
...
“Begitukah? Padahal dia sering tersenyum di hadapanku.” Aku balas tersenyum jahil padanya. Ronald dan Lifer
semakin menjadi-jadi menggoda Bayu. Mereka tertawa puas melihat lelaki ini sangat kesal.
“Kapten.” Tiba-tiba dua orang wanita berseragam sama dengan ketiga lelaki ini berdiri memberi hormat pada mereka. Pandanganku yang terhalang oleh tubuh tinggi dan tegap ketiganya berusaha melihat melalu celah.
Sekarang aku jelas mirip sebagai wanita yang penasaran dengan teman wanita pacarnya. “Semuanya sudah siap untuk keberangkatan.”
“Dan ini, minumlah ini kapten. Kamu sudah bekerja keras dan beristirahatlah dengan baik saat pulang.”
Salah satu wanita itu memberikan Bayu sebotol minuman berenergi, aku tahu Ronald dan Lifer terkikik sembari
melirikku sesekali yang masih berdiri di belakang mereka. Karena tinggiku yang hanya sebatas bahu Bayu, aku tertutupi oleh ketiganya.
Aku hanya menggeleng pelan sembari tersenyum geli melihat Bayu tampak ragu-ragu menerimanya. Kemudian dengan cepat dia mengambilnya dan justru menyerahkannya pada Ronald yang berdiri di antara mereka berdua.
“Ini untukmu. Kau butuh banyak tenaga untuk tugas di sini.”
“Terima kasih.” Itu suara Bayu lagi dengan nada datar yang aku dengar ketika dia sedang marah padaku.
Ya ampun justru dengan sikap ini lah wanita-wanita akan menyukainya. Aku tidak melihat dengan jelas wajah dua wanita itu, tapi kemudian Bayu melirikku ke belakang yang justru di balas kekehan kecil dariku. Dari sudut mataku aku melihat dua wanita itu menyadari kehadiranku. Mereka tampak kaget dan penasaran.
Lalu telingaku mendengar suara langkah kaki cepat mendekat, refleks aku berbalik melihat seorang lelaki yang
tampaknya masih remaja berlari cepat menghampiriku. Dia hampir menabrakku tapi aku dengan cepat segera menyingkir dari hadapannya.
Bukannya dia berlari melewatiku, anak ini justru segera bersembunyi di belakangku. Kedua tangannya dengan erat
mencengkram bahuku. Aku meringis menunduk merasakan bahu kiriku yang terluka tersentuh begitu saja.
“Hei! Dasar kau anak nakal. Jangan bersembunyi!” Aku mendengar suara berat seseorang, dari arahnya berlari tadi
ada dua orang pria berpakaian sama dengan Bayu dan seorang pria paruh baya sepertinya penduduk desa ini.
“Tidak! Pokoknya ajarkan aku bela diri! Aku tidak mau desa ini harus di ambil alih lagi di masa depan. Kita juga
harus pintar berkelahi, ayah!!”
__ADS_1
“Hei. Lepaskan dia!!” Suara pekikan Bayu mengalihkanku padanya.
Dia hendak mendekatiku tapi dengan cepat anak ini merangkul bahuku dari belakang dengan sebelah tangannya, lalu tangannya yang lain mengeluarkan benda dengan pegangan seperti pistol namun depannya memiliki bentuk kotak. Itu pistol kejut yang jika di tembakkan, target akan terkena kejut listrik dan membuatnya pingsan seketika.
Tinggi anak ini sedikit lebih tinggi dariku. Dia memaksaku untuk mundur hingga punggungku menyetuh dadanya. Sesaat aku mencium aroma yang sangat familiar, aroma dari rempah tapi aku lupa apa namanya.
“Ayah harus menyetujuinya dulu baru aku akan melepaskannya.” Pekikan anak ini pada pria paruh baya di hadapan kami. Mengingat ini masih jam setengah enam pagi, udara yang sejak tadi dinging berubah panas di sekitarku.
“Apa yang terjadi? Kenapa dia memiliki benda itu di tangannya?” Aku melihat Lifer bertanya pada dua orang tentara yang mengejar anak ini.
“Maafkan kami kapten, tadi dia mengambilnya saat aku sedang bersiap.”
“YAKK!! KALIAN INI SEPERTI TENTARA AMATIR HAH!!” Aku sedikit tersentak mendengar teriakkan amarah Lifer, ekspresi tersenyumnya tadi seolah buyar mendengarnya berteriak.
Dua tentara itu menunduk tidak berani menatap kapten mereka, aku merasa kasihan pada mereka tapi dalam situasi ini aku tidak di untungkan. Mereka semua termasuk dua tentara wanita tadi menatapku hati-hati.
Bayu yang ada di sebelah kiriku juga sedang perlahan mendekat tanpa anak ini sadari.
“Kau bisa memintanya baik-baik. Mereka pasti akan mengajarimu.” Ucapku berusaha menenangkan anak ini. dia semakin mengeratkan kunciannya pada leherku yang membuatku semakin meringis pelan.
Bahu kiriku rasanya sangat kebas!
“Hei Grey, kejadian ini mengingatkanku saat di tepi sungai. Kau sangat keren membuatnya seperti itu. Dia sudah di permalukan beberapa kali olehmu.” Ucapan Bayu mengalihkan tatapanku padanya. Ronald yang di panggil namanya tampak menatap Bayu tidak mengerti sedangkan lelaki itu justru menatapku serius saat mengatakannya.
Otakku berpikir cepat, Bayu berbicara padaku bukan pada Ronald dan lagi kejadian di tepi sungai, aku sudah
mempermalukannya beberapa kali itu pasti tentang Mike. Aku tersenyum saat mengingat apa yang di maksud Bayu lalu dengan cepat aku menendang tulang kering kaki anak ini hingga cengkramannya terlepas.
Setelahnya Bayu menarik tangan kananku untuk ia sembunyikan di belakang tubuhnya lalu dia memukul tangan anak ini yang hendak menembakkan benda itu padaku hingga terlepas dari genggamannya.
Dengan sigap dua tentara yang tadi mengejarnya langsung mencengkram anak ini agar tidak terlepas.
“Ahh kaki ku sakit sekali!! Ishhhh!!” Dia menatapku kesal sembari meringis memegang kakinya.
“Ohhh kau berdarah? Ya ampun!!” Teriakkan pria paruh baya ini terdengar sangat khawatir. Kami semua melihat
telapak tangan anak itu sudah ada bercak darah. Namun Bayu segera menatapku dan memeriksa bahu kiriku, menyingkirkan anak rambut dari sana.
__ADS_1
Aku ikut menatap bahuku sendiri dan mendesah pelan saat bajuku yang semula kering dan bersih berubah gelap.
“Ck! Kau berdarah lagi?!” Decakan Bayu mengalihkan pandangan mereka semua. Saat tahu jika itu bukan darahnya, pria paruh baya ini langsung berdiri dan mendekatiku.
“Maafkan dia! Kau terluka karenanya! Aduh bagaimana ini!”
“Tidak apa-apa. Tidak usah khawatir.” Jawabku cepat melihat betapa khawatirnya pria paruh baya ini melihatku.
“Serahkan semuanya di sini pada kami. Kalian cepat pulanglah.” Ronald menepuk pelan pundak Bayu, seperti ingin
menenangkan lelaki ini yang menatapku khawatir.
“Maafkan atas kelalaian anggota tim ku, cha.” Lifer mendekatiku untuk memeriksa bahuku ini. Aku menggeleng dan
tersenyum kecil padanya.
“Kau pasti kaget ya.” Lifer berucap lembut.
“Tidak sekaget saat Mike menembakku di sungai tadi malam.” Jawabku mengingat Mike lagi.
“Baiklah aku serahkan semuanya disini pada kalian.” Bayu akhirnya berpamitan lagi pada kedua temannya, mereka bersalaman.
Sebelum benar-benar pergi, aku kembali menatap Ronald dan Lifer dan tersenyum kecil lalu melirik tentara wanita dan tentara lainnya juga.
Aku dan Bayu berjalan berdampingan, aku tahu Bayu bukanlah tipe lelaki yang akan nyaman menggandeng wanita di hadapan rekan kerjanya. Apalagi saat perjalanan kami menuju tempat penerbangan di sisi hutan ini beberapa kali ada saja yang menyapa Bayu entah itu tantara lelaki ataupun perempuan.
Sekarang aku benar-benar merasakan aura berbeda Bayu saat dia bekerja. “Bayu?”
“Hmm..”
“Aku ingin bertanya.”
“Apa?” Bayu melirikku penasaran.
“Kau mengenal anak lelaki tadi?”
“Dia anak kepala desa ini. Lelaki tadi juga itu kepala desa.”
“Ohh begitukah? Lalu aku lihat banyak sekali tentara di sini. Apa untuk mengejar bos besar itu?”
__ADS_1
…