
...
Berikutnya, suara MC dari balik pintu terdengar samar-samar memulai acara di iringi suara alunan piano. Aku masih berusaha menenangkan pikiranku saat pintu besar di hadapan kami terbuka.
Cahaya lampu menyorot yang seketika membuat dunia ku terasa lebih terang dari biasanya, alunan piano yang tadi terdengar samar sekarang bisa terdengar lebih jelas. Orang-orang yang datang ke acara ini memenuhi setiap kursi yang ada di ruangan ini.
Semuanya berdiri menyambut kedatanganku, mata mereka menatapku tapi pandangan mataku seolah terhipnotis saat menemukan sosok lelaki di depan sana berdiri tegap menunggu kehadiranku.
Bayu terlihat tampan dan gagah dengan setelan jas hitamnya dan rambutnya yang rapih. Wajahnya tersenyum lebar menyambut kedatanganku. Padahal kami bertemu beberapa jam yang lalu tapi entah mengapa wajahnya terlihat segar dan menawan seperti sudah lama aku tidak melihatnya.
Malam ini, kebahagian yang membuncah aku rasakan saat ayah Evano menemaniku berjalan di sepanjang karpet merah. Kelopak bunga bertebaran saat kami berjalan melewati para tamu undangan. Semuanya dekorasi di sini di dominasi warna putih hitam dan abu-abu.
Semuanya berlalu lebih cepat dari apa yang aku pikirkan. Pernikahan yang indah ini membawaku ke samping Bayu saat ayah menyerahkan tanganku padanya, lalu saat kami berdua berdiri saling berhadapan untuk mengucap sumpah.
Pemasangan cincin emas putih lain yang di bawakan di dua kotak beludru putih dan hitam, membuatku berpikir kalau Bayu sudah memberiku tiga perhiasan. Kami saling bertukar untuk memasangnya di jari manis tangan kiri.
Acara berjalan dengan lancar sampai pastor mengumumkan kami sudah menjadi suami istri, lalu Bayu menyingkap viel yang menutupi wajahku. Senyuman kami bertambah lebar saat aku bisa melihatnya dengan jelas. Pandangan matanya yang lembut tidak membiarkanku untuk berpaling darinya.
Wajahnya semakin dekat, tangan kanannya menyentuh pipiku dan tangan kirinya meraih pinggangku untuk lebih dekat. Saat bibirnya yang lembut menyentuh bibirku, tepuk kan meriah terdengar keras di sekeliling kami yang menambah kebahagianku kalau semua ini memang nyata.
Dia, Bayu Christ Jeremy telah menjadi suamiku.
__ADS_1
***
Dua belas lewat lima menit pagi acara masih berlanjut dengan penjamuan dessert dan obrolan santai di aula yang berbeda dari sebelumnya. Setengah dari tamu undangan yang tadi menyaksikan acara pemberkatan sudah lebih dulu kembali ke kamar mereka masing-masing.
Viel kain lace yang tadi terpasang di kepalaku sudah di lepaskan dan hanya tersisa mahkota kecil yang menghiasi rambutku. Saat kami pindah aula, Bayu segera melepaskan jas hitamnya untuk di berikan padaku, sekarang jas nya yang aku pakai tampak kebesaran. Lelaki ini juga membantuku merapihkan gaunku setiap kali aku merasa kerepotan.
Saat acara pemberkatan tadi, aku tidak begitu memperhatikan tamu yang datang, sekarang aku bisa melihat jelas siapa saja yang datang. Selain orang-orang yang di kenal oleh kedua keluarga yang sebagian tamu ada yang masih memakai setelan jas resmi militer, aku juga mengenali keluarga dari ibu, ayah Davin, Daniel, Hanna dan tante Marisa, bahkan dokter Cilia pun datang. Lalu dokter Stefan, professor Bora, Bianca dan Talia juga datang, aku sempat menanyakan kabar Lifer, Benny dan Ronald, mereka tidak bisa datang karena sedang bertugas.
Tangan kananku yang sedang memegang coklat hanga -di pesan khusus oleh Bayu-, aku juga menemukan ayah Evano sedang berbincang seru dengan orang-orang yang tampak seumuran dengannya bersama wanita itu di sampingnya.
Benar!
“Apa yang sedang kau lihat?” Pertanyaan Bayu mengalihkan pandanganku. Kami berdua sedang duduk di meja yang sama dengan dokter Stefan dan professor Bora.
“Ayah Evano, dia bisa berjalan tanpa kursi roda.” Jawabku masih memperhatikan ayah yang masih mengobrol.
“Benar! Aku juga agak kaget tadi.” Kata Bayu.
“Tapi sebelum acara di mulai, aku dengar dari tamu-tamu kalau kau akan di antar bukan oleh tuan Evano.” Dokter Stefan ikut menimpali.
Aku menatapnya heran. “Ada rumor seperti itu?”
“Yaa, sebelum di mulai mereka ribut-ribut siapa yang akan mengantarmu. Katanya sejak awal kau memang akan di antar oleh ayahmu karena tuan Evano memakai kursi roda. Namun mereka semua kaget melihatnya bisa berjalan tanpa kursi roda.” Sambung prof Bora.
“Tentu saja mereka akan kaget, aku dengar perusahaan Eternity secara tidak langsung di wakili oleh asistennya, Wildan. Tuan Evano hanya akan muncul saat ada masalah atau perayaan di perusahaan, selama ini dia mengendalikannya di belakang layar. Melihatnya sekarang yang secara terang-terangan menunjukkan kalau dia bisa berjalan normal, berarti dia—”
“Dia membuat pengumuman secara tidak langsung kalau dia akan kembali ke perusahaan.” Aku memotong ucapan dokter Stefan yang langsung di anggukinya.
__ADS_1
“Pantas saja tadi Wildan memberi sambutan selamat datang pada ayah Evano.” Gumamku mengangguk-angguk mengerti mengingat obrolan ayah dan Wildan tentang catur. Sepertinya mereka memanfaatkan acara ini untuk memancing musuh bisnisnya.
“Melihatya berjalan seperti itu, aku rasa dia sudah lama sembuh ‘kan?” Tanyaku pada dokter Stefan.
Pria yang duduk di hadapan kami ini mengangguk dan menjawab. “Yaa, caranya berjalan memang sudah terbiasa, sepertinya dia sudah lama sembuh dan menjalani rehabilitas.”
“Itu bisa jadi strategi untuk mengelabui musuh bisnisnya.” Kataku lagi melirik ayah Evano yang sekarang hanya berdua dengan artis itu. Renata Velixia.
“Sepertinya aku akan punya lima ibu.” Bisikku pada Bayu.
Lelaki ini tersenyum kecil dan menggeleng pelan. “Belum. Dia belum menikah dengan ayahmu.”
“Aku pikir dengan kehadiranku, dia mungkin akan mendesak ayah Evano untuk menikah.” Gumamku yang di balas Bayu dengan usapan singkat di puncak kepalaku.
“Boo, ayo kita hampiri nenek mu. Sejak tadi dia terus menatap kita.” Refleks aku melirik ke meja nenek yang sedang sendirian.
Aku mengangguk dan kami berdua segera bangkit berdiri, pamit pada dokter Stefan dan prof Bora lalu saling bergandengan tangan menghampiri meja nenek kandungku ini.
“Halo, nek.” Sapaku dan Bayu bersamaan. Nenek melirik kami sekilas dan kembali meneguk minuman di tangannya. Mengacuhkan kami untuk sesaat.
Aku dan Bayu saling pandang, menunggu nenek membalas sapaan kami. Tapi sebelum itu terjadi tiba-tiba ayah Evano datang menghampiri dan langsung menepuk bahu Bayu.
“Oh kalian sedang mengobrol. Kalau gitu ayah pinjam Bayu sebentar.” Katanya melihat aku dan nenek bergantian.
Aku mengangguk dan melepaskan tautan tanganku pada Bayu, membiarkan lelaki itu di bawa oleh ayah menjauhi kami. Melihat tujuan ayah, dia sedang mengenalkan Bayu pada teman-temannya.
“Aku tidak akan basa-basi dan akan berterus terang.” Nenek berbicara, masih duduk di hadapanku. Aku yang berdiri di hadapannya mengangguk pelan.
...
__ADS_1