EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 102


__ADS_3

...


 


Jantungku berdetak cepat dan napasku memburu karena takut. Di lihat pun aku bisa menebak pistol itu punya alat peredam suara seperti yang aku lihat di drama-drama yang aku tonton.


Mungkin kalau hanya aku di ruangan ini aku akan berani menginjak kakinya atau memukul tangannya agar pistol itu lepas dari tangannya tapi aku tidak bisa melakukan itu! Sial!


“Bagaimana? Apa kau ingin mencobanya? Atau ikut denganku baik-baik.”


“Aku akan ikut denganmu, tapi tidak dengan professor Bora!” Gilang langsung mencengkram pergelangan tanganku sangat erat, rasa sakit langsung menjalar dari sana membuatku meringis pelan.


“Kamu sedang tidak dalam posisi untuk negosiasi denganku!!” Pria ini sekarang menatapku marah.


Aku terdiam, tidak ingin mengambil resiko membahayakan dua gadis tidak bersalah itu. Hanya duduk agak menjauh darinya tanpa ingin menganggapnya. Tapi lagi-lagi pria gila ini tersenyum senang melihat sikapku.


Untunglah dengan perubahan sikapnya itu, Gilang diam memperhatikan prof. Bora. Dia terlihat mau menunggu mereka selesai bicara. Jika di lihat-lihat dia tidak sepintar atau semenakutkan Rey. Dia hanya berlagak berkuasa dengan keadaan.


Tidak lama kemudian dua mahasiswa itu sudah pamit dan hendak menuju pintu, Gilang lalu berdiri menghampiri pintu akan memanggil tiga anak buahnya. Aku cepat-cepat berdiri dan berjalan mendekati prof. Bora.


“Aku sudah meminta dua muridku itu untuk menelpon polisi. Kita hanya harus mengulur waktu—“


“Tidak secepat itu!” Ucapan Gilang menghentikan perkataan wanita ini. Dia sengaja membuka pintunya lebih lebar agar kami bisa melihat dua pria berjas hitam itu sedang menahan dua gadis tadi.


Keduanya mengernyit ketakutan tapi tidak bias memberontak. Pasti mereka di ancam!


“Bawa masuk dan ikat mereka!” Gilang memberi perintah, sekarang di ruangan ini ramai dengan suara rengekan ketakutan dua mahasiswa ini.


Tunggu sebentar!


Kenapa tadi rasanya di luar sepi sekali. Padahal saat aku dan Bayu datang banyak mahasiswa yang sedang mengobrol di lorong. Seharusnya melihat dua gadis ini ketakutan, mereka akan melihatnya.


“Aku kan sudah bilang akan pergi denganmu secara baik-baik!” Aku berseru marah. Tidak bisa menahannya lagi. Lalu Gilang menyuruh salah satu anak buahnya untuk membawaku mendekatinya tanpa kata.


Aku di seret paksa oleh pria berjas hitam ini hingga berada di hadapan Gilang. “Aku berubah pikiran, aku akan mengambil sampelnya sekarang dan setelah nya membawamu pergi dari sini.”


Dia sudah sangat gila!


Kegilaannya semakin terlihat saat tangannya merogoh saku jas dan mengelurkan pisau lalu plastik kecil dari sana.


“Berhenti!! Kau sudah gila!!” Mendengar suara jeritan Prof. Bora membuat hatiku sedikit lebih tenang.

__ADS_1


Benar, aku tidak sendirian di sini. Tapi lagi-lagi Gilang menyuruh anak buahnya untuk menahan wanita itu dan membungkamnya agar tidak berteriak.


“Kau bisa mengambil sampel darahku tapi lepaskan mereka!”


“Aku perlu mengingatkanmu lagi, kau tidak dalam posisi untuk bernegosiasi denganku!” Gilang mencengkram rahangku erat yang membuatku kaget dan sesak napas.


Refleks aku memukul perutnya dengan lututku sekuat tenaga dan memukul perut pria di belakangku dengan siku tanganku. Dalam sekejap aku bisa lepas dari kedua pria ini. Salahkan mereka yang tidak menahan kaki dan tanganku dengan erat.


Tapi situasinya tidak menguntungkan saat aku mendengar jeritan tertahan dua gadis yang di jaga oleh pria lainnya. Aku meliriknya dan di saat yang tepat pria itu sudah mengacung pistolnya padaku—


 


 


 


 


DORR!!


 


 


 


 


 


 


 


 


BRAKKK!!


Aku ambruk dengan kedua tangan menutup sisi kepalaku ketakutan dan kaget sekali.


Aku mendengar suara tembakan! Aku juga mendengar suara jeritan prof. Bora! Dan aku mendengar suara yang lainnya.

__ADS_1


Itu suara pintu terbuka paksa dari luar!


Dan langkah kaki cepat juga suara teriakkan orang-orang yang masuk. Tapi aku masih merasakan jantungku yang berdetak cepat, napasku memburu dan keringat membasahi sisi wajahku. Aku sadar tanganku bergetar ketakutan mengingat lagi pistol itu sudah di tembakkan yang mengarah padaku!!


“Ya ampun Icha! Apa kau terluka?” Aku membuka mata saat suara lembut prof. Bora sudah berada di sebelahku. Wajahnya yang cantik terlihat sangat khawatir, matanya memeriksa tubuhku dan memaksaku untuk duduk tegap.


Napasku masih memburu tapi aku hanya sanggup menggeleng menjawabnya. Tenggorokkanku sakit dan aku merasa pusing sekarang. “Tenanglah, kau tidak terluka. Kau aman, sekarang tarik napas, keluarkan. Ya seperti itu!”


Aku mengikuti apa yang di ucapakan prof. Bora hingga sudut mataku menemukan sosok itu, lelaki yang berjanji akan datang menyelamatkanku, lelaki yang tidak akan membiarkan mereka mendapatkan sampel darah dariku.


Bayu berlutut di hadapanku, mengusap lembut sisi kepalaku dan sorot matanya terlihat sangat khawatir dan marah. Sekarang aku bisa melihat kharisma percaya dirinya telah kembali. Aku tidak menyangka hanya beberapa menit lelaki ini kembali dengan pasukan tentaranya.


Dia tidak mengucapkan apapun tapi Bayu membawaku ke dalam pelukannya yang secara mendadak membuat kedua mataku memanas dan tenggorokkanku sakit. Aku mulai terisak pelan di pelukannya. Aku tidak bisa mengontrol emosiku, aku ketakutan sampai seperti ini.


“Kau sudah aman. Maaf meninggalkanmu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi meskipun kau menyuruhku untuk pergi.” Suara lembutnya terdengar di telingaku, aku semakin memeluknya erat, melampiaskan semuanya dengan menangis.


 


“Bora!!”


“Stefan!!”


“Astaga! Syukurlah kau baik-baik saja.”


Samar-samar aku mendengar suara dokter Stefan. Lalu di ikuti suara prof. Bora. “Bayu, kau harus membawanya keluar dari sini. Dia hebat sekali menghadapi penjahat itu dan hampir tertembak.”


Aku segera melepaskan pelukannya dan mendongak untuk bisa melihat lebih jelas wajahnya. Padahal hanya beberapa menit tapi rasanya sudah lama sekali, aku rindu kehadirannya di sekitarku.


 


Bayu mengusap pipiku yang basah lalu dia mengeluarkan ponselnya menelpon seseorang. “Yaa, tangkap mereka semua. Aku tidak peduli mereka pejabat atau pengusaha besar sekalipun. Berikan semua bukti pada polisi, jaksa dan media. Aku ingin semua beres dalam satu jam! Laporkan perkembangannya padaku. Batas kesabaranku sudah habis!!”


Aku melihat ekspresi dinginnya lebih menakutkan, belum pernah aku melihat Bayu memunculkan ekspresi seperti ini. Setelah mengatakannya, dia memutuskan sambungan telpon tanpa mengalihkan tatapannya padaku. Dia seolah ingin membunuh dengan tatapannya.


“Karena aku sudah tertarik denganmu, aku akan menggunakan semua koneksi dan biaya untuk keluar! Setelahnya aku akan memastikan untuk membawamu pergi dari sini!!” Aku mendengar suara teriakkan Gilang. Kami semua meliriknya, dia sedang di seret oleh dua orang pria berpakaian tentara.


Aku tahu Bayu hendak bangkit berdiri untuk menghajar pria itu tapi aku segera menahan tangannya, menggeleng pelan saat dia menoleh padaku.


Bayu menghela napas panjang sebelum berkata. “Baiklah. Ayo pergi dari sini.”


Dia membantuku berdiri dan aku masih merasakan gugup dan takut menyadari ada lubang kecil di tembok sampingku. Semua penjahat itu sudah di tangkap dan dua mahasiswa yang sempat di sandera tadi sedang di tenangkan karena mereka menangis.

__ADS_1


 


...


__ADS_2