EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 262


__ADS_3

...


 


 


 


 


“Ada apa Bapak memanggil saya?” Tanyaku langsung, mengacuhkan Hanna yang masih berdiri.


 


 


“Ingin mengenalkan kalian berdua, tapi sepertinya tidak perlu.”


 


 


“Betul. Tidak perlu.” Aku mengangguk.


 


 


Hanna sudah kembali duduk di sampingku, dia sepertinya agak heran karena reaksiku yang biasa saja dengan kemunculannya di sini.


 


 


“Senang rasanya kau di sini. Aku jadi tidak gugup lagi.” Katanya dengan suara yang di buat manis dan lemah lembut.


 


 


Aku meliriknya, tersenyum kecil dan mengangguk. “Karena kita sudah kenal, aku jadi tidak akan sungkan untuk serah terima pekerjaanku padamu.”


 


 


“Hanna di latih oleh orang pusat. Saya pikir pengetahuannya tentang pekerjaanmu lebih banyak, saya harap kau akan lebih cepat beradaptasi di sini.” Kata Pak Ginanjar senang.


 


 


“Ya. Orang yang langsung di latih oleh pusat pasti orang pilihan yang hebat. Kau beruntung karena di tempatkan di sini, untuk menggantikanku. Anak-anak itu hebat, mereka bekerja cepat, aku harap kau segera beradaptasi dengan pekerjaan ini agar mereka bisa terus memaksimalkan kemampuan mereka. Kau tidak perlu sungkan untuk bertanya padaku nanti kalau masih bingung dengan sesuatu, atau Pak Ginanjar bisa membantumu.”


 


 


“Tentu. Kamu bisa tanya pada saya, Hanna. Tim admin cabang kita adalah yang terbaik di antara cabang lain, saya harap itu bisa di pertahankan.” Pak Ginanjar mengangguk setuju.


 


 


“Dengan kemampuan anak-anak, mereka pasti akan membantu Hanna juga. Meski tim admin kita sudah hebat, tapi tetap harus ada kontrol dan pengecekan ulang dari kita. Kalau tidak, pasti akan berantakkan.” Aku melirik Hanna, tersenyum kecil melihat wajahnya yang suram.


 


 


Dia belum pernah memiliki pengalaman kerja apapun di kantor, tentu saja perkataan kami akan jadi beban untuknya. Dia tidak pernah merasakan berada di posisi staf biasa, jadi aku tidak yakin apa yang akan dia lakukan setelah keluar dari ruangan ini.


 


 


“Moral dan etika dalam bekerja juga penting. Posisi kita adalah jembatan antara para manajer dan para staf biasa, harus bisa berada di posisi netral antara dua pihak.” Aku menambahkan.


 


 


“Y—ya, tentu saja.” Jawabnya terdengar tidak yakin. Ingin sekali tertawa, tapi aku berusaha menahannya karena ada Pak Ginanjar di antara kami.


 


 


“Hanna, kamu bisa langsung berkenalan dengan tim mu, saya masih ingin bicara dengan Icha.”


 


 


Wanita ini mengangguk kaku, dia segera berdiri dan sempat melirikku dengan pandangan agak kesal sebelum berbalik menuju pintu.


 

__ADS_1


 


 


 


 


“Jadi menurutmu bagaimana dia, Cha? Kalian sudah kenal ‘kan?” Tanya Pak Ginanjar setelah Hanna menghilang di balik pintu.


 


 


“Kalau soal pekerjaan, aku tidak tahu. Kita hanya saling kenal, cuma itu.”


 


 


“Sebenarnya, saya sedikit khawatir, dengan banyaknya pekerjaan yang kita terima di cabang ini, saya tidak yakin dia akan cepat beradaptasi.”


 


 


“Bapak harus memberinya kesempatan, lagi pula dia orang yang di pilih langsung oleh pusat, kalau Hanna tidak sesuai dengan apa yang Bapak pikirkan, langsung saja protes ke pusat.” Usulku.


 


 


“Ya, kesempatan.” Pak Ginanjar mengangguk “tapi ngomong-ngomong, saya mau membicarakan sesuatu. Kabar tentang gosipmu--”


 


 


“Saya sudah tahu tentang itu Pak.” Aku menyelanya.


 


 


“Kau tahu siapa yang menyebarkannya?”


 


 


“Aku baru saja mendengarnya dari anak-anak kalau orang itu Hanna.” Jawabku sembari mengangguk.


 


 


 


 


“Kita anggap saja begitu Pak, dia mungkin tidak tahu kalau saya bekerja di cabang perusahaan.”


 


 


“Sepertinya suasana hatimu sedang baik.” Tebak pria ini.


 


 


Aku tersenyum kecil. “Saya baru pulang liburan bersama keluarga kemarin. Ada Oleh-oleh untuk Bapak, ada di meja, nanti saya ambil.”


 


 


Pak Ginanjar tertawa dan mengangguk. “Lalu hal lain yang ingin saya sampaikan yaitu siang ini orang pusat akan datang ke sini. Niat mereka yang sebenarnya saya tidak tahu, tapi mereka memberitahu saya kalau ingin menyambut Hanna dengan baik di sini, juga katanya ingin bertemu denganmu.”


 


 


“Apa mereka akan mengadakan perpisahan untuk saya?”


 


 


“Aku tidak tahu, tapi menurut kabar terpercaya, sebenarnya mereka datang ke sini selain untuk itu, mereka juga akan bertemu dengan mitra terbesar perusahaan kita, membicarakan tambahan kerjasama karena grup kita sebagian sahamnya belum lama ini di beli grup Eternity.” Aku mengangguk mengerti.


 


 


“Kalau gitu, saya akan siapkan ruangan rapat mereka?”

__ADS_1


 


 


“Ya, siapkan saja dulu meski saya tidak yakin mereka akan membicarakan itu di sini, biasanya mereka akan menyewa tempat yang lebih nyaman dan bebas.”


 


 


Aku mengangguk lagi, setelah memastikan semua yang ingin Pak Ginanjar sampaikan selesai, aku segera berdiri dan keluar dari ruangan ini, jauh dalam hatiku, aku tidak sabar untuk segera menyerahkan pekerjaanku pada Hanna, tapi aku juga tidak ingin meninggalkan tim avenger, yang telah di bangun dari nol hingga menjadi tim terbaik seperti sekarang.


 


 


 


 


.


..



 


 


 


 


 


 


Begitu aku masuk ke ruangan, suasana tampak canggung antara Hanna dan yang lain. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi Camila yang sedang di samping Hanna berwajah agak kesal.


 


 


“Ada apa?” Tanyaku sembari melangkah mendekati mereka. Hanna sedang duduk di kursiku, dia tidak berniat untuk berdiri saat aku mendekatinya.


 


 


“Aku sudah memberitahunya ketentuan dasar di bagian pekerjaan Camila, dokumen dan kesulitan yang dia katakan itu jauh berbeda dalam ketentuan. Kalau seperti ini tidak mungkin di approve oleh pusat dan cabang kita akan rugi.” Katanya terdengar sangat percaya diri karena memegang teguh ketentuan dasar itu.


 


 


Camila menatapku dan berkata “aku hanya menyampaikan informasi tentang kendala sistem, aku tidak bisa menginput surat pesanan karena harga ketentuan berubah, tapi sudah ada catatan Pak Ginanjar, ada penyimpangan yang sudah di setujui. Tanggal dan waktunya jelas.”


 


 


Aku mengangguk mendengar penjelasannya. “Kalau gitu, kau tinggal cek penyimpangannya. Apa pusat bahkan tidak memberitahumu tentang ini? Ini adalah hal yang sering terjadi dan sudah biasa.”


 


 


“Tapi, kita akan rugi kalau memakai harga lama.”


 


 


“Pekerjaan pertama di bagian ini adalah memastikan semua sesuai aturan dan ada izin penyimpingan yang sudah di setujui jika ada yang tidak sesuai. Ya memang kita juga bertanggung jawab dalam perhitungan untung dan rugi cabang di akhir bulan, tapi penyimpangan itu tidak mungkin di setujui begitu saja kalau mereka tidak menghitung juga di sana. Apa kau pikir mereka akan menyetujui penyimpangan yang membuat rugi?” Tanyaku berdiri di sampingnya, menghadapnya yang dengan tenang masih duduk di kursi ku.


 


 


Hanna terdiam, memikirkan apa yang aku katakan. “Kalau penyimpangan itu selalu ada, lalu apa gunanya ada ketentuan?”


 


 


Aku terkekeh pelan, lucu sekali dia menanyakan hal ini, di lihat dari segi mana pun wanita ini tidak berpengalaman, jadi cara berpikirnya sempit. Apa dia pikir, merebut jabatanku akan semudah itu?


 


 


 


 


...

__ADS_1


 


 


__ADS_2