
...
“Kau benar-benar keren, kau tahu? Aku belum pernah melihat wanita lain sekeren kamu.” Bayu tersenyum kecil dengan wajah seriusnya. Selama ini Aku jarang sekali melihat ekspresi yang satu ini darinya. Terakhir dia tersenyum dengan wajah seriusnya ini ketika masa SMA kami. Saat dia melihat hasil gambarku untuk pertama kali.
“Yaay! Aku akan terus melakukannya~!”
“Ya, lakukan yang terbaik. Aku juga tidak akan kalah dari mu dan akan berusaha lebih keras lagi.” Jawabnya dengan sorot mata membara penuh semangat.
Aku tertawa kecil dan menggeleng pelan. “Tapi ngomong-ngomong, kamu tahu tentang pertunanganku lagi sejak kemarin ‘kan? Aku enggak lihat kamu cemburu.”
“Aku cemburu kok. Aku tidak suka ide itu, terlebih kita akan segera menikah. Tapi mau gimana lagi. Wanita ku ini sangat cantik dan menawan, sulit untuk menolak pesonamu. Jadi aku memutuskan untuk cemburu yang dewasa.” Katanya terdengar tenang.
“Cemburu itu boleh tapi cemburu yang dewasa adalah cemburu yang mendengarkan dan tidak menduga secara salah. Aku masih ingat kamu pernah mengatakannya saat itu.” Aku melanjutkan.
Bayu mengangguk sembari tangannya menepuk-nepuk puncak kepalaku.
“Baiklah, ayo kita pulang.” Kataku langsung berdiri dan mengulurkan tanganku. Lelaki ini tersenyum lebar lalu menerima uluran tanganku.
***
Jam enam lewat empat puluh lima menit tadi Bayu mengantarkanku sampai rumah, seperti yang aku duga, ibu-ibu komplek yang biasa membeli sayuran bertanya-tanya melihatku yang baru pulang bersama Bayu.
Untungnya karena tangan kiriku memakai arm sling, mereka menduga kalau aku kecelakaan dan ibu RT sempat bertanya padaku sebentar.
Tidak ingin ada lagi gosip negative tentangku, aku mengatakan padanya kalau aku baru pulang dari rumah sakit karena jatuh dari tangga hingga tulang tangan kiriku ada yang bergeser.
Setelah itu, membawa Bayu pagi-pagi masuk ke rumah tidak lagi membuat orang-orang curiga. Aku memang ingin membiarkan lelaki ini untuk masuk istirahat dulu agar dia tidak kembali lagi untuk menjemputku nanti.
Dengan pintu depan yang di buka lebar, aku membiarkan Bayu duduk di sofa ruang tamu sedangkan aku akan ke kamar mandi untuk mandi dan berganti pakaian.
__ADS_1
Setelah dari kamar mandi dan berpakaian rapih, aku keluar dari kamar sembari masih mengeringkan rambutku dengan handuk dan mendapati Bayu yang terpejam bersandar di sana.
Sepertinya dia tertidur saat menungguku, dan lagi ada dua kotak makanan di atas meja, dari wanginya aku sudah menduga itu adalah bubur.
Aku duduk di sampingnya, menatap wajahnya yang sedang tertidur. Deru napasnya teratur, dia terlihat tenang.
Karena tidak ingin mengganggu, aku ingin kembali ke kamar tapi aku merasakan tangannya menahan tanganku.
“Ayo kita sarapan dulu.” Bisiknya dengan mata yang masih terpejam.
“Kamu tidurlah dulu, aku akan kembali setelah mengeringkan rambut.” Aku menjawab.
Kelopak mata lelaki ini terbuka perlahan, lensa matanya yang bulat hitam langsung melirikku. “Lukamu tidak kena air, ‘kan?”
“Tidak. Aku mandi dengan hati-hati.” Aku tersenyum kecil menjawabnya.
“Aku akan membantumu mengeringkan rambut.” Tiba-tiba Bayu berdiri sembari masih memegang pergelangan tanganku.
“Tidak tidak!” Aku menariknya untuk duduk kembali.
“Kamu sudah menjagaku di rumah sakit, setelah ini aku juga akan merepotkanmu. Jadi, lebih baik kamu tidur dulu sebentar.” Aku menepuk-nepuk lengannya.
Bayu menatapku sesaat sebelum akhirnya dia mengangguk pelan. “Tapi—“
“Hmm?” Lelaki ini terlihat ragu-ragu.
“Aku ingat wangi shampoo ini. Sejak dulu kau memakainya dan tidak pernah berubah, hm?” Bayu tersenyum kecil yang justru membuat jantungku tiba-tiba berdetak cepat. Dalam sekejap saja aku sudah gugup seperti ini.
Bayu menyelipkan tangan kanannya di antara pinggangku, menarik punggungku semakin mendekatinya. Mempersempit jarak di antara kami, dia meyibakkan rambutku dengan tangannya yang lain dan menggerakkan tangannya untuk menyentuh wajahku.
“Kau sangat cantik.” Bisiknya, menunduk dan mendekatkan bibirnya ke bibirku.
Bibirnya hangat dan padat, menempel di bibirku. Perlahan aku merasakan ketika lidahnya mulai membelai lembut garis bibirku, aku membukanya dan mulai memejamkan mata. Dengan lidah menyelinap ke mulutku, tangan kirinya menyentuh leher belakangku dan tangan kanannya membelai sisi tubuhku, meraih pinggangku.
Dia menciumku lebih keras, mengklaim respons yang dia dapatkan dariku. Kepalaku seolah melayang dan aku menghirup udara dengan tarikan napas pendek seperti ketika naik ke permukaan setiap beberapa detik sebelum menyelam lebih dalam.
Tepat saat kupikir aku tak mampu lagi bertahan atas intensitas ini, dia mengurangi tekanan dan mengisap bibir bawah ku dengan lembut. Bayu menyambar kedua pergelangan tanganku dan mengatur agar lenganku melingkari lehernya. Merespon dengan melakukan sesuatu yang telah kubayangkan lebih dari sekali, aku menyapukan kedua tanganku di rambutnya, semakin membuatnya berantakkan.
Aku merasakan bibirnya tersenyum kecil di tengah ciuman kami. Dia kembali mengisap bibir bawahku, menyapukan lidah ke permukaannya, kemudian mengulangi penjelajahannya yang saksama—membelai lidah, gigi dan bibirku.
Kini aku sudah memeluknya sangat erat, merasakan jantungnya berdetak cepat ketika tangan kananku menyentuh dadanya.
Kami mulai memperlambat intensitas ciutam ini, aku membuka mataku perlahan seiring dengan menyudahi ciuman ini. Mataku langsung bertemu dengan matanya, dia mengecup bibirku sekali lagi dan kami sama-sama tersenyum lebar setelahnya.
Hidung dan kening kami saling bersentuhan. Aku merasakan wajahku memanas dan detak jantungku yang terus berpacu. Tidak pernah terbayangkan kami akan berciuman saintim ini. Merasa malu dengan perbuatanku tadi yang juga membalas ciumannya dan bahkan membuat rambutnya berantakkan, aku menunduk dan menyembunyikan
wajahku di bahunya, masih memeluk lehernya dengan erat.
Suaratawa Bayu terdengar dan dia balas memelukku. Dia ingin mendorongku, melepaskan pelukan kami tapi aku semakin erat bersembunyi di bahunya, tidak ingin dia melihat wajahku yang memerah saat ini.
__ADS_1
.
..
…
“Tanda pengenal?”
“Biar aku saja.” Aku menahan tangan Bayu saat lelaki ini hendak mengeluarkan dompetnya ketika kami berada di pos pemeriksaan sebelum melewati gerbang besar untuk masuk ke komplek elit di hadapan kami.
Aku segera mengeluarkan dompet dan menyerahkan kartu identitas pada pria yang berdiri di sisi Bayu. Menyerahkan kartu identitasku pada mereka dan mereka berbalik untuk mengeceknya dalam pos.
“Keamanan di sini ketat sekali.” Kataku melihat lagi ke dalam komplek yang sudah ada di depan kami.
“Aku dengar di sini juga banyak rumah milik pejabat, artis terkenal dan pemilik perusahaan besar. Tak heran kalau pos penjagaannya seperti ini.” Bayu menjawabku.
“Sebenarnya apa yang mereka lakukan dengan kartu mahasiswa ku?” Tanyaku sedikit kesal karena pria yang membawa kartuku itu masih ada di dalam pos. Aku sengaja memberikan kartu mahasiswa pada mereka karena tidak ingin KTP asliku di salah gunakan.
Bayu hendak menjawab pertanyaanku, tapi pria tadi sudah keluar dan menghampiri mobil kami. “Rumah tuan Alvaro?”
Aku mengangguk kaku mendengar pertanyaan mereka. Padahal kami belum menyebutkan tujuan rumah.
“Silakan masuk.” Katanya mengembalikan kartu mahasiswaku dan berteriak menyuruh seseorang yang ada di dalam pos untuk membuka pintu gerbang.
Pintu terbuka perlahan dengan sendirinya, Bayu segera menutup kaca jendela mobil dan berkata. “Kalau sistem keamanannya gini sih sama aja seperti saat kita masuk ke kawasan rumah dinasku waktu itu.”
“Aku gugup!” Kataku mengepalkan tangan dan menarik napas dalam-dalam.
Bayu merenggangkan tangan dan lehernya yang kaku hingga terdengar bunyi Krek yang khas, dia membuatku semakin gugup. “Aku siap!”
“Jangan menakutiku!” Pekikku gugup.
__ADS_1
...