EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 294


__ADS_3

...


 


 


 


 


Aku hendak mengambilnya tapi pria ini sudah ada di depanku, bahkan sebelum aku menyentuh benda itu. Dia berkata kecil, “maaf.”


 


 


Menunduk dan sepertinya tidak berani menatap ke depan lama-lama, dia melewatiku. Aku bisa melihat wajahnya tampak pucat. Mungkin saja karena dia berlari-lari untuk mengejar bus?


 


 


Mataku terus menatap pergerakannya, Pria itu duduk tiga baris di belakangku, kursi yang masih kosong.


 


 


Aku kembali membenarkan posisi dudukku agar menghadap ke depan dan memutuskan untuk menatap ke luar jendela. Kota yang ramai ini, aku jadi kepikiran bagaimana rasanya tinggal berdua dengan Bayu di tempat asing.


 


 


Otakku mulai memilih kegiatan yang harus kami lakukan berdua. Aku akan mengantarnya saat dia berangkat kerja dan menyambutnya ketika dia pulang.


 


 


Aku pasti akan memintanya untuk menemani ke pasar, lalu kami akan gantian membereskan tempat tinggal kami nantinya, aku memasak dan Bayu yang mencuci piring, atau aku akan mencuci baju dan dia yang menjemurnya. Kami akan saling berteriak-teriak panik ketika lupa mengangkat baju saat hujan turun. Haha!


 


 


Selain itu Bayu pasti akan kaget nantinya kalau tahu ada rambut rontok yang mungkin berserakan di lantai. Tentu saja sebagai seorang wanita, rambut rontok hal wajar dan tidak bisa di hindari, terlebih lagi memiliki rambut panjang.


 


 


Hah! Memikirkan semua itu, membuatku entah mengapa merasa sangat bahagia.


 


 


Inilah kebahagiaan sederhana yang aku nantikan. Hidup berdua dengannya. Menghabiskan waktu dengan hal-hal sepele, bertemu setiap hari, ketika kami berbicara mata kami akan bertemu dan saling menatap, lalu aku bisa mendekapnya, memeluknya dan menci—


 


 


 


 


 


 


 


 


BRAAAKKKK!


 


 


 


 


Aku merasa pusing. Pandanganku berputar dan suara jeritan menggema di sekitarku. Tubuhku miring ke kiri dan aku merasakan lengan kiriku menabrak sesuatu.


 


 


 


 

__ADS_1


Aku mengerang pelan saat menyadari posisiku sekarang sudah jatuh di bawah, tengah-tengah kursi antara baris kanan dan kiri. Namun nyatanya bukan cuma hanya aku yang jatuh, sebagian penumpang lain yang juga duduk di baris yang sama denganku jatuh, menimpa satu sama lain. Karena aku duduk sendiri, aku beruntung tidak menyakiti orang lain dengan beban tubuhku, tapi hasilnya lenganku sendiri yang sakit.


 


 


“Ada apa ini?!” Suara panik seorang pria dari kursi depanku terdengar keras. Pria paruh baya itu menatap kesal ke belakang dan dia terdiam melihat keluar bus.


 


 


“Apa semuanya terluka? Baik-baik saja?” Teriakan suara sopir bus mendapat kecaman dan kekesalan dari penumpang. Aku segera berdiri dan bersyukur karena tidak terluka serius, hanya lengan kiriku sepertinya memar.


 


 


“Pak sopir, sepertinya ada mobil yang menabrak busnya.” Kata pria paruh baya yang duduk di kursi depanku ini. Refleks hampir semua penumpang berebut melihat ke jendela sisi kanan bus.


 


 


Sebuah mobil pickup hitam yang membawa tumpukan ban mobil di tutup terpal biru, menabrak sisi kanan bus bagian belakang hingga membuat kap mobil depannya penyok. Pantas saja aku sampai jatuh dari kursi, namun beruntung sekali bus tidak sampai terguling.


 


 


Kecelakaan ini terjadi di tengah lampu merah. Orang-orang berhenti untuk melihat kami, jalan yang mendapat giliran lampu hijau tidak bergerak karena bus yang menghalangi jalan mereka.


 


 


Lalu aku melirik ke bagian belakang bus, tempat mobil pickup itu menabrak. Penumpang di kursi belakang tampak ribut-ribut karena beberapa orang ada yang terluka.


 


 


“Ada yang bawa obat luka?” Teriakkan dari belakang mengingatkanku kalau Aku membawa betadine, kapas, alkohol, plester dan kassa di dalam koper.


 


 


“Aku bawa.” Jawabku mengangkat tangan, refleks semua orang menatapku.


 


 


 


 


Sopir bus menyetujui usulku seolah memberi aba-aba pada semua penumpang untuk turun. Begitu kami turun, ternyata sudah banyak orang yang mengerubuni bus dan mobil pickup yang menabrak, seorang polisi lalu lintas berusaha memastikan agar penonton tidak terlalu dekat.


 


 


Dalam sekejap, jalanan macet, terdengar suara klakson di mana-mana, lalu kami semua, penumpang bus di arahkan untuk menunggu di pinggir jalan, menunggu apa harus ganti bus atau bus ini bisa lanjut di gunakan.


 


 


Sebagian penumpang sibuk menelpon, mengabari orang terdekat mereka. Aku juga ingin mengabari ayah atau Bayu atau bunda, tapi penumpang yang tadi bertanya tentang obat luka membuatku sadar kalau aku harus segera mengambilnya di dalam koper.


 


 


Sopir bus membiarkan bagasi terbuka, hampir semua penumpang segera mengambil barang mereka. Aku dengan cepat menarik keluar koper putih yang di bawa, melangkah cepat menghampiri penumpang bus yang kepala dan tangannya terluka.


 


 


“Semuanya tolong tunggu, jangan kemana-mana, aku sudah menelpon ambulan.” Kata pak Polisi menghampiri kami.


 


 


Aku yang sedang mengobati gadis remaja yang terluka di tangannya segera mendongak menatap polisi paruh baya itu.


 


 


“Pak polisi!! Sepertinya bapak harus menelpon pemadam kebakaran juga!” Teriak panik pria yang aku ingat jadi salah satu penumpang bus. Dia berlari menghampiri kami dan menunjuk ke belakangnya, ke arah bawah mobil pickup.

__ADS_1


 


 


“Aku mengintip dari kapnya yang terbuka, sepertinya aki nya akan meledak.” semua orang jadi panik mendengar penuturan pria itu.


 


 


Tanpa perlu di suruh pun, orang-orang berlari menjauh dan menakuti orang lain yang menonton. Hal yang sama terjadi padaku, dengan cepat menarik koper, membawa kantung obat luka yang tersisa, hendak berlari namun gadis yang tadi sedang aku obati bergerak lambat.


 


 


Tangan kiriku menggenggam erat pegangan koper dan tangan kananku menariknya untuk berdiri, orang-orang yang panik berlari membuatku juga ikut panik. Untungnya gadis yang aku tuntun ini mau bekerja sama dan kami pun berusaha berlari menjauhi bus dan mobil pickup.


 


 


 


 


 


 


 


 


“Kak Icha!”


 


 


 


 


Aku tersentak kaget, berhenti melangkah begitu mendengar suara seorang wanita dari belakangku, arah bus dan mobil itu.


 


 


“KAK ICHA!!!” Suaranya semakin jelas, dengan cepat aku menoleh ke belakang, mengawasi orang-orang yang sudah menjauh dari dua mobil itu. Jika di perhatikan, hanya aku dan gadis di sampingku ini yang masih dekat dengan mobil pickup.


 


 


Polisi tadi dan beberapa orang pria sedang menggotong pria paruh baya yang terluka dari mobil pickup. Pasti pria itu supir yang menabrak bus.


 


 


Aku tidak menemukan apapun, di lihat ke jendela bus pun tampak kosong. Apa aku berhalusinasi? Tapi suara panggilannya yang tertahan tadi sepertinya sangat familiar, pernah aku dengar.


 


 


Baru saja aku hendak berbalik, kembali berlari kecil menjauhi mobil pickup, suara ketukan yang tertahan menghentikan langkahku.


 


 


Gadis yang aku tuntun memaksaku untuk berjalan cepat, tapi firasatku mengatakan suara wanita tadi itu nyata, bukan halusinasi akibat benturan kecil tadi.


 


 


“Kak Icha tolong!!! Gia di dalam sini!!!”


 


 


 


 


***


 


 

__ADS_1


__ADS_2