EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 227


__ADS_3

...


Aku memekik kaget, menghentikan langkah kami dan langsung berdiri menghadapnya.


Bayu justru mengangguk dengan kening berkerut, seperti sedang berpikir. “Ya, ada tugas tim phonex yang harus kami selesaikan juga setelah itu kami di pindahkan sementara ke perbatasan untuk mengawasi situasi—“


“Tunggu!!” Aku memotong pembicaraan saat mataku menemukan jam dinding. Waktu menunjuk kan pukul delapan kurang lima menit.


“Kita hanya punya waktu enam belas jam sebelum pergantian hari. Kalau begitu, ayo cepat kau selesaikan urusanmu! Aku akan menunggu.” Pikiran ku hanya di penuhi waktu sisa yang kami miliki sebelum aku tidak bertemu dengannya selama enam bulan.


“Setelah ini kita berkencan.” Bisik ku lebih dekat padanya, berharap dua orang yang mengikuti tidak mendengarnya.


Senyum lebarnya langsung menyambutku. “Kita belum pernah berkencan. Aku sangat mengharapkan kencan kita hari ini.” Balasnya juga berbisik.


“Kalau gitu cepat! Aku akan berangkat sekarang!”


“Ehhh! Sarapan dulu!” Sebelah tangan Bayu tiba-tiba merangkul perutku dari belakang saat aku berbalik dan hendak melangkah menjauhinya.


Tubuhku menabrak tubuhnya di belakang, aku bisa merasakan hembusan napasnya menerpa sisi wajahku. Dia sekarang memeluk ku dari belakang dengan kepala menunduk untuk menatapku.


“O—oke! Tapi tolong lepaskan dulu.”


Bayu terkekeh tapi tetap melepaskan pelukannya, tanpa melirik kepadanya, aku segera berjalan cepat menjauhinya menuju dapur, malu sekali karena ada dua pasang mata yang selalu memperhatikan kami.


.



….


“Boo, aku akan segera menyusulmu kesana. Kabari saja, oke?” Aku mengangguk saat Bayu membuka kan pintu mobil penumpang di depan untukku.


Aku sudah mengatakan padanya rencanaku pagi ini, sedangkan lelaki ini akan menyusul saat urusan dengan pasukan Sam selesai.


Mataku melihat sosok Dika yang berdiri tegap tak jauh di belakang Bayu dengan kemeja rapihnya dan Lucy, wanita itu sudah siap di depan kemudi.


“Jangan nakal.” Kata Bayu mengusap puncak kepalaku. Aku tersenyum kecil lalu mencium pipinya sebelum masuk ke dalam mobil.


“Hati-hati di jalan.” Setelah mengatakan itu, Bayu menutup pintu mobil dari luar dan aku melambai padanya sebelum mobil melaju meninggalkan pekarangan rumah.


Untuk lima menit berikutnya, aku dan Lucy yang hanya berdua di dalam mobil terdiam tidak bersuara. Wanita ini fokus menyetir, beberapa kali aku tahu dia melirikku.

__ADS_1


“Jadi Lucy, eh?”


“Ya bu!”


“Tidak tidak! Jangan panggil aku ibu. Ngomong-ngomong umurmu berapa?” Itu pertanyaan pertama yang terlintas di benak ku.


“Aku dua lima. Tahun ini dua enam.”


“Umur kita sama, jadi panggil saja aku Icha.”


“Aku tidak berani memanggil nama mu langsung, bu.” Suaranya yang tegas membuatku tersenyum kecil. Dia terlihat agak canggung untuk balas menatapku.


“Kalau masing canggung, kau tidak usah memanggil namaku. Tapi jangan panggil aku ibu.” Lucy mengerutkan kening, tampak berpikir sembari tangannya sibuk memutar kemudi.


“Nyonya muda? Nyonya muda Jeremy? Karena atasanku mengatakan kalau aku akan bekerja untuk mengawal Nyonya muda dari keluarga Jeremy, jadi tidak ada nama lain yang terpikir olehku selain itu.”


“Itu lebih baik.” Aku mengangguk menyentujui. “Kalau begitu, untuk ke depan, senang bertemu denganmu, Lucy.”


wanita ini mengangguk dan di akhiri dengan saling melempar senyum konyol.


.


..



“Aku tidak memberi tahu siapapun soal kemarin. Fakta kalau dia sudah tiada tidak bisa di bantah, ‘kan? Lagi pula apapun yang terjadi, mungkin lebih baik aku memastikannya dulu sebelum keluarga kami tahu.” Aku mengangguk mendengar pernyataan Camila, pakaiannya berwarna hitam dan wajahnya bengkak akibat terlalu lama menangis dan aku yang datang pagi ini tepat setelah pemakaman di laksanakan.


Kami sedang duduk di bangku luar rumah, tak jauh dari gerbang masuk ke rumahnya yang sejak tadi keluar masuk para pelayat. Aku masih merangkul Camila yang tampak melamun dengan mata sayu, mungkin dia lelah menangis.


“Tapi kamu jangan terlalu memikirkan perkataan pria itu. Aku akan mencari tahu ada apa sebenarnya, yang penting sekarang kamu harus sabar ya.”


“Aku tahu, aku tidak akan terlalu memikirkan tentang itu untuk sekarang.” Jawabnya melirikku sekilas.


“Tapi ngomong-ngomong, apa dia teman mu? Kenapa dari tadi berdiri terus?” Camila menunjuk Lucy dengan dagunya, wanita itu sedang berdiri kaku tak jauh di depan ku, sedang memperhatikan keadaan sekitar.


“Oh dia—dia—hmm sebenarnya aku tidak mau mengatakan ini tapi—“


“Semacam bodyguard?” Sela Camila tak percaya.


“Hmm, semacam itu.”

__ADS_1


“Tapi kenapa? Aku tidak pernah membayangkan kau punya orang untuk menjagamu.” Kali ini Camila sepenuhnya menaruh perhatiannya padaku, matanya terlihat heran dan bingung, khas Camila kalau dia sedang bingung dengan apa yang harus di kerjakan dulu saat di kantor.


“Sebenarnya ada beberapa hal yang terjadi akhir-akhir ini. Intinya sih karenapekerjaan Bayu, kami memutuskan pencegahan dengan menyewa orang untuk menjagaku.”


“Ahh bisa di mengerti mengingat dia adalah tentara.” Camila mengangguk.


“Lalu di mana dia sekarang?”


“Dia ada urusan mendadak jadi tidak bisa ikut menemaniku. Dia bilang ikut berduka cita.” Jawabku yang lagi di angguki wanita ini.


“Eumm Mila, boleh aku meminta bantuanmu?”


“Apa?”


“Ini mungkin menyulitkanmu, tapi tentang kejadian tabrakkan kemarin, bisakah kau mengabariku kalau menemukan sesuatu yang aneh?” Aku berusaha mengatakannya dengan hati-hati karena tidak ingin membuatnya lebih sedih atau tersinggung tapi untungnya Camila mengangguk, langsung menyetujuinya.


Melihat bagaimana reaksinya, aku pikir Camila sudah lebih baik, dia tidak lagi menangis sesegukkan, mungkin karena pengalihan pembicaraan kami tadi.


“Ayo ke dalam. Kau harus istirahat juga, aku akan menemanimu sampai siang ini.” Kataku mengajaknya berdiri. Camila tersenyum kecil seraya merangkulku dan kami melangkah masuk ke dalam rumah yang masih berduka.


***


“Saya mau bertemu dengan pak Evano. Apa beliau ada?” Aku bertanya pada resepsionis saat siang ini aku dan Lucy sudah sampai di gedung tinggi, perusahaan ayah Evano. Satu jam yang lalu ayah menyuruhku untuk bertemu di perusahaan, aku kira mungkin karena pekerjaan ayah yang tidak bisa di tinggalkan maka aku setuju.


Jam menunjukkan pukul satu siang, ini waktu yang tepat setelah jam makan siang kantor. Banyak karyawan yang masuk lewat pintu utama di depan meja resepsionis.


Dua wanita di belakang meja berpakaian rapih untuk sesaat saling pandang lalu salah satunya menjawab. “Apa nona sudah ada janji? Karena kebetulan pimpinan di atas sedang mengadakan rapat, biasanya mereka tidak boleh di ganggu.”


“Sudah. Pak Evano sendiri yang memintaku untuk datang ke sini.”


“Tunggu sebentar.” Katanya sembari tersenyum kecil. Aku mengangguk dan memperhatikannya yang sedang mengangkat gagang telpon.


Sesaat aku melirik ke belakang, Lucy berdiri dua meter di belakangku, dia masih saja terlihat kaku, benar-benar seperti seorang bodyguard. Tanpa sadar aku menggeleng pelan.


“OH! ICHAA!!” Suara teriakan berhasil menghentikan ucapan resepsionis ini sesaat di telpon. Aku berbalik dan mendapati paman Kenzo sedang tersenyum lebar, berjalan cepat menghampiriku dari pintu masuk.


...


Untuk satu minggu ke depan, episode baru akan terus berlanjut setiap hari!


Terima kasih sudah menunggu!

__ADS_1


__ADS_2