EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 164


__ADS_3


 


 


 


Aku tidak banyak bicara dan hanya terus menyembunyikan wajahku. Ronald dan Benny yang ada di belakang kami dan Lifer berjalan di hadapan kami.


Tidak terasa kami sudah sampai di lantai empat, tempat kamar inapku berada. Pegawai rumah sakit yang mengenalku dan Bayu sempat menggoda kami. Mereka terus mengatakan kalau Bayu begitu romantis dan aku yang penurut.


“Lihat! Sekarang image mu di sini menjadi lebih baik. Berterima kasihlah padaku.” Ujar Benny tampak puas.


Bayu mendengus sebal tapi tidak menjawabnya.


 


 


Begitu kami sudah sampai di depan pintu kamar, aku melepaskan pelukan padanya, bangkit berdiri di bantu oleh Ronald yang memegangi tanganku, tepat setelah Lifer membuka kan pintu dan Bayu sudah berdiri dari atas kursi roda. Kami semua di kagetkan oleh seseorang yang tiba-tiba keluar dari dalam kamar.


 


Aku terhuyung hampir jatuh tapi punggungku di tahan Ronald dan Lifer, seorang wanita berlari dari kamar dan menabrak Bayu untuk memeluknya.


 


 


“Akhirnya kita bertemu lagi. Aku rindu sekali padamu, Bayu.” Aku tidak pernah mendengar suara wanita selembut ini.


Dia memakai dress tanpa lengan berwarna hitam putih, rambutnya yang lurus dan tertata rapih berwarna kecoklatan jatuh lembut di punggungnya. Kulitnya yang putih dan dia lebih tinggi dari ku.


 


Ini pasti Ana.


 

__ADS_1


“No—na A—ana??” Bayu bertanya gugup, kedua tangannya tidak membalas pelukan Ana. Lelaki itu justru menatap Benny seolah meminta penjelasan, tapi sepertinya penjelasannya terlambat karena Benny hanya bisa mengangkat bahunya tidak bersuara.


 


“Sedang apa kamu di sini??” Bayu mendorong bahu Ana agar melepaskan pelukan wanita itu yang kelewat—menyebalkan!


“Dulu kan aku sudah janji akan menyelesaikan urusan keluarga ku dulu dan setelahnya aku akan menemuimu. Sekarang pekerjaanku sudah selesai, orang tua ku bangga sekali padaku dan mereka berjanji untuk mengabulkan semua permintaanku. Maka dari itu aku akan membawamu dan memperkenalkan mu sebagai pacarku.”


 


Huh?! Dia to the point sekali! Memangnya dia tidak menanggap teman-teman Bayu masih ada di sini? Setidaknya seharusnya dia menyapa mereka dulu.


Benny sempat melirikku tapi aku menghiraukannya dan hanya menatap punggung wanita ini.


Bayu melangkah mundur dan melirik Benny lagi. “Aku kan sudah bilang berkali-kali kalau sekarang semua ingatanku sudah kembali. Kita tidak pacaran, semuanya hanya pura-pura karena tugas—“


“Tidak! Kita memang pacaran! Ingatanmu pasti belum kembali! Suaranya bergetar seolah akan menangis.


“Semuanya tahu kalau kita hanya pura-pura.”


“Kamu menyatakannya saat mereka tidak ada.”


Ana akhirnya melepaskan pandangannya dari Bayu dan melirik Benny. “Dia menyatakannya saat kami hanya berdua. Kamu tidak perlu tahu itu. Ini rahasia kita berdua.”


Wanita ini benar-benar drama queen! Di telingaku suaranya sengaja di lembut-lembutkan!


Huh, sepertinya memang dari awal aku harus menunjukkan siapa aku padanya. Aku menegakkan posisi berdiri ku meski tanpa alas kaki, setidaknya tadi pagi aku sudah berdandan sedikit dan aku masih memakai dress selututku juga


Sesuai dengan tebak kan ku pada Bayu kemarin, kalau wanita bernama Ana ini akan mengabaikan orang-orang di sekelilingnya.


Aku sudah melihat data nya kemarin malam yang di kirimkan oleh Bayu, wanita ini lebih tua dua tahun dari aku dan Bayu. Tapi hanya melihat singkat sikapnya, dia terlalu ke kanak-kanak-an.


“Apa kalian berdua mengenalnya?” Ini kalimat pertama yang bisa ke empat pria ini dengar setelah insiden aku menangis tadi.


Aku melirik Lifer dan Ronald bergantian, menunggu jawaban mereka.


“Ya. Dia anak ke dua dari keluarga yang dulu menjadi tugas kami untuk melindungi mereka.” Jawaban Lifer berhasil mengalihkan tatapan Ana, Bayu dan Benny pada kami.


Sekarang aku bisa melihat dengan jelas wajahnya. Dia memang cantik, make up yang rapih dan cocok dengan pakaiannya, kulit wajahnya berkilau dan anting-anting yang berkilau juga. Dia berani memakai lipstick warna merah maroon. Matanya juga indah karena eyeliner, eyeshadow, bulu mata palsu dan gliter pink di sudut matanya.

__ADS_1


Kalau saja tadi Bayu tidak menggangguku dengan mengambil alat make up ku itu, pasti aku juga akan berdandan lebih lengkap dan cantik.


“Kalau dia mengenal kalian juga, kenapa dia setidaknya tidak menyapa kalian?” Tanyaku tersenyum kecil tanpa mengalihkan tatapanku dari wajahnya.


“Hahaha. Memangnya kita siapa? Kita hanya mantan pegawainya jadi—ya aku tidak keberatan kalau dia tidak menyapa karena tugas kami memang sudah selesai.” Jawab Lifer tertawa sumbang.


“Begitu ya? Bukan kah itu dasar dari interaksi sosial? Setidaknya menyapa adalah hal pertama yang harus di lakukan ketika bertemu, mengabaikan berarti dapat di simpulkan dia adalah orang yang sombong.”


“Apa?!” Ana terlihat mulai kesal padaku yang justru membuatku tersenyum puas.


“Jadi kamu adalah pemilik make up yang berserakkan di meja kamar??” Tanya nya menatapku dari bawah ke atas, menilai penampilanku.


“Aku akan meminta asisten ku untuk membelikanmu make up yang lengkap dan mahal. Kau harus giat memanjakan tubuhmu agar lebih cantik. Setelah nanti kamu lebih cantik, maka coba lagi untuk berbicara denganku.” Ujarnya sombong hendak mengeluarkan ponselnya tapi terhenti karena aku yang tertawa kecil.


Memang aku tersinggung dengan ucapannya, tapi justru membuatku lebih bersemangat karena permainan wanita ini hanya seputar menghina.


“Nona Ana, sepertinya kamu pura-pura bodoh ya? Kamu pasti sudah mencari tahu siapa aku ‘kan sebelum datang ke sini? Pura-pura tidak tahu dan tidak mengenalku, menganggapku angin lalu adalah trik lama.”


“T—tentu saja aku tahu, kamu adalah teman masa kecil Bayu.” Jawabnya terdengar gagap di awal kalimat.


Aku semakin menampilkan senyum puas karena tebakkan ku juga benar. Dia pura-pura bodoh.


 


“Baiklah aku yakin kamu mengenalku lebih dari itu, aku tidak akan bertanya lagi. Kalau begitu silakan masuk, mengobrol saja di dalam.” Tawarku sempat melirik ke empat lelaki ini yang sejak tadi hanya diam.


Tapi tatapanku kembali pada Bayu, aku mengerutkan kening heran karena lelaki ini menatapku dengan sorot mata yang tampak senang, ada binar kekaguman di sana.


“Kenapa?” Tanyaku padanya.


Semuanya berbalik melirik Bayu ketika lelaki itu mengerjap dan senyum lebar muncul di wajahnya. “Akhirnya aku bisa melihat senyummu lagi. Sejak kemarin malam kamu marah-marah padaku.”


Ucapan Bayu seperti sebuah senjata bagiku untuk melawan Ana, bahkan tanpa di minta pun lelaki ini menunjukkan cinta dan ke kagumannya padaku.


Aku balas tersenyum lebar pada Bayu. “Berhenti menggodaku, ada tamu di sini.”


 


 

__ADS_1


...


__ADS_2