EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 252


__ADS_3

...


 


 


 


 


Lamunanku buyar ketika ponselku bergetar, panggilan masuk membuat lampu senter berkedip-kedip yang membuat suasana semakin menakutkan.


 


 


 


 


Nomor tidak dikenal.


 


 


 


Jantungku berdetak sangat cepat, aku tahu, aku seharusnya tidak menjawab panggilan ini, orang bodoh mana yang menelponku pagi-pagi buta? Kalau pun orang yang aku kenal, seharusnya mereka tahu di jam seperti ini kemungkinan besar panggilan mereka tidak akan dijawab karena ini waktu tidur nyenyak.


 


 


 


 


“Halo.”


 


 


“Aku adalah salah satu korban akibat keegoisan suamimu. Dia bisa mendapatkan posisi jabatannya sekarang karena mengobarkan pria yang aku cintai, mengorbankan orang-orang kecil yang tidak bersalah, bahkan mengorbankan anak kecil hingga bunuh diri.” Oke. Ini Suara wanita.


 


 


“Apa maksudmu? Siapa kamu?” Aku harus menahan napas mendengar semua penuturan itu pada pembukaan percakapan. Bukan hal yang bagus.


 


 


“Aku yakin kamu pernah mendengar tentang ini sebelumnya, apa Bayu belum memberitahumu peristiwa teror bom di pabrik terbengkalai, bangunan pinggir kota?”


 


 


 


 


Tiba-tiba ingatan itu seperti nyala lampu menyilaukan di ruangan gelap ini.


 


 


 


“Icha, kau harus tahu bagaimana buruknya lelaki ini. Dia sangat kejam! Saat peristiwa teror bom di gedung pinggir kota, dia memasukkan orang-orang kecil yang tidak bersalah ke dalam penjara! Bahkan dia tega menangkap seorang anak kecil berumur sepuluh tahun, dia terburu-buru menetapkan tersangka dan tidak mengecek ulang. Hasilnya anak itu bunuh diri karena di tuduh dalam rencana teror itu padahal banyak bukti mengatakan anak itu tidak bersalah.” Begitu yang di ucapkan Robert, malam ketika aku menamparnya sangat keras sampai pergelangan tangan kananku keseleo.


 


 


Tawa merdu nan elegant yang dingin memaksaku untuk kembali mendengarkannya, wanita di sebrang telpon seolah sudah menebak kalau Bayu memang belum menceritakan itu padaku.


 


 


“Benar! Dia tidak akan memberitahumu karena itu adalah hal memalukan.”


 


 


“Kau yang mematikan listrik vila ini, iya ‘kan?”


 


 


“Tentu saja. Aku harus mengalihkan perhatian suamimu agar bisa bicara denganmu. Kalau saja dia tidak datang, aku tidak perlu memainkan listrik vila di tempatmu.”


 


 


 


 


“Jadi… kau pengecut?”


 


 


“Apa?!” Suara tenangnya buyar seketika digantikan dengan emosi marah yang teredam.


 


 


“Kau hanya bicara padaku ketika Bayu sedang tidak ada di dekatku.”


 

__ADS_1


 


“Bukan itu point pembicaraan kita.” Dia mendesis berbahaya seolah siap menerkam ku kapan saja.


 


 


“Oh ya tentu saja.” Aku berusaha terdengar ceria dan tenang, tapi nyatanya jantungku terasa menggedor dadaku lebih keras. Dia pasti merencakan sesuatu “aku bisa dengan jelas menebak rencanamu. Kau ingin aku terpancing dengan perkataanmu tadi, kau ingin aku membenci Bayu dan mulai memeriksa kasus itu. Di balik ancaman telponmu ini, kau merencanakan sesuatu yang berbahaya untuk ku? Tapi apa yang kau pikirkan? Ini vila keluarga Danendra.”


 


 


“Urusanku bukan di sana! Tidak usah khawatir, orang yang menginginkan balas dendam pada keluarga mu sudah bergerak.” Ini buruk. Jadi dia dan komplotannya melakukan sesuatu di sini dan di luar.


 


 


“Oh ya? Jadi dimana?”


 


 


“Aku ada di sini, tempat aku akan membuat Bayu merasakan dua kali lipat rasa bersalah karena menuduh orang yang salah. Kalau kau tidak cepat, aku tidak bisa menjamin dia akan selamat.”


 


 


“Brengsek!” Aku tidak menyukai kata merasakan dua kali lipat rasa bersalah “kau hanya menakutiku, kenapa harus melakukannya sekarang? Kenapa tidak menerorku beberapa hari belakangan ini? Saat itu Bayu sedang tidak ada.”


 


 


“Ini bukan saatnya aku mendongeng. Kalau aku jadi kau, aku pasti akan segera mencari. Sampai jumpa. Hahaha.” Lalu sambungan terputus.


 


 


Jadi dia berusaha terlihat keren, menelponku penuh ancaman, di akhiri dengan tawa menakutkannya? Hah! Benar-benar orang gila!


 


 


Aku harus segera mencari Bayu. Meski rasanya jantungku terus menggedor dalam dadaku, aku melangkah cepat menuju pintu. Tanganku yang bergetar membuka kenop pintu tapi terhenti begitu mengingat perkataannya tadi. Orang yang dendam dengan keluarga Danendra sudah bergerak? Mungkin kah ada orang jahat berkeliaran di dalam vila sementara aku mencari Bayu dan orang itu akan menculikku?


 


 


Tidak tidak!


 


 


Ini bukan waktunya memikirkan itu. Aku harus keluar mencari bantuan. Tapi ketika aku mencoba memutar kenop pintu, tidak bisa di buka. Mengecek apakah aku mengunci pintu, tapi tidak. Akhirnya yang aku pikirkan adalah menggedor pintu kamarku sendiri untuk keluar, memang konyol.


 


 


 


 


Jariku dengan cepat menyentuh kontak nomornya lalu segera menelpon. Di dering pertama justru yang menjawab operator, mengatakan kalau lelaki itu sedang sibuk dengan panggilan lain. Mencoba lagi untuk kali kedua, ketiga, dan keempat tapi tetap sama.


 


 


Untungnya, ketika aku hendak menelpon yang kelima kalinya, suara di depan pintu mengalihkanku. Suara seseorang sedang menggeser barang berat, tak lama kemudian pintu kamarku di buka dari luar.


 


 


“Icha.” Sebelum senterku mengarah pada orang di depan itu, suara Bayu sudah menyambutku duluan.


 


 


Aku mendesah lega dan segera berlari ke dalam pelukannya. “Kau di sini.”


 


 


“Oke. Aku ke sana sekarang.” Dia bukan berbicara padaku yang ternyata aku sadari tangan kanannya sedang menggenggam ponsel di depan telinganya. Tangan kirinya yang bebas membalas pelukanku.


 


 


Setelah dia menurunkan ponselnya, Bayu menunduk dan menciumi pipiku. Meski gelap tapi aku yakin wajahku merona.


 


 


“Kamu hebat sayang.”


 


 


“Apa?” Aku menarik diri menatapnya tidak mengerti.


 


 


Bayu menyalakan mode senter dengan ponselnya hingga sekarang keadaan samar-samar dan aku bisa menatap wajahnya. Dia tampan sekali. Aku melenceng.


 

__ADS_1


 


Dia menarikku keluar kamar, menutup pintu dan mendorong kembali lemari kecil untuk menghalangi kenop pintu. “Apa yang kau lakukan?”


 


 


“Jebakan.”


 


 


“Hah?”


 


 


Bayu menggenggam tanganku dan membawaku berjalan bersamanya meninggalkan kamar. “Wanita itu, yang baru saja menelponmu adalah istri Luc. Kami memang sedang mencarinya dan berhasil tahu posisinya karena kau mengulur waktu berbicara padanya, Lifer baru saja memberitahuku. Dari yang aku dengar, dia menargetkanmu, menakutimu karena kami telah berhasil menangkap suaminya kemarin.”


 


 


Dari semua inti ucapannya, aku senang, ternyata wanita itu menelponku karena pria bernama Luc sudah di tangkap, nama yang sempat di singgung oleh ayah Rasha sebelumnya di rumah.


 


 


“Kamu, marah padaku karena aku tidak menceritakan tentang Luc?” Pertanyaan Bayu terdengar pelan dan hati-hati.


 


 


Aku menggeleng. “Aku mengerti, misi-misimu pasti rahasia.”


 


 


“Lalu, apa yang di ceritakannya—tentangku…” Bayu mengarahkanku ke pintu utama vila. “kau tidak curiga padaku?”


 


 


“Nanti kita bicarakan lagi, apa mereka membutuhkanmu di suatu tempat?”


 


 


“Ya. Aku harus pergi untuk bergabung dengan penangkapan istri Luc. Aku akan segera kembali sebentar lagi.” Kami sudah mencapai pintu yang baru aku sadari kalau sejak tadi aku tidak menemukan siapapun, keluarga Danendra bahkan pegawai vila.


 


 


“Sebentar lagi?”


 


 


“Dia ada di dekat sini.” Tiba-tiba bulu halus di lenganku serasa berdiri, menyadari dia begitu dekat dengan kami membuatku sedikit khawatir.


 


 


“Apa rumahnya memang ada di dekat sini?”


 


 


“Tidak.” Aku bisa melihat rahang Bayu mengeras yang seketika membuatku menyimpulkan sesuatu.


 


 


“Apa dia disini karena mengikuti… aku?” Lelaki ini tidak menjawab, dia melirikku dengan tatapan sendunya yang cukup sebagai jawaban.


 


 


“Jadi benar, dia mengikutiku ke sini.”


 


 


“Maaf karena harus melibatkanmu pada situasi ini.” Genggaman Bayu di tanganku mengeras.


 


 


Aku ingat perkataan wanita itu tentang penyesalan Bayu. Di atas semua yang dia katakan padaku, aku lebih mengkhawatirkan dampak kejadian pada suamiku ini.


 


 


 


 


...


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2