
...
Situasi semakin ricuh, entah mengapa, tidak ada satu pun warga yang mendekati kami, jelas-jelas perkelahian ini terdengar berisik, rumah-rumah di sekitar memang tampak sepi tapi aku tidak percaya kalau semua ini kosong, pasti ada penghuninya.
Ternyata lebih cepat dari yang aku duga, kami bertiga berhasil membuat mereka jatuh kesakitan, bahkan untuk Andika sekalipun, meski dia masih bisa berdiri, tapi dia tampak susah untuk bernapas.
“Kalian baik-baik saja??” Tanyaku menatap Lucy dan Dika, memastikan tidak ada luka yang mereka dapatkan.
Selain napas mereka yang masih memburu, dua orang ini mengangguk menjawab pertanyaanku. Mereka penuh keringat, begitupun wajahku yang panas dan berkeringat.
Sebelum kami bisa bernapas lega, Andika yang masih bisa berdiri langsung menerjang maju ke arahku dengan nekad, tangan kanannya dengan cepat sudah akan menusuk perutku.
Aku kaget
Ketika aku pikir akan terluka, nyatanya aku tidak merasakan apapun. Pergelangan tangan pria ini di tahan oleh Dika hingga ujung pisau itu berhenti di depan perut kiriku.
Namun tenaga Andika terlihat lebih kuat, kali ini tangan kirinya entah dari mana mengeluarkan pisau lain yang lebih besar dari pisau lipatnya, akan menusuk perutku juga, dan terhenti tepat ketika ujungnya sudah menyentuhku.
Lucy menahan pergelangan tangan Andika yang lainnya sekuat tenaga. Dalam waktu singkat yang terasa slow motion ini, aku bisa melihat dengan jelas kalau dua orang ini masing-masing menahan tangan Andika yang menggenggam pisau untuk melukaiku.
Aku mengerjap, aku bisa mendengar detak jantungku sendiri, mendengar aliran darahku dalam moment singkat ini.
Dika memukul leher depan Andika hingga membuat pria itu mundur dan terbatuk-batuk parah. Aku pikir semuanya selesai setelah melumpuhkan Andika, tapi lagi-lagi seseorang di belakangku menyergapku dengan sapu tangan menutup hidung dan mulutku. Menarikku ke belakang, memaksaku untuk mundur, menjauh dari Dika dan Lucy.
Aku tidak tahu siapa, pria ini mencengkramku kuat ketika dengan panik aroma dari sapu tangan itu terhirup olehku, langsung membuat pandanganku buram.
Samar-samar aku melihat Dika dan Lucy akan menerjang ke arahku, tapi sebelum mereka bergerak lebih jauh, cengkraman pria ini lepas begitu saja seolah ada yang menariknya kuat dari belakang.
Aku merasa lemah sekarang, pandangan dan pendengaranku jadi samar-samar tidak jelas, kelopak mataku memaksa untuk menutup. Ketika kakiku tidak mampu lagi menopang berat tubuhku, aku segera akan jatuh tapi aku bisa merasakan sebuah tangan menahan perutku dari belakang.
__ADS_1
Sentuhan ini seperti sengatan yang melegakan, aroma yang begitu familiar campuran lilac&sandalwood yang menyegarkan, dengan tenang aku menyandarkan kepalaku di lengannya yang kokoh ketika dia sudah berdiri di sampingku.
Sebelah tangannya yang memeluk perutku bertambah erat, seolah menyampaikan pesan kalau dia sangat khawatir padaku.
Bayu.
Lelaki ini tidak mengatakan apapun, tapi seruan marahnya tidak bisa di sembunyikan, “tangkap semuanya! Geledah dan periksa semua rumah! Lumpuhkan siapa saja yang mencoba kabur! Jangan melewatkan apapun!”
“Baik pak!”
Pandanganku samar-samar melihat pasukan berseragam hitam yang membawa senjata bergerak di depanku, sebagian mengumpulkan pria-pria yang tadi menyerang kami dan sebagian lagi bergerak menggeledah rumah-rumah.
Aku menghela napas panjang, berusaha untuk menghilangkan efek obat bius yang sempat aku hirup tadi. Kemudian Lucy memberiku minum air mineral dalam botol, dia berkata dengan nada cemas, “nyonya, kau tadi di dorong dengan keras sampai terdengar bunyi duk, apa kau baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja. Hanya masih kaget.”
“Sebaiknya periksa ke dokter, tadi kayanya terlempar keras sekali.” Dika ikut mencemaskan ku, hal itu justru membuatku takut pada Bayu karena aku terluka.
“Dika, Lucy, kalian tunggu di sini dan pastikan mereka semua di tangkap. Aku akan bawa Icha ke rumah sakit.” Itu suara Bayu. Aku tidak berani mendongak untuk menatapnya.
“Baik pak!”
Mataku tidak lepas melihat punggung Bayu yang sedang menerima telepon, lima meter di depanku. Dia memakai celana hitam dan kemeja hitam serta topi hitam, dengan rompi anti peluru masih di pakai ketika kami sampai di rumah sakit ini.
Earphone di telinga kiri, pistol dan senjata lain di saku celananya. Semua orang di rumah sakit sejak tadi memperhatikannya tapi Bayu menghiraukan mereka, bahkan dari perjalanan sampai ke rumah sakit, kami berdua tidak berbicara sama sekali.
Aku terlalu takut dan bersalah dengan aura dinginnya sedangkan Bayu terlalu sibuk berbicara lewat earphone, aku tidak ingin mengganggunya.
Obat bius yang sempat terhirup tadi, rasanya sudah hilang setelah aku meneguk air minum, sekarang kami sedang menunggu hasil tes.
Melihat sibuknya Bayu, aku jadi semakin bersalah. Seharusnya tadi aku tidak langsung percaya dan pergi saat mendengar karangan Andika tentang adiknya. Lelaki ini sampai harus membawa banyak orang untuk membantu kami.
Atau seharusnya aku menyerahkan Andika langsung pada Bayu seperti yang biasa Dika dan Lucy lakukan. Aku terlalu ceroboh!
Keputusanku merepotkan semua orang, hampir melukai Dika dan Lucy juga. Rasanya aku ingin sekali menghilang atau menggali lubang untuk bersembunyi. Jelas sekali Bayu marah padaku dan aku malu harus menghadapinya.
__ADS_1
“Anda pasien bernama Icha?”
Lamunanku buyar mendengar suara laki-laki di sampingku. Dia memakai baju perawat dan memegang papan chekup di tangannya.
“Ah ya, saya.”
“Hasil tes lab sudah selesai, silakan ikut saya, dokter sedang menunggu.”
“Secepat itu? Ini baru sepuluh menit.” Aku menatap ke sekeliling, meski kursi ruang tunggu pasien tidak terlalu ramai, tapi ada juga yang menunggu hasil tes sepertiku.
“Ya, hasilnya sudah keluar. Ayo ikut saya ke sana.” Dia menunjuk lorong di belakang yang mengarah ke bagian yang lebih sepi dari pada lorong di sisi satu lagi.
Aku mengangguk, segera berdiri dan berkata, “sebentar, saya panggil pria yang ada di sana—“
“Dokter bilang, hasil tes ini harus di bicarakan berdua lebih dulu dengan pasien. Ada hal serius yang terjadi. Ayo lewat sini.” Katanya memaksa.
Aku mengerutkan kening, heran dan bingung, bukan karena hasil yang akan aku terima, tapi karena pernyataannya. Justru karena ini hal serius, bukannya dokter selalu menyarankan agar keluarga mendampingi? Terlebih, Bayu sudah sah secara hukum sebagai keluarga, dia jelas-jelas orang pertama yang berhak untuk tahu dan ikut mendengar hasil tes itu.
“Tidak!!” Aku mundur satu langkah, firasatku mengatakan ada bahaya, “apa kau perawat rumah sakit ini??”
Ekspresi pria ini berubah jadi lebih gelap dan dingin, tangannya dengan cepat menarik pergelangan tanganku hingga tubuhku terseret.
Aku berusaha menahan tangannya yang ingin membawaku. Beberapa pasien yang sedang duduk menunggu di jejeran kursi melihatku dengan panik dan hendak menolong, tapi tiba-tiba saja pria yang menarikku ini mengeluarkan sepucuk pistol hitam dari saku celananya.
Ekpresinya berubah bengis dengan sorot liar, gila. Dia justru menyeringai lebar dan mengarahkan pistol itu ke pelipisku dengan suara klik yang terdengar keras di telingaku.
DOORRR!
...
__ADS_1