
...
“Icha, darling. Bisa bantu aku sebentar?” Suara Bunda menghentikan tatapanku pada punggung Bayu yang semakin menjauh.
Aku melirik bunda yang ada di dekat wastafel, sadar akan situasi, aku segera membereskan piring-piring kotor di atas meja yang tersisa dan berjalan cepat menuju wastafel, tempat bunda akan mencuci piring.
“Biar aku yang lakukan, bun.”
“Tidak! Bunda yang akan lakukan.” Bunda merebut spons yang sudah aku pegang sedetik yang lalu.
“Bunda memanggilmu ke sini bukan untuk menyuruhmu mencuci piringnya, kau pasti Lelah bekerja—hei, ada apa dengan tanganmu?” Tanya bunda sembari menjatuhkan spons itu di tumpukan piring, lalu menarik tanganku dengan cepat sebelum aku bisa menghindar.
Bunda Kirana menarik sedikit jaket di tangan kananku hingga kain kasa yang melilit di sana terlihat sepenuhnya. “Bunda tidak ingat pergelangan tanganmu terluka.”
“Tadi sempat ada kecelakaan kecil, aku terlalu keras—ekhm menampar seseorang.”
“Apa? Kenapa? Apa yang terjadi?” Tanya bunda penasaran, menurunkan kembali kerutan jaket di tangan kananku dan kembali memfokuskan pandangan pada cucian piring.
Akhirnya aku menceritakan semuanya, mulai dari kejadian di café sampai insiden tamparan itu. Aku juga mengatakan keherananku tentang cerita singkat Robert Fito tentang Bayu yang menangkap orang tidak bersalah,
sesaat melihat tangan bunda yang berhenti mendadak membuatku semakin yakin ada sesuatu yang tidak aku tahu.
“Yeah, bunda tahu Robert Fito, orang tuanya ada di pernikahan kalian kemarin malam. Dia memang anak yang agak—sombong.” Komentar bunda setelah mengendalikan ekspresi wajahnya jadi seperti biasa.
“Tapi apa maksud cerita singkat Robert tentang anak yang tidak bersalah itu, bun? Aku tidak ingat mendengar kejadia itu di berita manapun.”
“Yaa. Itu memang kasus—agak spesial.” Jawab bunda terdengar hati-hati. Aku menatap bunda, menunggu perkataan selanjutnya sembari membantunya mengeringkan piring-piring dengan lap kering.
“Tapi yang harus kamu yakini dan tahu adalah maksud Robert tidak seperti yang kau pikirkan. Bunda tidak bisa memberitahumu lengkapnya, kau bisa bertanya pada Bayu—tapi ngomong-ngomong, ada apa dengan kalian berdua? Kalian terlihat sedang perang dingin.” Jawab bunda melirikku sekilas dan mengganti nada antusias di akhir kalimat, aku pikir karena bunda senang mendapat topik baru untuk di alihkan.
“Ya, Bayu tidak mau memberitahuku apa yang terjadi padanya hari ini. Dia meninggalkan CT scan di rumah sakit karena pergi buru-buru. Bunda tahu apa yang terjadi padanya? Kenapa dia sampai meninggalkan dokumen
kesehatannya sendiri begitu saja?”
“Bunda belum tanya padanya, tadi siang dokter Stefan menelpon bunda karena nomor Bayu tidak aktif—oh sayang, jangan terlalu berpikir berlebihan soal telpon itu.” Bunda cepat-cepat menambahkan di akhir kalimat melihat perubahan raut wajahku.
“Icha inginnya tidak berpikir berlebihan, tapi—”
“Ya! Bunda mengerti perasaan tentang itu, bahkan tidak terbiasa sampai sekarang setiap kali ayah Rasha pergi bertugas. Cemas, takut dan tidak bisa melakukan apapun.” Obrolan kami di interupsi oleh suara tawa wanita di dekat kami.
Aku dan bunda otomatis melirik ke belakang dan menemukan tante Renata sedang tertawa di telpon, dia masih di meja makan sendirian. Semua orang sudah pada kegiatan masing-masing.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong, bagaimana menurutmu tentang dia? Bunda penasaran.” Bisik bunda dengan seringaian jahil yang mengingatkanku pada Bayu.
Aku menggeleng dan menjawab. “Maksudku, kami baru bertemu dua puluh empat jam, kesan pertamaku padanya cukup menarik. Tapi aku tidak membayangkan ayah Evano mencari pacar dari kalangan artis.”
“Ya. Bunda juga agak kaget karena Evano memilih seorang artis. Sejauh ini Rose dan Mona
Keilani ahli dalam dunia bisnis, sepertimu.”
“Ibu kandungku juga ahli dalam bisnis? Dia bekerja dimana?”
“Dulu sebelum menikah, dia menjadi salah satu direktur di perusahaan dana investasi.”
“Icha ingat informasi yang di berikan Bayu, keluarga ibu kandungku mencoretnya dari kartu keluarga mereka.” Kataku tiba-tiba teringat tentang dokumen itu, saat pertama kali membacanya hanya selewat dan aku anggap tidak penting karena ibu yang melahirkanku sudah tiada, tapi kalau di pikir-pikir lagi sekarang, aku jadi penasaran tentang
keluarganya.
“Ya.”
“Apa yang terjadi pada keluarganya sekarang? Apa mereka masih hidup?”
“Tentu, keluarganya masih hidup.”
“Dan mereka tidak pernah mencari Icha.” Tambahku agak heran.
“Tapi kenapa? Apa yang terjadi pada mereka?”
“Bunda mendengar rumornya saat itu kalau keluarga mereka tidak suka pembisnis, sejak dulu tidak ada keturunan mereka yang bekerja di perusahaan atau punya perusahaan.”
“Itu konyol. Hampir semua profesi di dunia ini melibatkan tentang bisnis.”
“Ya. Mereka tidak suka ada yang terjun langsung di dunia bisnis.”
“Jadi, apa yang mereka lakukan?”
“Rata-rata mereka bekerja di bidang pendidikan atau kesehatan, tapi ada juga yang menjadi atlet.”
“Jadi mereka keluarga terkemuka?” Tanyaku sedikit kesal.
“Bunda tidak yakin sekarang karena sudah lama sekali, tapi sepertinya begitu.” Bunda mengangguk kaku, matanya berputar seolah sedang berpikir keras.
Tanganku tidak sengaja melihat kedua tangan bunda yang masih lembab dan pucat. “Bun mau minum apa? Biar Icha buatkan minuman hangat.”
__ADS_1
“Oh? Kalau gitu bunda tidak akan sungkan, ada este emje di lemari itu.” Aku terkekeh pelan melihat lemari yang di tunjuk bunda, lemari yang menempel di dinding itu tingginya di atas kepalaku.
Saat aku menyiapkan dua gelas bermaksud menyediakannya untukku dan bunda, tiba-tiba terdengar jeritan Alisya dari lantai atas.
“Ck. Anak itu lagi galau. Berantem sama pacarnya.” Komentar bunda mendengar jeritan kesal Alisya.
Aku tersenyum kecil menanggapi dan berpikir untuk membuatkan juga satu untuk Alisya.
.
..
…
“Alisya.. Boleh aku masuk?” Tanyaku setelah mengetuk beberapa kali pintu kamarnya, membawa segelas este emje panas di tangan kiriku.
“Ya, masuk saja.”
Begitu pintu di buka, pandanganku langsung jatuh pada gadis berambut panjang yang sedang berbaring telengkup di atas kasur. Wajahnya tampak lesu dan tidak bersemangat.
“Ini ada este emje hangat.”
“Hmm.. Makasih ka Icha.” Jawab Alisya bangkit duduk, menungguku mendekatinya.
“Ngomong-ngomong, mana Zac?” Tanyaku sembari menyerahkan gelas mug itu pada Alisya langsung.
“Aku sudah mengusirnya pergi. Bunda menawarinya makan malam bersama tapi aku tidak ingin dia ada di sini. Tidak ada tempat untuknya. Kursinya sudah terisi oleh wanita aktor itu.” Jawab Alisya menerima gelas coklatnya dan segera meminumnya pelan-pelan.
“Kenapa ka Icha cari Zac?” Alisya menatapku curiga dari balik mug nya.
Aku terkekeh pelan sembari duduk di sisi kasurnya dan menjawab. “Meski baru ketemu Zac kemarin, tapi kakak pikir kalian kombinasi yang unik.”
“Ka Icha tahu, dialah alasan Alisya putus sama pacar Alisya! Dia ngaku-ngaku jadi pacar masa kecil Alisya, meskipun memang sudah agak lama kami jarang jalan-jalan semenjak pacaran. Itu karena orang-orang yang sering ikutin Alisya akhir-akhir ini, Zac jadi merasa harus lebih protektif jaga Alisya.”
“Ikutin Alisya? Sering?”
...
__ADS_1