EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 214


__ADS_3

...


Baru kali ini aku melihat Bayu yang sangat marah, bahkan dari samping aku bisa melihat sorot matanya sudah berkaca-kaca menahan amarah besarnya yang bisa kapan saja meledak.


Apa yang terjadi padanya? Kenapa reaksinya seperti ini ketika mendengar Robert menyinggung tentang peristiwa itu?


“Jadi dia belum memberitahumu, Cha? Kalau begitu benar, dia tidak mencintaimu. Dia menyembunyikan sesuatu yang penting darimu.” Robert tersenyum penuh kemenangan melihat ekspresi bingungku.


Aku menghela napas panjang dan segera meraih tangan Bayu yang terkepal agar lelaki ini mengalihkan pandangannya dari Robert.


“Lebih baik kita pergi. Tidak ada gunanya berdebat dengannya. Sejak awal dia berbicara padaku karena bisnis, demi keuntungan dirinya sendiri.” Kataku menarik tangan Bayu.


“Setidaknya dari awal aku sudah jujur. Aku benar tulus.”


Aku mendelik kesal padanya namun berhasil membuat Bayu berbalik dan kami bergandengan tangan menjauh dari pria itu.


Baru tiga langkah, telingaku mendengar pekikan Robert berkata. “Icha! Dia pembunuh! Dia kejam dan rela membunuh anak kecil hanya untuk mendapatkan posisi tetapnya saat ini. Dia tidak sebaik yang kau pikirkan. DIA MONSTER!!”


“KAU—”


PLAAAKKK!


Aku menamparnya keras sekali hingga pergelangan tanganku rasanya seperti terkilir, sakit. Aku sendiri pun terkejut dengan kecepatan langkah kakiku bahkan sebelum Bayu menyelesaikan makian untuknya.


Aku merasakan seluruh tubuhku mendidih. Aku marah sekali mendengar dia mengatakan Bayu adalah monster. Kakiku seperti melayang saat berbalik, melepaskan genggaman tangan Bayu untuk menampar Robert. Tapi aku belum puas bahkan ketika melihat Robert yang jatuh karena tamparanku.


“APA YANG KAU LAKUKAN!! DARAH!! AKU BERDARAH!!” Robert menjerit sembari menunjukkan telapak tangan yang sebelumnya menyentuh pipinya. Ketika dia berdiri menghadapku, aku baru bisa melihat dengan jelas kalau sudut bibirnya sedikit robek dan darah menetes dari sana.


“Kau pantas mendapatkannya! Aku seharusnya menamparmu lebih keras karena berani mengejek suamiku!” Aku menjerit kesal, napasku memburu seperti aku habis lari marathon.


“Wanita sialan! Aku sudah membelamu dan kau membalasku dengan ini?!” Robert berteriak marah dan tangannya sudah terangkat, akan menamparku saat lagi-lagi reaksiku lebih cepat dari dia bahkan lebih cepat dari Bayu yang hendak menarikku mundur. Aku menendang kaki kirinya sekuat tenaga hingga membuatnya mundur dan menjerit


kesakitan.


“TIDAK ADA YANG MENYURUHMU MEMBELAKU, BRENGSEK!!”


“Nona Icha, sabar. Ayo tarik napas, lalu keluarkan.” Suara Jack terdengar di dekatku tapi mataku masih fokus menatap tajam Robert.


“Kesabarannya sudah habis.” Ujar Bayu di belakangku.

__ADS_1


“Kapten, cepat hentikan nona muda Jeremy, sebelum dia membuat pria itu masuk ke rumah sakit.”


“Kau memanggilku apa tadi?” Perhatianku teralihkan ketika mendengar Jack menyebutku nona muda Jeremy.


“Nona muda Jeremy?” Ulang Jack bingung. Seketika senyum muncul di wajahku, moodku berubah cepat hanya karena Jack memanggilku nona muda Jeremy.


“Sialan! Kau wanita—” Aku sudah mengangkat tanganku untuk kembali menamparnya tapi Robert bergerak mundur, waspada.


“Pergi!” Bayu berkata tajam sembari dia menempatkan dirinya di depanku, antara aku dan Robert.


Melihat bagaimana pria itu berjalan cepat menuju mobilnya sembari sesekali melirik kami dengan tatapan mengancam, aku mulai merasakan sakit di pergelangan tangan kananku.


“Terima kasih Jack. Maaf melibatkanmu.” Ujar Bayu setelah mobil Robert melaju cepat meninggalkan kami.


“Tidak usah sungkan, kebetulan aku ada di daerah ini. Kalau begitu Jack pamit pulang.” Kata Jack yang langsung di angguki Bayu.


“Hati-hati di jalan.” Kataku balas melambai padanya saat pria ini sudah siap di atas motornya.


Aku dan Bayu menatap kepergian Jack dengan motornya. Kami berdua sama-sama diam untuk beberapa saat, sibuk dengan pikiran masing-masing.


Ada sesuatu tentang perkataan Robert tadi yang membuat Bayu sampai semarah itu. Aku tidak pernah mendengar tentang itu sebelumnya. Mungkinkah lelaki ini memang menyembunyikan sesuatu dariku? Aku ingin tahu.


“Tamparanmu tadi keren sekali.” Suara Bayu membuyarkan lamunanku, aku meliriknya dan melihat Bayu yang menyeringai padaku.


“Aku belum puas.”


“Tentu saja! Dia pantas menerima lebih dari itu.”


“Tapi apa yang di katakan tadi oleh Robert benar? Kau—”


“Tidak seperti yang kau pikir. Kau harus percaya padaku!” Bayu berdiri menghadapku, ekspresi wajahnya yang khawatir terlihat jelas saat lampu sorot mobil di belakangku mengenai wajahnya.


Aku tersenyum kecil dan mengangguk. “Kau bisa menceritakannya padaku, ‘kan?”


Bayu mengangguk menjawab, masih dengan ekspresi sedih yang sekarang kentara sekali terlihat.


“Jangan membawa kesalahan masa lalu bersamamu, mereka hanya menyakitimu. Lebih baik jadikan mereka pengalamn yang mendewasakanmu.” Kataku sembari mengusap pipinya dengan tangan kananku.


“Aku ingin memelukmu.” Jawabnya sedikit merajuk.

__ADS_1


“Tentu saja. Kemari lah.” Aku merentangkan tangan untuk menyambutnya.


Bayu segera memelukku, dia agak membungkuk untuk meletakkan kedua tangannya di sekitar punggungku, menempatkan kepalanya di bahu kananku, membiarkan wajahnya sembunyi di sana, menghirup dalam-dalam parfum yang aku pakai.


“Terima kasih sudah membelaku tadi.”


“Dia keterlaluan!” Aku berdecak kesal sembari balas memeluknya, menepuk-nepuk pelan punggungnya, berharap dia bisa lebih tenang.


“Akan banyak orang-orang seperti Robert yang akan mendekatimu mulai sekarang. Mereka akan mencoba berbagai cara ”


“Jadi maksud perkataanmu kemarin malam tentang ‘berhadapan dengan orang-orang yang berasal dari tempat yang sama dengan kita’ adalah ini? Orang-orang itu sudah punya banyak persiapan untuk memperbutkan dan mengklaim hak milik seperti Robert yang tiba-tiba ingin berteman denganku, mengambil foto untuk di tunjukkan pada orang lain sebagai bukti kita berteman dan dia juga mendesak untuk kita bekerja sama mencari harta warisan itu?”


“Kurang lebih seperti itu.” Jawab Bayu melepaskan pelukannya. Aku menghela napas pelan, sepertinya perjalananku masih panjang.


“Baiklah, ayo kita segera pulang. Udara malam makin dingin.” Ajak Bayu sembari menarik tanganku tapi aku refleks memekik pelan.


“Ada apa??” Dia bertanya khawatir, mengangkat tangan kananku yang ada di genggamannya.


“Tanganku sakit.”


“Kenapa? Oh? Apa ini karena tamparan keras tadi?” Aku mengangguk menjawab tebakan Bayu.


Lalu lelaki ini mengusap pergelangan tanganku hati-hati. “Tanganmu terkilir? Pergelangannya membengkak sedikit.”


“Benarkah ini bengkak?” Aku bertanya tak percaya secepat itu akan bengkak, tapi setelah di bandingkan dengan pergelangan tangan kiri, memang tangan kananku sedikit mengembung.


“Boo, maaf—”


“Ssstt… Ini bukan salah siapa-siapa. Anggap saja ini salah Robert. Kalau kau masih meminta maaf, aku akan marah.” Kataku mengancamnya.


Bayu diam dan masih mengusap lembut tanganku, kepalanya menunduk dan itu semakin membuatku sedih melihatnya. Aku pikir dia diam seperti ini bukan hanya karena tanganku yang terkilir tapi juga tentang perkataan Robert, mengingatkannya kembali akan peristiwa itu.


Aku menarik tangan kananku dari genggamannya yang membuat Bayu mendongak menatapku. “Ayo angkat kepalamu, tegak kan punggungmu, tunjukkan sorot mata yang penuh percaya diri!”


“Boo…”


“Bee…”


Bayu berdecak gemas, dia memutar matanya kesal karena aku mengikuti nada bicaranya. Aku terkekeh pelan lalu berjinjit dan mengecup bibirnya. “Terima kasih untuk mengkhawatirkanku.”

__ADS_1


Perlahan, kedua sudut bibir Bayu terangkat, menampilkan senyumannnya. Matanya melirik bibirku dan dalam sekejap, wajahnya sudah di depan wajahku saat bibirnya kembali menyentuh bibirku.


...


__ADS_2