
...
Kejadian tentang di mall diberitakan besar-besaran dan sering kali menjadi headline disetiap surat kabar. Untungnya di sana tidak ada berita mengenai aku, Bayu maupun anggota timnya. Di beritanya hanya melibatkan nama penjahat dan polisi saja, juga tidak ada nama Rey disebutkan di sana.
Aku sudah menduga, segala sesuatu tentang Rey pasti masih di rahasiakan. Kejadian di rumah sakit beberapa minggu lalu pun tidak terberitakan nama Rey. Sekarang aku mengetahui seperti apa pekerjaan Bayu, selama ini aku selalu menghindar jika Bayu ingin menceritakannya.
Saat itu aku sudah memiliki feeling jika pekerjaan Bayu adalah sesuatu yang istimewa. Pekerjaan yang beresiko
tinggi tentu saja. Aku tidak berharap terlibat dengan salah satu pekerjaannya tapi entah mengapa aku bersyukur sempat terlibat agar hatiku bisa menerimanya perlahan.
Aku bukannya tidak suka dengan pekerjaannya. Tapi resiko yang sangat tinggi membuat hatiku tidak siap untuk
kehilangannya. Aku lebih memilih kabur dari pada menghadapi rasa takut ini. Namun sejak di mall itu, perlahan aku mulai mengerti dan ingin ada di sampingnya dalam keadaan apapun.
.
..
…
Hari-hariku berjalan seperti biasanya, berangkat pagi-pagi, pulang larut malam sepulang kuliah. Kemudian tidur dan besoknya seperti itu lagi terulang. Selama dua minggu ini aku belum bertemu Bayu, kami saling bertukar kabar di pesan saja. Terkadang jika Bayu sedang tidak sibuk dia menelponku di malam hari.
Selama itu pula ibu atau Daniel jarang menghubungiku. Karena terlarut dengan kesibukan keseharianku, aku tidak
menyadari selama dua minggu mereka berdua tidak ada yang menghubungi kecuali rekan-rekan kerja, Bayu dan beberapa teman sekolahku dulu yang memang sering bertukar cerita meski lewat pesan.
Aku menduga saat pengacara yang mengurus penjualan tanah yang di wariskan bibi Rose padaku di proses, ibu pasti sudah mengomeliku dan protes tapi ibu belum menghubungiku.
Saat ini, di minggu sore aku yang sedang bersama teman lamaku sengaja ingin bertemu dan mengobrol di tempat biasa dulu kami sering main.
Kafe ini hanya menyediakan cemilan dan minuman. Free wifi dan permainan yang bisa di pinjam dari meja kasir seperti Jenga, kartu Uno, kartu Remi bahkan papan monopoli.
__ADS_1
“Kesha masih ada di luar kota. Dia sebentar lagi akan bertunangan jadi dia tidak akan ikut reuni.” Bela, temanku
di SMA ini sedang serius memilih balok Jenga di hadapan kami untuk dia Tarik keluar.
Mengingat Kesha, gadis itu menjadi teman sebangku ku dulu. Karena pekerjaannya di luar kota dia jarang pulang ke kota ini. Biasanya kami berempat sering berkumpul tapi sekarang hanya ada aku dan Bela. Satu lagi Mia, gadis itu sudah menikah setelah lulus SMA dan baru saja melahirkan anak pertamanya tiga tahun lalu.
“Aku sudah menduganya. Bukankah Kesha sudah bertemu dengan orang tua pacarnya itu? Dia juga upload foto
keluarganya dan pacarnya ada di antara mereka.”
Bela sudah menarik balok Jenga dari tengah dan meletakkannya di paling atas balok untuk menyusun kembali bangunan Jenga. Sekarang giliranku memilih balok ini.
“Teman-teman SMA kita sudah banyak yang menikah. Mia juga selalu bertanya kapan kita menikah.” Bela tertawa
memikirkan Mia yang memang sering bertanya lewat pesan di grup chat kami berempat.
“Eh tapi tadinya Mia mau bergabung bersama kita, tapi tidak jadi karena suaminya belum pulang.” Ucapku masih belum memilih balok mana yang harus aku tarik.
“Tapi dia, Faisal menurutku suami yang pengertian. Dia mengijinkan Mia main bersama kita meskipun dia harus membawa anaknya juga.” Aku mengangguk menyetujui ucapan Bela. Faisal juga teman SMA kami namun beda kelas, mereka berdua sudah pacaran sejak sekolah.
Aku sudah menarik balok Jenga, menyusunnya di atas dan menatap temanku ini. “No! Sebenarnya dia hanya ingin
mentraktirku saja. Ingin mencari teman mengobrol. Engga mungkinlah aku sama dia, dia itu udah punya calon istri, sebentar lagi mau menikah.”
Bela tersenyum tidak percaya padaku. Pertanyaannya itu mengingatkanku pada lelaki bernama Irsyad yang berbeda bagian denganku. Terakhir kali dia mengajakku makan malam sudah tiga bulan lalu, banyak gosip mengatakan kami pacaran tapi sebenarnya Irsyad hanya mengobrol denganku, dia banyak bercerita tentang calon istrinya itu yang ada di kota asalnya.
Memang sih awalnya lelaki itu mendekatiku katanya ingin dekat, memberikan coklat pula di hari valentine. Sejak saat itu rekan-rekan kerjaku bergosip dan menduga kami pacaran. Tapi lama kelamaan kami justru menjadi teman mengobrol di luar jam kerja meskipun saat di perusahaan kami jarang sekali mengobrol atau bahkan menyapa.
Ngomong-ngomong soal Irsyad, sudah tiga bulan lebih ini dia tidak mengajakku makan malam. Dia yang selalu membayar makanannya, jadi kenapa harus menolak ‘kan untuk memakan makanan enak.
“Really? Jangan sampai tiba-tiba kau membawa undangan pernikahan bersamanya. Nah nanti tinggal aku saja yang masih sendiri.”
Aku terkekeh pelan, memang aku belum menceritakan soal Bayu pada teman-temanku ini. Mereka sebenarnya mengenal Bayu ketika dulu kami pacaran, Bayu sempat berkenalan dengan temanku ini.
“Sebenarnya pernikahan itu masih jauh terbayangkan. Kami masih ingin menikmati kebebasan yang seperti ini.”
__ADS_1
“Kami??! Kau pasti menyembunyikan sesuatu!” Pekikan Bela menyadarkanku bahwa aku salah menggunakan kata.
“Aku bukannya ingin menyembunyikan. Hanya saja—“
“Siapa dia?! Seperti apa dia?! Bagaimana kalian bisa bersama?” Bela memotong ucapanku. Kami jadi melupakan permainan Jenga yang sudah tersusun tinggi di atas meja.
Aku menatap Bela sebentar sebelum menjawab. “Bayu. Kamu pasti mengenalnya.”
“Bayu? Mantanmu itu? Cinta lama bersemi kembali?”
“Ceritanya panjang dan sedikit rumit.” Jawabku. Bela dan teman-temanku itu memang tidak tahu mengenai masalah awal kami putus. Mereka hanya tahu bahwa aku memutuskan Bayu dulu.
Untungnya saat Bela hendak menanyaiku lagi, ponselku di atas meja bergetar. Nama Bayu tertera di sana.
Bela mendengus sebal padaku namun membiarkanku menjawab telpon Bayu.
“Halo.”
“Rindu padaku?”
“Apa?” Aku hampir tersedak mendengar Bayu tiba-tiba bertanya seperti itu tanpa menjawab sapaanku.
“Hehehe. Aku ada waktu bebas hanya sebentar sampai malam ini. Tidakkah kamu bersemangat kita akan bertemu?”
“Ya ampun apa sebenarnya yang terjadi padamu?” Aku menggeleng tidak percaya dengan apa yang aku dengar ini.
“Sepertinya aku jadi gila karena terlalu merindukanmu.” Gumam nya membuat jantungku berdetak cepat. Aku jadi menyetuh pipiku yang terasa hangat. Dari ujung mataku, aku bisa melihat Bela yang sedang menatapku penasaran.
“Kirimkan alamatmu. Aku datang satu jam lagi.”
”Oke.” Setelah menjawabnya, aku memutuskan sambungan telpon. Namun tiba-tiba terpikir olehku, Bagaimana bisa Bayu tahu aku sedang ada di luar? Aku belum mengatakan apapun padanya tentang pertemuanku bersama Bela.
__ADS_1
...