
...
Aku memekik kaget ketika suara ledakan yang sepertinya berasal dari samping bangunan ini mengguncang tanah dan bangunan.
“Ledakan apa itu??” Bayu yang refleks memelukku berteriak ke belakangnya.
Namun sebelum ada jawaban, ledakan susulan terdengar lagi.
BUUMM…
Kali ini terdengar sangat dekat, seolah ledakan itu ada di samping ruangan ini.
Aku menjerit ketika tanah dan bangunan terguncang seolah akan roboh. Bayu yang memelukku segera melepaskannya dan beralih menggenggam tanganku sangat erat.
Dia memaksa ku untuk bergerak, mengikutinya keluar dari bangunan rumah. Sembari berlari menyelaraskan langkahku dengannya dan menunduk, aku tidak sempat melihat-lihat rumah ini, namun yang pasti rumah ini cukup luas.
Orang-orang yang memakai seragam yang sama dengan Bayu juga sibuk menyeret keluar beberapa tahanan yang masih ada di dalam.
Udara dingin dan segar langsung menerpa wajahku begitu kami sudah berlari keluar. Langit masih gelap, aku tidak melihat lampu rumah warga, meski rumah-rumah itu jelas ada di sekeliling bangunan ini. Hanya ada cahaya lampu senter yang mengarahkan orang-orang.
Tapi, dari sudut mataku, ada cahaya oren yang perlahan tapi pasti semakin besar.
Aku terkesiap kaget begitu menoleh ke belakang, mendapati api besar melahap sesuatu di belakang bangunan rumah. Saat orang-orang sibuk dengan api dan tahanan yang ingin kabur, Bayu terus menyeretku menjauh hingga kami sampai di lapangan gelap di belakang rumah-rumah warga. Di sana ada banyak mobil terparkir.
Ada seseorang di sana menjaga depan mobil, pria yang memakai pakaian seperti Bayu menatap kami, seolah dia tahu apa yang harus di lakukan, pria itu membimbing Bayu ke salah satu mobil.
Pintu penumpangnya di buka dan melirikku, menunggu ku untuk masuk.
“Kamu tunggu di sini.” Ujar Bayu setelah melihatku masuk ke dalam mobil.
Banyak hal yang ingin aku katakan padanya, tapi aku tahu kalau ini bukan waktu yang tepat. Maka aku hanya menggigit bibir dan mengangguk.
“Orang ini akan menjagamu di sini. Aku harus kembali.”
“Tolong hati-hati.” Aku mendesah kecil.
Meski cahaya api di kejauhan tampak samar-samar menyinari kami, tapi aku bisa melihat dengan jelas sorot mata Bayu yang enggan meninggalkanku sendirian.
Dia mengusap puncak kepalaku sebentar sebelum mengangguk, lalu dia segera mundur untuk menutup pintu mobilnya. Setelah itu Bayu menoleh sebentar pada pria yang membuka kan pintu mobil, menepuk bahu pria itu dan mulai berlari menuju ke ributan.
__ADS_1
Aku menatap punggungnya yang semakin menjauh, menghela napas kecil dan mencoba untuk tetap tenang sembari bersandar. Mataku melirik pria itu, dia kembali ke tempatnya berdiri tadi tanpa mengatakan apapun.
Sekarang, menunggu adalah apa yang aku lakukan.
.
..
…
Ini sangat tidak biasa. Di situasi tidak aman seperti ini, mata ku rasanya sangat berat dan beberapa kali aku harus menguap lebar karena mengantuk sampai sudut mata ku meneteskan air mata.
Entah berapa jam aku menunggu, tapi di tengah-tengah kantuk ini, aku bisa dengan jelas melihat perubahan warna langit yang semula gelap, perlahan berubah biru tua, menandakan matahari akan terbit.
Ketika mataku yang perlahan akan menutup, pria yang sejak tadi diam menjagaku di luar mobil tiba-tiba berpaling menatapku. Memeriksa keadaanku secara berkala sembari dia berbicara di depan walkie talkie nya.
Api besar yang sepertinya membakar rumah perlahan mulai mengecil di kejauhan, berarti mereka berhasil memadamkan api.
Perasaan lega yang nyaman ini semakin membuat mataku berat.
DORR!
DORR!
Suara pistol ke dua membuat aku refleks menyentuh pintu, ingin keluar mobil tapi pria yang berjaga mengangkat tangannya agar aku tidak keluar mobil. Dia tampak waspada, siap dengan pistol di tangannya.
Apa keadaan semakin buruk??
Namun, kebingunganku semakin bertambah ketika dari kejauhan aku bisa melihat dua orang yang memakai seragam serba hitam seperti Bayu berjalan mendekat.
Aku mengenal salah satunya, dari caranya berjalan itu adalah Bayu.
Tidak lama menunggu, dua orang yang setengah berlari ketika mendekati mobil sempat bertukar kata dengan pria yang menjaga.
Lalu Bayu, dia mendekati pintu mobil untuk membukanya dan menatapku.
Aku mengerutkan kening ketika melihat Bayu yang tidak langsung bicara, tapi dia menatapku dulu dengan hembusan napas panjang. Di lihat dari raut wajahnya, ada sesuatu yang tidak beres.
“Ada apa?” Aku memberanikan diri untuk bertanya sembari bergeser untuk lebih dekat.
__ADS_1
“Aku tidak ingin melibatkanmu, tapi keadaannya semakin kacau gara-gara ledakan tadi.” Dia menggerutu pelan. Kerutan di keningku semakin dalam.
“Kenapa?”
Sebelum menjawab, Bayu melirik ke pria yang tadi datang bersamanya dan pria itu memberikan rompi anti peluru pada Bayu. Aku tidak sadar dari mana pria itu mendapatkannya.
“Dia… wanita bernama Cilia.”
“Hm?”
“Mengancam akan meledakkan bom di tiga rumah yang berdekatan kalau aku tidak membawamu ke sana untuk mengobrol dengannya.”
“Hah? Aku?” Bayu mengangguk sembari membantuku memasang rompi anti peluru.
“Kita tidak punya pilihan karena area tanah di sini yang pernah terjadi longsor sebelumnya lebih rapuh kalau harus di ledakkan bom. Kalau itu semua terjadi, kemungkinan besar longsor akan terjadi dari atas gunung sana.” Penjelasannya terdengar lembut di telingaku.
Mataku mencari gunung yang di maksud Bayu, dan aku harus bergumam pelan karena baru menyadari ada gunung kecil di depan kami yang terlihat gelap dan menyeramkan. Sepertinya kantuk yang aku rasakan tidak membuatku fokus.
“Jadi, kamu mau membantu kami, ‘kan?” tanya Bayu setelah memakaikan rompi padaku.
Aku tidak perlu berpikir panjang ketika menjawab, “iya. Kalau ingin mengobrol, aku akan melakukannya, tapi—”
Mataku yang menatapnya mungkin terlihat ragu saat Bayu menjawab, “ada yang mengganggu pikiranmu? Katakan saja.”
Tanganku terkepal karena memikirkan kalau Wendy dan lab Asura yang melakukan hal-hal ini adalah salah satu dari keluarga ibuku. Aku tidak ingin membuat Bayu malu di depan rekan kerjanya.
“Tidak.” Akhirnya aku hanya bisa menahannya di ujung lidah. Lebih baik aku fokus dengan yang ada di depan sekarang.
“Kamu enggak usah takut karena nanti aku akan ada di sampingmu. Penembak jitu juga sudah siap di tempat masing-masing dan beberapa orang sedang mencari bom itu untuk di jinakan.”
“dan tugasku untuk mengulur waktu sampai kalian menemukan bom nya.” Mata Bayu melengkung, dia tersenyum di balik maskernya, sembari mengangguk dan mengusap kepalaku.
Kemudian tangan Bayu meraih tanganku, mengajakku untuk keluar dari mobil.
Aku bisa merasakan tangannya yang dingin dan berkeringat, tapi melihatnya yang tenang di hadapanku, benar-benar membuatku kagum. Karena dia menyembunyikan kegugupannya, langkahku jadi semakin ringan ketika mengikutinya.
...
..
__ADS_1
.