
...
Aku menarik bahunya lebih dekat untuk bisa aku peluk erat. Aku menyukai posisi ini, saat aku memeluk bahunya dan mengusap bagian belakang kepalanya hingga leher belakangnya. Seolah dengan seperti ini aku sedang melindunginya.
“Jangan kesal lagi ya. Aku janji akan menghindari tugas selanjutnya kalau terlalu berat.”
“Jadi kau sudah menyerah?” Suara Bayu terdengar sedang merajuk.
Aku tersenyum lebar dan menggeleng. “Tidak! Aku akan tetap mencari jalan lain untuk menyelsaikan tugasnya.”
“Kau wanita keras kepala yang mempesona. Akan percuma berdebat untuk melarangmu.”
Aku tertawa kecil mendengar jawabannya. “Kau selalu mengerti aku.”
Kini aku mulai merasakan kedua tangan Bayu memeluk pinggangku, menariknya hingga tidak ada jarak di antara kami.
Aku bisa dengan jelas merasakan detak jantungnya. Meskipun udara di sekitar kami dingin tapi suhu badan Bayu terasa hangat dan itu membuatku betah memeluknya seperti ini.
Seperti yang terjadi di parkiran sore itu, lelaki ini berusaha mencari celah di antara bahu dan rahangku, ujung hidung dan keningnya menyentuh kulit leherku. Tingkahnya yang seperti ini membuatku gugup dan tegang.
“Sayang, sepertinya kita harus segera menikah. Aku ingin selalu mendapatkan pelukan ini setiap saat. Ini sangat nyaman.” Jantungku berdetak cepat dan wajahku memanas.
“Apa lagi-lagi aku memulai sesuatu??” Aku bertanya ragu dan terdengar ambigu tapi aku bisa mendengar suara kekehan Bayu.
“Apa kau baru menyadarinya sekarang? Aku tidak yakin kau sepolos itu.”
Sekarang wajahku benar-benar terasa panas. Tidak tahu harus menyetujui atau membantahnya. Jalan satu-satunya untuk menghindari suasana canggung karena obralan kami berakhir pada ku yaitu aku harus membalasnya.
“Jadi kau suka wanita yang polos? Atau yang—“ Ucapanku terhenti karena Bayu segera melepaskan pelukannya. Dia menatapku dengan rona merah di pipinya.
“Hahaha. Ya ampun lucu sekali!! Lihat ini, wajahmu merona! Aku harus memfotonya!” Aku tertawa puas, cepat-cepat meraih ponselku untuk membuka aplikasi kamera.
Bayu merebut ponselku dengan cepat dan menjauhkannya dari jangkauanku.
“Hahaha. Oke, kita hentikan ini! Karena suasana akan semakin canggung dan obrolan kita menjadi semakin aneh, lebih baik kau segera kembali ke vila sebelum ada peserta lain yang melihat.”
“Kenapa? Apa kau tidak penasaran dengan jawabanku?” Wajah seriusnya membuat tawaku seketika berhenti. Tatapannya yang dalam menatapku membuat jantungku semakin berdetak tidak karuan.
“Ini tidak baik untuk jantungku!”
__ADS_1
“Apanya yang tidak baik untuk jantugnmu? Kau yakin tidak ingin mendengar yang mana yang lebih aku sukai, hm?” Bayu tersenyum kecil. Dia sedang menggodaku.
Dengan kekuatan penuh, aku berhasil keluar dari kurungannya dan agak menjauh darinya. Berharap seseorang menyelamatkanku dari suasana ini.
“Hahhaa. Baiklah. Aku tidak akan menggodamu lagi. Aku akan kembali sekarang.” Bayu tertawa dan berdiri, ekspresinya sudah kembali normal dan dia menatapku lembut sekarang.
“Jangan terlalu memaksakan diri dan jangan khawatirkan apapun.” Katanya sembari membungkuk untuk mengecup keningku.
Aku masih diam mematung di tempat, memandang Bayu yang tertawa sembari berbalik menjauh menuju pintu keluar vila.
Sampai sosoknya menghilang di sana, aku tetap diam memandang udara yang kosong untuk beberapa detik selanjutnya.
Kehadirannya yang semula melengkapiku sekarang sudah tidak ada. Ada kekosongan yang nyata aku rasakan.
***
Nyatanya aku tidak bisa tidur lagi setelah Bayu kembali karena pelayan vila mengatakan padaku sedang membuatkan bubur yang di pesan dokter Stefan.
Jam lima tepat semua orang di bangunkan dan harus segera mengikuti arahan yang di berikan. Putri sempat menatapku heran karena melihat aku yang sudah siap dan tidak terlihat mengantuk seperti yang lain.
Jadi saat tugas kedua di berikan, aku akan ikut.
Kami semua akan menuju puncak, untuk melihat matahari terbit. Seorang instruktur mengarahkan kami untuk pemanasan lebih dulu sebelum berangkat.
Karena sebagian besar wanita di sini adalah dari kemiliteran jadi tidak sulit untuk membuat semuanya berkumpul.
“Bagaimana menurutmu? Apa tugas kedua kita? Tidak mungkin hanya untuk melihat matahari terbit ‘kan?” Putri berbisik padaku saat kami berjalan beriringan mengikuti instruktur di depan.
Aku menggeleng. “Mungkin mereka akan membacakannya di puncak nanti, saat kita semua sedang lengah.”
“Maka dari itu, kita jangan sampai lengah sekarang.” Aku mengangguk, menyetujui ucapan Putri.
Tapi selama pendakian menuju puncak, aku tidak melihat ada mencurigakan. Kami sampai di puncak dalam waktu tiga puluh menit. Bebatuan tinggi sebagai pijakan kami menghadap ke pemandangan bukit dan kota.
Ternyata bukan kami saja yang akan menikmati matahari terbenam ini, para pria sudah lebih dulu sampai di bandingkan kami.
__ADS_1
Seperti dugaanku, mataku bertemu dengan tatapan serius Bayu. Hanya beberapa detik dan dia kembali mengalihkan pandangannya.
Apa Bayu marah karena aku ikut mendakti?
Aku ingin mendekatinya tapi tidak berani meskipun semua orang di sini ada yang saling menyapa antara pria dan wanita. Bayu memintaku untuk menggunakan nama samara di sini pasti dia merencanakan sesuatu.
Kekhawatiranku buyar mendengar orang-orang berdecak kagum melihat matahari terbit di tempat kami berdiri, sangat indah dengan sinar yang mulai menerangi hamparan kota di hadapan kami.
Aku menguap pelan merasa mengantuk sekarang. Tubuhku juga terasa menghangat dengan di mandikan matahari pagi.
Diam-diam aku melirik Bayu, lelaki itu juga sedang menatap ke depan. Pandangannya yang serius juga wajahnya yang bercahaya karena sinar matahari, meskipun aku melihatnya dari samping dan agak jauh tapi aku merasa saat ini dia tampak mempesona, seperti aku baru dengan lelaki itu.
Dari sudut matanya, Bayu sadar aku sedang memperhatikannya maka cepat-cepat aku mengalihkan pandanganku untuk menghindarinya. Tingkahku yang seperti ini entah mengapa membuatku ingin tertawa.
Lalu perhatian kami semua teralihkan mendengar suara sapaan dari belakang. Aku berbalik melihat seorang pria tua dengan pakaian olahraga dan kayu di tangannya tersenyum pada kami semua. Meskipun sudah tua, tubuh pria tampak bugar, matanya yang agak sipit semakin tidak terlihat saat dia tersenyum. Ada seorang pria berjalan di sampingnya dengan wajah kaku.
Hampir semua orang di sini memberi hormat, aku dan beberapa orang yang bukan dari kemiliteran hanya diam memperhatikan.
“Hohoho, bagaimana? Apa kalian senang? Matahari terbit di sini sangat indah.” Tanyanya berjalan semakin ke barisan depan.
“Ya pak!” Sahut orang-orang keras dan bersemangat. Aku tersenyum kecil, rasanya aku bernostalgia mendengar orang-orang ini menjawab, mengingatkanku akan aku yang aktif dengan ekstrakulikuler di SMP.
“Tenang! Kalian santailah. Tidak usah terlalu kaku.” Lagi-lagi dia tersenyum senang.
Di lihat dari dekat, ada garis wajahnya yang mengingatkanku dengan Bayu. Tentu saja! Itu pasti kakeknya.
“Itu dia tetua Jeremy. Dia terkenal ramah dan suka bercanda.” Putri berbisik padaku. Aku mengangguk, mungkin gen jahil Bayu berasal dari kakeknya.
“Baiklah semuanya tolong dengarkan! Tetua Jeremy akan mengumumkan tugas ke 2!”
__ADS_1
...