EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 52


__ADS_3

...


 


“Sekarang tolong lepaskan orang-orang di dalam pesawat itu. Aku akan memenuhi—“


“Kenapa kamu harus peduli pada mereka?! Lihatlah keadaanmu sekarang!! Pikirkan kebahagianmu sendiri!” Rey


memotong ucapanku. Dia bertariak marah padaku.


Aku menggeleng. “Tidakkah kamu berpikir anak-anak itu sudah di tunggu oleh keluarga mereka di rumah? Lalu para tentara itu juga menjadi kebanggaan untuk keluarga mereka. Hanya ini yang bisa aku minta darimu.”


“Jika kamu begitu peduli padanya kenapa tidak kamu lepaskan mereka dan buang racun sialan itu!” Bayu dengan berani menempelkan ujung pistol itu pada kepala Rey yang membuat Mike seketika itu juga melangkah maju dan menempelkan pistolnya di belakang kepala Bayu.


“Apa yang bisa membuat kalian berhenti saling menodongkan pistol itu, hm?” Suaraku terdengar bergetar.


Aku sangat takut.


Aku sangat lelah.


Aku kesakitan.


Kenapa susah sekali saat aku ingin menepati janji Rey yang sudah mengatakan jujur padaku. Ketika aku yang putus asa ini dan berharap dengan adanya racun itu bisa membuatku menghilang. Bahkan saat aku ingin mengambil sertifikat tanah untuk diberikan pada ibu juga aku harus terjebak di sini dulu!


“Kau tahu, penawar racun ini hanya ada di bos besar.” Rey membuat Bayu semakin marah. Padanya. Lelaki itu tiba-tiba memukul perut Rey cukup keras hingga dia tersungkur jatuh. Tindakan itu membuat Mike memukul dengan keras punggung Bayu dengan sikunya.


 


Kejadiannya begitu cepat saat Bayu yang mengaduh kesakitan tidak melihat Mike yang memungut suntikan itu tak jauh dari kaki Rey, lalu berjalan cepat ke arahku dan yang aku rasakan Mike menarik tangan kananku.


Aku merasakan cubitan kecil, menatap tidak percaya apa yang dilakukan Mike. “Sekarang, kamu dan Rio palsu ini harus memohon padaku untuk mendapatkan obat penawarnya!”


“Brengsek!!” Mike di tarik kasar dan dibanting ke tanah. Bayu memukul wajah lelaki itu penuh amarah. Wajahnya


memerah dan dia memaki Mike dengan kata-kata kasar.


Aku yang tersadar apa yang dilakukan Mike segera menatap ke bawah, suntikan kosong itu jatuh di sisi sepatuku.


Mengkonfirmasi bahwa racun itu sudah masuk sepenuhnya ke dalam tubuhku.


Aku yang terlalu kaget tidak bisa lagi menahan tubuhku. Kakiku seperti berubah jadi Jelly dan aku jatuh terduduk.


 


Kedua tanganku bergetar dan air mataku semakin banyak keluar.

__ADS_1


Hembusan napasku yang terasa masih panas semakin membuatku terisak. Kelopak mataku terasa berat sekali, Udara dingin malam ini seolah tidak lagi tearasa.


“Batalkan.” Rey mendekatiku dengan ponsel di telinga kirinya, aku mendongak tidak peduli dengan mataku yang sudah bengkak dan memerah.


“Aku juga sudah menepati janjiku.” Katanya.


Mendengar dia tidak lagi mengincar anak-anak itu menjadi sebuah kelegaan yang besar di hatiku. Aku yang juga senang hanya bisa kembali menangis lebih kencang. Aku menyadari Rey tengah menatapku tapi aku tidak mempedulikannya dan hanya menutupi wajahku dengan tangan kananku.


Memikirkan wajah seorang ibu yang menangis senang karena anaknya pulang dengan selamat tak urung membuatku iri.


 


Aku benar-benar sendirian sekarang di dunia ini. Aku tidak bisa lagi memandang sama seperti sebelumnya saat nanti bertemu dengan Daniel.


“Brengsek!! Kau harus mati!!” Suara amarah Bayu membuatku mendongak. Aku tidak melihat Rey yang beberapa detik lalu berdiri di hadapanku. Mataku hanya menemukan Bayu yang sedang mengarahkan pistolnya pada pelipis Mike.


Aku mendengar suara marah itu tercampur isak pelan darinya.


Tidak ingin terjadi apa-apa, sekuat tenaga aku bangkit dan berlari menghampiri Bayu, menahan lengan lelaki ini agar tidak membunuh Mike.


“Kau tidak harus melakukan sampai sejauh ini.” Bisikku pelan di sampingnya. Dari sisi wajahnya saja aku bisa


melihat setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Tatapan marahnya tercampur dengan perasaan khawatir dan sedih.


 


Tidak pernah terbayangkan olehku Bayu yang seperti ini.


“K--Kau menangis? Oh bagaimana ini? Bayu, apa yang harus aku lakukan?” Aku kembali menangis kencang sembari memeluknya, berjinjit agar tangan kananku bisa meraih bahunya, meletakkan kepalaku di bahunya sembari mengusap kepala belakangnya.


 


Melihatnya yang seperti ini membuatku rasanya tidak bisa meredakan tangisanku.


 


Aku tahu Bayu yang juga memelukku sangat erat sembari dia menangis pelan dipundakku. Sekarang yang ada di pikiranku hanyalah aku harus bagaimana untuk hidup? Aku harus bagaimana untuk mengurangi rasa sakit ini?


Terlebih aku harus bagiamana untuk menghilangkan kesedihan Bayu?


“A—aku harus bagaimana cha? Aku harus bagaimana agar tidak kehilanganmu?  Aku harus bagaimana agar kamu tetap di sampingku? A—aku akan membawa penawar itu bagaimana pun caranya!”


“Tidak!” Refleks aku melepaskan pelukan kami. Tanganku terangkat mengusap pipi Bayu yang basah dan menggeleng. Menyadari jika mereka sudah tahu identitas Bayu tidak bisa aku bayangkan apa yang akan dia hadapi nanti.


“Tetap di sini. Disampingku, hmm?” Aku berbisik, memohon padanya.

__ADS_1


Bayu mengusap pipiku yang basah, akhirnya dia hanya bisa menghela napas pelan. Dia kembali memelukku, sedikit menunduk dan melingkarkan kedua tangannya di pinggangku. Meskipun begitu Bayu berhati-hati agar tidak menyentuh bahu kiriku yang terluka.


Saat mendapat pelukannya, kesedihanku seolah menguap entah kemana. Tangisanku menguap dalam sekejap,


hanya memejamkan mata menikmati setiap momen ini dan berkata “Kau adalah alasan terakhirku berdiri di tepi jurang kehidupan.”


Setelah mendengar itu aku merasakan Bayu semakin mengeratkan pelukannya, lalu mencium beberapa kali puncak kepalaku, menyandarkan pipinya di keningku. Mencari posisi yang nyaman sebelum dia menjawab. “Aku ingin kamu selalu bahagia. Aku ingin buang semua kesedihanmu.”


Meskipun terdengar klise tapi akhirnya aku bisa tersenyum kecil, rongga dadaku menghangat. Menyadari sudah seminggu lebih aku tidak merasakan perasaan ini.


Mungkin karena perasaan nyaman dan menenangkan ini ketika aku bersama Bayu, hal itu membuat kedua mataku semakin berat, aku seperti susah mendapatkan oksigen dan seluruh badanku perlahan menjadi sangat ringan.


Aku yang belum sepenuhnya kehilangan kesadaran masih bisa merasakan jika Bayu mencoba menahan berat tubuku, dia memanggil namaku berkali-kali tapi aku tidak sanggup menjawabnya.


 


 


Terakhir sebelum kesadaranku sepenuhnya menghilang, aku merasakan Bayu menggangkatku dan menarik kepalaku untuk bersandar lebih nyaman di dadanya.


***


Aku tidak memimpikan atau merasakan apapun selain alam bawah sadarku ingin aku segera membuka mata.


 


Hal pertama yang aku lihat adalah langit-langit kayu sebuah rumah panggung yang asing. Satu hal yang bisa aku pastikan bahwa aku masih ada di desa ini.


“Oh kamu sudah sadar? Bagaimana keadaanmu? Bahumu?” Seorang wanita paruh baya yang aku kenali tadi siang di dapur menunggu jawabanku.


Aku tidak langsung menjawab dan justru ingin bangun. Sambil di bantu olehnya aku bisa duduk bersandar di


ranjang kayu ini.


“Masih sakit.” Aku menjawab sembari menyentuh lengan kiriku yang terasa kebas. Mataku melihat dia membawa pakaian ganti di tangannya.


“Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?” Tanyaku meringis pelan karena kepalaku terasa pusing sekali.


“Tidak sampai lima menit kamu dibawa ke sini. Sejak tadi siang wajahmu pucat sekali. Lebih baik kamu istirahat dulu sebelum pulang.”


 


 


...

__ADS_1


__ADS_2