
...
“A—aku menyayangi Icha! Kau ini bicara apa!”
“Halah kau memang selalu seperti ini mas! Sejak kamu berselingkuh dulu, anak itu sakit-sakitan. Itu karena dia menanggung dosa orang tuanya. Harusnya kau pikir sampai sana!”
“Kamu keterlaluan! Untung dulu aku menceraikanmu! Selain sifat jelekmu yang seperti ini aku tahu jika kau memperlakukan Icha seperti mesin uang selama ini. Memangnya aku tidak tahu kalau Icha bisa mendapatkan warisan bibinya karena kamu tidak menganggapnya anak lagi setelah kita bercerai! Dasar munafik!”
“Mas—kamu!!”
“Bu, pak. Sudah sampai.”
Itu suara pria lain, aku menarik napas dalam tersadar dengan keterdiamanku setelah mendengar suara itu. Bahkan
untuk bernapas saja rasanya sangat sakit. Seolah beban yang lebih berat dua kali lipat dari sebelumnya menghimpit rongga dadaku.
Entah sejak kapan aku sudah menangis dalam diam, air mata ini seolah tidak berhenti menetes membasahi pipiku, di tambah tenggorokkanku sangat sakit.
“Pak, tolong tinggalkan kami sebentar di sini. Nanti saya bayar dua kali lipat!” Itu suara tegas ibu lagi. Tak lama aku mendengar seperti suara pintu mobil tertutup.
Ingin menjauhkan ponsel dan mematikan sambungan telpon tapi aku tidak bisa, aku masih ingin mendengar semuanya meskipun mungkin akan membuat hatiku hancur berkeping-keping.
“Saya juga bisa bayar biaya taksi ini tiga kali lipat! Ga usah sombong kamu!”
“Kamu yakin mas bisa membayarnya? Bukannya tadi kamu ke rumah Icha untuk mencari sertifikat tanah dan rumahnya serta warisan-warisan dari bibinya?”
“Heh! Kamu jangan menuduh saya sembarangan! Saya bisa melaporkan kamu ke polisi karena pencemaran nama baik!”
“Nama baik? Hahah kamu lucu ya mas. Sejak kapan kamu punya nama baik? Nama kamu itu udah ga ada, udah jelek! Memang polisi percaya sama mas? Yang ada mereka bakalan tangkap mas karena pencurian.”
“Tersarah kamu mau ngomong apa! Yang jelas Icha pasti mau ikut sama saya melihat bagaimana tingkah laku ibunya yang seperti ini. Dia pasti merindukan saya! Meskipun dia mungkin ga akan tinggal sama saya, dia pasti mau membantu ayahnya!”
“Heh mas jangan mimpi! Kamu ga kenal Icha! Memang dia percaya gitu aja sama kamu? Di kening mas itu udah ada tulisannya kalau mas datang ke Icha setelah sembilan belas tahun karena uang.”
__ADS_1
“Saya ga peduli. Yang penting saya bisa menyelamatkan bisnis dan mengobati anak saya ke amerika! Kalau kamu beritahu Icha soal ini, saya akan mengatakan semuanya pada anak itu kalau kamu udah ambil sertifikat tanahnya yang ada di Bali dan sekarang lagi proses kamu jual. Iya ‘kan?”
“Mas kamu mengawasi saya selama ini?!”
Pandangan mataku sudah penuh dengan air mata. Bagaimana Ibu dan Ayah bertengkar karena memperebutkan warisan bibi membuatku merasa tidak di cintai oleh mereka. Semua hal-hal baik yang sempat terlintas di pikiranku hilang begitu saja.
Aku tidak bisa lagi mendengarnya, aku melempar ponsel itu ke atas kasur. Dadaku sakit sekali!
Aku merindukan bibi.
Aku ingin bercerita padanya.
Aku ingin mendapatkan pelukannya.
Aku ingin merasakan coklat panas buatannya, atau aku ingin mencium wangi tubuhnya yang selalu tercium segar.
Akhirnya aku terisak pelan menyadari betapa bodohnya aku sampai kehilangan hal berharga seperti itu. Mungkin bibi akan kecewa padaku.
Memikirkan wajah dan ekpresi kecewa bibi Rose membuat dadaku semakin sakit. Aku ingin berhenti menangis dan mulai melakukan sesuatu untuk menyelamatkan tanah itu tapi tidak bisa!
Rasanya seperti sudah lama sekali aku tidak menangis seperti ini hingga aku melupakan Bayu yang sudah membuka pintu kamar.
Pipiku sudah basah dan tidak henti-hentinya air mataku menetes meskipun pandangan kami bertemu. Pandanganku yang terlihat samar, melihat Bayu berjalan cepat menghampiriku. Lelaki ini memegang kedua bahuku sembari bertanya padaku.
Aku tidak peduli, aku masih menangis sesegukan di hadapannya sembari mendongak menatapnya. Aku ingin menatap lensa mata hitamnya. Aku ingin melihat kilauan kekhawatiran dan kasih sayang yang hanya untukku.
Beberapa kali jari dan tangan milik Bayu menghapus air mata ini, menghapus pipiku yang sudah basah sejak tadi.
Meskipun aku masih belum menjawabnya, tapi dengan sabar Bayu berusaha menenangkanku. Mengusap puncak kepalaku.
Menungguku berbicara.
__ADS_1
Aku menarik ujung bajunya yang di jawabnya cepat dengan gumaman pelan seolah dia sudah siap. Seolah dia akan mengabulkan semua permintaanku.
“Wa—warisan dari bibi Rose, tanah yang ada di Bali. Tanah itu sedang proses jual. Aku tidak mengerti hal seperti ini. Apa yang harus aku lakukan untuk mencegahnya?”
“Tanah itu di wariskan padamu?” Aku mengangguk cepat meskipun aku masih bisa merasakan air mata ini semakin banyak menetes melewati rahangku.
“Kamu punya kontak pengacara yang mengurus warisan itu?” Sekali lagi aku mengangguk, sebenarnya aku tidak ada tenaga untuk menjawabnya. Seluruh energiku menguap bersama tangisan ini. Meskipun sudah menangis tapi hatiku masih terasa sakit, tidak lebih baik.
Bayu segera mengambil ponsel yang tadi sempat aku lempar ke atas kasur dan menyerahkannya padaku. Lalu aku
melihatnya menghubungi seseorang dengan pandangan yang tidak lepas dari wajahku.
Aku sudah berusaha cepat untuk mencari nama pengacara itu. Pak Seno yang sempat aku temui kemarin lusa.
“Yaa.. Dengan alasan apapun tidak akan sah tanpa persetujuan langsung pemiliknya. Jika perlu bawa masalahnya ke pengadilan.”
Aku cukup terkejut mendengar suara Bayu yang sedang berbicara dengan orang lain di telpon. Ketika pandangan kami bertemu, Bayu masih tidak mengalihkan pandangannya sejak tadi. Tangan kanannya yang bebas terangkat lalu mengusap kedua pipiku yang basah berkali-kali. Entah mengapa perlakuannya membuatku semakin terisak kencang.
Perasaan merindukan sebuah perhatian membuncah dalam rongga dadaku. Selama ini, di rumah ini aku sendirian.
Selama ini aku juga dengan jahatnya meninggalkan Bayu.
Selama ini aku masih sangat menyayanginya, terlebih ternyata tanpa sadar hatiku sangat membutuhkannya.
Sudah lama sekali aku tidak melihat tatapan khawatirannya, tatapan kasih sayangnya seperti ini atau tatapan lembutnya saat dia menepuk-nepuk puncak kepalaku.
Bayu tidak banyak bicara saat dia sudah selesai berbicara dengan ponselnya lalu ia mengambil ponselku untuk
menghubungi Pak Seno. Sebelum mereka berbicara tangannya menarikku untuk duduk di pinggir ranjang tempat tidurku sementara dia masih berdiri di hadapanku tanpa melepaskan tatapannya, seolah aku akan menghilang dari hadapannya ketika dia berkedip.
Pikiranku sedang tidak bisa menanggapi dengan jelas pembicaraan Bayu dengan pak Seno. Aku hanya bisa menatap kedua kakiku dalam diam, sekarang aku tidak lagi menangis sesegukan, hanya saja kedua mataku tetap mengeluarkan air mata dan pipiku masih basah.
...
__ADS_1