika melihatku. Lalu, apa kau sudah mengabari ayah tentang kejadian ini?”


 


 


“Sudah. Tapi aku minta mereka untuk tidak menghubungi dulu, agar membiarkanmu tenang. Mungkin mereka akan menelponmu besok setelah aku meyakinkan mereka kau baik-baik saja.”


 


 


“Sebenarnya, aku tidak baik-baik saja.” Kataku.


 


 


Ekpsresi wajah Bayu berubah panik, dia memegang kedua bahuku agar menghadapnya, “apa ada yang sakit? Tabrakan itu membuatmu terluka?”


 


 


Aku terdiam sebentar, merasakan kalau ada sengatan kecil di lengan kiri belakangku yang baru terasa padahal tadi baik-baik saja.


 


 


“Di lengan kiri belakangku agak sakit, bisa kau tolong lihat?” Aku berbalik menghadap punggung padanya.


 


 


“Kau harus di periksa ke rumah sakit. Ayo!”


 


 


“Tidak usah. Mungkin hanya memar.”


 


 


“Seharusnya aku tadi memeriksa tubuhmu dulu.” Gumamnya terdengar menyesal.


 


 


Entah mengapa aku justru tertawa kecil, “kau bisa memeriksanya sekarang.”


 


 


Bayu membantuku membuka kaos putihku melewati kepala, kini hanya menyisakan dalaman tanktop dan bra putihku. Memang malu membuka baju secara terang-terangan di hadapannya seperti ini, pertama kalinya tubuh atasku terlihat olehnya dengan sedikit pakaian, tapi berhubung sekarang aku tidak sedang menghadapnya langsung, jadi aku mengabaikannya.


 


 


 


“Benar. Ini memar merah. Tunggu sebentar, aku ambil dulu kompres.” Katanya lalu beranjak dari posisi duduknya menuju ke luar kamar.


 


 


Aku masih diam di posisiku duduk, memperhatikan setiap detail kamar ini. Cat krem yang di gunakan membuat kamar semakin terang.


 


 


Tak lama kemudian Bayu datang membawa ice bag di tangan kirinya dan tangan kanan memegang dua botol kopi instan. Tanpa banyak bicara dia menyerahkan satu botol kopi dingin padaku, aku menerima kopinya dengan senyum lebar. Memang kafein adalah minuman terbaik untuk sore ini.


 


 


Bayu kembali duduk di belakangku, mulai menyentuhkan ice bag pada luka memar dengan hati-hati.


 


 


“Apa kau tidak perlu kembali ke pelatihan?” Tanyaku memecah keheningan setelah meneguk kopi yang diberikannya.


 


 


“Aku sudah di izinkan hari ini untuk tidak kembali. Mereka tahu kalau kau datang.”


 

__ADS_1


 


“Begitu?” Aku agak kaget mendengarnya, “kenapa mereka harus tahu kalau aku datang?”


 


 


“Tentu saja karena kamu adalah istriku.” Jawab Bayu seadanya yang justru membuatku menoleh padanya, dengan sorot penasaran.


 


 


“Karena aku cukup terkenal di antara para wanita, banyak yang penasaran—“


 


 


“Jadi kau mengaku kalau kau cukup terkenal dan di perhatikan oleh para wanita?” Potongku dengan nada jengkel.


 


 


“Ya. Banyak yang bilang aku keren, pintar, ganteng, baik. Sempurna!”


 


 


“Apa ada yang bilang kalau kau terlalu narsis?”


 


 


Bayu tertawa melihat ekspresiku yang semakin jengkel, dia mencubit pipiku dan mengembalikan posisiku agar membelakanginya.


 


 


“Oke, berhenti bercandanya. Tapi mereka memang tahu kau akan datang. Sebenarnya banyak yang ingin bertemu denganmu. Aku tidak merasa tersanjung karena rasa penasaran mereka, tidak juga karena pencapaian yang luar biasa. Mungkin karena, kau tahu, reputasi kakek dan ayah.”


 


 


“Aku mengerti.” Jawabku mengangguk, benar-benar mengerti bagaimana perasaannya berada di tengah-tengah orang yang penasaran dengan kehidupanmu, bukan karena mereka ingin tahu kamu, tapi mereka ingin dekat karena orang tua yang hebat.


 


 


“Ngomong-ngomong tentang ayah, aku ingin menanyakan sesuatu yang serius padamu.” Aku tiba-tiba teringat masalah dokter Cilia. Ayah Evano pernah mengatakan kalau dia akan menceritakan semuanya padaku setelah ada Bayu.


 


 


 


 


“Tentang kasus Red Apple dan perusahaan Raksasa. Apa kau, ayah Evano dan ayah Rasha sedang menyelidiki semua itu?” Pergerakkan tangan Bayu yang sedang menekan ice bag di lenganku terhenti. Beberapa saat dia diam tapi lima detik berikutnya dia akhirnya menghela napas panjang.


 


 


“Ayah Evano mengatakan padaku kalau kau sepertinya sudah tahu hubungan mengenai semua itu. Sepertinya kau tahu lebih banyak dari yang aku duga.”


 


 


“Jadi?” Aku hendak berbalik, memposisikan duduk menghadapnya, tapi Bayu menahanku.


 


 


“Kenapa?” Tanyaku heran.


 


 


“Diam saja. Kita bicara seperti ini.”


 


 


“Kenapa?” Tanyaku jengkel.


 


 


Lelaki ini tidak menjawabku, tapi perlahan aku bisa merasakan posisi duduknya bergeser lebih dekat, lalu kedua tangannya menyelinap di antara pinggul dan tanganku, berakhir memeluk perutku dari belakang.


 


 


Jantungku berdetak kencang ketika dagu lelaki ini di letakkan di bahu kananku yang terbuka. Hembusan napasnya yang hangat menyentuh pipiku.


 


 


 

__ADS_1


Benar!


 


 


Aku lupa kalau sekarang hanya memakai atasan dalaman tanktop dan bra. Pantas saja Bayu tidak ingin aku duduk menghadapnya.


 


 


“Cha, jangan kesal terus dong sama Bayu. Kita ini udah hubungan jarak jauh selama empa bulan, bahkan kita belum punya waktu untuk menikmati masa pernikahan kita.” Dia merajuk.


 


 


Aku tidak bisa untuk tidak tertawa kecil. Sangat langka melihatnya harus merajuk manja seperti ini.


 


 


Tangan kananku terangkat menepuk-nepuk kepalanya dan tangan kiriku mengusap tangannya yang masih erat memelukku dari belakang, sambil berkata gemas, “duh duh, manja banget sih kamu. Icha enggak kesal lagi deh, tapi kamu harus mengatakan semuanya tentang penyelidikan kalian itu.”


 


 


Bayu dengan sengaja mengangkat tubuhku untuk di letakkan duduk di atas pahanya, dengan posisi ini, punggungku bisa sepenuhnya bersandar di dadanya.


 


 


“Aku janji akan melaporkan semuanya padamu setelah mengambil beberapa bukti di kantor.”


 


 


“Kapan kau akan mengambilnya?”


 


 


“Kalau aku ke kantor besok, tapi sepertinya aku ingin mengajukan izin sampai besok.” Bisiknya membuat darahku berdesir. Ada sengatan kecil yang memompa jantungku semakin cepat.


 


 


“Apa kau merindukanku?” Sekarang tatapan kami bertemu, wajahnya sangat dekat dengan wajahku.


 


 


“Tentu saja! Sangat merindukanmu!!” Jawabku semangat, menyentuhkan keningku ke keningnya. Bayu tertawa dengan respon yang aku berikan.


 


 


“Apa kau mencintaiku?” Kali ini aku yang bertanya, menggodanya.


 


 


“Tentu saja! Sangat mencintaimu!!” Dia menirukan nada bicaraku tadi dan kami saling melempar tawa bahagia.


 


 


Sekarang aku sepenuhnya bersandar padanya dengan nyaman, meski duduk di atas pahanya tapi Bayu sama sekali tidak terlihat keberatan dengan beban tubuhku.


 


 


“Ngomong-ngomong, aku ingat kalau hari ini kami akan menengok istri temanku yang baru melahirkan di rumah sakit. Dia melahirkan anak perempuan. Sebaiknya apa yang harus aku bawa?” Tanya Bayu mengeratkan tangannya yang masih memeluk perutku. Pipi kami saling menempel dan aku sangat suka mendengar suaranya dari dekat.


 


 


“Kau bisa membeli peralatan makan bayi, atau tas berpergian bayi, atau peralatan mandinya. Jangan pakaian, karena bayi tumbuh sangat cepat. Tapi semua itu sudah biasa dan mungkin saja orang lain menghadiahkan hal yang sama. Mungkin lebih baik memberikan sesuatu untuk ibu bayi.”


 


 


“Begitu bisa?”


 


 


“Tentu saja! Zaman sekarang menghadiahi ibu bayi adalah hal wajar. Kau bisa memberinya vitamin, susu, pakaian bahkan emas pun bisa.”


 


 


 


 


 


...

__ADS_1


 


 


__ADS_2