
...
“Apa?!” Aku memekik tertahan, hal itu membuat pria yang di duga Ceasar melirik ke belakangnya, seolah menyadari kehadiran seseorang.
Cepat-cepat aku menutup pintu toilet, bersandar di dinding dengan napas memburu karena kaget, takut ketahuan sedang mengintip pertengkaran mereka.
“Maksudmu Ceasar Adinata? Pewaris tunggal perusahaan properti terbesar di negara ini? Pria yang pernah kakek tunjuk untuk di jodohkan denganku? Juga pria yang menyewa tentara bayaran untuk melukaimu di vila dan kita tidak bisa menangkapnya karena kekurangan bukti?”
“Kamu mengingatnya begitu jelas.”
“Tentu saja! Aku tidak akan memaafkan dia yang telah melukaimu!”
“Boo, justru kamu yang terluka saat di vila.” Ada nada geli dari ucapan Bayu.
Aku hendak menjawabnya, tapi telingaku menangkap suara sepatu mendekat ke pintu toilet wanita. Jantungku berdebar kencang, aku menduga Ceasar sedang mendekat. Kalau dia menemukan aku sendirian di sini, pasti dia menebak aku mengintipnya tadi.
“Dia mendekat. Aku akan keluar.” Bisikku pada Bayu.
“Apa?? Biasanya orang akan sembunyi kalau ada di keadaan seperti ini! Tapi kenapa kau keluar?!” Bayu
mendesakku agar bersembunyi.
“Aku tidak ingin di pergoki sedang mengintip! Dia datang!!”
Aku segera mengeluarkan ponsel lain yang biasanya di pakai khusus untuk berkomunikasi dengan orang kantor sedangkan ponsel pribadiku yang terhubung dengan Bayu segera di masukkan ke dalam tas tangan kecil tanpa
mematikan sambungan, jadi Bayu hanya akan melihat samar-samar isi tas ku di layar ponselnya, kemudian mematikan ponsel yang tadi aku keluarkan dengan sengaja dan memasang satu lagi airpods di telinga kiriku jadi seolah sejak tadi kedua telingaku sibuk mendengar yang lain dan tidak mendengar mereka bertengkar.
Sedikit merapikan rambut dan bajuku, lalu tersenyum pada cermin di depan wastafel untuk menguatkan keberanianku, dan mulai melangkah, mendorong pintu sembari berujar dengan riang, “Ya! Aku akan segera ke sana, kita akan bersenang-senang.”
“Apa yang akan kau lakukan??”
BRUKK
Seperti yang aku rencanakan, saat aku keluar dari toilet wanita, bahuku menabrak pria yang di duga Ceasar hingga dengan sengaja ponsel kedua yang aku genggam jatuh, seolah mati seketika.
“Halo? Halo? Haisshh...” Aku meraih ponselku yang jatuh dan pura-pura kesal.
__ADS_1
“Kamu sejak tadi di dalam sana?” Pria di hadapanku ini bertanya,
Aku mendongak menatapnya dan dengan masih kesal menjawab, “tentu saja! Ini toilet wanita. Seharusnya aku yang tanya, sedang apa kamu di depan toilet wanita?”
Sekarang aku bisa dengan jelas memperhatikan wajah pria ini, dia memiliki alis yang tinggi dan memberi kesan tegas, matanya juga memancarkan sorot dominasi, rahangnya tampak mengeras seolah dia sedang memakan permen karet. Tingginya kira-kira sama dengan tinggi Bayu tapi tidak setegap dan segagah Bayu.
Memang tampan, tapi dia bukan tipeku dan aku tidak suka ekspresi sombong yang ia perlihatkan, dia juga sedang menatapku dari atas ke bawah, menilai penampilanku.
“Berhenti pura-pura! Kau mendengar semua? Apa di dalam masih ada orang?” Tanya nya tenang.
“Kalau kau penasaran, lihat saja ke dalam. aku—oh! Kau tidak apa-apa?” Sekali lagi aku pura-pura kaget melihat wanita tadi di belakang punggung pria ini masih bersandar lemah di tempatnya tadi.
“Apa yang terjadi?” Aku cepat-cepat menghampirinya, melewati pria di hadapanku ini dengan senatural mungkin.
Begitu aku sampai di depan wanita ini, dia hanya menggeleng sembari sesekali melirik pacarnya dengan takut.
“Jangan ikut campur!” Aku merasakan tarikan kuat dari belakang hingga membuatku agak menjauh.
“Siapa kamu? Aku tidak pernah melihatmu ada di pesta para lansia yang biasanya membawa cucu mereka untuk saling di kenalkan.” Tanya nya masih memperhatikanku dengan penuh minat sekarang.
“Aku tidak harus menjawab pertanyaanmu.” Jawabku galak.
“Namaku Ceasar Adinata. Aku adalah pewaris tunggal grup Elias, perusahaan properti terbesar di negara ini.”
Benar! Sudah di konfirmasi kalau pria ini adalah Ceasar Adinata.
“Oh? Jadi kamu yang namanya Ceasar.” Aku melotot padanya, mendorong pria ini dengan lenganku agar menjauh, lalu aku kembali pada wanita tadi dan berkata, “dia yang melakukan ini padamu ‘kan?”
“K—kami sudah putus dua bulan lalu, tapi begitu kami bertemu lagi hari ini, dia masih mendekatiku dan tidak terima di putuskan olehku, jadi aku mengancamnya karena dia pemakai—“
“Diam!!” Pekik Ceasar marah, mendorongku hingga aku hampir jatuh dan menghadap pacarnya dengan mata melotot. Tangannya sekali lagi berada di leher wanita itu, dia mencekiknya.
“Hei! Lepaskan dia!” Aku mencoba menarik tangan pria ini tapi percuma, tenaganya terlalu kuat.
“Icha! Apa yang terjadi?” Sekali lagi suara Bayu seolah menenangkan sarafku yang tegang.
“Kau mencekiknya!” Kataku, bermaksud menjawab pertanyaan Bayu, “ya ampun! Kenapa tidak ada yang datang? Staf hotelnya pada kemana ini?”
“Mungkin Ceasar memerintahkan beberapa orang untuk menjaga agar koridor menuju toilet tidak di lewati siapapun.” Jawab Bayu.
__ADS_1
Aku semakin panik saat melihat wanita itu kesulitan bernapas, lalu aku segera memukul kepala belakangnya dengan tas tangan kecil sekuat tenaga sampai Ceasar melepaskan cengkraman tangannya pada leher wanita itu dan justru berbalik padaku dengan marah.
“Kau berani memukulku?! Kau tahu siapa keluargaku? Mereka tidak akan melepaskanmu! Haishh...” Dia berteriak dengan wajah merah, tepat ketika dia hendak memukulku, aku dengan sigap mendorongnya ke dinding hingga terdengar bunyi bruk yang lain.
“Apa yang dia lakukan padamu?! Icha??” Bayu terdengar sangat khawatir di telingaku, “di saat seperti ini aku justru tidak ada di sampingmu. Sialan!”
“Hei. Kau bisa berdiri? Cepat pergi dari sini!” Kataku pada pacar Ceasar yang tampak lemah itu. Setelah melihatnya lebih detail, aku menduga dia bisa lari tapi ekspresi wajahnya tampak sangat kaget dan jelas ada trauma di sana.
“Yakkkk!!” Ceasar berteriak lebih keras, menatapku penuh dendam, dengan mudah dia sudah berdiri lagi dan dengan cepat mendekatiku.
Di pikiranku, aku sudah mengulang simulasi kalau dia akan memukulku atau mendekat, aku akan menendangnya dengan high heels hitam yang terpasang di kakiku.
Sekali lagi tangan Ceasar sudah dekat akan menyentuhku tapi aku menunduk, menghindar dan dengan cepat menendang kaki belakangnya begitu aku dalam sekejap sudah menunduk di belakangnya.
Bruukk
Dia jatuh dengan muka lebih dulu menyentuh lantai, kali ini dia mengerang menahan sakit sembari memegangi hidung dan lututnya.
“Natasha, tolong jawab aku kalau kau baik-baik saja. Aku tidak pernah merasakan perasaan tak berdaya seperti ini sebelumnya.” Kali ini nada suara Bayu terdengar pasrah dan lemas, hal itu membuat rongga dadaku menghangat. Aku tersenyum kecil dan kembali mendekati Ceasar yang masih tersungkur di lantai dengan posisi terentang.
Mengingat lagi kalau dia adalah orang yang telah menyewa tentara bayaran untuk Bayu, aku jadi sangat marah!
...
__ADS_1