
...
“Kakek.” Sapaku pelan, takut kalau aku salah memanggilnya. Tapi kakek tidak protes dan segera melangkah menghampiriku.
“Kami mendengar dari Evano, kau akan datang. Jadi sekalian aja kami menunggumu.”
“Menunggu untuk apa?” Tanyaku penasaran.
“Kami akan menghadiri pesta ulang tahun pernikahan teman lama. Tamu yang di undang pasti sudah setua kami, tapi biasanya pesta seperti ini mereka selalu membawa serta anak atau cucu. Karena Evano, Kenzo dan Kenzie sedang sibuk, kami tidak bisa mengharapkan mereka.” Jelas kakek sesingkat mungkin.
“Tapi, aku belum pernah hadir di acara ulang tahun pernikahan seperti itu, takutnya—“
“Apa yang kau takutkan?” Sela nenek dengan kedua tangan terlipat di atas perut.
“Hanya saja, aku pikir, nanti akan canggung dan—“
“Apa seperti ini keberanian cucu dari keluarga Danendra?” Nenek menatapku serius.
Diam-diam aku menelan saliva susah payah, di tatap serius oleh nenek, dan mendengar nenek mengatakan cucu dari keluarga Danendra membuat jantungku berdetak cepat.
Kakek melangkah mendekatiku dan menepuk pelan pundakku sembari berkata “tak perlu takut, ingat, kau adalah bagian dari keluarga Danendra. Sebagai cucu pertamaku, kau tidak perlu sungkan lagi, mau menerima atau tidak, kenyataan kalau kami adalah keluargamu tidak bisa di bantah. Kakek harap, keluarga kita bisa membuka lembaran baru. Coba katakan, apa yang membuatmu masih canggung seperti ini? Apa kau marah pada kami karena menitipkanmu pada Rose?”
Aku menggeleng cepat, benar-benar tidak menyalahkan mereka tentang itu, “tidak, aku hanya berpikir tentang aku dan kalian.“
Kakek mengerutkan keningnya bingung, tapi dia tidak berkomentar dan menungguku berbicara, “aku hanya berpikir kalau sepertinya aku kurang pantas, menyadari kalau ternyata aku adalah bagian dari keluarga ini—maksudku, kalian adalah orang-orang hebat, kalian sangat dekat satu sama lain, saling menghormati dan menyayangi, hal yang selama ini tidak aku dapatkan dari ibu dan Daniel. Takutnya, karena perbedaan ini, aku tidak cocok untuk kalian.”
Kakek menghela napas pelan dan nenek tiba-tiba berbalik untuk duduk di sofa tapi tidak memandangku. Kemudian kakek menarikku untuk duduk di samping nenek, di hadapannya.
“Kakek lupa kalau cucu pertama keluarga Danendra ini sudah dewasa.” Kakek tersenyum kecil sembari menatapku.
__ADS_1
“Mendengar semua cerita dari Evano, si kembar atau Wildan tentangmu beberapa bulan ini, kakek justru merasa kau sangat mirip dengan ayahmu. Iya ‘kan?” Kakek melirik nenek yang duduk di samping kiriku.
Sesaat nenek mendongak menatap pria tua di hadapan kami ini, lalu melirikku dan akhirnya mengangguk kecil.
“Mungkin orang lain tidak sadar tentang kemiripan kalian, tapi kami yang merupakan orang terdekat ayahmu merasa kalau kalian sangat mirip. Terutama ketika caramu bekerja, sangat mirip dengan Evano.”
“Kakek tahu dari mana?”
Kakek terkekeh pelan, “tentu saja Yudha, keponakan Wildan, dan dari orang-orang tertentu yang pernah kakek utus untuk mecari tahu tentangmu.”
“Aaahhh, begitu ya? Jadi kakek mengutus orang untuk mengikutiku.”
“Jangan salah paham nak, kakek hanya mengutus orang untuk memperhatikanmu bagaimana di tempat kerja, kakek jamin tidak melewati batas.”
“Pokoknya, intinya adalah...” Kakek melanjutkan sebelum aku berkomentar, “kita memang berbeda, tapi kita sama-sama bodoh jika bertengkar karena perbedaan. Sepasang anak kembar saja pasti mengalami perbedaan, iya ‘kan?” aku mengangguk tanpa melepaskan tatapanku pada kakek.
“Perbedaan membuat kita berpikir bahwa kita memerlukan beberapa sudut pandang berbeda untuk menemukan sebuah solusi yang lebih baik. Jika Tuhan tidak menciptakan perbedaan, maka kita tidak akan pernah belajar sesuatu.” Aku tersenyum kecil dan mengangguk sekali lagi, setuju dengan pemikiran kakek.
“Kami akan sangat senang kalau kamu bisa menganggap rumah ini sebagai rumahmu, tempat kamu bisa pulang.” Katanya dengan sorot mata yang lembut menatapku.
Rongga dadaku rasanya menggelitik dan hangat. Perasaan nyaman dan aman yang sama ketika aku bersama Bayu.
“Tapi jangan di paksakan, semuanya butuh proses penyesuaian.” Ujar nenek menambahkan, meski suara nenek terdengar acuh, tapi aku tahu ada nada perhatian tersenbunyi di sana.
“Nenekmu ini memang kelihatannya sombong sekali dan sangat blak-blakan, tapi sebenarnya dia sangat perhatian dan baik.” Kakek berbisik padaku tapi tentu saja nenek mendengarnya. Dia melotot penuh ancaman pada kakek tapi tidak mengomentari perkataannya.
“Iya iya. Kamu memang dari dulu tidak suka kalau orang lain membahas sisi baikmu.” Kata kakek yang lagi-lagi membuatku melirik pada nenek Nella.
“Hentikan obrolan ini! Jadi gimana? Kamu mau ikut?” Kali ini nenek melirikku dan bertanya.
__ADS_1
Tanpa berpikir dua kali aku tersenyum pada nenek dan mengangguk kecil. Seketika ekspresi dingin nenek berubah sedikit lebih cerah, lalu suaranya yang tersirat akan kegembiraan memanggil paman Felix.
“Ya nyonya? Semua sudah siap.” Paman Felix membuka pintu ruangan ini lebih lebar ketika dia masuk.
Aku baru sadar kalau di ruangan ini hanya ada kami bertiga dari tadi, Lucy dan Dika tidak terlihat.
“Ikuti Felix ke ruang sebelah untuk memilih dress yang akan kamu pakai.” Perintah nenek.
***
“Ingat apa yang kami katakan tadi.”
“’Jika tidak bisa merespon obrolan, lebih baik segera pergi’ aku ingat nek.” Jawabku pada nenek ketika kami dan kakek sudah turun dari mobil yang mengantarkan ke pesta di sebuah hotel mewah.
Malam ini, meski angin dingin menerpa tubuh kami, tapi ketika aku mengikuti kakek dan nenek masuk ke aula depan hotel, suasana begitu terang dan hangat.
Sebagian tamu yang datang dan sedang mengobrol di aula depan adalah orang-orang yang sudah tua bersama anak atau cucu mereka, seperti yang di katakan kakek tadi.
Beberapa kali kakek dan nenek di sapa oleh orang-orang itu, tapi sejauh ini mereka tidak maksud untuk mengobrol lama, hanya bertukar sapa. Kemudian membawaku menuju pintu besar yang di jaga oleh dua orang pria dan satu pria lain di belakang meja.
Begitu kami mendekat, kakek menyerahkan undangan pada pria itu, mengecek sebentar dan mengizinkan kami untuk masuk.
Sekali lagi aku merasa sangat terkesan dengan betapa terangnya aula ini, ditambah dekorasi yang elegant dan simpel dengan tema warna hitam dan putih. Tapi, pencahayaan di panggung kecil jauh di depan sana ternyata lebih terang lagi, menyoroti sepasang suami istri yang sudah tua sedang tersenyum dan mengobrol dengan tamu yang datang menghampiri mereka.
“Ayo, lebih baik kita menyapa mereka langsung.” Ajak kakek di angguki nenek dan aku.
Aku membiarkan kakek dan nenek jalan di depanku, mereka saling merangkul mesra, hal itu membuatku tersenyum lebar. Sangat jarang aku melihat pasangan suami istri yang sudah memiliki cucu masih tampak mesra. Terlebih mereka masih sangat sehat.
“Kalian datang?! Alvaro! Nella!” Sapa girang pria tua itu mengagetkan orang-orang di sekitar kami.
__ADS_1
...