EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 163


__ADS_3

...


 


 


“Ingin duduk?” Tanyanya yang langsung di angguki olehku.


Bayu membantuku mengubah posisi berbaringku menjadi duduk lalu kami kembali terdiam, aku masih tidak tahu harus mengatakan apa padanya.


Baru kali ini aku benar-benar kebingungan di hadapan lelaki ini, ada suatu perasaan yang susah di ungkapkan, terlebih aku tidak tahu apa itu!


 


“Kenapa? Apa yang kamu pikirkan? Hari ini sepertinya aku bodoh sekali, tidak mengerti dirimu yang biasa.” Gumamnya terdengar kesal sendiri.


 Aku menunduk, lagi-lagi rasanya gugup kalua harus lama menatapnya tanpa tahu apa yang harus di lakukan.


Bayu menyentuh sisi kepalaku, mengusapnya dan berhasil membuat aku mendongak lagi menatapnya. “Mau di Peluk?”


Aku menangguk terpatah dan detik berikutnya Bayu membawaku ke dalam pelukannya dengan hati-hati. Membiarkan kepalaku bersandar pada dadanya, melingkarkan kedua tangannya di punggungku seolah mengurungku dalam pelukannya.


“Ketika luka buatmu tidak mampu berkata, sebuah pelukan akan buatmu temukan tawa, karena pelukan mampu berkata tanpa perlu bersuara.” Bisiknya lembut.


Perlahan sudut bibirku terangkat, tersenyum kecil mendengarnya.


 


Benar! Sepertinya ini yang terbaik.


 


Pelukannya berhasil membuatku lebih tenang dan menyingkirkan kegundahan hatiku.


 


Aku mengerit.


 


Aku sadar kalau lelaki ini masih ada di sampingku. Dia tidak akan kemana-mana, dia masih mengkhawatirkanku, dia masih mencintaiku dan aku masih merasakan menjadi wanita yang spesial di hatinya.


 


Benar.


 


Jadi aku seharusnya menghiraukan mimpi itu dan menikmati setiap momen ku bersamanya.


Sekarang kebahagian yang membuncah muncul dalam hatiku. Mataku justru memanas dan tetesan air mata lain turun membasahi pipi dan baju Bayu.


Aku hanya ingin menangis, menumpahkan semua yang menyesakkan di hatiku. Agar hatiku lebih baik, agar aku bisa melepaskan semuanya.


Bayu menepuk-nepuk pelan punggungku, menenangkan ku dan tidak berbicara apapun. Dia dengan sabar menunggu isakan ku mereda.


Tangan kananku meremas kuat hoodie abu-abunya, tangisanku memang tidak sekeras tadi saat aku memeluknya di depanku, tapi tangisanku kali ini lebih banyak air mata yang membasahi bajunya.


Hembusan napasku juga terasa panas dan kepalaku pusing. Aku takut menularkan demam ku pada Bayu tapi aku tidak mau melepaskannya. Aku ingin egois, kali ini saja.

__ADS_1


 


“Astaga! Aku sudah tahu ini akan terjadi. Sejak kalian menggangguku tadi pagi, aku sudah tahu kalian berdua ada di suasana yang aneh!” Decakkan suara dokter Stefan terdengar, tapi aku tidak berniat melepaskan pelukan ini.


“Jadi apalagi yang kali ini kamu lakukan, Bayu?”


“T—tidak! Aku tidak melakukan apa-apa!”


“Kenapa Icha menangis lagi?! Kalau seperti ini, dia tidak akan bisa istirahat!”


“Dok, aku—“


“Ah jadi seperti ini maksudmu, dok.” Suara Ronald menghentikan ucapan Bayu.


“Ya! Padahal ini belum tiga jam sejak perdebatan mereka tadi. Mood nya berubah lagi. Jadi bagaimna menurut kalian?” Tanya dokter Stefan.


Wajahku yang masih bersembunyi di dada Bayu merasa malu karena keempat pria ini ada di sekelilingku.


Lalu ajaibnya, tangisanku terhenti meski sisa isakan kecil masih ada.


“Jangan mengharapkan jawaban dari ku dok, karena bagiku wanita sulit di mengerti. Mood mereka tidak pernah konsisten.”


“Itu lah kenapa kamu masih jomblo sampai sekarang!” Bayu meledek Benny.


“Sialan! Aku tidak bisa mendebatmu.” Benny menggerutu. Diam-diam aku tersenyum kecil mendengarnya.


“Aku pernah mendengar cerita dari Talia tentang temannya yang punya mood mirip seperti ini. Mereka akan bertengkar, mengusir satu sama lain, tapi detik berikutnya mereka akan sangat merindukan, setelahnya mereka akan mesra dan menempel terus dan terakhir teman Talia dan suaminya akan jahil dan menyebalkan bagi orang-orang di sekitarnya.” Jelas Lifer.


“Kenapa bisa begitu?” Ronald bertanya penasaran.


Ada deheman keras sebelum Lifer menjawab. “Ternyata mereka seperti itu karena efek dari istrinya yang sedang hamil muda.”


“Hah??” Benny dan Ronald memekik kaget.


 


Aku tertawa kecil membayangkan wajah merona Bayu saat ini.


 


“Lihat!! Icha tidak menangis lagi dan sekarang dia justru tertawa!” Tawa ku terhenti mendengar Lifer berseru senang, malu karena ketahuan.


“Bayu, kamu—“


“Tidak mungkin dok! Ya ampun, mana mungkin kami melakukannya sebelum menikah!” Bayu menjawab tegas dan panik, tangannya masih memelukku, dia tidak berniat melepaskannya.


“Haruskah aku bawa Icha ke bagian obgyn?”


“Tidak usah repot-repot!!” Bayu benar-benar panik.


Aku tidak bisa menyembunyikan tawaku, aku tertawa dalam pelukannya dan berniat ingin melepaskan pelukan Bayu tapi lelaki ini menahannya.


“Dok, jangan membuat Icha menjauhiku! Aku sedang memeluknya! Biarkan seperti ini sebentar lagi.” Protes Bayu yang membuat pipiku memanas.


“Bocah! Lihat, bahkan kamu juga berubah moody seperti ini.” Dokter Stefan memukul tangan Bayu gemas.


“Lifer, kamu benar! Sekarang mereka akan dalam mode menempel.” Ronald berdecak.


“Ayo dok, pisahkan mereka dan paksa Icha untuk di periksa ke bagian obgyn.” Sekarang suara Benny yang mengusulkan.

__ADS_1


“Sialan kau!” Maki Bayu terkekeh memaki Benny.


 


“Aku kangen Talia.” Kali ini gumaman Lifer mengakhiri perdebatan mereka.


Ada jeda kesunyian yang singkat di antara lima pria ini. Aku bisa bayangkan, mereka berempat pasti menatap Lifer serentak.


 


Ya ampun! Hanya membayangkannya saja terlihat lucu.


“Baiklah, kalian sebaiknya pindah ke kamar inap di atas. Mau pakai kursi roda atau di gendong, Bayu?” Pertanyaan dokter Stefan menyembunyikan nada jahil di dalamnya.


Lagi-lagi aku terkekeh pelan merasakan Bayu tersentak kaget.


 


Kenapa dia jadi menggemaskan seperti ini?


“Aku punya ide lain.” Yang menjawab justru Benny.


 


 


.


..



 


“Aku teman yang baik, mewujudkan hasrat terpendam mu.”


“Hasrat terpedam apa!! Kamu hanya ingin menjahiliku!”


“Sudah sudah! Yang terpenting sekarang kamu hanya tinggal duduk manis.” Ronald melerai perdebatan Bayu dan Benny ketika kami berlima sedang menunggu di depan lift.


Orang-orang melihat ke arah kami. Saat ini Ronald sedang mendorong kursi roda yang di duduki Bayu juga aku yang duduk menyamping di atas pangkuannya.


Ide konyol ini milik Benny, setelah tadi aku lebih tenang dan mampu menatap ke tiga teman Bayu dan dokter Stefan dengan mata sembab. Pria itu mengusulkan ide ini, katanya sambil menyelam minum air.


Bayu yang tadi tidak ingin melepaskan pelukannya sekarang terwujud karena aku di paksa untuk duduk di penyamping di atas pangkuan lelaki ini.


Melingkarkan tangan kanan di leher Bayu dan menyembunyikan wajahku di dadanya. Tangan kiriku masih kaku dan perih kalau di gerakkan. Setelah di pikirkan lagi, posisi ini terlalu dekat. Aku terlalu menempel dengannya dan aku terlalu sering memeluknya. Diam-diam wajahku terasa panas dan jantungku berdetak lebih cepat.


 


Astaga!


 


 


 


 

__ADS_1


 


...


__ADS_2