
...
“Apa yang terjadi?” Tanya Bayu melihat Lucy yang sudah menghilang di balik pintu tepat ketika dia sudah selesai membuka sepatu dan menyimpannya di rak.
“Siang ini aku minta Dika untuk mengikuti Nadya dan Lucy akan mencari tahu situasi rumah tangga mereka. Setelah pagi ini aku menolak permintaan Nadya yang menginginkan bantuan keluarga Jeremy untuk perceraian mereka, aku agak curiga melihatnya yang kecewa. Untuk jaga-jaga.” Aku menjawabnya sesingkat mungkin.
“Bagaimana dengan pak Baron di kantor?”
“Dia masih tetap sama, memusuhiku terang-terangan.” Bayu menggenggam tanganku, membawaku menuju kamar. Lalu dia mendudukkan ku di sisi tempat tidur, sedangkah dia mulai menyimpan tas dan membuka pakaiannya untuk di ganti.
“Pokoknya kamu jangan terlalu banyak pikiran.” Tambahnya dengan nada serius, melirikku sebentar sebelum menuju lemari.
Aku berdiri, menariknya mundur, kali ini dia yang aku biarkan untuk duduk di sisi tempat tidur. Lalu tanganku mulai sibuk mencari baju gantinya.
“Ya. Aku tahu batasannya dan tidak akan terlalu memikirkan mereka.”
“Sungguh?”
“….tentu saja!” Jawabku sembari mengelurkan kaos polos cokelat dari tumpukan baju.
Aku berbalik dan melihat Bayu sedang menyipit curiga pada ku. Melihatnya yang seperti itu justru membuatnya tampak lebih imut.
Aku tertawa kecil, menghampirinya dan menyerahkan baju serta celana yang tadi aku sambar dari barisan paling atas lemari.
“Yaahh…. Aku tidak bisa menghentikan pikiran seseorang.” Bayu mengangkat bahunya tidak berdaya menyadari kenyataan. “pokoknya, kalau kau sampai stress karena masalah-masalah ini, aku tidak akan membagikan informasi lebih lanjut.”
“Oh sayang! Jangan khawatir, anak kita lebih kuat—”
“Icha, aku mengatakan ini bukan karena khawatir tentang kehamilanmu, yaa memang dalam kondisi ini aku juga khawatir karena kamu sedang kamil, tapi yang pertama dan menjadi prioritas adalah kamu. Meski pun kamu sedang tidak hamil, aku tidak ingin kamu sampai stress. Menjadi istriku harusnya membuatmu bahagia dan senang. Menjadi istriku, apapun yang kamu mau dan butuhkan, aku akan memenuhinya.” Bayu menarikku dan membiarkan aku duduk di pangkuannya. Menjelaskan semuanya dengan nada tenang dan lembut.
Aku tidak bisa untuk tidak jatuh cinta padanya lagi dan lagi hingga rasanya ingin menangis. “Terima kasih, aku sangat mencintaimu.”
“Aku juga cinta kamu.” Bayu mengusap puncak kepalaku penuh kasih sayang. Sorot matanya yang penuh kehangatan melelehkan hatiku untuk ke sekian kalinya.
***
Ting!
__ADS_1
Pintu lift terbuka.
Seperti dugaanku, tidak ada siapapun di dalam lift ketika kami masuk.
Aku menguap lebar sembari telapak tangan menutup mulut, di ikuti setitik air mata keluar dari ujung dua mata ku ketika pagi ini aku memaksa ingin mengantar Bayu berangkat kerja sampai depan gedung apartemen.
“Setelah ini jangan kemana-mana, tidur lah lagi.” Bayu merangkul bahuku dengan satu tangan dan tangan lain menghapus jejak air mata di sudut mataku.
Merasakan tangannya yang hangat, aku yang memang masih ngantuk pagi ini akhirnya balas memeluk perutnya erat, membenamkan wajahku di dadanya sembari memejamkan mata.
Menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam kemudian tanpa sadar aku tersenyum kecil karena sangat akrab dengan aroma ini.
“Boo, gimana kalau aku izin aja hari ini?” Tanya nya, kali ini kedua tangannya membungkus erat tubuhku.
“Bisa?” Aku mendongak dengan mata berbinar yang justru di balas gelak tawa Bayu.
“Ya ampun!! Kenapa kamu imut sekali!!” Lelaki ini menghujani wajahku dengan kecupannya, dan itu membuatku geli.
Kami sama-sama tertawa hingga suara ting khas lift membuyarkan kesenangan kami.
“Pengantin baru, memang belum terbentuk sopan santunnya di hadapan publik. Mengumbar kemesraan, apa jadinya generasi yang masih muda. Ck ck ck.” Pria paruh baya itu berujar dengan nada sinis sembari dia masuk ke dalam lift di ikut Nadya.
“Sampai sesaat yang lalu, sebelum pak Baron dan istri masuk, di dalam lift ini adalah ruang pribadi kami. Lagi pula menjadi mesra tidak harus untuk pengantin baru saja. Pengantin lama pun kalau hubungan mereka masih cinta, pasti harmonis.”
Aku mencubit kecil kulit pinggang Bayu, mendengar jawabannya jelas sekali itu di tujukan untuk mereka. Namun, Bayu yang masih memelukku tidak berniat menjauh atau menarik kata-katanya.
Aku melirik sedikit ke arah pasangan yang ada di hadapan kami, dan agak terkejut karena pak Baron dengan terang-terangan menatap Bayu sangat tajam dan kesal. Lalu pandanganku beralih pada Nadya yang hanya diam menatap ke depan, tidak menyapa atau menatapku.
“Hah! Dasar keluarga Jeremy! Sejak dulu keturunan mereka memang tidak punya etika sopan santun dengan yang lebih tua—”
“Selamat pagi, pak Baron dan bu Nadya!” Aku cepat-cepat menyela karena merasakan tatapan menusuk Bayu dan sepertinya lelaki ini hendak membalas perkataannya.
“Maaf, seharusnya kami menyapa dulu sebelum kalian mengobrol. Iya ‘kan, Bayu?” Aku segera melepas pelukan kami dan menyikut perutnya, meminta dukungannya.
Bayu tidak menjawab tapi dia menatapku dengan agak cemberut.
“Ya ya pagi.” Pak Baron menjawab dengan enggan, dari sudut matanya aku tahu dia diam-diam melirikku, memperhatikanku. Mungkin baru kali ini dia benar-benar menyadari keberadaanku.
__ADS_1
Sekali lagi aku melirik Nadya, tapi jelas sekali dia mengabaikanku. Dasar!
“Nama mu siapa?”
“Icha.” Jawabku.
“Berapa umur mu?”
“Saya seumuran dengan Bayu.” Terlihat jelas pak Baron mengerutkan keningnya karena terganggu dengan jawabanku yang tidak langsung.
“Jadi seumuran ya, aku kira keluarga Jeremy akan mencarikan menantu yang lebih muda lima tahun atau bahkan yang lebih tua tiga tahun. Bukannya sebelum ini mereka sering menjodohkanmu dengan wanita-wanita yang seperti itu di markas, iya ‘kan, Bay?”
Apa-apaan ini?!
“Sepertinya pak Baron terlalu.percaya.dengan.gosip!” aku bisa mendengar suara kesal dan penuh penekanan Bayu dalam nada bicaranya.
“Oh! Jadi itu gosip?? Jadi, selama ini, wanita-wanita itu hanya.sering ngobrol denganmu di markas. Hahaha~! Benar! Itu sepertinya gosip! Jadi nak Icha, jangan terlalu di pikirkan.”
Ting!
Timing yang pas.
Ketika Bayu sudah mencapai batas kekesalannya, pintu lift terbuka dan pak Baron serta istrinya segera keluar.
Aku masih begong menatap punggung dua orang itu, pak Baron seperti menjatuhkan bom pada ku.
Kantuk yang tadi aku rasakan hilang.
“Sial!! Pak tua itu!!” Bayu bergumam marah, mengepalkan tangannya.
“Icha! Pak Baron itu berlebihan, mereka cuma rekan-rekan dan aku jarang mengobrol sama mereka. Kamu harus percaya, hm?” Suara Bayu berubah panik ketika aku sudah jalan duluan keluar lift.
“Jadi, ayah dan kakek sempat menjodohkanmu dengan mereka?” Aku menatapnya minta penjelasan.
“Ayah dan kakek cuma pernah selewat mengatakan aku harus memilih istri dari salah satu dari mereka. Tapi aku tidak pernah menganggap itu serius dan hanya angin lalu. Aku bahkan sudah melupakannya sampai tadi.” Aku menghembuskan napas panjang.
...
__ADS_1