EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 193


__ADS_3

...


 


 


 


“Tapi Bee, kalau kamu suruh aku untuk sadar sendiri dengan huruf-huruf di dalam foto ini bukannya itu kaya investigasi?” Tanyaku mendongak menatapnya, masih dengan menempelkan daguku di lengannya.


Bayu menghela napas panjang dan menjawab. “Begitu lah. Aku sudah bilang pada Benny kalau ini ide yang buruk! Maksudku, pacarku ini kan agak kurang peka—”


Refleks aku memukul tangannya kesal sehingga menghentikan ucapannya. Bayu justru tertawa keras dengan reaksiku.


“Enggak sayang. Cuma bercanda. Tapi beneran, kalau kaya gitu berarti lamarannya dalam mode investigasi, romantisnya hilang.”


“Tapi ngomong-ngomong kita di mana? Ini rumah siapa?” Tanyaku ingat kalau rumah di hadapan kami ini terlihat kosong dan gelap.


“Kamu enggak ingat, Boo? Foto yang tadi pagi aku kasih lihat, ini rumah nya.” Aku terkejut dan segera duduk tegak menatapnya. Jantungku berdetak senang.


 


Tidak percaya Bayu membawaku secepat ini ke rumahnya. Ini rumah yang nanti akan kami tempati setelah menikah?


 


 


Bayu terkekeh melihat reaksiku, dia kemudian menarikku lagi dan memelukku lebih erat. Kepalaku bersandar di dadanya, mendengar detak jantungnya yang menenangkan.


“Boo, karena besok aku mulai kerja dan mungkin akan sangat sibuk, jadi tetap seperti ini.” Bisiknya lembut.


Aku menganggguk dan membalas pelukannya, melingkarkan kedua tanganku di perutnya untuk bisa membalas pelukannya. Memejamkan mataku ketika posisi ini membuatku sangat nyaman.


Hembusan angin malam tidak terasa dingin yang sepi, tapi terasa sejuk dan menenangkan. Suara gesekkan daun dan dahan menemani suasana sunyi di antara kami. Kedua tangan Bayu membungkus tubuhku lebih hangat, seolah dia ingin melindungiku dari angin malam.


 


 


.


..



 


 


 


“…Itu akan lebih bagus, aku mengandalkan kalian. Baik. Sampai jumpa.”

__ADS_1


Samar-samar kesadaranku mulai terkumpul, telingaku mendengar sangat jelas suara Bayu yang berbicara di telpon.


Untuk sesaat aku jatuh tertidur tadi dalam pelukannya, Tangan kirinya masih memelukku, menyandarkan kepalaku di bahunya dengan tangan kanan sibuk memainkan ponselnya.


Aku mengerjap untuk membiasakan dengan cahaya di sekitar kami, masih di bawah pohon, masih dengan hembusan angin malam tapi dari nada bicaranya tadi entah mengapa terdengar terburu-buru dan khawatir.


Aku memutuskan untuk bangun dan duduk tegap di sampingnya. Bayu hanya melirikku sekilas dan melanjutkan kesibukannya menghubungi seseorang.


“Yaa ini aku, aku butuh bantuan malam ini juga.” Aku mengerutkan kening melihat wajah Bayu yang sangat tegang. Sepertinya ada masalah.


“Seperti dugaanku, aku sudah mengirimkannya kemarin malam. Mereka bergerak cepat. Yaa, ayah sudah mengabariku. Tidak bisa di tunda lagi, bahkan sampai pagi pun tidak bisa! Oke, terima kasih.”


Aku diam, mendengarkan Bayu berbicara di telpon. Tidak tahu siapa yang dia telpon atau apa yang terjadi.


“Ada apa?” Tanyaku cepat setelah Bayu menjauhkan ponsel dari telinganya.


“Boo—”


“Yaa?”


“Tunggu sebentar.” Lagi-lagi Bayu harus menerima telpon lain membuatku harus menunggu lagi dengan sabar.


 


Aku tidak tahu kalau sebenarnya, apa yang di katakan selanjutnya oleh Bayu merubah hidupku, merubah lagi identitasku, merubah lagi susunan rencana masa depan ku. Kehidupan normal yang aku bayangkan menjauh, tidak membiarkan aku untuk menyentuhnya.


Tidak tahu takdir apa yang mempermainkan kami kali ini, tapi yang aku tahu pasti adalah aku harus menghadapi sisi kehidupan lain yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Sesuatu yang lebih besar akan di mulai.


“Ya ya? Ada apa?” Tanyaku tidak sabar.


Bayu mengalihkan tatapannya dari ponsel yang sudah tidak lagi berdering karena panggilan masuk, kini dia menggenggam tanganku untuk membantuku berdiri.


Setelah kami berdiri berhadapan, Bayu dengan ekspresi serius dan khawatirnya menatapku dalam, aku pikir dia tidak berharap untuk mengatakan ini tapi dia tidak punya pilihan.


 


 


 


“Kita akan menikah malam ini juga.”


 


 


“Hah?! Tapi—”


 


“Dengar.” Bayu agak menunduk agar kepalanya bisa sejajar denganku, kedua tangannya menggenggam kedua tanganku, dari caranya mengganggam saja aku tahu Bayu sangat gugup.


“Ketika kemarin malam di rumah sakit kau mengatakan akan mengunjungi ayah kandungmu, aku sudah menduga kalau mereka akan bergerak karena kau muncul di keluarga Danendra, jadi aku menyusun rencana tapi tidak menyangka mereka akan bergerak sangat cepat.”

__ADS_1


“Katakan lebih jelas! Aku tidak mengerti!” Kataku setengah frustasi.


“Apa hari ini ayahmu mengatakan sesuatu padamu?”


“Maksudmu? Tentang asal usul keluargaku?” Bayu mengangguk.


“Jadi selama ini kau juga tahu?!”


“Bukan hanya kau, tapi keluargaku juga.” Jawaban Bayu membuaku mengerutkan kening lebih dalam.


Bayu menghela napas panjang, seperti dia mencoba untuk menetralisir kegugupannya. Kemudian Bayu berdiri tegak dan berbalik memunggungiku.


“Sejak dulu, keluarga Jeremy adalah tantara. Entah itu laki-laki atau perempuan, pasti salah satu keluargaku ada yang mengambil pekerjaan sebagai tentara. Aku pikir mungkin semacam janji agar keluargaku tidak berhenti untuk jadi tentara, tapi nyatanya tidak sepenuhnya seperti itu.”


Ada jeda sebelum lelaki ini melanjutkan. “Kalau keluargamu adalah keturunan kerajaan di masa lalu maka keluargaku adalah prajurit kerajaan di masa lalu.”


Aku mengerutkan kening, antara tidak percaya dan tidak mengerti. Mendengar penjelasan Bayu saja terdengar seperti sebuah fiksi. Ini sudah zaman modern, tapi hari ini ayah dan Bayu mengatakan tema yang sama.


“Seiring berjalannya waktu sampai pada titik ini, aku tidak pernah berpikir ada kehidupan lain di sisi masyarakat saat ini, tapi nyatanya memang ada.”


“Aku tidak mengerti.” Bayu berbalik, menatapku dan tersenyum kecil lalu melangkah semakin mendekatiku.


“Selama ini, Rey, Max, Alfred dan orang-orang yang menargetkanmu, itu semua karena mereka berasal dari tempat yang sama dengan kita. Sejak awal mereka tahu kalau kau adalah putri dari Evano Danendra. Rey yang ingin mencelakaimu mendapat jalan pintas melalui Daniel. Mengetahui kalau Daniel juga ingin kau celaka, Rey


memanfaatkan moment itu.”


“Jadi alasan itu Rey selalu menggangguku? Kenapa kau tidak memberitahuku?” Tanyaku menuntut penjelasan.


“Karena aku tidak berhak untuk mengatakannya lebih dulu padamu. Ayahmu lah yang harus mengatakannya pertama kali.”


“Bagiku itu sama saja.” Jawabku melipat kedua tangan di atas perut, agak kesal padanya.


Bayu tampak menghela napas pelan, dia agak menunduk agar kepalanya sejajar denganku dan berkata. “Tidak sayang. Suka atau tidak masalah ini harus kau ketahui dari ayahmu.”


“Jadi dari awal kau sudah tahu aku adalah putri keluarga Danendra, kau mendekatiku—”


“Jangan salah paham untuk masalah itu!” Bayu menatapku serius, kedua tangannya mencengkram bahuku.


Tidak bisa di pungkiri, ada prasangka-prasangka buruk tentang pertemuan kembali kami, atau tentang sikap Bunda, ayah Rasha.


“Kalau kau berpikir aku menemuiku lagi setelah bertahun-tahun karena aku tahu kau dari keluarga Danendra maka itu salah besar. Sejak dulu aku mengenalmu sebagai Icha, wanita yang aku tahu pasti mencintainya.” Suara Bayu yang tegas dan serius tanpa mengalihkan tatapannya membuatku sedikit lega.


 


 


 


 


 


...

__ADS_1


__ADS_2