
...
“Terima kasih.” Aku tersenyum kecil mendapat perhatian dari wanita ini. Tapi pikiranku kembali mengingat apa
yang terjadi sebelum aku pingsan.
“Bagaimana dengan penjahat itu?” Aku bertanya khawatir menyadari Bayu tidak terlihat.
“Lelaki yang membawamu ke sini sedang mengadakan pengarahan di luar bersama penduduk yang lain. Semua penjahat tidak sadarkan diri dan ada yang kabur juga setelah bos besar pergi. Aku bersyukur sekali karena anak muda itu berhasil.” Aku menatapnya bingung tidak mengerti kalimat terakhirnya.
“Beberapa orang di desa ini sudah tahu kalau Bayu adalah tentara yang menyamar sejak kurang dari satu bulan yang lalu. Intinya dia menjanjikan kami kebebasan asalkan mendukungnya untuk mengirim mata-mata lain ke desa tanpa di ketahui para penjahat itu dan beberapa rencana yang di butuhkan untuk menghancurkan mereka dari dalam.” Aku tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Ternyata Bayu memiliki rencana yang sangat matang untuk tugasnya.
Mengingat aku yang justru bertengkar dengan Rey dan Mike tadi terlihat konyol sekali. Bisa di tebak dengan tindakanku itu memperlihatkan bahwa lagi-lagi aku tidak mempercayai Bayu. Mungkin seharusnya saat itu dia kembali ke tempat penjemputan pesawat dan jika aku tidak mengacaukannya kami sudah keluar dari hutan ini tanpa racun itu masuk ke dalam tubuhku.
Sekarang aku merasa benar-benar tidak berguna! Aku membenci diriku yang seperti itu. “Ini baju kering. Gantilah.”
Aku mengangguk dan tersenyum padanya, sembari beringsut untuk turun dari tempat tidur untuk segera mengganti
pakaianku. “Aku ingin menghirup udara segar.”
Meskipun tidak yakin tapi wanita ini mengangguk pelan. Tangannya dengan cepat menarik sebuah lipatan selimut di
sudut ruangan. Tanpa banyak bicara dia menyampirkan kain besar itu ke bahuku. Aku hanya tersenyum membalas kebaikannya dan kami berjalan menuju pintu.
.
..
…
Wanita ini seolah mengerti apa yang sedang aku rasakan, dia membawaku ke sebuah bukit di belakang rumah ini. Jalan ke bukit ini memang terhalang oleh pepohonan tapi saat kami sampai mataku bisa dengan jelas melihat langit berbintang, di bawah bukit kecil ini hutan yang sangat gelap. Namun justru karena gelap seperti ini bintang bisa terlihat sangat jelas.
Lampu-lampu gedung yang berkedip dikejauhan dan cahaya bintang yang bekedip membuai pandanganku, aku tidak sadar saat wanita ini menuntunku untuk duduk di sebuah kursi panjang terbuat dari batang pohon yang di belah dua dengan sandarannya. Ada beberapa lampu di sekitar bukit hingga tempat ini lebih terang.
__ADS_1
“Orang-orang desa sering ke sini untuk melihat bintang. Aku akan membiarkanmu sendirian. Tenang saja, ada pos
penjaga yang juga mengawasi bukit ini.” Wanita itu menunjuk ke arah belakang. Aku hanya mengangguk dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.
Sepeninggalan wanita itu aku tetap mendongak, tidak pernah seumur hidupku aku melihat langit malam seindah ini.
angin yang berhembus dan sepi menyelimutiku. Aku merogoh saku jaket untuk mengambil ponsel. Menyalakannya ternyata waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi.
Aku tidak sengaja melihat titik merah di tangan kananku. Tempat tadi Mike menyuntikkan racun itu. Sekarang aku
tidak tahu apa yang akan terjadi padaku. Mengingat apa yang terjadi pada racun pertama saat itu, aku masih ingat dengan jelas bagaimana rasanya, bagaimana takutnya aku.
Ahhh aku membenci saat perasaan ini. Saat justru aku menyalahkan diriku sendiri atas semua yang terjadi. Mungkin selama ini aku tidak memperhatikan apa yang terjadi pada Daniel hingga anak itu menginginkan aku menderita.
Selama ini aku tidak perhatian padanya dan sibuk dengan perasaanku sendiri yang tidak adil akan sikap ibu. Jika di pikir-pikir lagi belum pernah sekalipun aku melihat Daniel marah padaku. Dia selalu berperan sebagai adik yang baik, adik yang memposisikan dirinya di antara aku dan ibu.
Saat ini rongga dadaku yang sesak tidak bisa lagi membuatku ingin menangis. Terlalu banyak hal-hal menyakitkan
Aku menjadi lebih banyak diam dan berpikir. Bisakah aku menganggap semua kebencian mereka karena ketikdak
beruntunganku dalam posisi ini? Bisakah aku menganggapnya sebagai harga yang harus aku terima karena hidup di antara mereka? Bisakah aku menganggapnya akibat dari keegoisanku yang hanya merasakan perasaan ketidakadilan sikap ibu selama ini?
Akankah jika aku berpikir seperti itu membuat perasaanku aman? Aku tidak tahu lagi bagaimana harus menata hatiku. Ingin sekali aku membenci mereka, tapi aku tidak bisa. Aku terlalu lemah jika harus membenci mereka seolah aku mengerti mengapa mereka bersikap seperti itu padaku. Tapi salahkah aku berpikir seperti ini? Apa aku terlalu keras pada diriku sendiri?
Sekali lagi aku merenungkan semua yang terjadi pada hidupku. Hanya satu yang terlintas, jika dipikir kembali,
sejujurnya aku tak berpikir untuk menjadi yang terbaik.
“Aku tak akan mengatakan hal klise seperti ‘kau harus kuat’.” Aku menoleh mendapati sosok lelaki tegap dengan
kedua tangan masuk ke dalam saku celananya berdiri di samping kananku, sedang menatapku, kemudian dia ikut duduk di sampingku sembari menatap langit malam.
“Bagaimana bintang-bintang di galaksi itu menghiasi langitmu? “ Aku tidak bereaksi dengan ucapan manisnya, aku hanya menatap wajahnya dari samping.
__ADS_1
Bagaimana bentuk rahangnya, bagaimana bulu matanya yang panjang lalu hidungnya. Terlebih rambutnya yang bergerak mengikuti arah hembusan angin.
Meskipun samar-samar karena pencahayaan yang kurang tapi aku ingin selalu mengingat wajahnya.
Dia masih asik menatap langit berbintang membuatku ikut tertarik dengan apa yang menjadi perhatiannya.
Langit di atas kami terlihat semakin indah, mungkinkah karena aku melihatnya berdua dengan Bayu?
“Satu kisah yang dimiliki oleh satu orang, satu bintang yang dimiliki oleh satu orang. Aku menemukanmu dalam
gelapnya malam, cahaya bintang yang paling terang di malam yang gelap gulita.” Bayu kemudian melirikku dan dia tersenyum.
Aku yang belum bisa membalas senyum tulusnya itu hanya diam dengan mulut yang tertutup rapat. “Jika sesuatu yang kau suka tidak bisa membuatmu tersenyum artinya hatimu sedang kesakitan.”
Aku mengalihkan pandangan menghindari tatapannya, kembali menatap langit malam. Kami berdua terdiam untuk
beberapa menit ke depan, dia tidak lagi mengatakan apapun. Hanya diam menemaniku.
Kami yang sibuk dengan pikiran masing-masing tersadar jika sudah tiga puluh menit berlalu. Aku melirik Bayu
lagi mendapati dia sekarang sedang bersandar dengan kedua tangan di lipat di atas perut dan menunduk, matanya terpejam dengan napas yang teratur.
Akhirnya kedua sudut mulutku terangkat, tersenyum melihatnya. Aku bergeser sedikit mendekatinya, memperhatikan wajah lelahnya yang sedang terpejam.
Aku tahu, Bayu tidak benar-benar tertidur. Lalu aku mengatakan sesuatu yang sejak beberapa menit lalu terlintas
di pikiranku. “Setiap kali aku memikirkan cinta, aku tak ingin hanya mendengarkan lagu-lagu bahagia saja. Akan kuhadapi rasa sepiku, mewarnai hidupku, kehilangan dan mendapatkan tapi aku masih mencari sesuatu saat ini.”
Aku mendongak lagi menatap bintang dan memposisikan tubuhku bersandar di samping Bayu lebih nyaman kemudian melanjutkan. “Aku percaya bahwa segalanya akan berubah, tak ada yang sempurna. Momen ini pun memiliki arti tersendiri.”
__ADS_1
...