EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 144


__ADS_3

...


 


 


 


“Apa lagi? Aku sudah mengatakan semuanya.”


“Dengan kau yang pergi begitu saja, berarti kau menganggap leluconmu tadi sungguhan? Jangan sampai kamu terobsesi kalau cucu tetua adalah pacarmu! Aku, adalah orang yang di undang langsung olehnya!” Sandra masih *keukeu*h dengan ucapannya.


Aku tidak tahu dari mana asal kepercayaan dirinya ini. Semua yang di gosipkan tidak ada buktinya. “Coba sekali-kali dengarkan bagaimana kau berbicara. Konyol sekali dan tidak ada bukti apapun! Mau aku kenal dengan cucu tetua, anggota phonex atau bahkan dokter Stefan, semuanya adalah urusanku! Seseorang yang tiba-tiba datang memaksa kehendaknya dan tidak punya bukti untuk ucapannya adalah orang yang ceroboh dan bodoh!”


“KAU!!” Sandra berdiri, menunjuk padaku dengan amarah.


“Kita semua yang datang ke sini adalah orang terpelajar ‘kan?” Aku bertanya menatap ke sekeliling, orang-orang yang memperhatikanku terdiam tidak menjawab.


“Jika kau bahkan tidak mengerti apa yang aku sampaikan, kau harus pulang dan belajar lagi. Komunikan, komunikator, feedback dan media adalah unsur komunikasi yang harus ada untuk membuat percakapan lancar. Setidaknya kamu harus mengerti itu di kepalamu!”


“Kau berani mengajariku?!” Sandra membentakku. Aku tersenyum kecil, orang tipe dia memang tidak ada habisnya.


“Komunikan adalah orang yang menerima pesan, komunikator adalah orang yang mengirim pesan. Lalu feedback adalah tanggapan yang di berikan dan media adalah alat dalam berkomunikasi. Kau yang datang ke sini menemuiku hanya komunikator, kau tidak mengerti feedback yang aku berikan dan kau tidak menyertakan media untuk ucapanmu itu. Jadi, percakapan kita tidak akan pernah lancar!”


Terdengar suara tawa beberapa orang di sekelilingku. Wajah Sandra semakin merah padam karena menahan amarah. Putri Larasati memberikan senyum lebar padaku, wanita itu tampak puas sekali.


 


“Kau sombong sekali Putri Nataremy!! Kau pikir aku ini bodoh dengan mengajariku hal-hal itu?! Ingat! Orang-orang di sini adalah anggota dari kemiliteran yang—“


“Aku yang di undang ke sini hanya seorang dari fakultas manajemen bisnis, aku tidak perlu jadi orang lain ‘kan? Lagipula, apa yang tadi aku katakan adalah hal dasar bahkan tanpa masuk ke suatu fakultas pun, manusia harus mengerti bagaimana cara kerja komunikasi.”


Setelah mengatakan semua itu, aku melepaskan cengkraman tangan Sandra yang menahanku tadi lalu berjalan penuh percaya diri masuk ke dalam vila. Orang-orang masih melihatku tapi aku tidak peduli! Yang jelas sekarang aku merasa mengantuk dan lelah. Pagi ini benar-benar terasa sangat panjang bagiku.


 


 


***


 

__ADS_1


 


Mataku terbuka perlahan karena sejak tadi telingaku mendengar suara ribut-ribut. Meski jam tidurku berkurang, tapi sekarang aku merasa tubuhku lebih segar.


Udara dingin puncak masih terasa menyentuh kulitku meskipun kini aku bergelung di bawah selimut tebal.


Tanganku terangkat ke atas meja untuk mengambil ponselku. Menyalakan layarnya untuk melihat jam yang menunjukkan pukul sepuluh.


“Putri, kau sudah bangun?” Itu suara Putri Larasati.


“Hmm... Ada apa ribut-ribut di bawah?” Tanyaku terdengar serak sembari bangkit duduk.


Selain Putri, aku melihat dua wanita lain yang sekamar dengan kami duduk menatapku. Ketiga wanita ini tampak sudah rapih dengan pakaian formal mereka meskipun bukan pakaian yang berhubungan dengan tentara.


“Baru saja di beritahu kalau jam dua belas nanti kita akan menghadiri acara penutupan, di sana akan ada hiburan, hadiah dan sekalian makan siang. Semua orang sedang bersiap.” Itu jawaban dari wanita dengan kulit lebih gelap di antara kami berempat.


Aku mengangguk mengerti, telapak kakiku menyentuh lantai kayu kamar ini yang terasa dingin. Mataku tidak sengaja melirik baskom kecil di kaki ranjang. Aku mengernyit tidak ingat baskom dan handuk itu, seingatku setelah pelayan memberi air es untuk mengompres kakiku, aku sudah mengembalikannya.


“Itu tadi dokter Stefan datang ke sini sekitar satu jam yang lalu. Katanya kau sedikit demam dan meminta pelayan untuk mengambil air hangat dan handuk lalu mengompres dan menjagamu sekitar lima belas menit.” Putri menjawab kebingunganku. Refleks aku menyentuh keningku, benar itu terasa hangat.


“Orang-orang di luar jadi makin gila karena kedatangan dokter Stefan jadi kami menutup pintu kamarnya. Jangan heran kalau nanti kau keluar kamar, mereka akan menatapmu atau berbisik-bisik di belakangmu.” Putri melanjutkan.


Aku menghela napas pelan dan mengangguk. “Terima kasih. Aku akan mandi dulu.”


.


..



Aku sudah bersiap dengan memakai kaos bermotif tentara hijau lumut pemberian Bayu, celana jins dan blazer panjang selutut yang menghangatkan tubuhku.


Sekarang aku sudah menata rambut hitam panjang sepunggungku menjadi ikat kuda, memakai anting dan kalung berwarna perak, tidak lupa aku juga memakai make up.


Eyeshadow, eyeliner, mascara, BB cream, bedak, liptint di padukan dengan lipstick dan sedikit blush on serta meratakan alisku sedikit.


Aku juga sudah membereskan semua barang yang aku bawa di paper bag mengingat aku memang tidak membawa banyak barang.


Kemudian pintu terbuka dari luar, memunculkan wajah Putri Larasati. “Ayo berangkat.”


Aku mengangguk dan segera memaki sentuhan terakhir, high heels hitam 5 cm milikku. Melihat wanita lain sekilas, bahkan ada dari mereka yang memakai heels 10 cm.

__ADS_1


 


 


 


Tempat di adakannya acara penutupan berada tidak jauh dari vila laki-laki. Kami para wanita berangkat bersama-sama, melihat vila laki-laki yang kosong berarti mereka sudah lebih berangkat lebih dulu.


Aku tahu dan dengar beberapa kali wanita lain terutama yang di undang ke sini bukan dari kemiliteran melirikku dan berbisik-bisik. Terlebih Sandra memperlihatkan sikap kesalnya padaku, dia selalu mendelik padaku saat pandangan mata kami tidak sengaja bertemu.


Dengan sikapnya yang seperti itu justru membuatku merasa konyol. Bahkan belum dua puluh empat jam aku berada di tempat ini tapi aku sudah punya musuh.


 


 


 


Gedung aula yang di pakai untuk acara terlihat sangat besar, aku tidak menyangka ada vila seperti ini di puncak. Semuanya terlihat berdandan rapih dan cantik.


Ada banyak penjagaan di gedung ini lebih dari yang aku kira, pria-pria berpakaian rapih berkeliaran di sekitar gedung aula.


Aku berjalan paling belakang bersama Putri, wanita ini terlihat manis dengan blazer pendek dan rok selututnya. Rambutnya yang pendek terlihat tersisir rapih, dia juga memakai anting-anting dan make up, meskipun Putri Larasati memakai sepatu, tapi itu terlihat cocok untuknya.


“Aku akan mengenalkanmu pada pacarku!” Dia bersemangat menarikku segera masuk ke dalam gedung.


Ketika di ambang pintu, pandanganku menangkap sosok lelaki tegap yang berjalan dari ujung lorong kiriku. Aku menghentikan langkahku dan tersenyum melihat siapa yang datang.


Bayu sudah rapih dengan celana jins birunya, kemeja kotak-kotak biru di padukan dengan jas hitamnya.


“Aku akan menyusulmu nanti.” Kataku pamit pada Putri. Dia mengangguk dan pergi begitu saja dari hadapanku.


 


Bayu tersenyum begitu aku meliriknya lagi. Aku merasakan rasa rindu yang membuncah dalam diriku begitu melihatnya padahal kami bertemu lima jam yang lalu.


Kakiku yang memakai heels membawaku mendekati lelaki ini tanpa hambatan.


 


 

__ADS_1


 



__ADS_2