EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 127


__ADS_3

...


 


“Mendengar semua ini, pasti masih banyak lagi hal yang di luar dari buku panduan pekerjaan.” Yudha bergumam memperhatikan aku yang sedang membubuhkan tanda tangan.


“Yaa, ini adalah hal-hal yang sebenarnya sudah biasa setiap bulan tapi tetap saja setiap kali menghadapinya, semacam ada kegelisahaan baru.”


“Kau sangat menyukai pekerjaan ini ya?” Yudha bertanya, dia sedang menatapku dengan penasaran.


Aku meliriknya sekilas dan kembali konsentrasi menandatangani berkas-berkas yang masih menumpuk ini.


“Kalau di sebut menyukai sih engga, di sebut benci juga engga. Hanya saja pekerjaan ini cocok untukku.”


Kami berdua sama-sama terdiam untuk lima menit berikutnya, aku masih menandatangani berkas-berkas ini sembari mulai menyalakan laptop yang sudah lama tidak aku jumpai ini.


Begitupun dengan Yudha yang tampak menatap layar laptopnya, tapi dari sudut mataku, aku merasa pria ini sedang memikirkan sesuatu.


“Bagaimana menurutmu pekerjaan ini?” Yudha tiba-tiba bertanya.


Aku menolehnya sembari mengerutkan kening. “—Maksudku, aku kan sedang berlatih di sini.”


“Hmm..” Aku bergumam berpikir, sejenak menghentikan aktifitasku.


Mungkin dia bertanya untuk membandingkan perusahaan ini dengan perusahaan sebelumnya. Dia pasti sudah punya pengalaman juga.


“Karena aku sudah hampir tujuh tahun bekerja di bidang ini, jadi rasanya aku sudah tidak bisa menghitung bagian mana ketika aku menyukai pekerjaan ini atau ketika aku membencinya.”


“Bagaimana jika tiba-tiba kau di tawari di perusahaan lain dengan jabatan yang lebih tinggi dari ini?” Sekarang aku menoleh menatapnya.


Yudha seperti tersentak sebentar sebelum dia mengalihkan tatapannya pada layer laptop, menghindari tatapanku.


“Aku tidak tahu, ini memang zona nyamanku tapi aku selalu ingat apa yang pernah seseorang katakan dulu padaku ketika aku masih menjadi staf biasa. Dalam pekerjaan justru jika kau sudah merasa di zona nyaman itu lah yang berbahaya.” Kataku kembali menyelesaikan berkas-berkas ini.


“—zona nyaman ya? Jadi sekarang Icha berada di zona nyaman?”


“Mengingat lagi tentang masalah-masalah yang mereka semua sampaikan tadi padaku, aku sudah tahu apa yang harus di lakukan atau apa yang akan terjadi selanjutnya. Semacam itu.”


“Bukannya itu juga bisa di sebut sebagai ahli? Kau sudah ahli dengan pekerjaan ini jadi wajar untuk tahu.” Yudha mengerutkan kening, menatapku sekilas dan kembali menatap layar laptopnya begitu aku meliriknya.


Apa dia malu membalas tatapan ku?


“Yaa, yang aku maksud dengan zona nyaman yang berbahaya adalah aku kembali dari cuti panjang selama lebih dari dua minggu, begitu kembali aku bisa dengan mudah mengendalikan situasi yang ada tapi di samping semua itu aku merasa perusahaan akan memecatku ketika aku mengambil cuti lagi nanti.”


Yudha mengangguk-angguk. “Aku mengerti. Tapi ketika saat itu tiba dan perusahaan lain menawarkan pekerjaan untukmu, apa kau akan menerimanya?”


“Mungkin. Aku tidak tahu sampai saat itu tiba, tapi ngomong-ngomong kenapa dari tadi kamu menyinggung tentang perusahaan lain yang ingin merekrutku?” Aku meliriknya curiga.


Yudha tersenyum kaku padaku, terlihat sekali dia sedang gugup. “Tidak tidak! Ini hanya perkiraan saja. Aku melihat bagaimana anak buahmu di sini, mereka pintar dan tampak nyaman dengan pekerjaan mereka. Itu semua mungkin ada pengaruhnya darimu.”

__ADS_1


“Benarkah?” Aku melirik ke lima orang wanita yang tersebar di masing-masing meja di ruangan ini.


“Tapi apapun itu, tidak ada yang pasti. Sekarang mungkin mereka memang sedang nyaman dengan pekerjaan mereka tapi kita tidak tahu apa yang terjadi satu menit berikutnya. Aku hanya ingin mereka merasa bisa mengandalkanku dan mau berdiskusi denganku tentang pekerjaan mereka, bukan dengan mereka memendamnya dan jadi bom waktu.” Namun obrolan kami terhenti begitu mendengar suara pintu yang terbuka. Kami semua menoleh ke ambang pintu.


“Benar, kamu sudah kembali, bisa ikut aku sebentar?” Itu kepala bagian divisi marketing.


Kepala pak Ginanjar muncul di celah pintu, tanpa menunggu jawabanku dia sudah menghilang dari sana. Seperti biasanya.


Aku segera berdiri sembari membawa ponselku. Kesibukkan ku yang lain sudah di depan mata.


 


***


“Benar! Setiap kali kau mengambil cuti, kau harus mentraktir kami!” Camila berseru saat kami semua di tambah Yudha yang aku ajak malam ini untuk bergabung makan malam bersama kami baru selesai makan di restoran kesukaan mereka. Sebagai permintaan maafku pada mereka, aku memutuskan untuk mentraktir makan malam.


“Maaf maaf. Sebenarnya aku tidak ada niat cuti selama itu. Hanya saja keadaannya benar-benar memaksaku.” Kataku meringis pelan saat kami semua sudah berjalan keluar dari pintu restoran.


Sejak tadi mereka menanyakan alasanku cuti, tapi aku tidak pernah memberikan jawaban yang jelas. Sebenarnya aku juga bingung harus bagaimana menjelaskannya kalua memang boleh di bicarakan.


“Baiklah kalau begitu, aku pamit duluan. Sudah di jemput di depan. Pokoknya makasih makan malamnya, cha.” Tiwi tiba-tiba memelukku sesaat dan pamit.


Aku mengangguk dan kami semua melambai padanya yang berlari menjauh.


“Kami juga pamit.” Bela dan Kiki kemudian memelukku sesaat sebagai tanda pamit.


“Yaa hati-hati di jalan!” Aku menjawab sembari melambai pada mereka.


“Oh, aku juga sudah di jemput ternyata.” Rima menatap ponselnya.


“Ya sudah, hati-hati di jalan.” Aku menepuk bahu Rima yang langsung di angguki wanita ini.


Sekarang tersisa aku, Camila dan Yudha.


“Camila, bagaimana denganmu?”


“Aku akan di jemput, tapi dia masih di jalan.” Aku mengangguk kemudian beralih pada pria satu-satunya yang ikut makan malam bersama kami.


“Kalau kau—“


“Aku pulang sendiri. Bagaimana denganmu, Icha? Mau aku antar? Kita bisa sama-sama naik taksi.”


“Tidak tidak! Aku masih ada janji dengan orang lain. Kamu bisa pulang duluan.”


“Baiklah kalau begitu, aku pamit, Cha, Camila.” Aku tak tahu apa dia sadar atau tidak, tapi Yudha justru menunduk singkat padaku sebelum dia pergi.


“Hati-hati.” Kataku dan Camila kompak, memperhatikan punggung pria tinggi itu.


“Jadi bagaimana? Dia tampan ‘kan?” Camila berbisik ketika kami masih memperhatikan sosok itu yang semakin menjauh dan menghilang di area parkir depan restoran ini.

__ADS_1


“Ya dia tampan.” Jawabku jujur.


“Kau menyukainya?”


“Eumm.. Suka dalam artian untuk orang baru. Tapi sejak tadi dia selalu tampak gugup jika berbicara denganku. Dia tidak pernah lama untuk menatapku.”


“Apa dia sudah menyukaimu?!” Camila berseru antusias.


Aku menggeleng. “Bukan gugup dengan arti suka, dia terlihat gugup seperti aku ini atasannya yang akan memarahinya.”


Camiila tergelak mendengar jawabanku. “Berarti, julukan nona galak tapi baik ini berpengaruh pada orang baru itu. Hahaha.”


“Apanya yang lucu, huh!” Aku merangkulnya erat karena gemas.


Kami berdua tertawa tidak jelas di depan restoran ini. Lagi-lagi rasanya aku sudah lama tidak merasakan suasana ini.


Tiba-tiba sebuah motor berhenti di depan kami. Meski tidak melihat wajah siapa itu, tapi aku mengenali perawakannya. Dia suami Camila.


“Dia sudah datang. Aku pamit pulang. Terima kasih untuk makan malamnya.” Camila memelukku sesaat.


Aku balas memeluknya dan mengangguk, memperhatikan dia yang memakai helm dan naik ke atas motor. “Hati-hati di jalan, jangan ngebut.”


Suami Camila yang sudah mengenalku hanya mengacungkan jempol. Aku tersenyum dan sekali lagi melambai saat pria itu mengklakson motornya sebelum melaju menjauhiku.


Tepat setelah motor itu hilang dari pandanganku, sebuah mobil jeep hitam melaju mendekat ke arahku dan berhenti tepat di depanku.


Aku sudah hapal mobil ini, maka tanpa ragu-ragu segera membuka pintu mobil.


“Apa kamu menunggu lama?” Tanya Bayu sesaat setelah aku duduk di jok depan dan menutup pintunya.


“Tidak. Jadi sekarang kita kemana?” Sembari memakai sabuk pengaman, aku menatapnya.


Bayu mengijak pedal gasnya, membawa mobil ini keluar dari parkiran restoran.


“Karena kau sudah makan malam, kita akan olahraga hari ini.”


“Hah? Kenapa?”


“Tentu saja untuk melatihmu sedikit bela diri. Pertama kita harus olahraga dulu agar otot tubuhmu lebih kuat.” Katanya dengan nada setengah meledek.


Aku terdiam, memikirkannya. Memang dia sempat menyinggung soal olahraga saat di kampus professor Bora, tapi aku tidak menyangka akan secepat ini dia mengajakku.


“Baiklah, kali ini aku tidak akan membantah berhubung malam ini tidak ada kuliah.”


“Good girl!”


 


...

__ADS_1


__ADS_2