
...
“Icha!! Hei!”
Ketika aku merasakan seseorang menyentuh lenganku, kelopak mataku mengerjap menyadari sosok wanita cantik yang memakai jas dokternya telah berdiri disampingku.
Lensa matanya yang hitam menatapku intens. Aku yang tidak berniat bergerak sedikitpun kembali menatap keluar
jendela. Entah sudah berapa lama aku berdiri di depan jendela, menatap ketaman rumah sakit. Memperhatikan pasien, suster, dokter dan orang-orang yang ada di sana.
“Kantor dan kampusmu sudah menerima surat sakitmu untuk satu minggu kedepan. Kau tidak usah khawatir. Sekarang fokuslah untuk kesembuhanmu.”
Semalam saat aku pulang, dokter Cilia sudah menungguku di depan gerbang. Dia berniat ingin menjengukku tapi melihat keadaanku, dokter cantik ini langsung membawaku ke rumah sakit.
Dia marah besar, bertanya padaku apa yang aku lakukan hingga aku menjadi seperti ini. aku lebih banyak diam dan
suaraku tidak terdengar. Aku tidak menjawab apapun yang dia tanyakan, mengetahui keadaanku mengingatkannya saat pertama kali kami bertemu beberapa tahun lalu, Dokter Cilia sangat khawatir aku kembali terpuruk seperti ini.
Apalagi semalaman aku demam tinggi, seluruh tubuhku berdenyut sakit. Aku tidak bisa mengaduh kesakitan, aku yang setengah sadar tahu bahwa dokter Cilia merawatku sepanjang malam.
“Ayo berbaringlah. Kamu masih demam.” Dokter Cilia menuntuntku untuk naik ke atas kasur sembari membawa infus yang menempel di punggung tangan kiriku.
Aku yang hanya mengikutinya masih diam. Rasanya tidak ada lagi semangat dalam diriku, rasanya aku sudah
memasrahkan semuanya, sekuat apapun aku mencoba, selama ini tidak ada yang benar-benar menjadi kebahagianku. Aku sendirian dan menyedihkan seperti ini.
Dokter Cilia menyelimutiku sampai dada, aku tidak menatapnya. Pandanganku hanya menatap pada satu titik di
hadapanku. Aku seperti sebuah boneka baginya.
Aku tahu, wanita ini sedang memeriksa suhu tubuhku, mendengarnya menghela napas pelan menandakan jika
demamku belum turun.
“Berteriaklah jika kamu kesakitan. Menangislah jika kamu tidak lagi bisa menahannya. Tatap aku ketika aku
berbicara denganmu, hm?” Mendengar permohonannya seolah hanya sebagai angina lalu untukku.
Tubuhku yang masih diam tidak merespon membuat dokter Cilia semakin kalut.
__ADS_1
Maafkan aku,. Semuanya terlalu berat untuk aku hadapi sekaligus.
.
..
…
Duniaku sekarang seperti sebuah kanvas putih yang masih berupa garis-garis sketsa. Butuh disempurnakan gambar dan warnanya.
Saat ini aku yang seperti biasa, duduk di atas bangku taman rumah sakit pagi ini menatap langit cerah berwarna
biru, dengan awan yang berarak mengikuti sapuan angin. Sudah lima hari ini dokter Cilia membiarkanku berada di bawah sinar matahari pagi.
Idenya berhasil membuatku sedikit tenang. Rasanya aku bisa berpikir lebih tenang, aku juga sudah mulai merespon
dokter Cilia yang sering mengajakku mengobrol. Aku memang tidak bisa menjawab, tapi aku mendengarkan dan sesekali menatapnya.
Selama lima hari ini juga aku sama sekali tidak menggenggam ponsel. Mungkin ada puluhan pesan atau panggilan dari rekan-rekan kerjaku, menanyakan perihal keadaanku atau sekedar bertanya tentang pekerjaan. Tapi, entahlah bagiku sekarang aku harus segera sembuh. Semangat untuk sembuh perlahan bangkit melihat beberapa hari terakhir ini aku memperhatikan pasien-pasien rumah sakit yang dengan semangat ingin sembuh, mereka rehabilitasi dengan rajin, impian mereka untuk segera keluar dari rumah sakit.
Melihat mereka yang seperti itu membuatku malu, aku yang lebih beruntung dari mereka terlalu larut dalam
Namun semua itu tetap tidak merubah hilangannya suaraku. Aku tetap tidak bisa mendengar suaraku sendiri. Sesekali aku berbicara pada dokter Cilia menggunakan bahasa isyarat yang mudah.
Merasa badanku sudah cukup panas di bawah sinar matahari pagi, perlahan aku segera berdiri dan mendorong selang infus perlahan menuju kamar inapku. Hampir semua perawat yang berjaga di gedung ini mengenalku, beberapa kali mereka menawari bantuan untuk mengantarku tapi aku yang keseharian hidup sendiri di rumah warisan bibi Rose tentu saja menolak bantuan mereka. Aku masih bisa sendiri.
Ketika aku yang baru saja duduk di sisi tempat tidur, pandanganku melirik ponsel di atas meja nakas. Mengingat aku belum pernah menyentuhnya sama sekali akhirnya berpikir untuk mengambilnya.
Begitu layarnya di nyalakan, dugaanku benar. Ada puluhan panggilan tak terjawab dan puluhan pesan. Hampir
setengahnya berasal dari rekan kerjaku, ada beberapa dari teman kuliahku dan beberapa dari Bela dan Mia.
Lalu ada panggilan tak terjawab dari Daniel sepuluh kali, dan juga pesan dari ibu dan Daniel. Jariku sedikit ragu
saat ingin membuka pesan dari Ibu. Jantungku tiba-tiba berdetak cepat dan rongga dadaku secara mendadak sangat sesak, seolah aku tidak menemukan oksigen.
Sebelum jariku menyentuh pesan Ibu, mataku melihat ada pesan dari Bayu di antara pesan-pesan yang belum terbaca. Tanpa berpikir dua kali aku membuka pesan lelaki itu terlebih dahulu.
“Icha, kamu masih marah? Tolong hubungi aku.”
“Kenapa tidak membalas pesanku? Bahkan kamu tidak membacanya!”
__ADS_1
“Aku sedang bertugas, aku tidak bisa pergi menemuimu tapi sepertinya kamu benar-benar masih marah. Kamu mengabaikan pesanku lagi.”
“Baiklah maafkan aku. Hubungi aku jika kamu sudah ingin berbicara. Kamu tahu, aku menjadi tidak tenang seperti ini. Kenapa di saat seperti ini aku menjadi seorang tentara??”
“Tentang pertunangan itu, aku memiliki saksi dan bukti video bahwa aku benar-benar sudah membatalkannya.”
Pesan-pesan dari Bayu membuatku berpikir ulang tentang kejadian malam itu. Sebenarnya dalam hatiku, aku
mempercayai perkataannya. Bagaimana raut wajahnya, bagaimana reaksi Jane saat Bayu dengan tegas akan membawakan buktinya. Jelas sekali wanita itu tidak bias membantah perkataan Bayu, Jane bahkan tidak dengan ekstrem memperingatiku karena merebut tunangannya karena dia tahu bahwa mereka sesungguhnya sudah
berpisah.
Melihat bagaimana reaksi Jane, aku bisa menduga jika wanita itu hanya ingin mempermainkanku karena secara
kebetulan kami saling kenal dalam kondisi yang tidak tepat. Lalu Bayu tidak terlihat panik sama sekali saat ia bertemu Jane, bahkan saat aku bertanya soal pertunangannya Bayu tidak berusaha menutupinya, lelaki itu hanya terlihat sangat menyesal karena tidak pernah menceritakannya padaku.
Sekali lagi semuanya karena saat itu aku tidak ingin mendengar apapun, keadaan yang memaksaku melakukan itu. Setelah ini aku harus lebih kuat. Aku harus bisa berpikir dingin. Berharap aku bias lebih menekan emosiku.
Tapi aku tidak bisa menghubungi Bayu saat ini, belum saatnya. Aku harus sembuh dulu. Aku tidak bisa seperti ini di
hadapan lelaki itu. Aku yang sudah hancur berkeping-keping begitu dalamnya, dalam kesalahan rasa ini.
Tanganku yang sebelumnya biasa saja, kembali bergetar pelan saat pesan ibu hendak di buka.
“Kenapa susah sekali menghubungimu? Kau ada dimana?? Kenapa Tidak pulang??”
“Apa yang kamu lakukan dengan tanah yang ada di bali?? Kamu memblokirnya agar tidak bisa di jual?? Cepat pulang ke rumah!! Anak ini makin sulit di kendalikan!”
“Hei anak bodoh! Kamu selalu menguji kesabaranku! Dimana surat-surat tanah yang lainnya?? Kamu hanya ingin menguasai semuanya sendirian! Adikmu ini yang seharusnya mendapatkan semua itu! Sejak awal kamu tidak berhak apapun! Kamu bisa hidup sampai sekarang karena ibumu ini yang mempertahankanmu! Sombong sekali tidak membalas pesan ibu! Anak tidak tahu terima kasih!!”
Pandanganku tiba-tiba berkunang-kunang, sesak yang aku rasakan di rongga dadaku lebih menyakitkan dari yang pernah aku rasakan hingga aku tidak tahan lagi dan mengerang pelan. Aku meremas baju dadaku dan kakiku berubah jadi jelly. Tidak kuat merasakan semua ini, aku menangis dan terisak pelan.
Reaksi yang aku berikan jika berkaitan dengan ibu kali ini sangat tidak biasa. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku tapi aku tidak tahan lagi. Seluruh tubuhku seoalah kesakitan, terlebih jantungku yang terasa panas.
Penglihatanku yang semakin tidak fokus membawaku jatuh ke lantai yang dingin dan aku bisa merasakan jarum infus di tanganku terlepas menyakitkan. Kepalaku pusing sekali dan aku tidak bias lagi menahan sisa kesadaran hingga dengan cepat semuanya gelap dan berubah tenang.
...
__ADS_1