EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 74


__ADS_3

...


 


Ibu memotong ucapanku, seperti biasanya. Aku tidak ingin menangis dan terlihat lemah di hadapan mereka. Tapi aku tidak bisa menghentikan rasa sakit tertaha di tenggorokkanku dan hatiku.


Aku tidak tahu lagi harus menghadapi ibu seperti apa. Aku hanya diam tidak sanggup menjawab sampai aku merasakan tante Yuan duduk mendekat padaku lalu mengusap pelan bahuku, seolah dia mengerti apa yang aku rasakan.


“Apa benar begitu? Semua yang ibumu bilang selama ini apa benar adanya? Kau tidak ingin membagi warisan itu pada Daniel, kau juga merasa muak dan kesal pada keluargamu ini?” Bibi Pia melotot padaku.


“Tidak seperti itu.” Suaraku terdengar sedikit bergetar.


“Katakan alasanmu, agar ibumu dan kami bisa memahaminya.” Itu suara lembut dan tenang milik Tante Yuan. Wanita dengan kulit putih dan matanya yang sipit ini menatapku sembari mengangguk.


Kemudian mataku melirik ibu, menatapnya yang juga sedang menatapku dengan tidak sabar. “Sebelum menjawab semua itu, aku ingin menanyakan satu hal pada ibu dan ibu harus menjawabnya dengan jujur.”


“Apa?! Kau—“


“Kak, sudahlah! Mengalah dulu. Kamu hanya tinggal menjawabnya saja.” Mendengar pembelaan dari bibi Nuri membuatku semakin yakin ingin menanyakan pertanyaan yang selama ini begitu ingin aku tanyakan padanya.


Aku menelan salivaku susah payah dan meyakinkan diri sendiri apapun yang nantinya aku dengar, aku tidak boleh menyerah. Aku tidak boleh menyalahkan diriku sendiri. Hingga pertanyaan itu melucur dengan lancar keluar dari mulutku.


“Apa yang ibu maksud dengan perkataan ibu waktu itu jika aku ini Cuma anak tiri bibi Rose?” Aku bisa melihat raut perubahan dari wajah ibu dan kedua bibiku.


“Bukankah lebih normal jika ibu mengatakan aku ini keponakan bibi Rose? Tolong jawab bu.” Jantungku sudah berdetak lebih cepat dari biasanya, lebih kencang dari pada saat aku berada dalam bahaya saat di hutan. Lebih gugup dari biasanya.


 


 


 


Aku takut.


 

__ADS_1


 


 


“Kau salah dengar! I—ibu tidak pernah mengatakan semua itu!” Ibu membentakku dengan suara yang tinggi.


“Aku dengan jelas mendengarnya karena ibu berkata seperti itu sambil berteriak padaku. mana mungkin aku tidak mendengarnya!” Sekarang air mataku sudah menetes membasahi pipi, aku tidak terisak hanya saja kelopak mataku tidak tahan lagi meskipun sesak di dadaku semakin parah.


Untuk sepuluh detik berikutnya mereka semua terdiam tidak ada yang menjawabku. “Ada apa ini? Kenapa tidak ada yang mau menjawabnya?”


Sekarang Tante Yuan juga tampak penasaran dan gemas melihat sikap ketiga wanita di hadapan kami ini.


“Ibu tidak pernah mengatakan semua itu! Mana buktinya jika kau mendengarnya?” Ibu berteriak marah padaku, dia berdiri dan menunjukku.


“Kalau kamu tidak mau membagi warisan itu ya sudah tinggal bilang saja jangan memfitnah ibu seperti ini! Meskipun seorang anak tidak berbakti pada orang tuanya tapi perasaan ibu akan tetap mendo’akanmu yang terbaik! Ibu tidak akan mendo’akanmu sebagai anak durhaka, kau tenang saja!” Ibu menyambar tasnya dengan kasar lalu berjalan cepat keluar rumah. Tapi di ambang pintu tiba-tiba ibu berhenti dan berbalik menatapku.


“Ibu menjodohkanmu dengan Henry. Pergi berkencan dengannya dan berhenti mengganggu tunangan orang lain!”


“Bu! Mereka sudah membatalkan pertunangannya lama sekali. Bayu punya buktinya.”


Ibu sudah menghilang di ambang pintu ketika aku ingin menjawabnya. Aku bukannya tidak ingin membaginya! Aku bahkan akan menyerahkan semuanya pada Ibu dan Daniel, niat ini sudah aku tetapkan sebelum kejadian penculikan itu. Tapi sekarang aku yang jahat di sini.


“Kamu seharusnya tahu bagaimana sifat ibumu itu! Seharusnya kita bisa menyelesaikan kesalahpamahannya sekarang tapi lihat apa yang terjadi.” Bibi Pia juga ikut bangkit berdiri, menatapku kecewa tapi dari pandangannya dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


Tersisa bibi Nuri dan Tante Yuan di sini. Mereka sama-sama terdiam, berpikir. “Bibi tahu seusatu ‘kan?” Tebakku menatap wanita yang selalu terlihat memakai blazer setiap kali aku bertemu dengannya. Bibi Nuri adalah adik paling kecil ibu, dia belum menikah meskipun umurnya sudah lewat tiga puluh.


Wanita ini lebih memilih mengejar karir terlebih dahulu meskipun aku tahu banyak pria yang memintanya menikah. Mungkin karena bibi Nuri satu-satunya wanita yang bekerja di antara semua adik ibu, jadi dia lebih mengerti posisiku.


Bibi Nuri menatapku serba salah. Dari tatapannya aku tahu dia tidak menyalahkanku seperti halnya bibi Pia tadi. “Bagaimana pendapatmu? Apa yang kamu pikirkan?”


“Dugaanku semakin yakin mengingat lagi bagaimana sikap ibu berubah padaku saat bercerai dengan ayah. Ibu terus menuntut dan menyalahkanku sepanjang hidupku.”


Bibi Nuri menggangguk pelan. “Bibi tidak berhak menjawabnya. Ibumu yang harus menjawab semuanya.”


 

__ADS_1


Aku menunduk, mulai terisak dan menangis. Tidak tahan dengan rasa sesak ini.


Sekarang bahkan aku tidak tahu lagi siapa sebenarnya aku. Seolah hidupku ini adalah kebohongan! Aku sudah tidak sanggup lagi.


“Melihat bagaimana sikap kakak hari ini, apa mungkin dia akan berkata jujur?” Pertanyaan tante Yuan yang tangannya sedang mengusap punggungku ini membuatku semakin terisak kencang. Rasanya sudah lama sekali tidak ada yang mengerti posisiku saat ini.


“Itulah yang aku khawatirkan. Kakak sangat keras kepala. Aku tidak tahu apa dia akan mengatakan yang sejujurnya.”


“Kenapa tidak kau sendiri saja yang menjawab?”


“Itu bukan hakku. Aku juga tidak tahu bagaimana semua ini bermula.” Aku menegakkan tubuhku, mengusap kedua pipiku dan menatap tante Yuan dan Bibi Nuri yang sekarang sudah duduk di dekatku.


“Aku akan mencari tahu sendiri. Bibi benar, ibu tidak akan mengatakan yang sebenarnya.”


“Katakan jika kau membutuhkan bantuan tante ya.” Aku tersenyum kecil dan mengangguk pelan.


“Lalu sekarang jawab pertanyaan bibi. Apa kau benar-benar tidak akan membagi warisan itu seperti yang ibumu bilang?”


“Bahkan sebelum ibu bilang pun aku sudah berniat akan menyerahkan semuanya pada ibu tapi pengacara bibi Rose mengatakan padaku jika warisan ini bisa di pindah nama orang lain jika aku sudah menikah. Tapi  aku sudah meminta bantuan temanku agar aku bisa mengubah kepemilikkan secepatnya, aku hanya tinggal mengambil sisa sertifikat yang ada di brangkas bibi Rose di kota lain tapi tidak jadi karena—“ Ucapanku terhenti begitu ingat tentang penculikan itu.


Aku belum bisa menjawab semua itu sampai penangkapan mereka sudah pasti. Mengingat ini adalah kasus rahasia yang sedang di kerjakan oleh pihak militer. Aku bias menduga apa yang terjadi jika mereka mengetahui tentang racun yang di gunakan Rey.


 


Racun yang perlahan merusak tubuhku.


“Kenapa?”


Tiba-tiba pandanganku berputar dan perlahan rasa sakit itu datang lagi. Sakit tak tertahankan di sekujur tubuhku. Aku merasakan sakit berdenyut di sekujur tubuhku. Aku tidak tahu bagian mana yang menjadi pusat sakitnya.


 


 


 

__ADS_1


...


__ADS_2