
...
“Gia??” Kali ini aku benar-benar mendengar suara itu dengan jelas.
Gia? Ya tentu saja! Aku ingat! Itu suara Gia.
Gadis yang bersamaku saat kami di bawa ke sebuah desa di dalam hutan bersama sekumpulan anak kecil.
Begitu mataku memperhatikan mobil pickup, sekarang aku bisa melihat ada batang lidi kecil keluar di sela-sela terpal, dan itu bergerak-gerak seolah sedang memberi tanda kalau ada orang di dalam sana.
Aku melihat ke sekeliling, tidak ada yang menyadari ada seorang gadis di balik terpal biru itu. Orang-orang sudah menjauh dan posisi yang paling dekat adalah aku yang berdiri bersama gadis terluka di sampingku ini.
Bukan aku ingin pujian atau perhatian, perasaan takut ledakan ini masih mendominasi. Aku ragu-ragu untuk memeriksa Gia di balik terpal tapi perasaan lain yang lebih kuat seketika menguasaiku.
Aku tidak bisa diam saja saat tahu ada yang memanggilku dengan suara takut itu.
Maka aku segera melepas gadis di sampingku ini, menyerahkan koperku padanya dan mengatakan agar dia berlari menjauh. Untuk sesaat dia bertanya padaku apa yang akan aku lakukan, aku hanya menjawab, “sepertinya ada orang di dalam sana, aku akan mengeceknya. Kau cepat menjauh!”
Tanpa menunggu jawabannya, aku berlari sekencang mungkin mendekati mobil pickup, memeriksa ke balik terpal dan berteriak memanggil namanya, “GIA!!! KAU DI DALAM?”
“Ya!! G—gia di dalam sini! Tolong kak!” Suara serak karena menangis terdengar menjawab di bawah terpal.
Telingaku bisa dengan jelas mendengar detak jantungku sendiri yang berirama sangat cepat. Keringat membasahi telapak tangan dan napasku terengah-engah. Aku takut kalau aki mobil bisa meledak setiap saat tapi aku harus mencoba tenang sekarang.
__ADS_1
Terpal plastik biru ini menutupi tumpukan ban mobil sangat ketat, dengan tali tambang tebal yang mengikatnya di enam sisi. Setidaknya aku harus membuka terpal ini. Otakku dengan cepat memikirkan benda tajam yang bisa di gunakan untuk melepas terpal.
Aku tidak membawa pisau atau gunting namun kakiku membawaku ke bagian depan mobil untuk memeriksa adakah benda yang tajam yang berguna. Tapi di kursi sopir dan dashboard aku tidak menemukan apapun, saat hendak berpaling, tak sengaja sudut mataku menemukan kotak perkakas hitam di dekat pedal gas.
Tanpa menunggu lagi aku segera masuk ke dalam mobil. Di dekat bagian kemudi sampai ke bawah dekat pedal gas dan rem sudah penyok karna tabrakan itu. Ada darah menetes di sekitar jok kemudi yang sesaat membuatku mual.
Butuh tenaga lebih untuk menarik kotak perkakas yang terhimpit itu, namun akhirnya aku bisa mengeluarkannya dengan paksa, menghiraukan telapak tanganku yang terkena darah. Begitu aku kembali berlari ke belakang mobil, sudah ada polisi tadi menungguku di sana.
“Seseorang yang aku kenal sepertinya ada di dalam sini. Aku mendengar suaranya dan ada yang bergerak. Kita harus membongkar muatan ini.” Kataku sebelum dia bertanya.
“Lebih baik nona menjauh, di sini berbahaya. Biar kami yang—“
“Saya ingin membantu.” Selaku sembari meletakkan kotak perkakas hitam itu di aspal. Sejujurnya aku belum pernah memegang atau melihat isi kotak perkakas, tapi tanganku bergerak secara naluri untuk membuka kotanya, berharap menemukan benda tajam untuk memotong terpal.
“Kak Icha???”
“Ya Gia. Bersabarlah, kami akan mengeluarkanmu.” Teriakku cepat menjawab suara teredam Gia dari tumpukan ban.
Polisi yang ada di sampingku langsung memeriksa di bawah terpal begitu mendengar suara Gia. Aku segera memotong tali tambang dengan cutter dan menyerahkan gunting pada polisi yang menemaniku.
Selagi aku memotong, polisi ini kembali menghubungi rekannya dengan walkie talkie, meminta mereka agar segera datang lalu dia berjalan ke depan mobil untuk memeriksa kap mobil yang penyok dan terbuka.
Detak jantungku semakin berpacu cepat seiring dengan kesabaranku yang menipis. Memotong satu tali tambang saja terlalu lama. Cutter yang aku gunakan tidak setajam yang aku kira.
__ADS_1
“Akinya sudah berasap, bensin mobil bocor. Sebentar lagi akan meledak.” Keringat membasahi telapak tanganku mendengar polisi itu menghampiriku lagi.
Aku tidak sanggup menanggapinya, jantungku rasanya sudah jatuh ke perutku, tidak banyak waktu lagi dan aku masih berusaha memotong satu tali tambang sedangkan ada total enam ikat di setiap sisi.
Otakku berpikir cepat, memilih untuk memotong terpalnya saja, maka aku segera naik ke atas bagian cargo desk dan naik dengan cepat di antara tumpukan ban agar bisa dengan mudah merobek terpal plastik itu.
Polisi itu memberikan gunting padaku, tidak lagi melarangku untuk menjauh dan aku mulai merobek terpal dengan cutter terlebih dahulu semberi berkata, “Gia? Kau dengar aku? Kau tidak apa-apa?”
“A—aku tidak apa-apa.” Jawabnya tergagap tepat di bawahku, “Gia takut sekali, kak.” lanjutnya berbisik dan mulai terisak lagi.
Sinar matahari semakin tinggi di langit dan panasnya menyengat kulitku. Berada di tengah-tengah jalan raya seperti ini menambah hawa panas yang terasa. Punggung, pelipis, dan sisi wajahku sudah basah oleh keringat ketika aku sudah bisa memotong terpalnya setengah bagian secara horizontal.
“Ada apa ini, pak polisi? Tabrakan?” Suara seorang pria di belakangku terdengar penasaran dan agak familiar di telinga tapi aku mengabaikannya dan masih berusaha untuk memotong terpal.
“Ya. Beruntungnya tidak ada korban jiwa, hanya luka ringan.”
“Lalu kenapa dia naik ke atas ini? Apa yang sedang di lakukannya? Dan kenapa tidak ada yang membantu? Orang-orang justru hanya menonton di kejauhan.” Tanya pria lain.
“Aki mobilnya berasap dan di duga akan ada ledakan. Tidak ada yang mau membantu karena mereka pasti takut mobil bisa meledak setiap saat. Lalu nona ini menemukan kenalannya yang ada di dalam sini dan berusaha untuk membukanya.” sebelum ada tanggapan lain dari pria-pria itu, telingaku mendengar suara langkah kaki sepatu yang
berlari dan perlahan mendekat hingga aku bisa merasakan tekanan di belakang mobil ini pertanda ada orang yang ikut naik dan berada di belakangku, bertepatan dengan itu aku berhasil memotong terpal seluruhnya menjadi dua bagian.
Angin berhembus dan aroma parfum lilac & sandalwood yang menyegarkan berasal dari orang di belakangku. Tiba-tiba saja jantungku berdetak cepat, aroma parfum ini mengingatkanku pada parfum kosong yang masih ada di meja kamar Bayu.
“Nona, lebih baik kamu turun. Di sini berbahaya, biarkan kami yang—Boo?!” Bayu dengan kaos hitam pendek dan celana cargo hijau lumut itu melotot kaget begitu aku berbalik menatapnya.
...
__ADS_1