EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 197


__ADS_3

...


 


 


“Jangan berbicara tentang itu, yang penting sekarang Hanna dan tante bisa menikmati acara malam ini. Terima kasih sudah datang.”


“Sebelum keluar, aku ingin kita foto dulu. Bu, tolong foto kami berdua!” Hanna merangkul tangan kiriku, menarikku cepat ke tempat tadi aku duduk menyambut mereka.


Untuk selanjutnya kami hanya berfoto beberapa kali hingga ketukan lain menginterupsi kegiatan kami.


“Masuk.” Kataku setengah berteriak.


Seorang wanita paruh baya lain yang sebenarnya aku tunggu kehadirannya, akhirnya datang.


 


 


 


“Ibu!!” Kataku senang melihat ibu masuk bersama nenek Fina, bibi Nuri, bibi Pia, tante Yuan dan paman Ben.


 


Mereka semua ada di sini!


 


 


“Icha! Ya ampun kamu cantik sekali!” Tante Yuan berlari kecil menghampiriku, menyusul langkah ibu di depan mereka.


“Tante Yuan! Senang tante ada di sini!” Kami berdua saling berpelukan, rasanya sudah lama tidak bertemu dengan wanita ini.


“Yoo! Ternyata sudah keduluan sama yang lain! Gimana Cha? Dia minta kamu menyebutnya ibu?” Ibu bertanya padaku sembari matanya menatap tante Marisa dan Hanna.


“Hush, jangan mulai!” Nenek Fina melerai ibu yang justru di acuhkan ibu.


“Kalau begitu kami akan ke aula.” Tante Marisa pamitan padaku. Aku mengangguk.


“Udah selesai? Pura-pura enggak kenal sama kita?” Tanya ibu menghentikan langkah kedua wanita itu.


“Selamat malam.” Sapa tante Marisa mengangguk pada keluarga ibu.


“Nah kalau nyapa gini kan kenal. Jadi enggak akan di katain sombong.”


“Kamu—”


“Sudah Hanna, ayo kita pergi.” Akhirnya kedua wanita itu berhasil keluar dari ruangan meski Hanna harus di seret oleh ibunya.


Nenek Fina dan yang lain hanya menggeleng dengan sikap sewot ibu. Sedangkan aku menghela napas panjang.


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


“Selamat Icha, kamu menikah malam ini. Dadakan sekali.” Ujar bibi Pia.


“Iya, kami menerima undangannya tadi sore.” Bibi Nuri menimpali.


“Apa terjadi sesuatu, Cha?” Paman Ben bertanya.


“Tidak tidak! Memang mendadak karena ada suatu hal di keluarga Danendra.” Jawabku seketika suasana berubah canggung. Sepertinya fakta kalau aku anak kandung ayah Evano baru di ketahui oleh mereka semua belum lama.


“Icha harap tidak merepotkan kalian untuk datang karena mendadak.” Lanjutku tersenyum lebar, berusaha mencarikan suasana.


“Tidak tidak.” Mereka menjawab hampir bersamaan, kecuali ibu yang sejak tadi diam menatapku.


 


 


 


.


..



 


 


 


 


Aku mengangguk dan menatap mereka semua yang satu persatu menghilang di balik pintu. Meski ibu tidak ikut mengobrol, tapi melihatnya datang dan memperhatikanku sejak masuk, aku rasa itu cukup. Setidaknya ibu tidak mengatakan hal-hal yang menyakitiku.


Bunyi klik khas pintu tertutup terdengar. Ruangan seketika berubah sunyi, kontras dengan suara samar ribut-ribut di luar.


Aku menghembuskan napas panjang, melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh malam.


 


Lalu suara ketukan lain terdengar, diikuti dengan pintu yang terbuka menampilkan sosok bunda Kirana di ambang pintu.


 


 


“Icha.”


 


“Masuk bun.” Bunda tersenyum senang melihatku, dia masuk dan menutup pintunya perlahan.


“Cantik sekali sayang. Bagaimana? Tidak ada masalah dengan gaunnya, ‘kan?”


“Tidak tidak! Icha suka.”


“Coba bunda lihat.” Bunda memintaku untuk berputar.

__ADS_1


Aku terkekeh pelan dan berputar untuk menampilkan gaun ku ini, lalu bunda mengangguk seolah puas dengan yang di lihatnya


“Bagaimana sayang? Kamu gugup?”


“Iya bun.” Jawabku kembali duduk bersama bunda yang juga duduk di sampingku.


“Riasannya oke, tapi masih agak kurang, kamu kelihatan pucat.” Bunda mengerutkan kening menatap wajahku.


Aku tersenyum kecil dan menggeleng. Bunda memang sangat perhatian dan peka.


“Ini sudah cukup bun.”


“Ah iya bunda lupa, kamu kan baru keluar dari rumah sakit, lukanya masih belum sembuh.”


“Memang agak sakit sih bun.” Jawabku jujur.


“Kalau begitu, bunda panggil dulu dokter Stefan.” Bunda segera berdiri namun gerakkannya terhenti. Dia kembali duduk dan menatapku.


“Ko diem aja, Cha? Ada yang mengganggu pikiranmu?”


Aku menunduk sembari tersenyum kecil, senang merasakan perhatian seorang ibu. “Bukan apa-apa bun.”


“Kalau bukan apa-apa, coba cerita sama bunda.”


Aku meliriknya, berpikir sejenak dan menghembuskan napas panjang karena bunda sedang menatapku  serius.


 


 


“Hari ini banyak sekali kenyataan yang harus Icha terima. Tentang keluarga ayah Evano. Icha juga merasa ini seperti mimpi. Kebahagian yang Icha rasanya terlalu datang mendadak. Apalagi pernikahan yang di rencanakan ini. Icha hanya sedikit takut kalau ternyata semua ini mimpi, suatu saat Icha bangun dan semuanya hilang.”


“Tidak, jangan berpikir seperti itu.”


“Icha senang dengan semuanya. Keluarga ayah juga menyambut Icha dengan baik, keluarga bunda juga menerima Icha apa adanya. Kalian sangat baik sampai Icha tidak tahu harus membalas seperti apa pada kalian, benar-benar seperti mimpi.”


“Sayang, mimpi indah yaitu bunga tidur dan mimpi indah yang nyata adalah dua hal yang berbeda. Kalau bunga tidur, mereka menemani kekosongan dan datang begitu saja tanpa sebab sedangkan mimpi indah yang menjadi nyata itu karena usaha. Bunda tahu kamu mendapatkan semua ini bukan tanpa alasan. Selain takdir yang bermain,


kamu juga berusaha sampai titik ini, ‘kan? Keluarga Danendra, sejak awal kamu memang di takdirkan untuk menjadi putri Evano, tidak ada yang bisa mengubah fakta itu, selama hidup kamu ini, kamu bahkan harus melewati hal-hal yang mungkin orang lain tidak akan bisa melewatinya. Kamu bisa menjadi sosok wanita yang sukses dalam pekerjaan dan pendidikan di samping permasalahan keluarga. Itu pasti tidak mudah.” Bunda menggenggam tanganku hangat. Aku mengangguk, tenggorokkan ku sakit dan mataku tiba-tiba memanas.


“Lalu hubungan kamu dan Bayu. Kalian juga menjalaninya tidak mudah untuk sampai titik ini. Intinya, setiap orang punya kesulitan masing-masing. Bunda tahu, pasti ada saja yang iri padamu, secara terang-terangan mengatakan kalau kau beruntung. Yaa memang kamu beruntung, tapi jangan lupakan usaha apa saja yang kamu lakukan selama ini untuk mempertahankannya. Ingat saat pertama kali Bayu membawamu ke rumah, itu saat kalian SMA. Bunda tahu kalau kamu anak yang baik, Bayu pintar membaca seseorang jadi kalau Bayu mempercayaimu dan menjadikan kamu teman hidupnya, maka bunda juga akan mendukungnya.”


 


“Makasih bun udah percaya sama Icha.”


 


 


“Bunda titip Bayu. Cintai dia, sayangi dia, hormati dia dan jaga dia.” Aku tersenyum lebar dan mengangguk. Pandangan mataku buram karena air mata sudah berkumpul di pelupuk mata.


“Kakek Jeremy dan kakek Alvaro awalnya sangat gugup tentang keamanan untuk acara malam ini. mereka menyewa banyak orang untuk menjaga setiap sudut, memantau setiap CCTV dan memeriksa semuanya. Ayahmu dan ayah Rasha juga cerewet sekali, ingin semuanya sesuai rencana tapi ketegangan di wajah mereka hilang saat melihat kalian tadi. Drama singkat yang kalian mainkan di halaman benar-benar menghibur.” Aku tertawa malu mendengar ucapan bunda.


“Itu agak memalukan.”


 


 


 

__ADS_1


 


...


__ADS_2