
...
“Berhenti menggodaku! Jadi sejak tadi kamu kepikiran apa yang akan kamu lakukan kalau Ana bertemu denganmu lagi?” Bayu mengangguk.
Aku menghela napas pelan dan bergerak, duduk di sisi kasur dan menarik tangan lelaki ini untuk berdiri. “Jangan seperti ini, ayo berdiri.”
“Apa yang kamu pikirkan setelah mendengar aku yang hilang ingatan dan—“
“Ada cinta.”
“Apa?” Bayu sudah bangkit dan duduk di sisi kasur, menghadapku.
Tanganku terangkat, menyentuh rambutnya dan mengelus pelan sisi kepalanya seperti yang biasa dia lakukan padaku. “Apa yang kamu jelaskan, aku bisa merasakan selalu ada cinta di sana untukku, entah kamu hilang ingatan atau tidak.”
“Benerkah? Kamu tidak marah?”
“Untuk apa aku marah? Aku justru senang kamu mau menceritakan ini padaku, itu artinya kamu percaya padaku. Terima kasih.” Aku tersenyum lebar yang berhasil membuat Bayu juga balas tersenyum padaku.
“Ya ampun, kamu selalu membuat aku jatuh cinta untuk kesekian kalinya.” Bayu bergumam, sorot matanya yang berbinar menatap langsung ke mataku, hal itu membuatku gugup.
Aku terkekeh pelan, dengan penuh percaya diri aku berkata. “Sekarang ceritakan apa yang Ana lakukan setelah kamu bilang ingin menjaga jarak darinya?”
“Saat hari itu aku mengatakan ingin menjaga jarak, Ana berkata kalau tanpa sepengetahuan teman-temanku, kita pacaran. Aku tidak pernah lagi bertemu dengannya dan dia juga katanya sibuk menyelesaikan urusan keluarganya. Tapi, setelah ingatanku kembali, aku tahu kalau Ana berbohong. Sekalipun kami pura-pura pacaran saat tugas, aku selalu menjaga jarak dan aku tidak pernah memberinya harapan. Aku menjaga hubungan kami yang hanya sekedar antara klien. Dia sering menghubungiku beberapa minggu terakhir ini, tapi beneran aku mengabaikannya!” Bayu berseru di akhir setelah melihat mataku menyipit curiga padanya.
“Saat ingatanku kembali, aku sudah mengabari keluarganya tentang kondisiku karena mereka selalu menanyakan kabarku dan merasa bersalah pada ku. Mungkin Ana sudah mendengar dari keluarganya beberapa minggu lalu jadi dia menghubungiku. Katanya dia ingin datang bertemu denganku dan menurut penyelidikan Benny, Ana sedang
dalam perjalan ke sini dari jepang.” Aku diam berpikir, masih mencerna apa yang di jelaskan Bayu.
“Jika beneran dia menyukaimu, kenapa dia meninggalkanmu begitu saja dan sekarang dia akan kembali?”
Bayu menggeleng. “Aku juga tidak tahu, tapi dari hasil penyelidikan Benny, Ana sedang mengurus masalah bisnis keluarganya.”
“Jadi apa yang ingin kamu lakukan?”
__ADS_1
“Aku tidak tahu. Rencanaku hanya sampai sini, berusaha untuk menceritakannya padamu dan tidak membuatmu marah.” Bayu menjawab dengan wajah polosnya. Aku menahan diri agar tidak berteriak gemas padanya.
“Hanya itu? Lalu apa yang akan kamu lakukan kalau Ana datang ke sini?”
“Aku tidak mengharapkannya datang ke sini jadi aku hanya berencana mengatakan lagi hubungan kami yang tidak lebih sebagai klien dan selama ini kita hanya pura-pura untuk kepentingan tugas. Aku juga akan memarahinya karena dia bohong, mengatakan kita pacaran saat aku hilang ingatan! Bukannya itu namanya memanfaatkan?!” Wajah lelaki ini tampak kesal.
“Lalu?”
“Apa lagi? Ohh—aku juga akan mengatakan kalau aku sudah punya calon istri! Aku rasa itu cukup.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Hanya insting wanita saja.”
“Kalau begitu, aku akan memperkenalkanmu padanya supaya dia percaya meskipun awalnya aku tidak ingin kamu terlibat dengannya.”
“Itu juga tidak akan cukup.”
Bayu menghela napas lelah. “Jadi apa lagi yang harus aku lakukan?”
Bayu justru mengerutkan keningnya. “Kamu mau melakukan apa? Tolong jangan bilang kamu akan mendendangnya—“
“Hahahah. Tidak! Tentu saja tidak! Aku tidak akan menendang seperti itu pada wanita yang tidak melawan.” Aku tertawa keras sampai membuat bahuku terasa sakit.
Bayu menyentuh pelan lengan kiriku karena melihatku yang tiba-tiba meringis pelan. “Hati-hati.”
“Kau tahu, wanita seperti itu pasti akan mengabaikan kehadiranku dan tidak peduli kamu sudah punya pacar atau belum.”
“Benarkah? Lalu apa rencanamu?”
“Kalau memang dia tipe wanita yang seperti aku duga, recana pertama aku akan membuat dia menyadari kehadiranku dulu.”
“Baiklah. Karena kamu percaya padaku, aku akan membiarkanmu menjadi kaptennya. Katakan saja apa yang kau butuhkan selama kau bisa membuatnya tidak menggangguku.” Bayu mengangkat tangannya, akhirnya aku bisa merasakan lagi tepukan lembut di puncak kepalaku.
“Jadi kau sekarang anak buahku, ‘kan?”
“Tentu saja.”
“Kalau begitu, beritahu aku hasil penyelidikan kalian selama ini tentangnya. Yang lama sampai yang terbaru!”
__ADS_1
“Baik kapten! Aku akan mengirimkan emailnya padamu!” Aku tertawa mendengarnya.
“Lalu, kenapa kamu baru menceritakannya sekarang? Apa karena Ana akan datang?”
“Aku merasa Ana bukanlah masalah penting, karena aku sudah baik-baik saja dan aku juga benar-benar lupa tentangnya jadi aku tidak menceritakannya sejak awal. Tapi kemarin Benny memberi kabar kalau Ana sudah dalam perjalanan untuk bertemu denganku, dan hal pertama yang aku pikirkan adalah bagaimana agar kau tidak marah setelah aku menceritakannya. Tadinya aku ingin memberimu hadiah tapi ternyata kau wanita yang sangat baik dan pengertian jadi—“
“Hadiah?? Kau mau memberiku hadiah untuk menyogokku??”
“Yaa meskipun aku tahu hadiah bukanlah hal yang bisa membuatmu tidak marah lagi, tapi hanya itu yang terpikirkan olehku.”
Aku menatap lelaki ini, mengerut dan masih tidak percaya. “Kau tahu, setelah mendengar semua ini aku tidak pernah coba membayangkan seorang sepertimu akan begitu jujurnya padaku. Kebanyakan lelaki di luar sana pasti akan menutupi masalah ini dan hanya memberikan penjelasan singkat lalu berkata mereka sendiri yang akan
mengurusnya, menyuruh wanitanya untuk tidak khawatir.”
Bayu tersenyum kecil. “Aku bukanlah seperti pria di luar sana. Lagipula, aku hanya ingin jujur dan percaya padamu seorang.”
Sekarang aku yang terkekeh mendengar jawabannya. Merasa tersanjung. “Dan juga, apa maksudmu ‘seorang sepertiku’ tadi?? Apa yang kau bayangkan tentangku, huh?”
Aku semakin tertawa keras berhadapan dengan Bayu yang penasaran dan bingung seperti ini. Dia terlihat semakin menggemaskan.
Tapi aku segera menyentuh tangannya, menggenggamnya sembari mataku tidak lepas menatap ke dalam matanya, lensa kehitaman miliknya yang bulat terlihat jernih. Bulu matanya panjang mengerjap beberapa kali, hidungnya yang mancung, Alisnya, bibirnya, bahkan helaian rambut yang jatuh di atas keningnya tidak luput dari
perhatianku.
“Saat itu terlalu sulit dan melelahkan, datang padaku. Tidak peduli apa yang terjadi dan tidak peduli apa pun itu, aku akan tetap menyukaimu sepanjang hidupku.” Bisikku lembut kemudian mendekatinya dan memberikan kecupan singkat di pipi kirinya.
Sudut bibir dan pipinya Bayu terangkat, matanya menyipit, senyumannya berhasil menulariku.
Tapi, tatapan kami teralihkan saat mendengar suara getar ponsel dari saku Bayu. Dia segera merogohnya dan sesaat melihat layar, membaca nama yang menghubunginya malam-malam.
“Ini Benny.” Katanya di sebrang telpon terdengar jelas oleh ku juga.
“Halo.” Bayu tidak beranjak dari posisi duduknya ketika ia menjawab panggilan tersebut.
...
__ADS_1