
...
Aku mengangguk dan tidak ingin mengganggunya lagi maka aku membawa kopi latte milikku ke meja kecil di atas sofa, lalu aku duduk di sofa panjang coklat ini dan berniat akan bermain game ponsel selagi menunggu.
Aku tidak sadar sudah hampir satu jam berlalu dan tidak ada suara di antar kami. Kopi latte milikku sudah hampir habis dan aku sudah beralih dari game ke web komik. Mataku berair karena sejak tadi aku menguap merasa lelah.
Tidak tahan ingin berbaring, akhirnya aku menyimpang ponselku di samping gelas lalu mulai berbaring menyamping di atas sofa. Seketika kelopak mataku perlahan menutup dalam hitungan detik.
Aku tidak sepenuhnya tertidur, samar-samar aku mendengar suara jari-jari yang menekan keyboard laptop dan semakin lama aku tidak mendengarnya lagi. Ketenangan yang membuat kesadaranku semakin di tarik.
Hampir saja aku benar-benar terlelap tapi sentuhan lembut di keningku membuatku membuka mata dengan cepat. Sekarang wajah Bayu sudah sangat dekat dengan wajahku, bagaimana lensa mata hitamnya, hidungnya, alisnya, bibirnya tersenyum kepadaku.
“Ngantuk?”
"Hmm.." Aku bergumam pelan menjawabnya.
Bayu menjauhkan wajahnya dariku dan tangannya menyentuh pipiku, refleks aku bangkit duduk dan mengusap pelan wajahku karena sekarang aku sangat mengantuk.
“Aku cinta kamu.” Bisikkan lembutnya membuatku terdiam seketika.
"Tiba-tiba?" Tanyaku.
Sorot matanya tidak lepas menatap wajahku sejak tadi, hatiku di buat terharu dan senang mendengarnya. Panas langsung menjalari pipi dan mataku. Matanya seolah hanya di takdirkan untuk menatapku saja.
Kedua tanganku terangkat melingkari lehernya, membawanya lebih dekat denganku untuk bisa aku peluk erat. Dia benar-benar mencintaiku se-luar biasa ini.
“Aku juga cinta kamu.” Bisikku di depan telinganya yang langsung membuat Bayu
tertawa sembari dia menarik pinggangku untuk bisa dia peluk lebih erat.
Aku sudah terlalu terbiasa dengan kehadirannya, dengan aroma tubuhnya, dengan wajahnya, dengan senyumannya bahkan dengan suaranya. Pandangannya selalu tertuju padaku, dia selalu bersikap lembut padaku dan menghargaiku. Percaya padaku dan mendengarkan aku.
“Apa laporanmu sudah selesai?” Tanyaku masih asik menempelkan pipiku dengan pipinya, mengusap kepala dan leher belakangnya. Aku selalu ingin menyentuhnya, selalu ingin dekat dengannya.
Bayu semakin mengurungku di pelukannya, membuatku tenggelan dalam kehangatan dekapannya. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang seolah seirama dengan detak jantungku, suhu tubuhnya selalu terasa hangat untukku.
“Sudah.” Suaranya menggelitik telingaku. Aku ingin melepaskan pelukannya tapi lelaki ini tetap tidak mau melepaskannya.
__ADS_1
“Biarkan seperti ini. Aku selalu suka pelukan mu.” Katanya tenang seolah kedua matanya sedang terpejam.
“Ada apa? Kau sedang memikirkan sesuatu?” Tanyaku memastikan.
Bayu kemudian melepaskan pelukan kami, sudah sekian kalinya aku tenggelam dalam tatapan matanya. Dia berdiri dan menarik tanganku untuk ikut dengannya. Aku tidak banyak bertanya dan hanya mengikutinya keluar ruangan.
Bayu membawaku ke kamar, lelaki ini mendudukkan aku di atas tempat tidur dan memintaku untuk berbaring istirahat. Aku mengikuti ucapannya untuk berbaring dan masih menatap gerak geriknya yang berjalan memutar tempat tidur.
Dia naik ke sisi tempat tidur yang lain, tubuhnya ikut masuk ke dalam selimutku dan aku akan bangkit tapi Bayu menahannya.
“Aku tidak akan melakukan apapun, hanya ingin tidur dengan tenang.” Bisiknya sudah menarikku ke pelukannya. Bayu menahan kepalaku di dadanya, sebelah tangan kanannya dia jadikan bantal untukku dan kedua tangannya membungkusku masuk ke dalam pelukannya.
Aku mendongak dan mendapati wajahnya ada di atas kepalaku, kedua matanya sudah terpejam berniat untuk segera tidur.
Mungkin dia sangat kelelahan dan mengantuk sepertiku. Telingaku bisa dengan jelas mendengar detak jantungnya. Napasnya yang hangat menerpa kepalaku, tangannya tidak membiarkan aku untuk lepas.
Aku juga menguap dan mataku terasa berat, pelukannya terasa sangat nyaman. Akhirnya aku juga melingkarkan tangan kananku di pinggangnya, meminta dia juga tidak melepaskan pelukan ini. Aku merasa Bayu tersenyum mendapat balasan dariku.
Pertama kalinya kami tidur bersama seperti ini, aku memang gugup tapi juga aku cukup puas dan senang. Jika setiap hari Bayu bisa tidur memelukku seperti ini, aku yakin akan cepat tidur nyenyak.
Pikiranku yang sudah terlalu jauh membuatku tertawa dalam hati. Sepertinya aku sudah jatuh ke dalam pesona lelaki ini. Lelaki yang telah melamarku tadi pagi. Lelaki yang menjadi cinta pertamaku sejak dulu, sekarang dan yang akan datang.
Aku tidak bermimpi apapun, hanya tidur mengistirahatkan tubuh ini. Udara dinging terasa di kulit wajah dan telapak tanganku. Telingaku samar-samar mendengar suara rintikan air hujan. Aku menggigil dan gerakkan tangan yang membungkus tubuhku semakin mengerat. Kain lembut di tarik dari pinggang sampai bahuku.
Perlahan aku membuka mata, aroma tanah basah tercium menyengat. Pencahayaan yang samar-samar di kamar ini membuatku ingin tidur lebih lama namun aku masih merasakan Bayu memelukku dengan tangan kokohnya. Selimut menyelimuti kami berdua dan hembusan napasnya menyentuh pipiku.
Aku menoleh ke kiri menyadari wajah Bayu berada di depan wajahku. Lelaki ini masih terpejam dengan napas teratur.
Aku belum pernah melihat wajahnya sedekat dan sedetil ini. Kulitnya yang halus, hidungnya yang mancung, halisnya, bulu matanya, bibirnya—terlihat lembut. Tangan kananku terangkat ingin menyentuh bibirnya.
Fakta yang ada sekarang kami belum pernah berciuman, bagaimana rasanya saat bibirnya menyentuh bibirku?
__ADS_1
Astaga!
Aku berpikir yang aneh-aneh lagi!!
Sepertinya akan berbahaya untuk jantung dan otakku kalau aku terus berada di dekatnya. Aku harus bisa mengendalikan pikiranku!!
Pikiranku terhenti saat bulu matanya bergetar lalu kelopak matanya terbuka. Sorot mata tajamnya langsung menatapku. Aku menahan napas, gugup karena ketahuan sedang memperhatikan wajahnya.
“Aku ingin mencobanya.” Ujarnya tiba-tiba.
“A—apa?” Tanyaku terdengar serak dan gugup. Kemudian sorot mata yang selalu lurus menatap mataku teralih turun menatap bibirku.
Aku tidak bisa lagi menahan kegugupanku, aku ingin bersembunyi darinya. Timing ini terlalu berbahaya!
Ekspresi Bayu terlihat sangat serius dan sekarang ibu jarinya sudah menyentuh bibirku.
Seperti mendapat sengatan, jantungku berdetak sangat cepat, berharap lelaki ini tidak akan bisa mendengarnya.
“Kau lupa bernapas.” Aku menghembuskan napas perlahan tidak sadar aku menahan napas.
Biasanya Bayu akan tertawa jahil setelah mengatakannya tapi sekarang lelaki ini tidak melepaskan pandangannya dari bibirku. Jarinya yang masih menyentuhnya membuatku semakin tidak bisa bergerak.
“Aku belum pernah berciuman sebelumnya.” Bisiknya membuat jantungku semakin tidak terkendali.
“A—aku juga.” Jawabku benar-benar susah untuk mengeluarkan suara.
Ada senyuman kecil darinya sebelum wajah Bayu semakin mendekat. Tangan kirinya menyentuh pipiku lembut dan aku merasakannya begitu saja.
Bibirnya menyentuh bibirku.
Matanya dan mataku tidak tertutup saat melakukannya.
Hanya bersentuhan dua detik, Bayu sudah melepaskannya dan sorot matanya kembali menatap mataku
__ADS_1
...