EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 22


__ADS_3

...


 


 


“Ya ampun, kamu ini ternyata imut sekali kalau sudah kesal seperti ini!”


Aku masih menatapnya kesal. “Wanita lebih percaya diri jika disebut tampak lebih muda atau awet muda daripada


disebut cantik.”


“Baiklah wanita muda, kau terlihat cantik saat sedang kesal seperti ini.”


“Aku tidak menerima dua kata pujian dalam satu kalimat, kau tahu itu ‘kan?” Bayu mengangguk cepat. Aku yang pura-pura kesal tidak tahan menghadapi Bayu yang dalam mode penurut.


“Tidak perlu khawatir, manis. Tentu saja gadis muda ini selalu cantik dalam ekspresi apapun.” Aku tertawa kencang mendengarnya. Meskipun sudah bertahun-tahun tidak mendengarnya tapi aku tidak pernah bosan dengan kejahilannya ini.


“Mulai sekarang, sekalipun aku sedang bertugas, aku akan menyempatkan untuk mengabarimu.” Aku mengangguk,


lelaki ini selalu tahu bagaimana membuatku nyaman.


“Sekali lagi terima kasih sudah mau mendengarkanku.”


“Cemburu itu boleh tapi cemburu yang dewasa adalah cemburu yang mendengarkan dan tidak menduga secara salah.”


“Siapa yang cemburu?”


“Kau cemburu pada pekerjaanku.”


“Ya ampun!! Berhenti meledekku!!” Aku menghujaninya dengan pukulan. Yang terjadi justru Bayu semakin tertawa


kencang.


“Baiklah, ampun!” Bayu akhirnya menyerah. Aku menghentikan pergerakkan tanganku dan menatapnya waspada


kalau-kalau dia ingin melanjutkan aksinya.


“Kau ingin pizza? Kita mengobrol sambil makan.” Aku mengangguk semangat. Bukan karena mendengar pizza tapi


karena aku senang bisa mengobrol lebih lama dengannya.


Setelah mengunci pintu rumah dan pintu gerbang, Bayu yang ternyata membawa mobil jeep hitam terparkir tak jauh dari depan rumahku, dia melompat naik dan menyalakannya.


Sebelum aku masuk ke dalam mobil, aku merasakan seperti ada yang sedang menatap kami dari kejauhan. Ketika aku menoleh ke belakang mobil, dugaanku ternyata benar. Seseorang di dalam mobil hitam yang terparkir tak jauh dari mobil milik Bayu tengah melihat kearaku.


Sesaat aku merasa mengenali siluet orang itu. Tapi aku tidak ingat. Atau mungkin hanya perasaanku saja?

__ADS_1


“Cha?”


Aku bergumam menjawab panggilan Bayu dan segera masuk ke dalam mobil.


***


“Selesaikan laporannya siang ini agar aku dapat memeriksanya. Lalu periksa lagi list data dan kumpulkan semua


bahannya, aku akan bantu cari. Oh ya jangan lupa tagih sisa persyaratan sebelum tim marketing berangkat.” Semua anggota timku ini mengangguk setelah aku menutup brifing pagi bersama mereka. Beberapa hari tidak masuk kerja membuatku harus di sibukkan dengan banyak pekerjaan di pagi hari.


Tapi hari ini terasa berbeda, moodku dan suasana hatiku sangat berbeda. Walaupun banyak pekerjaan tapi aku senang mengerjakannya.


Mengingat tadi malam aku dan Bayu bisa mengobrol panjang, banyak hal kecil yang kami ceritakan mulai dari Bayu yang sedang di beri libur satu minggu ini atau tentang aku yang menceritakan kegiatanku bekerja dan kuliah malam.


Memang masih agak canggung bias bersamanya lagi. Selain Bayu berubah lebih dewasa dan terlihat lebih tampan,


aura mengintimidasi dan kharismanya sangat terasa. Lalu caranya berbicara, bagaimana intonasinya yang lembut, perlahan dan teratur begitu melekat dalam ingatanku.


Jenis suara Dark tambornya tidak bisa aku lupakan. Semua yang ada pada diri lelaki itu terlihat istimewa. Aku tidak pernah menyangka akan merasakan perasaan seperti ini lagi, terlebih pada Bayu,


“Oy Cha, kenapa senyum-senyum sendiri?” Suara Camila membuyarkan lamunanku. Aku tidak menyadari jika ternyata aku tersenyum tanpa sadar.


“Hehehehe..” Camila hanya menggeleng dan meninggalkanku di ruang rapat ini sendirian. Semuanya sudah keluar dan aku tidak sadar mereka sudah tidak ada.


.


..


“Tuh kan makanannya ga di makan!”


“Oh? Ya ampun, maaf. Aku makan sekarang.” Camila berdecak menatapku di depan meja saat makanan dalam kotak di atas mejaku belum tersentuh. Saat istirahat aku memang minta titip beli makanan pada mereka karena aku benar-benar tidak bisa beranjak dari depan laptop.


Banyak sekali laporan yang harus di rekonsil dengan karyawan pusat dari chat online atau ketika ada tamu dadakan perwakilan dari karyawan perusahaan yang menjalin kerjasama dengan perusahaan ini, mau tak mau aku yang harus menyambut mereka dan memenuhi apa yang mereka perlukan hingga harus datang ke kantor.


Karena absen beberapa hari, pekerjaan benar-benar menumpuk, aku sampai lupa tidak mengecek pesan di ponsel


dan sekarang sudah hampir waktunya jam pulang.


“Makan siang sekaligus makan malam.” Camila meledekku. Aku tersenyum lebar tidak menyalahkan perkataannya.


Sambil membuka makanan yang di beli Camila, dalam hati bersyukur karena hari jum’at ini tidak ada jadwal kuliah. Baru saja hendak menyuapkan satu sendok ke dalam mulut tapi pergerakkanku terhenti melihat seseorang muncul dari ambang pintu ruangan.


Dia adalah staff kebersihan. Lelaki itu menatapku dari sana sembari mengatakan jika ada yang mencariku dan sedang menunggu di ruang rapat.


“Siapa?” Lelaki yang lebih muda dariku ini menggeleng tidak tahu. Akhirnya aku mengangguk dan segera berdiri.


Berharap bukan salah satu client karena jika ya, pasti pertemuan ini akan lama.

__ADS_1


Sebelum beranjak dari depan meja, aku meraih ponsel dan mengecek pesan masuk sembari berjalan keluar ruangan. Beberapa dari orang-orang kantor dan dari Bayu.


Otomatis aku tersenyum ketika membaca isi pesan Bayu yang mengatakan jika dia akan menjemputku dan aku di


minta mengabarinya jika sudah selesai. Pesan itu di kirim tiga jam yang lalu.


Kembali pada seseorang yang mencariku, aku sudah berdiri di depan pintu ruang rapat. Saat membukanya, aku


melihat seorang wanita yang bisa di perkirakan seumuran denganku ini sedang duduk di salah satu kursi.


Dia menoleh menatapku ketika aku sudah masuk ke dalam dan menutup pintu. Sembari tersenyum aku berjalan


mendekatinya, merasa asing dengan wajahnya.


“Lama tidak bertemu.”


“Maaf, kamu siapa?” Aku mengerutkan kening setelah berada di hadapannya. Wanita ini berdiri lalu menatapku dari


bawah ke atas, seolah sedang menilai penampilanku. Dan tindakan ini sangat tidak sopan!


“Kau lupa denganku? Kita bertemu delapan tahun lalu.” Dari nada bicaranya, aku bisa tahu wanita ini sedang


menahan kekesalannya.


Dan aku benar-benar tidak ingat siapa dia.


“Delapan tahun lalu? Kita bertemu di mana?”


Wanita di hadapanku ini mengerlingkan matanya kesal. “Aku Jane! Jane Alexander!!”


Aku menahan napas tanpa sadar setelah mendengarnya. Jane Alexander adalah seorang wanita yang seumuran


denganku, dia memiliki sifat yang arrogant dan pemarah ketika aku bertemu dengannya saat remaja.


Kesan pertamaku terhadapnya sangat buruk. Dia adalah putri tunggal keluarga Alexander, keluarga yang memiliki


perusahaan properti di kota ini.


Sudah lama sekali aku melupakan wajahnya. Bertemu dengannya lagi membuatku merasakan rasa bersalah dan perasaan marah sekaligus.


Tiba-tiba bahuku seperti merosot dan aku merasa lemas tidak bertenaga, sikap defensif yang sebelumnya ingin aku


tunjukkan hilang seketika. Jika dia sampai bertemu lagi denganku, berarti semuanya karena—


 


...

__ADS_1


__ADS_2